Dianggap Biang Kekacauan, Presiden Mali dan Pasukan PBB Didemo Ribuan Massa

KIBLAT.NET,Bamako – Ribuan warga Mali, Jumat (05/04/2019), turun ke jalan di ibukota Bamako untuk memprotes kegagalan pemerintah dan pasukan penjaga perdamaian internasional untuk menghentikan kekerasan etnis dan militant. Aksi ini digelar menyusul dibantainya sebanyak 160 etnis muslim Fulani oleh milisi pro pemerintah.

Protes itu merupakan salah satu demonstrasi terbesar di Mali dalam beberapa tahun terakhir. Demonstrasi ini digelar pembantaian 23 Maret oleh etnis pro pemerintah Dogon di desa Ogusagou, desa tempat tinggal etnis muslim Fulani. Serangan etnis ini paling berdarah di wilayah Sahel di Afrika Barat.

Enam tahun setelah pasukan Prancis melakukan intervensi untuk membendung kemajuan kelompok jihadis dari Mali utara, kekerasan menyebar di Sahel hingga negara tetangga, Burkina Faso dan Niger.

Para pemrotes memegang spanduk yang menuntut Presiden Mali, Ibrahim Abu Bakr Keita dan misi penjaga perdamaian PBB untuk pergi.

Keita menanggapi pembantaian itu dengan membubarkan Komite Keamanan Populer anti-militan yang dicurigai terlibat dalam serangan itu.

Pawai pada hari Jumat, yang dihadiri oleh para ulama, pemimpin masyarakat sipil dan pemimpin oposisi, mencerminkan semakin frustrasi terhadap meningkatnya kekerasan.

“Kami menganggap pemerintah bertanggung jawab atas situasi yang memburuk,” kata mantan menteri Hammadon Deco.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat