... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Siapapun Perdana Menterinya, Israel Takkan Biarkan Palestina Merdeka

Foto: Pemilu Israel

KIBLAT.NET, Gaza – Para analis dan pakar Palestina sepakat bahwa kondisi Palestina maupun Gaza tidak akan berubah, di tengah persaingan para kandidat perdana menteri Israel.

Bahkan mereka yang sebelumnya mendukung “solusi dua negara” menyatakan tidak ada negara Palestina yang merdeka. Meskipun dibentuk “administrasi sipil” Palestina di sejumlah wilayah Tepi Barat setelah pembangunan blok permukiman besar Israel dan pemberian “fasilitas ekonomi” di Jalur Gaza.

Hani Habib, seorang analis politik, mengatakan bahwa situasi Palestina saat ini berpengaruh besar terhadap Israel. Oleh karena itu, ketika eskalasi militer di Jalur Gaza meningkat, Israel menunjukkan bahwa mereka tidak tertarik untuk melancarkan serangan besar yang dapat menyatukan Palestina.

Dia mengatakan orientasi politik orang Israel adalah mempertahankan perpecahan internal Palestina. Mereka sepakat bahwa Hamas harus dilemahkan tetapi tidak sepenuhnya dihilangkan. Tujuannya untuk memastikan berlanjutnya perpecahan dan perselisihan dengan Fatah dan Otoritas Palestina di Tepi Barat.

Habib menjelaskan bahwa dua partai Israel paling kuat dalam pemilihan Israel, “Likud” yang mengusung petahana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan aliansi “Biru dan Putih” yang dipimpin oleh mantan kepala staf Benny Gantz, menyetujui masalah-masalah inti, utamanya untuk “memisahkan Gaza dari Tepi Barat.”

Sebuah studi oleh Pusat Keamanan Nasional Israel menyatakan bahwa Gaza tampak lebih menonjol dalam program Likud daripada dalam program aliansi “Biru dan Putih,” yang berfokus pada Tepi Barat, mengingat bahwa Gaza tidak menimbulkan ancaman serius bagi Israel, sementara pertempuran politik dan ancaman strategis akan datang di Tepi Barat.”

BACA JUGA  Masih Ingat Bocah Palestina Ini? Penembaknya Belum Juga Diadili

“Saya berpikir bahwa Aliansi Biru dan Putih, yang mengklasifikasikan dirinya sebagai ‘kiri tengah’, lebih sayap kanan daripada kanan Israel,” ujarnya.

“Mereka menekankan isu-isu asing seperti Iran, aneksasi pemukiman dan Lembah Jordan ke Israel dan mengadopsi ‘solusi ekonomi’ di Gaza, untuk mencegah ‘ledakan situasi’. Karena itu upaya untuk membuat “ketenangan” akan terus berlanjut meskipun tidak menang pemilihan,” tambahnya.

Mesir memimpin perundingan tidak langsung antara Hamas dan faksi-faksi Palestina di Gaza dengan Israel. Hasilnya adalah “gencatan senjata”. Pemerintah Netanyahu juga mulai menerapkan ketentuan-ketentuannya terkait pengepungan terhadap Gaza.

Adnan Abu Amer, seorang spesialis urusan Israel, setuju dengan Habib bahwa “opsi militer melawan Gaza ditunda (untuk) sementara, kecuali ada perkembangan yang menuntut ke arah sana.”

Abu Amer mengatakan bahwa Gantz, yang menjadi kepala staf selama perang Israel pada tahun 2014, menyadari bahwa “Gaza tidak memiliki solusi militer.” Para jenderal di koalisinya Gantz juga sadar tentang “sesuatu yang menunggu tentara Israel di Gaza”.

Berdasarkan keyakinan ini, partai-partai di Israel sepakat bahwa “solusi untuk Gaza adalah ekonomi”. Oleh karena itu, terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan, trennya adalah menandatangani kesepakatan damai.

Ibrahim Al-Madhoun, direktur Institut Studi Strategis Palestina yang berafiliasi dengan Hamas, mengatakan bahwa Gaza mengikuti pemilihan Israel, terutama setelah terjadi gencatan senjata baru-baru ini antara Hamas dan Israel. Gaza sedang menunggu untuk melihat bagaimana Israel akan menghadapinya setelah hasil pemilihan.

BACA JUGA  Lembaga HAM Ungkap 376 Pelanggaran Israel di Al-Quds Sepajang September

Al-Madhoun percaya bahwa pemenang pemilihan Israel, siapa pun dia, akan berkomitmen untuk menenangkan front Gaza, karena ada realisasi kolektif Israel di lembaga-lembaga politik dan militer bahwa setiap konfrontasi bersenjata dengan Gaza akan dibayar mahal.

“Tidak ada tujuan politik utama di Gaza, dan ada fokus Israel saat ini pada perpanjangan kedaulatan atas Tepi Barat,” katanya.

Sumber: Arab News
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

KPAI Upayakan Rehabilitasi Korban dan Pelaku Bullying di Pontianak

KPAI pun meminta Kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan mendorong penyelesaian kasus menggunakan ketentuan dalam UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) untuk pelaku anak.

Rabu, 10/04/2019 14:05 0

Indonesia

Muhammadiyah: Ancaman Terbesar Saat Ini Investasi Cina

Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa saat ini yang menjadi ancaman besar bagi masyarakat Indonesia adalah investasi Cina.

Rabu, 10/04/2019 13:47 0

Indonesia

Kasus Bullying Siswi SMP di Pontianak, Begini Kronologinya

Kasus bullying seakan tak pernah hilang. Kali ini seorang siswi SMPN 17 Pontianak berinisial A menjadi korban pengeroyokan siswi SMA di kota tersebut.

Rabu, 10/04/2019 13:42 0

Indonesia

Pengacara: Kakek Korban Sebut Ada Polisi Datang Sebelum Habib Bahar Dilaporkan

Pengacara Habib Bahar, Aziz Yanuar menjelaskan, dalam persidangan yang sudah dimulai sejak Kamis (28/02/2019) itu, banyak ditemukan persaksian yang saling bertentangan dari para saksi yang memberatkan.

Rabu, 10/04/2019 12:04 0

Indonesia

Pemilu 2019, MUI Tuntut Profesionalisme Penyelenggara, Aparat dan Media

"Pimpinan dan aparat TNI dan Polri sebagai alat negara dan ASN sebagai abdi negara hendaknya dapat bersikap netral, tidak memihak kepada kepentingan politik tertentu," tuturnya.

Rabu, 10/04/2019 10:44 0

Indonesia

Jika Kasus DPT Tidak Selesai, Pilpres 2019 Dikhawatirkan Chaos

Ia khawatir hal tersebut dapat memicu chaos atau situasi yang membahayakan kehidupan seluruh rakyat Indonesia.

Rabu, 10/04/2019 00:00 0

Indonesia

Dua Tahun Kasus Novel, KAMMI: Polisi Acuh Tak Acuh

esatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia menilai apa yang terjadi terhadap Novel Baswedan adalah pelanggaran HAM

Selasa, 09/04/2019 23:31 0

Artikel

“Perang Melawan Teror”, Pemicu Kekerasan Antar Etnis di Sahel

Insiden sadis pembantaian masal pada tanggal 23 Maret lalu di sebuah desa masyarakat suku Fulani yang menyebabkan 160 orang tewas telah mengungkap adanya krisis serius yang sedang terjadi di Mali.

Selasa, 09/04/2019 20:03 0

Indonesia

MUI: Setop Gunakan Politik Uang dan Kampanye Hitam!

Seiring dengan itu, MUI menekankan pentingnya Bawaslu, DKPP dan MK menunaikan tugasnya secara independen dan imparsial agar yang benar diputuskan benar dan yang salah dinyatakan bersalah.

Selasa, 09/04/2019 19:20 0

Indonesia

MUI Imbau Pilih Pemimpin yang Cerdas dan Kuat Iman

Dia menjelaskan bahwa penyelenggara negara khususnya pemerintah harus memenuhi syarat-syarat tersebut.

Selasa, 09/04/2019 18:58 0

Close