Ekspansi Dogon dan Pembelaan Jihadis Mali untuk Kaum Fulani

KIBLAT.NET, Bamako – Pada hari Sabtu 23 Maret, 100 pria bersenjata berpakaian pemburu etnis Dogon menyerbu desa Ogossagou di Mali tengah. Mereka membunuh lebih dari 160 warga sipil etnis Fulani, termasuk anak-anak dan wanita hamil, dan membakar banyak rumah. Mereka juga menyerang kota tetangga, Welingara, yang juga dihuni mayoritas Fulani. Pemerintah Mali menyebut kelompok Dogon dengan milisi bernama Dan Na Ambassagou bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun kelompok itu menyangkal keterlibatan.

Serangan itu bukan hanya sekali terjadi. Tetapi, menjadi episode terbaru dan paling mematikan dalam kampanye kekerasan sistematis terhadap para penggembala Fulani, yang terpaksa meninggalkan wilayah mereka. Pada 1 Januari, misalnya, para penyerang menyerang desa Koulogon, menewaskan 37 orang dari komunitas Fulani. Ribuan pasukan internasional di negara itu —termasuk dari pasukan kontraterorisme G5 Sahel (terdiri dari Chad, Burkina Faso, Mali, Mauritania, dan Niger), dari Prancis, dan dari Misi Multidimensi Terpadu Terintegrasi PBB di Mali (MINUSMA)- dijadikan harapan untuk mencegah insiden pembersihan etnis lebih lanjut, serangan balasan, dan penargetan komunitas yang rentan.

Mali Tengah dihuni oleh, antara lain, Fulani, Dogon, dan Bambara. Fulani adalah kelompok etnis yang mayoritas Muslim penggembala semi-nomadik. Kelompok ini menempati seluruh Afrika Barat dan Tengah dengan jumlah sekitar 38 juta jiwa. Sementara Dogon, sebuah kelompok yang terdiri dari 800.000 orang yang mempraktikkan agama politeis (penyembah dewa). Sebagian besarnya tinggal di dekat perbatasan dengan Burkina Faso dan menjadi petani. Kemudian Bambara, adalah kelompok terbesar di Mali. Sebagian besar adalah petani juga dan banyak yang mempraktikkan Islam, meskipun yang lain mengikuti kepercayaan tradisional dan pemujaan leluhur.

Ketegangan antara ketiga komunitas ini sudah lama, seringkali berkaitan dengan perselisihan tanah dan air. Di masa lalu, perbedaan pendapat biasanya diselesaikan dengan cepat. Tetapi seiring waktu pertempuran semakin sulit dicegah. Menurut laporan Human Rights Watch 2018 tentang Mali tengah, perselisihan menjadi semakin rumit ketika populasi Dogon bertambah, sehingga memberikan tekanan pada area penggembalaan komunitas Fulani. Perubahan iklim, yang membuat Dogon pindah ke daerah-daerah baru guna mencari air dan rumput telah memperburuk ketegangan.

Kelompok-kelompok jihadis menyadari hal ini. Mereka telah menyebar ke pusat Mali dan ke Burkina Faso sejak 2015 ke wilayah-wilayah yang dikuasai oleh MINUSMA dan pasukan G5 Sahel di utara. Dua kelompok yang menjadi perhatian adalah; pertama Jamaah Nusrah al-Islam wal-Muslimin (dikenal sebagai JNIM), yang berafiliasi dengan Al-Qaidah. Kelompok ini mengaku bertanggung jawab atas serangan Maret 2018 terhadap Kedutaan Besar Prancis di Ouagadougou, Burkina Faso, dan pasukan Burkinabe di dekat desa Toeni pada bulan Desember 2018. Kelompok lainnya adalah Ansarul Islam, yang dibentuk pada tahun 2016 dan juga menerima dukungan dari Al-Qaidah di Sahara Besar.

Meskipun kelompok-kelompok jihadis belum mengambil kendali atas wilayah di Mali tengah, mereka mampu mendirikan pangkalan-pangkalan untuk melancarkan serangan di desa-desa dan kota-kota terdekat. Mereka menargetkan Dogon dan Bambara, serta pihak-pihak yang berafiliasi dengan -atau memberikan informasi kepada- pasukan keamanan. JNIM juga telah melakukan serangan pembalasan atas perlakuan terhadap Fulani.

Kelompok-kelompok jihadis menanggapi keluhan dari kelompok etnis Fulani di Mali tengah. Kebahagiaan kaum Fulani dirampas setelah tanah mereka direbut Dogon. Beberapa warga sipil Fulani didorong untuk bergabung dengan kelompok jihadis untuk menenatang pemerintah yang korup, memerangi kejahatan dan kezaliman pemerintah. Menurut laporan Human Rights Watch 2018, pemimpin Islam Fulani Hamadou Koufa Diallo sangat berpengaruh dalam merekrut penduduk lokal.

Sementara itu, komunitas Dogon menyebut komunitas Fulani bersekongkol dengan kelompok jihadis yang dianggap teroris di Mali tengah. Dogon telah membentuk beberapa kelompok pertahanan diri, di antaranya Dan Na Ambassagou (“pemburu yang curhat pada Tuhan”), yang dibentuk pada akhir 2016 dan memiliki lengan politik dan militer yang terdiri dari beberapa ratus anggota. Kelompok ini aktif dalam apa yang disebutnya operasi kontraterorisme, yang semakin berarti serangan sembarangan terhadap Fulani.

Namun, komunitas Dogon bukan satu-satunya kelompok yang bertanggung jawab atas serangan itu. Kelompok Dozo, yang telah aktif selama berabad-abad dan sebagian besar terdiri dari Bambara, juga telah mengangkat senjata melawan kaum Islamis dan melawan Fulani.

Sumber: Foreign Policy
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat