... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Selalu Menjaga Keikhlasan dalam Amal Islami

Foto: Ikhlas (Ilustrasi)

KIBLAT.NET– Siapa yang tak kenal dengan kitab Arbain Nawawiyah karya Imam Nawawi rahimahullah? Sebuah kitab kumpulan hadits fenomenal yang memiliki keistimewaan. Hampir setiap penuntut ilmu hafal hadits yang dikumpulkan Imam Nawawi ini, karena berisikan hadits yang memiliki tema sederhana, mudah dipahami dan memiliki makna yang mendalam serta cakupan yang luas bagi aspek kehidupan manusia. Maka dari itu, kitab karya Imam bermadzab Syafi’i ini dijadikan bahan ajar di berbagai pesantren-pesantren di Nusantara.

Di abad ini, ada juga salah seorang ulama mujahid yang membuat karya serupa. Ulama yang dijuluki ini the next Osama ini menulis sebuah karya yang berisi kumpulan empat puluh hadits beserta syarahnya. Dalam muqoddimahnya, syaikh Abu Yahya Al-Libi rahimahullah mengatakan bahwa karya yang ia buat berisi empat puluh hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan derajat syahadah, keutamaan yang diberikan Allah bagi para syuhada sekaligus beberapa syarat yang harus dilakukan untuk mendapatkannya.

Sungguh menarik, seorang mujahid membuat sebuah karya kumpulan hadits dengan penjelasan yang berkaitan dengan dunia jihad. Syaikh Athiyatullah Al-Libiy rahimahullah berkomentar bahwa karya syaikh Al-Libiy ini merupakan tulisan yang sarat ilmu, mudah dipahami karena menggunakan penjelasan sederhana dan diibaratkan buah ranum yang tangkainya mudah dipetik.

Maka, insya Allah ke depan akan dibahas satu per satu hadits dari kitab Al-Arbaun fi Fadhli Syahadah wa Thalabi Al-Husna wa Ziyadah karya syaikh Abu Yahya Al-Libiy rahimahullah.

Hadits Pertama

Bab Niat Ikhlas dalam Setiap Amalan

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Makna Hadits

Pertama, amalan-amalan hati di antaranya keikhlasan adalah pondasi dasar dan amalan-amalan zahir mengikutinya. Hadits ini sangat masyhur bagi kaum muslimin karena menjadi pembahasan pertama dalam pelajaran hadits. Juga karena pondasi awal sebelum melakukan sebuah amalan.

Sebagaimana terpapar jelas dalam zahir hadits bahwa seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan. Jika dalam hijrah ia hanya mendambakan dunia, atau dalam hadits disebutkan wanita yang hendak dinikahinya, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang ia kehendaki dalam hatinya.

Dalam dunia jihad pun demikian, Dr Abdullah Azzam rahimahullah dalam Tarbiyah Jihadiyah-nya mengungkapkan ada beberapa pejuang Palestina yang berjuang melawan Zionis. Mereka rela bersembunyi dalam situasi yang ekstrim dan melakukan perjalanan yang melelahkan hanya untuk memasang sebuah bom ranjau. Namun, niat di hati mereka berbeda-beda. Ada yang rela menempuh semua itu untuk izzul Islam wa muslimin dan ada yang berangkat dari nasionalisme Palestina sebagai negara yang berdaulat. Maka, dengan amalan yang sama, rasa letih yang sama dan sama-sama nyawa taruhannya, para pejuang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.

Pondasi dasar itu akan memengaruhi hasil yang diharapkan oleh pelakunya. Ibarat bangunan,bentuk, tata ruang dan kekuatan sangat dipengaruhi bentuk pondasinya. Jadi apa yang ia harapkan dalam hati (niat) itu akan membentuk amalan yang ia kerjakan seperti bangunan yang berdiri di atas pondasi tadi.

Kedua, hendaknya memberikan perhatian yang lebih pada penjagaan hati daripada sibuk dengan aktivitas ibadah secara zahir.

Syaikh Abu Yahya Al-Libiy rahimahullah mengingatkan bahwa menjaga keikhlasan harus lebih diutamakan dari sibuk dengan aktivitas ibadah nyata. Karena sebanyak apapun ibadah yang kita kerjakan, jika tidak didasari dengan niat yang benar, maka akan percuma dan tidak bernilai harganya.

Rasulullah pada masa dakwah di Makkah menanamkan nilai tauhid kepada pengikutnya. Aqidah yang kuat ditancapkan dalam sanubari para sahabat sehingga ketika mereka diajarkan berbagai macam ibadah mahdhoh seperti shalat, shaum, zakat dan haji. Karena keimanan mereka telah kuat jadi keyakinan bahwa segala apa yang dilakukan, diusahakan hanyalah untuk Allah telah mengkristal di dalam hati.

Maka,kita bisa lihat betapa mudahnya para sahabat mendermakan hartanya di jalan Allah. Bagaimana semangat ibadahnya hingga tiap sahabat mempunyai amalan andalan yang membuat mereka menjadi generasi terbaik umat ini.

Selain itu, segala sesuatu pada diri seseorang tergantung pada baiknya hati. Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam diisyaratkan oleh Ibnu Rajab bahwa amalan zahir seseorang dan kemampuannya dalam menghindari hal yang haram dan perkara syubhat adalah tergantung pada hatinya.

Hadits yang cukup masyhur dari Muttafaqun Alaihi

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Salah satu bekal bagi mujahid sebelum melangkahkan kaki ke medan juang adalah lurusnya niat dan penjagaan hati dari nafsu dunia. Entah itu berupa keinginan semata untuk meraup harta, pujian sebagai pahlawan atau semacamnya. Menjadi mujahid yang tangguh di medan perang merupakan impian setiap orang. Namun, ketangguhan itu harus dibarengi dan diawali dengan penjagaan hati dan keikhlasan. Jadi, sebelum menempa diri secara kasat mata, melindungi dan menjaga hati serta niat harus lebih didahulukan.

Ketiga, kadar pahala dari sebuah amalan tergantung pada niat seseorang, yaitu kesungguhan dan ada tidaknya niat.

Allah dengan jelas berfirman

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).” (QS.al-An’am:160)

Dalam firman-Nya yang lain

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS.Al-Baqarah: 245)

Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa sesiapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (yakni pinjaman yang baik) dengan ikhlas kepada-Nya semata, (maka Allah akan menggandakan) pembayarannya; menurut satu qiraat dengan tasydid hingga berbunyi ‘fayudha’ifahu’ (hingga berlipat-lipat) mulai dari sepuluh sampai pada tujuh ratus lebih sebagaimana yang akan kita temui nanti (Dan Allah menyempitkan) atau menahan rezeki orang yang kehendaki-Nya sebagai ujian (dan melapangkannya) terhadap orang yang dikehendaki-Nya, juga sebagai cobaan (dan kepada-Nya kamu dikembalikan) di akhirat dengan jalan akan dibangkitkan dari matimu dan akan dibalas segala amal perbuatanmu.

Dalam tafsir yang lain disebutkan bahwa makna dari “pinjaman kepada Allah” adalah sebagai perumpamaan, yang mana pelakunya telah mendahulukan amal shaleh yang menjadikannya berhak mendapatkan pahala.

Dalam hadits juga disebutkan

عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً ” [رواه البخاري ومسلم في صحيحهما بهذه الحروف]

Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut : Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, amalan syar’i yang bermanfaat bagi seseorang jika terkumpul dua faktor yaitu ketulusan niat dan keistiqamahan dalam ibadah dengan kesungguhan amalan.

Tentu keistiqomahan dalam beramal ini dibarengi dengan ittiba’ Rasul soal ibadah. Menjadi satu kesatuan tidak dapat dipisahkan antara keikhlasan dan ittiba’ serta keistiqomahan beramal. Jangan sampai kita menjadi orang yang selalu beramal akhirat tetapi berniat untuk meraup keuntungan dunia. Juga orang yang memiliki ilmu tentang keikhlasan tetapi tidak istiqamah dalam ibadah.

Kisah keistiqomahan di dalam keimanan dan perjuangan dapat kita ambil dari kisah seorang mujahid muda yang berjuluk “Abu Dujanah”. Pemuda belia ini dijuluki nama itu karena sering menggunakan ikat kepala sebagaimana sahabat Abu Dujanah ketika berperang. Ikat kepala ini disebut oleh mujahid lainnya dengan nama “The Bandana of Death.”

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari pemuda ini? Ia selalu beristiqomah dalam jihad dan selalu berada di garis depan. Kesyahidan ia songsong tanpa ada rasa takut, karena niatnya telah bulat hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Maka, Allah pun membalas kesungguhan pemuda ini dengan kesyahidan yang selama ini ia dambakan. Pemuda ini bernama Abu Sahl Al-Anshari rahimahullah, mujahid Syam melawan Nusahiriyah.

Keistiqomahan adalah sesuatu yang sangat berat sebagaimana dalam syarh hadits

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’” (HR.Muslim)

Rasulullah merasa berat dan sulit ketika menerima wahyu tentang istiqomah, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas,”“Tidak ada ayat yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam al-Qur`an yang lebih berat dan sulit bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada ayat ini.” Maksudnya ayat tentang keistiqomahan.

Dalam hal ini, Rasulullah pun bersabda,

شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ ، وَالْوَاقِعَةُ ، وَالْـمُرْسَلاَتُ ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ ، وَإِذَا الشَّمْسُ

‘Aku telah dibuat beruban oleh (surat) Hûd, al-Wâqi’ah, al-Mursalât, ‘Amma yatasâ-alûn, dan Idzasy Syamsu kuwwirat”.

Kelima, pahala satu amalan akan berlipat ganda sesuai dengan niat pelakunya.

Telah disebutkan dalam point yang ketiga, yaitu Allah akan melipatgandakan pahala hamba-Nya. Jika amalan itu didasari dengan niat yang benar dan dilakukan dengan keistiqomahan serta mengikuti apa  yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Keenam, pentingnya keikhlasan niat di seluruh amalan. Point terakhir adalah kehadiran niat dalam sebuah amalan adalah hal yang paling urgen. Karena itu akan berdampak pada balasan yang akan didapatkan seseorang yang beramal. Rasa kecewa yang teramat dalam jika amalan yang segunung uhud akan terbang ibarat anai-anai karena niat yang salah.

Apalagi amalan seperti jihad yang langsung bersinggungan dengan hidup dan mati. Beruntung jika tersadar ketika masih hidup bahwa niatnya dalam berjihad itu salah. Masih ada waktu untuk berbenah dan meluruskan niat. Namun, naas jika kesalahan dalam niat itu ia bawa ketika menghadap Rabbnya. Maka, yang  terjadi sebagaimana dalam hadits tentang tiga  orang yang pertama kali masuk neraka. Salah satunya adalah orang mati syahid dalam peperangan.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ,قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka… (HR. Muslim dan An-Nasa’i)

Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani_El-Ashim
Editor: Arju

Sumber

  1. Kitab Al-Arbaun fi Fadhli Syahadah wa Thalabi Al-Husna wa Ziyadah karya syaikh Abu Yahya Al-Libiy
  2. Syarh Arbain Nawawiyah, karya Syaikh Utsaimin.
  3. Tarbiyah JIhadiyah, karya DR. Abdullah Azzam

 

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Selalu Menjaga Keikhlasan dalam Amal Islami”

  1. Bismillah, semoga kita bisa ikhlas dalam beramal

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afghanistan

Khalilzad Tour Tujuh Negara Sebelum Gelar Negosiasi Lanjutan dengan Taliban

Kunjungan ini bertujuan memaparkan rincian hal-hal yang sudah dibahas dalam putaran negosiasi sebelumnya.

Rabu, 27/03/2019 09:34 0

Inggris

Serangan Islamofobia Kembali Terjadi di Newcastle, Al-Quran Disobek-sobek

Ini merupakan serangan kedua terhadap kopleks Islam ini dalam dua bulan terakhir.

Rabu, 27/03/2019 08:23 0

Palestina

Gaza Kembali Tenang Setelah Perang Roket antara Pejuang dan Israel

Wartawan AFP di Gaza melaporkan gempuran Israel berhenti pada pukul 6 pagi waktu setempat. Sementara roket terakhir yang ditembakkan oleh Hamas ke Israel pada pukul 5 pagi waktu setempat.

Rabu, 27/03/2019 07:00 0

Indonesia

Tolak Penghitungan Suara Pemilu di Hotel Borobudur, Amien Rais: Banyak Hacker

"Besok perhitungan Pemilu jangan pernah di Hotel Borobudur, jangan pernah. Di Hotel Borobudur itu banyak jin dan genderuwo disana"

Selasa, 26/03/2019 20:06 0

Indonesia

MUI: Fatwa Haram PUBG Tidak Mengikat

Karena fatwa akan mengikat masyarakat apabila nantinya fatwa yang dikeluarkan MUI menjadi pedoman bagi pemerintah untuk merumuskan regulasi.

Selasa, 26/03/2019 18:14 0

Indonesia

BPN Ungkap Ketidakwajaran DPT di Beberapa Kecamatan

Selain data ganda, ditemukan pula data invalid di beberapa DPT.

Selasa, 26/03/2019 17:48 0

Suara Pembaca

Kantong Tebal Bukan Jaminan Tak Korupsi

Kantong tebal nyatanya tak menjamin seseorang tak tergoda untuk korupsi.

Selasa, 26/03/2019 17:00 0

Video News

Ketua MAPIM: Inilah Asal-usul Islamophobia

KIBLAT.NET, Putrajaya – Pemerintah Malaysia bersama beberapa organisasi seperti Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), MAPIM,...

Selasa, 26/03/2019 16:15 0

Afrika

Sadisnya Pembantaian Muslim Mali, Bayi-bayi Pun Dibunuhi

Jumlah korban tewas dari petani muslim Fulani meningkat menjadi 160 orang dalam aksi pembantaian oleh milisi Dogon. Demikian menurut laporan pejabat setempat dan pasukan keamanan Mali, Senin (25/03/2019).

Selasa, 26/03/2019 15:05 3

Video Kajian

Ust. Tri Asmoro: Memberikan Ungkapan-Ungkapan Sepele untuk Menghargai Pasangan

KIBLAT.NET- Janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan, meskipun hanya bermanis muka saat berjumpa dengan saudaramu. Karena...

Selasa, 26/03/2019 14:32 0

Close