... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Islamophobia dan Keberislaman Diri Kita

Foto: Demonstrasi menolak islamophobia.

Allahu Akbar! Mari kita menangkan Calon Presiden Fulan!

Masya Allah, pengajian hari ini sukses, ratusan orang hadir bahkan puluhan di antaranya meninggalkan infaq…

Alhamdulillah, dalam sekali penggalangan dana, kita berhasil menghimpun ratusan juta donasi untuk kaum muslimin Rohingya…

Kalimat-kalimat semacam seringkali kita dengar dalam keseharian kita sebagai bagian dari komunitas masyarakat muslim. Namun pernahkah kita berpikir, apakah benar pencapaian-pencapaian tersebut sudah sepantasnya dikagumi dan disyukuri? Atau jika lebih jauh lagi, apakah yang kita lakukan ini sudah benar, sehingga kita memang harus takjub dan bersyukur? Atau mungkin jika lebih jauh lagi, apakah kampanye Calon Presiden, pengajian, dan penggalangan donasi sebagai sebuah aktivitas sudah memberi arti dan tujuan yang hakiki bagi kehidupan kita?

Jika kita jujur sejenak kepada diri kita. Kita akan merasakan bahwa personal-personal yang terlibat dalam struktural partai politik Islam, event organizer Islami, dan lembaga amal Islam pada hari ini tampaknya juga sama saja, sama-sama terjebak dalam budaya kerja yang gila. Ruang kerja mereka penuh dengan muslim, namun kosong dari Islam. Karyawan dan relawan tetap saja diukur dengan angka, mereka dinilai berdasarkan kinerja dan pencapaian material. Meskipun hal ini tak sepenuhnya salah namun tetap saja akan membuat orang-orang terus bertanya, “Islamnya itu bagian mana ya?”

Pertanyaan tersebut sangat wajar, karena budaya gila kerja ala kapitalisme memberikan tekanan berlebih terhadap relawan dan karyawan, dan tekanan berlebih seringkali membuat seseorang kehilangan arah. Maka jangan terkejut, jika terkadang partai Islam dan lembaga amal Islam menampilkan wajah-wajah yang tak bisa dipahami oleh logika keislaman paling sederhana sekalipun.

BACA JUGA  PBB Kritik Pelarangan Burqa di Belanda

Ada seorang kader parpol Islam, kesehariannya adalah guru ngaji, imam masjid, tetiba bersedia memimpin senam poco-poco dalam sebuah video kampanye. Ada barisan akhwat berjilbab setengah lebar berjoget di pinggir jalan sembari mengibarkan bendera parpol. Ada pengajian tabligh akbar berbayar. Ada ustadz pasang tarif kelewat mahal. Ada strategi penggalangan dana dengan memajang foto bocah Palestina, Uighur, dan Suriah yang sumbernya asal comot, yang tentu tidak mewakili apa yang sebenarnya terjadi.

Selain pertanyaan tentang seberapa islami potret-potret tersebut, tentu ada hal yang harus lebih kita waspadai. Adalah sebuah kenyataan bahwa islamophobia, politisi dan media sekuler selalu menunggu kesempatan untuk menyerang setiap gerakan yang salah dari kaum muslimin.

Untuk itu ada hal yang perlu kita renungkan kembali, misalnya tentang kebiasaan kita meniru keberhasilan umat lain. Kita seringkali silau dengan beberapa keberhasilan yang dicapai orang lain terutama yang bersifat material dan terindera. Kita gencar menggelar seminar-seminar motivasi setelah melihat betapa kerennya hal itu di dunia Barat, kita gencar menggelar konseling, seminar parenting setelah melihat hal itu cukup membantu masyarakat Barat, kita mengadopsi sistem manajemen pendidikan ala Barat di sekolah-sekolah Islam setelah melihat majunya sekolah di Barat.

Kita serta merta mencontoh ketika melihat sampul, tanpa mencoba menggali apa ruh dan esensi di balik semua itu. Apakah kita semua lupa jika budaya Islam jauh dari prinsip-prinsip materialisme. Islam mempunyai tujuan yang sangat profetik, dalam Islam baik saja terkadang belum cukup, hal yang dirasa baik haruslah dikonfirmasi kebenarannya melalui wahyu.

BACA JUGA  Joko Santoso, Takmir Masjid Penderita Stroke Butuh Bantuan Kita

Ketika kita mengabaikan detil semacam itu dalam aktivitas kita, maka kita pun akan menjadi semakin jauh dari pedoman inti keislaman kita, ketika itu terjadi maka semakin kosonglah diri kita dari Islam, dan pada saat itulah islamophobia, politisi dan media sekuler akan memberikan pukulan telaknya kepada kita, dan kita tak dapat melawan sama sekali karena pada saat yang sama di mata Allah kita sudah tidak layak menyematkan kata “Islam” pada papan nama yayasan kita.

Maka dari itu, sekali lagi, cobalah luangkan waktu lima menit setiap harinya. Tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah yang saya lakukan pada hari ini sudah benar? Apakah yang saya lakukan ini sudah sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya? Apakah yang saya lakukan ini tidak akan mendatangkan kemurkaan Allah?

Jika kita sudah enggan bertanya seperti itu kepada diri kita, maka kita perlu waspada, jangan-jangan kita sudah menjadi korban sekaligus pelaku islamophobia.

Penulis: Bang Azzam

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Kiblat Review: Islamophobia Teror Tarrant

KIBLAT.NET- Jumat, Tgl 15 Maret 2019 saat melaksanakan Sholat, Jamaah Masjid Al Noor, Di Chrischurch,...

Senin, 25/03/2019 20:18 0

Palestina

Untuk Pertama Kalinya Roket Pejuang Palestina Jatuh di Tel Aviv, 7 Luka-luka

Al-Amary menambahkan bahwa roket itu langsung mengenai salah satu rumah dan menyebabkan kerusakan pada rumah sebelahnya. Enam penghuni luka-luka, dua di antaranya sempat terjebak di reruntuhan bangunan.

Senin, 25/03/2019 16:15 0

Wilayah Lain

Selandia Baru Akan Selidiki Badan-badan Intelijen terkait Teror Cristchurch

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan pemerintah akan membentuk sebuah Komisi Penyelidikan Kerajaan, lembaga penyelidikan tertinggi di Selandia Baru.

Senin, 25/03/2019 14:24 0

Amerika

Masjid di California Dibakar, Pelaku Tinggalkan Pesan ‘Teror Selandia Baru’

Pelaku meninggalkan catatan di jalan masuk masjid yang merujuk pada penembakan brutal di dua masjid Selandia Baru yang menewaskan puluhan orang.

Senin, 25/03/2019 13:26 0

Afrika

Suku Pro Militer Mali Bantai 134 Warga Kabilah Fulani

Kabilah Fulani dituduh mendukung organisasi Al-Qaidah di Mali

Senin, 25/03/2019 11:54 0

Artikel

Di Balik Agresi NATO 1999: Eliminasi Eksperimen Jihad Bosnia

Serangan udara NATO diduga sengaja menargetkan penduduk sipil dan berbagai infrastruktur kota termasuk jembatan, klinik, pembangkit listrik, dan terutama stasiun pusat Radio dan Televisi Serbia.

Senin, 25/03/2019 11:25 0

Afrika

Al-Shabaab Duduki Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Somalia

Dalam pernyataan resmi, member Organsiasi Al-Qaidah itu mengatakan salah satu anggotanya menyerbu gedung pemerintah dengan bom mobil, yang memungkinkan pejuang lain masuk.

Senin, 25/03/2019 09:20 0

Iran

Cina, UEA dan Turki Tempati Negara Pengeskpor Barang Terbesar ke Iran

Uni Emirat Arab (UEA) adalah yang kedua setelah Cina, dengan nilai ekspor $ 5 miliar menjadi $ 919 juta.

Senin, 25/03/2019 08:16 0

Afghanistan

Jet NATO Kembali Tewaskan Belasan Sipil, Warga Kunduz Marah

Saat itu, pasukan NATO menggelar operasi khusus dengan menerjunkan pasukan dari udara.

Senin, 25/03/2019 07:07 0

Indonesia

MAPIM: Masjidil Aqsha Persatukan Umat Islam

"Karena semua sepakat, para ulama cendekiawan bahwa Masjidil Aqsha milik kita"

Ahad, 24/03/2019 21:11 0

Close