Sejarawan Ingatkan PERSIS Bangkit Temukan Kekuatan Asalnya

KIBLAT.NET, Jakarta- Sejarah merupakan suatu catatan lampau yang bisa diambil hikmahnya oleh setiap orang, ada banyak sejarah sukses yang dapat dipelajari supaya dapat dipraktikkan dan kembali mendapatkan kesuksesan. Salah satunya adalah sejarah sebuah organisasi.

Sejarawan Persatuan Islam (PERSIS) Dr. Tiar Anwar Bachtiar menerangkan bahwa Persis yang dahulu tidaklah sama dengan yang sekarang. Menurutnya, ketika pertama kali berdiri, PERSIS bukanlah suatu ormas dan tidak mempunyai massa.

“Saya masuk pesantren tahun 1991 lulus 1997 ada satu hal yang saat ini sudah di raih PERSIS, yaitu sekarang PERSIS benar-benar menjadi organisasi masyarakat (ormas). Dulu ketika masih berdiri pertama kali, itu bukan ormas, tidak punya Massa. Tidak punya cabang-cabang banyak itu tidak ada,” ungkap Tiar saat menjadi pembicara pada talkshow dalam acara Silaturahim Akbar Keluarga Besar Alumni Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) di Auditorium BPPT Jakarta Pusat, Ahad (31/03/2019).

Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa PERSIS tetap di kenang dan dikenal oleh masyarakat karena produk tulisan dan pemikiran-pemikirannya. Saat bediri, PERSIS banyak menghasilkan tulisannya dari anggotanya yang sedikit.

“Karena PERSIS baru buat cabang tahun 1948, itupun karena didesak oleh keadaan bahwa Masyumi harus berkembang, sehingga persis pun dikembangkan secara organisasi,” jelasnya.

Hal itulah yang membuat PERSIS jadi sangat dikenal meski di masa awal bukanlah ormas atau organisasi yang massanya banyak. PERSIS, lanjut Tiar, selalu terdepan dalam melahirkan pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru. Dari gagasan dan pemikiran tersebut PERSIS memiliki tapak yang kuat di Indonesia.

BACA JUGA  Praperadilan Ditolak, Pengacara HRS: Maulid Nabi Jadi Tindak Pidana?

“Sebetulnya jamaah PERSIS ini kan produk dari orang-orang yang sangat tertarik dengan pemikiran PERSIS, yang ditulis di majalah Al Ihsan, Daulah Islamiyah, Majalah Almuslimun, Risalah dan sebagainya. Ini adalah produk-produk pemikiran PERSIS,” terangnya.

Tiar menilai ketika PERSIS telah menjadi ormas dan jamaahnya cukup banyak, tentu saja konsentrasinya lebih banyak ke dakwah daripada menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. “Karena kalau sudah banyak jamaahnya yang harus dibina jamaahnya, logikanya kedekatannya adalah kedekatan nyawa, bukan kedekatan memproduksi pemikiran-pemikiran baru,” paparnya.

Tiar pun mengingatkan bahwa PERSIS harus kembali menemukan kekuatan asalnya. “Kekuatan asal PERSIS adalah memproduksi pemikiran, yang saya sindir tadi bahwa PERSIS harus sudah mentradisikan kembali hidupnya literasi, literasi, literasi,” ujarnya.

“Mudah-mudahan penulis-penulis muda PERSIS bangkit lagi, walaupun sekarang sedang musim politik,” pungkas Tiar.

Reporter: Fanny Alif
Editor: Imam S.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat