... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Novel Baswedan: Tim Gabungan Kasus Saya Banyak Kekurangan

Foto: Novel Baswedan saat menjalani perawatan seusai diserang dengn disiram air keras

KIBLAT.NET, Jakarta – Penyidik Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyatakan bahwa dua tahun kasusnya belum ditindak lanjuti dengan baik. Menurutnya, tim yang ada saat ini pun punya banyak kekurangan dalam beroperasi.

“Kurangnya (tim gabungan.red) banyak, karena kalau bicara orang mau bekerja itu yang pertama ditanya itu bukan masalah kamu bisa bekerja atau tidak. Yang poin pertama yang perlu ditanya itu kamu bisa bekerja dengan bebas atau tidak?,” ungkapnya kepada Kiblat.net  di Jakata Pusat pada Sabtu (6/4/2019).

“Ketika orang yang tidak merdeka untuk bisa berbuat obyektif maka sulit,” tuturnya.

Dia menambahkan, mayoritas orang-orang di KPK sadar kasus Novel tidak akan diungkap. Sebab, selain Novel juga banyak dari karyawan KPK yang mendapat teror, dan mereka telah melapor dengan membawa bukti-bukti dan data-data yang banyak. Namun tetap saja tak ada yang diungkap.

“Kawan-kawan di KPK sebagian besar tau bahwa serangan di KPK tidak akan satupun yang diungkap. Jadi mereka sudah sadar bahwa bukan hanya kepada saya, dan bukan masalah sayapun fakta-fakta dan bukti-buktinya banyak. Semua serangan kepada orang-orang KPK buktinya banyak,” imbuh Novel.

Novel mengungkapkan bahwa ketika ia dan ketuka KPK hendak mengungkap kasus ini pun tetap mendapat ancaman. Namun, hal itu tidak menjadi alasan pihaknya berhenti untuk mencari fakta.

“Saya sudah terlalu sering diancam mau bilang apa lagi. Diancam dibunuh mau omongin apa lagi,” pungkasnya.

BACA JUGA  Jumlah Positif Corona di Jatim Tertinggi Dibanding Provinsi Lain

Reporter: Syuja A
Editor: Izhar Zulfikar


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Dianggap Biang Kekacauan, Presiden Mali dan Pasukan PBB Didemo Ribuan Massa

Aksi tersebut dihadiri oleh ribuan warga Mali. Mereka menolak kehadiran pemerintah dan pasukan PBB.

Sabtu, 06/04/2019 07:48 0

Tazkiyah

Enam Kiat Menghadapi Bulan Ramadhan

Karena pada prakteknya banyak orang salah prioritas ketika bertemu bulan Ramadhan. Mereka mepersiapkan stok makanan khawatir harga naik saat Ramadhan,

Jum'at, 05/04/2019 20:37 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Kesenjangan antara Iman dan Akal – Ust. Dr. M. Faqihuddin, M.M.

KIBLAT.NET- Problem yang dihadapi Umat Islam saat ini adalah adanya kesenjangan antara iman dan akal....

Jum'at, 05/04/2019 18:47 0

Afghanistan

Ratusan Pejuang Taliban Serbu Pasukan Pemerintah di Distrik Bala Murghab

Distrik Balramghab sering menjadi saksi pertempuran sengit antara pejuang Taliban dan pasukan pemerintah dalam dua bulan terakhir.

Jum'at, 05/04/2019 18:00 0

Afrika

Partai Islam Terbesar di Aljazair Lanjutkan Demonstrasi

Pernyataan itu menekankan perlunya "memulai dialog transparan tentang mekanisme transisi demokrasi yang lancar, jauh dari visi meraup kepentingan pribadi."

Jum'at, 05/04/2019 16:51 0

Myanmar

Sedikitnya 10 Muslim Rohingya Ditembaki Helikopter Myanmar

Serangan helikopter tentara Myanmar pada Rabu (03/04/2019), menewaskan sedikitnya 10 Muslim Rohingya dan melukai lebih dari selusin lainnya di negara bagian Rakhine.

Jum'at, 05/04/2019 16:11 0

India

Senjata Makan Tuan, Kebijakan Lindungi Sapi di India Justru Merugikan

Salah satu kebijakan yang diresmikan oleh Perdana Menteri India Narendra Modi adalah melindungi sapi, yang dianggap suci bagi umat Hindu.

Jum'at, 05/04/2019 15:05 2

Wilayah Lain

Sidang Pembantaian Muslim Selandia Baru, Hakim Minta Tarrant Dites Mental

Selandia Baru tidak menetapkan hukuman mati, dan hukuman penjara terpanjang sebelumnya tanpa pembebasan bersyarat adalah 30 tahun.

Jum'at, 05/04/2019 11:27 0

Afghanistan

Negosiasi Damai Taliban-AS Masih Berlangsung, Pertempuran Jalan Terus

Perkembangan terakhir negosiasi yang terjadi awal Maret lalu antara delegasi Taliban dan AS menyebutkan sudah ada kemajuan.

Jum'at, 05/04/2019 11:03 0

Video Kajian

Ust. Muhajirin: Apa yang Terjadi Akibat Tiupan Pertama Sangkakala?

Ust. Muhajirin: Apa yang Terjadi Akibat Tiupan Pertama Sangkakala?Banyak peristiwa sehari-hari yang dapat menambah keimanan kita dari belajar tafsir Quran

Jum'at, 05/04/2019 10:36 0

Close