20 Tahun Dipenjara, “Taliban Amerika” John Walker Lindh Segera Bebas

KIBLAT.NET, Washington – Orang tua tentara Amerika pertama yang tewas di Afghanistan pasca serangan 11/9 bersuara jelang rencana pembebasan John Walker Lindh pada bulan Mei mendatang. Lindh yang dijuluki sebagai “Taliban Amerika” ini tertangkap saat  invasi AS pada November 2001 di Afghanistan, dan dipenjara di pos pertahanan militer Qala-i-Jangi bersama ratusan pejuang Taliban lainnya sebagai tawanan perang Amerika. Perlawanan yang kemudian dilakukan para tawanan memicu pertempuran Qala-i-Jangi yang menyebabkan seorang perwira paramiliter CIA Johnny Mike Spann tewas.

Berbicara di salah satu gedung pemerintah di Alabama pada hari Kamis (28/03) pekan lalu, Gail Spann, ibu dari Mike Spann mengatakan ia menentang pembebasan Lindh yang dianggapnya terlalu dini. Anaknya, Johnny Mike Spann yang merupakan perwira paramiliter CIA dan juga veteran marinir Amerika, tewas ketika ratusan tawanan Taliban melakukan perlawanan yang memicu pertempuran Qala-i-Jangi di bagian utara kota Mazar-i-Sharif pada November 2001. Spann tewas di usia 32 tahun.

Gail Spann berbicara di depan DPRD setempat menyusul keputusan parlemen lokal yang meloloskan sebuah resolusi bersama untuk memberikan penghargaan kepada anaknya. Ia mengecam rencana pembebasan John Walker Lindh tiga tahun lebih cepat sebelum masa hukuman 20 tahun berakhir.

“Saya tidak ingin ia (Lindh) bebas. Saya ingin ia (Lindh) menghabiskan sisa hidupnya di penjara, tetapi itu tidak mungkin,” kata Gail Spann sebagaimana laporan grup media lokal. Awal pekan lalu Johnny Spann, ayah Mike Spann, menyampaikan ke media di Alabama bahwa rencana bebasnya Lindh pada bulan Mei mendatang telah menjadi berita yang tidak mengenakkan bagi keluarganya. Bagi Johnny Spann hukuman 20 tahun terhadap Lindh masih belum cukup.

Dalam situs Biro Rumah Tahanan Federal memperlihatkan John Walker Lindh (38 tahun) yang saat ini berada di Lembaga Pemasyarakatan Federal kota Terre Haute, sebuah penjara tipe medium security dengan kapasitas 1.300 orang di bagian selatan negara bagian Indiana, rencananya akan bebas pada tanggal 23 Mei setelah  menjalani masa hukuman dikurangi masa pengurangan hukuman karena berkelakuan baik. Majalah Time of London melaporkan Lindh yang berasal dari California ini telah mendapatkan kewarganegaraan Irlandia pada tahun 2013, dan berencana akan hijrah ke negara tetangga Inggris tersebut.

Mike Spann dan John Walker Lindh saling berhadap-hadapan di pekan-pekan awal perang terpanjang Amerika tepatnya tanggal 25 November 2001. Saat itu Spann sebagai perwira CIA yang menginterogasi para tawanan, dan Lindh sebagai pejuang Taliban yang saat itu berusia 20 tahun dan diinterogasi namun menolak bicara. Beberapa jam kemudian, sekitar 400an tawanan melawan dan melancarkan serangan di dalam kamp hingga menyulut pertempuran selama 3 hari.

“John Walker Lindh sebenarnya bisa memberitahukan kepada Mike saat itu. ‘Anda orang Amerika, saya juga orang Amerika… Kami sudah mendapatkan senjata di gedung ini, dan kami akan mengambil alih markas pertahanan ini’. Tetapi ia (Lindh) memilih untuk tidak melakukannya karena ia adalah Taliban. Ia adalah pengkhianat negara kita,” kata Gail Spann meratapi kematian anaknya.

Mike Spann pernah berdinas delapan tahun di korps marinir (USMC) dan naik pangkat menjadi kapten sebelum bergabung dengan dinas intelijen CIA pada tahun 1999. Spann tewas meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Beberapa hari setelah pertempuran yang melibatkan serangan udara AS itu, komandan perang aliansi utara Abdul Rashid Dostum datang untuk memburu pejuang-pejuang Taliban yang masih berada di ruang bawah tanah. Dostum membanjiri ruang bawah tersebut dengan air sehingga menyebabkan 86 pejuang Taliban tertangkap, termasuk Lindh. Menurut media lokal di Alabama, pemerintah AS mengajukan Lindh ke pengadilan atas tuduhan terlibat konspirasi pembunuhan warga Amerika, termasuk Spann.

Menurut sumber The Associated Press, Lindh dianggap terbukti bersalah pada bulan Juli 2002 dan didakwa terlibat kejahatan besar karena membantu Taliban dan membawa bahan peledak. Di pengadilan negeri Alexandria, Virginia, Lindh mengaku saat itu ia membawa senapan serbu dan dua granat dan ia mengetahui barang-barang tersebut ilegal.

Ayah John Walker Lindh dalam tulisannya di koran Inggris The Guardian mengungkap bahwa anaknya telah masuk Islam saat berusia 16 tahun, kemudian pergi ke Yaman untuk belajar, lalu akhirnya ke Pakistan dan menyeberang ke Afghanistan pada tahun 2001.

Johnny Spann bersikeras menuding Lindh bertanggung jawab atas kematian anaknya meskipun ia (Lindh) bukan orang yang secara langsung menarik triger senjata. Orang tua Spann meyakini Lindh akan kembali mendukung organisasi teroris ketika ia bebas nanti.

Majalah Foreign Policy pada tahun 2017 mengutip dokumen Pusat Kontraterorisme Nasional AS yang mengatakan pada tahun sebelumnya Lindh masih mendukung jihad global, selain itu ia menulis dan menerjemahkan tulisan-tulisan terkait ekstrimisme kekerasan. Masih menurut dokumen yang sama, Lindh pernah mengatakan kepada seorang produser berita televisi bahwa ia akan kembali ke dunia “ekstrimisme Islam” setelah bebas nanti.

Johnny Spann terus mengecam dan membuat opini buruk tentang Lindh dengan mengatakan, “Ia (Lindh) adalah teroris pengkhianat dan mendukung kelompok-kelompok teroris. Ia mengirim pesan-pesan narasi untuk mendukung kelompok-kelompok tersebut. (Dan) ia tidak pernah meninggalkan afiliasinya dengan al-Qaidah.”

Sementara ibu Spann berusaha untuk hidup secara normal dan tidak menginginkan publikasi kematian anaknya dengan menolak memberikan ijin hak membuat film maupun buku terkait kematian anaknya. “Apa yang penting buat kami, sama dengan apa yang penting bagi Mike bahwa Amerika adalah negara paling hebat di dunia,” kata ibu Spann menghibur diri.

Sumber: Stripes
Redaktur: Yasin Muslim

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat