... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Lembaga Pengawas AS Anggap Kesepakatan Damai Afghanistan sebagai Ancaman

Foto: Afghanistan

KIBLAT.NET, Washington – Kesepakatan damai untuk mengakhiri Perang Afghanistan berisiko menyebabkan kerugian senilai USD 130 miliar (sekitar Rp 1.755 triliun) yang telah digunakan untuk program rekonstruksi di Afghanistan. Demikian pernyataan sebuah lembaga pengawas pemerintah AS pada hari Kamis (28/03/2019) yang menyerukan kepada para pembuat kebijakan untuk membuat rencana penanganan situasi Afghanistan pasca kesepakatan.

Ada delapan area berisiko tinggi yang dianggap berpotensi menghambat program yang dibiayai pemerintah AS itu. Kedelapan area tersebut dilaporkan secara detil oleh Inspektorat Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) kepada Kongres, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Pertahanan.

Sejak 2014, SIGAR telah mengembangkan sebuah “daftar risiko tinggi” yang didistribusikan kepada Kongres terkait ancaman secara garis besar terhadap investasi AS di Afghanistan, seperti ancaman keamanan itu sendiri, korupsi, dan perdagangan narkotika secara ilegal. Walau demikian, daftar/katalog terbaru kali ini berbeda dengan tiga risiko ancaman yang telah diidentifikasi sebelumnya yang dinilai akan muncul setelah terjadinya kesepakatan damai antara Taliban dengan pemerintah Afghan, atau muncul sebagai konskuensi dari kesepakatan tersebut.

“Perdamaian tentu akan menjadi berita yang disambut baik,” kata SIGAR dalam laporannya. “Tetapi sebuah perdamaian juga bisa menjadi tantangan terhadap kemapanan yang telah dicapai sejak 2001 di salah satu negara paling terisolasi dan termiskin di dunia, dan terus dilanda konflik.”

Sejumlah pejabat mengatakan masih banyak yang harus dikerjakan sebelum sebuah kesepakatan baru dicapai. Kedua pihak, baik perwakilan AS maupun Taliban yang terlibat dalam proses negosiasi mengatakan bahwa telah ada progres selama putaran terakhir perundingan, termasuk sejumlah klausul terkait penarikan pasukan AS dan jaminan Taliban soal kontra terorisme.

BACA JUGA  Pemimpin Taliban Diisukan Terinfeksi Virus Corona

Kesepakatan apapun seharusnya tidak akan mengubah seluruh daftar program SIGAR, tetapi isu mengenai hak-hak perempuan sudah masuk salah satu dari tiga wilayah yang disebut secara spesifik dalam laporan terbaru yang dianggap berpotensi menjadi korban proses perdamaian.

AS telah menggelontorkan lebih dari USD 1 miliar untuk meningkatkan status wanita Afghan sejak 2002, namun SIGAR menyampaikan keprihatinan bahwa hak-hak perempuan tidak akan terlindungi dalam kasus ketika Taliban diberikan semacam legitimasi politik. Bagi SIGAR, rezim Taliban sangat represif terhadap perempuan seperti saat mereka berkuasa tahun 1996-2001.

Dalam perspektif SIGAR, kembalinya pejuang kombatan anti-pemerintah ke tengah masyarakat Afghan dan kelesuan ekonomi yang masih berlangsung menjadi 2 hal yang merupakan tantangan tersendiri yang bisa melemahkan upaya rekonstruksi pasca rekonsiliasi Taliban dengan pemerintah Kabul.

Di satu sisi, kesepakatan damai yang berkelanjutan akan bisa mempercepat prospek pertumbuhan ekonomi, namun berbagai hambatan bagi pertumbuhan tersebut nampaknya masih ada, demikian juga sejumlah tantangan baru akan muncul pada saat ekonomi Afghan dihadapkan dengan kembalinya para pengungsi dan para mantan kombatan Taliban beserta keluarga-keluarga mereka. Demikian laporan SIGAR.

Kepala SIGAR John Sopko dengan sinis mengatakan, sebanyak 60 ribu pejuang kemungkinan akan kembali melakukan kekerasan dan menjadi predator apabila ekonomi negara tidak bisa memberikan “kue perdamaian.”

Sebanyak USD 132 miliar telah dialokasikan bagi rekonstruksi Afghanistan sejak 2002 untuk melatih, mempersenjatai, dan menggaji pasukan keamanan Afghan. Di samping itu juga untuk memperkuat institusi pemerintah, mempromosikan aturan hukum, dan merangsang pembangunan di bidang ekonomi. Akan tetapi, ada atau tidak ada kesepakatan damai, dukungan finansial internasional tetap dibutuhkan selama tahun-tahun ke depan demi menjamin keberlangsungan upaya rekonstruksi tersebut.

BACA JUGA  Imam Masjid yang Tewas di Kabul Pernah Suarakan Diakhirinya Invasi AS

Ada lebih dari 300.000 orang Afghan saat ini menjadi anggota pasukan keamanan yang sebagian besar mereka bersenjata. Sopko memprediksi, “Apabila, karena tidak ada lagi dukungan finansial, gaji mereka akan terhenti, dan ini akan menjadi ancaman serius bagi stabilitas Afghanistan.”

Sopko mendesak para pembuat kebijakan Washington untuk merespon temuan-temuan SIGAR dengan membuat rencana ke depan keterlibatan AS di Afghanistan selama periode tertentu. “Nyawa dan sumber daya Amerika yang telah dikorbankan selama 17 tahun terakhir menuntut sebuah penilaian yang bijaksana untuk mengantisipasi resiko program rekonstruksi,” pungkas laporan tersebut.

Sumber: Stripes
Redaktur: Yasin Muslim


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Ust. Bachtiar Nasir: Jalan Perjuangan Kita Sudah Jelas!

KIBLAT.NET – Ust. Bachtiar Nasir: Jalan Perjuangan Kita Sudah Jelas! Ceramah Ustadz Bachtiar Nasir dalam rangkaian...

Ahad, 31/03/2019 10:23 0

Indonesia

Soal Alutsista, Jokowi Usulkan Join dengan Negara Lain

Ketika Indonesia tak bisa produksi alutsista, Jokowi sarankan join produksi dengan negara lain

Sabtu, 30/03/2019 23:35 0

Indonesia

Singgung Jual Beli Jabatan, Prabowo: Korupsi di Indonesia Sudah Stadium Empat

"Saya berpandangan korupsi di Indonesia sudah sangat parah, kalau penyakit sudah stadium empat

Sabtu, 30/03/2019 23:20 0

Indonesia

BNPB: Transisi Darurat Menuju Pemulihan Dampak Banjir Sentani 3 Bulan

transisi darurat menuju ke pemulihan selama 3 bulan yaitu 30/03/2019 hingga 27/06/2019.

Sabtu, 30/03/2019 12:59 0

Indonesia

Amnesty International Nilai Pernyataan Wiranto Soal Hoaks Perkeruh Suasana Publik

Lebih lanjut, usman mengatakan bahwa pernyataan Wiranto tersebut lebih baik dihindari.

Sabtu, 30/03/2019 12:37 0

Indonesia

Warga Papua: Pemerintah Hanya Manfaatkan Kekayaan Alam, Masyarakat Diabaikan

jadi seakan-akan kami ini hanya dimanfaatkan kekayaan alanya saja dan masyarakat diabaikan, kan itu sakit banget

Sabtu, 30/03/2019 12:17 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Menjadi Umat Terbaik – Ust. Lukman Hakim Syuhada, Lc.

KIBLAT.NET- Allah menginginkan Umat Islam sebagai umat terbaik. Akan tetapi status sebagai umat terbaik tidak...

Sabtu, 30/03/2019 09:34 0

Manhaj

Dakwah Rasul, Mencabut Jahiliyah Sampai ke Akarnya

Selesai bermajelis, beberapa pemuka kerajaan berkata, “Sujudlah kalian kepada raja!” Ja’far bin Abi Thalib menyahut, “Kami tidak bersujud selain kepada Allah.”

Jum'at, 29/03/2019 20:05 0

Indonesia

10 Daerah Paling Rawan Jelang Pemilu Versi Mabes Polri

Kerawanan didominasi di wilayah Jakarta

Jum'at, 29/03/2019 17:24 0

Indonesia

Soal Perda Agama, Jubir BPN: Gak Usah Kita Ikut Pemikiran PSI

"Indonesia kita tahu sebenarnya beragam. Karena beragam, kami berharap penggunaan unsur agama dalam politik praktis lebih baik jangan digunakan, karena justru menciptakan potensi adanya konsep mayoritas-minoritas," kata Rian.

Jum'at, 29/03/2019 16:59 0

Close