... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Teror Christchurch, Teror Berbasis Kemajuan Teknologi

Foto: Ilustrasi tayangan Youtube.

Kemajuan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat serta kehidupan yang serba digital merupakan dua ciri khas dari revolusi industri 4.0. Disadari atau tidak, revolusi industri 4.0 telah membuat dunia ini semakin flat alias datar. Datar dalam artian di ujung dunia manapun orang bisa melihat apa yang dilakukan orang lain secara real time.

Dalam dunia masa kini, terkadang sebuah informasi bisa menjadi basi dalam waktu sekian detik. Sepertinya hal itu sangat disadari oleh Brenton Tarrant, pelaku teror penembakan  di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru pada Jumat (15/03/2019).

Pada saat penembakan dimulai, Tarrant telah memposting berlembar-lembar manifesto penuh ironi melalui Twitter, Facebook, dan 8chan, platform media sosial yang paling digandrungi umat manusia hari ini. Melalui manifesto tersebut, tampaknya Tarrant ingin membentuk sebuah propaganda online yang dapat mengalihkan perhatian publik dari tindakan pembunuhan yang sangat keji ke arah keresahan masyarakat Barat terhadap gelombang imigrasi nonkulit putih serta perubahan demografis yang ditimbulkannya.

Setelah itu, Tarrant menyiarkan secara live melalui Facebook aksi kejinya dalam gaya video game penembak orang pertama. Dia juga sempat mengajak para penonton untuk men-subscribe channel PewDiePie, youtuber paling populer di kolong langit. Tidak sampai di situ, sebagaimana diketahui setidaknya terdapat lima lagu yang diputar selama aksi penembakan, yaitu Remove Kebab/Serbia Stronk, March of the British Grenadiers, Gruen ist Unser Fallschirm, Fire (Crazy World of Arthur Brown), dan Gas Gas Gas. Lagu-lagu tersebut kurang lebih mengandung unsur-unsur kebanggaan diri masyarakat Barat, tentu hal ini akan mempercepat viralnya aksi di tengah masyarakat Barat.

Pembantaian sadis yang terintegrasi dengan budaya internet, begitulah kalimat yang pas untuk aksi teror Tarrant. Setiap detil aksinya dirancang secara khusus sehingga dapat mengeksploitasi kecepatan arus informasi serta luasnya jangkauan media sosial secara maksimal. Jika kita sejenak berpikir, hal ini tentu mengerikan. Aksi teror ini tentu akan menginspirasi orang-orang yang memiliki pemikiran serupa dengan Tarrant dan membuat mereka lebih berani untuk melakukan aksi yang lebih berani di masa mendatang, dan bisa dipastikan itulah tujuan utama Tarrant.

Terorisme dan TV Kabel

Namun, apa yang dilakukan Tarrant bukanlah hal yang baru. Sudah sejak lama, para teroris menggunakan kemajuan teknologi untuk mempromosikan aksi terornya. Sebut saja Eric Harris, remaja asal Colorado yang terinspirasi oleh aksi bom truk ala Timothy McVeigh yang menewaskan 168 orang di Oklahoma City pada 1995. Pada 19 April 1999, Harris merencanakan sebuah aksi teror untuk memperingati aksi Timothy McVeigh, namun karena kekurangan amunisi, dia baru bisa melancarkan aksinya pada 20 April, hari ulang tahun Hitler.

BACA JUGA  Joko Santoso, Takmir Masjid Penderita Stroke Butuh Bantuan Kita

Harris dibantu oleh teman dekatnya Dylan Klebold, ingin membunuh lebih banyak dari McVeigh. Mereka mulai menembaki teman-teman sekelasnya. Dan mereka juga ingin kejahatannya lebih tersebar. Mereka pun berencana membajak TV kabel yang menyiarkan berita selama 24 jam. Mereka berencana mengabarkan aksinya melalui saluran TV kabel. Aksi yang mereka rencanakan adalah, menembaki siswa satu sekolah, meledakkan bom di sejumlah kafetaria, serta mengangkut kendaraan bermuatan bahan peledak ke tengah-tengah kru TV, polisi, dan petugas penyelamat yang mengerumuni mereka.

Satu-satunya hal yang menggagalkan aksi mereka adalah kenyataan bahwa mereka hanyalah remaja tanggung. Mereka merakit bom dengan referensi yang keliru dari internet, bom mereka pun tidak meledak. Meski gagal, Harris sempat mengunggah jurnal tulisannya di internet. Sejak saat itu, banyak penembak sekolah yang mengaku terinspirasi oleh jurnal Harris.

Breivik dan Internet

Pada 2011, ketika internet dan media sosial mulai muncul sebagai platform media massa alternatif. Muncullah Anders Breivik, sebagaimana Eric Harris, Breivik tidak ingin sekedar membunuh, dia ingin memastikan bahwa dia akan terkenal setelah membunuh. Breivik menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan segala aksinya, dia juga menyusun manifesto setebal 1500 halaman. Manifesto tersebut penuh ungkapan kebencian terhadap muslim.

Breivik menggunakan bom mobil dan senjata semi otomatis untuk membunuh 77 orang -termasuk lusinan anak-anak- yang berafiliasi dengan Partai Buruh Norwegia yang berhaluan kiri. Rencana awalnya adalah, setelah serangan tersebut, dia akan memborgol mantan perdana menteri Partai Buruh, memenggalnya dengan bayonet, memfilmkan eksekusi di iPhone-nya dan mengunggahnya secara online.

Pembunuhan Isla Vista

Pada 2014, ketika Facebook telah go public dan terlibat dalam pacuan kuda setiap harinya dengan Google dan Twitter. Dan ketika sebagian besar warga dunia mulai membawa smartphone di saku mereka. Elliot Rodger (22) melakukan penembakan liar di Isla Vista, California. Rodger membunuh enam orang dan melukai tiga belas orang lainnya sebelum membunuh dirinya sendiri.

BACA JUGA  Joko Santoso, Takmir Masjid Penderita Stroke Butuh Bantuan Kita

Sebelum aksinya, dia mengunggah video manifesto di Youtube dan Facebook yang berisikan keinginannya untuk menghukum wanita karena telah menolaknya dan membuat dia tidak bisa berhubungan seks. Dalam manifesto tersebut, Rodger juga merincikan kebenciannya terhadap wanita serta pria-pria yang mendapat perhatian wanita, khususnya pria berkulit hitam.

Meskipun akun Facebook dan Youtube milik Rodger telah dihapus tak lama setelah kematiannya. Namun nyatanya video manifesto tersebut seringkali diposting ulang oleh “fans” Rodger. Dan tentu saja video tersebut memberikan inspirasi kepada orang-orang untuk melakukan hal serupa. Tahun lalu, Alex Minassian, pemuda 25 tahun menabraki setidaknya sepuluh pejalan kaki hingga tewas dengan menggunakan mobil van di jalanan Toronto, Kanada. Dan Alex mengaku terinspirasi oleh Elliot Rodger.

Aksi teror berbasis kemajuan teknologi selanjutnya terjadi pada tahun 2015. Vester Lee Flanagan II menembaki mantan rekan kerjanya di WDBJ TV, Virginia. Untuk membawa audiens lebih dekat dengan kekerasan, Flanagan memfilmkan dirinya sendiri ketika membunuh korban lalu mengunggahnya ke Facebook dan Twitter. Video tersebut dia rekam dari sudut pandangnya dan terlihat identik dengan video game penembak orang pertama. Sebagaimana pembunuh sebelumnya, Flanagan juga merilis manifesto dan dia juga mengaku terinspirasi oleh Eric Harris.

Tarrant adalah Evolusi

Jika kita lihat secara seksama, aksi teror berbasis kemajuan teknologi adalah hal yang nyata. Mereka benar-benar mempertimbangkan bagaimana aksinya bisa terintegrasi dengan kemajuan teknologi di zamannya. Dan sekali lagi, semua dimaksudkan untuk mempengaruhi khalayak sebanyak-banyaknya dan memberi inspirasi seluas-luasnya kepada siapapun yang mungkin memiliki kesamaan dengan pelaku.

Kini, Tarrant hadir sebagai evolusi dari semua itu. Dibanding pendahulunya, memang Tarrant tidak tampak melakukan sesuatu yang baru. Namun Tarrant, di samping aksinya lebih kejam, jelas dia lebih maju dalam hal berintegrasi dengan teknologi, pesan-pesan yang dia sampaikan juga lebih cepat dipahami, Tarrant benar-benar berusaha agar propagandanya bisa tersebar luas dan dipahami oleh kerumunan generasi Z yang sangat-sangat online.

Penulis: Bang Azzam

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Manhaj

Brenton Tarrant dan Tabiat Kebencian Orang Kafir kepada Umat Islam

Di dalam ayat ini sangat jelas bahwa orang kafir akan berupaya terus menerus dan lintas generasi untuk menjerumuskan umat Islam kepada kekafiran, berbagai cara akan mereka lakukan.

Jum'at, 22/03/2019 06:36 0

Indonesia

Mantan Ketua KPK Sarankan Jokowi Tunjuk Plt Gantikan Menteri Agama

Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas Sarankan Presiden Tunjuk Plt Gantikan Menteri Agama

Kamis, 21/03/2019 21:40 0

Indonesia

TPK Serahkan Keterangan Hasil Autopsi Siyono Kepada Hakim Praperadilan

TPK Serahkan Keterangan Hasil Autopsi Siyono Kepada Hakim Praperadilan

Kamis, 21/03/2019 21:04 0

Indonesia

Bantah Pernyataan Wiranto, Prof. Mudzakir: Hoaks Beda Jauh dengan Terorisme

Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Mudzakir SH, MH menyebut Wiranto berlebihan dalam langkahnya yang ingin tangani kasus hoaks dengan UU terorisme.

Kamis, 21/03/2019 18:21 0

Wilayah Lain

Pasca Serangan Teroris 15 Maret, Selandia Baru Perketat Aturan Senjata Api

Selandia Baru akan melarang penjualan senapan serbu semi-otomatis standar militer berdasarkan undang-undang baru yang lebih ketat.

Kamis, 21/03/2019 14:27 0

Eropa

Islamofobia Meningkat di Jerman, Muslimah Hamil Dipukuli Pria Tak Dikenal

Setelah menghina dan mencaci jilbab yang dikenakan, pria itu meninju perut muslimah tersebut.

Kamis, 21/03/2019 14:03 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Teror Selandia Baru dan Industri Islamofobia

Khutbah Jumat: Teror Selandia Baru dan Industri Islamofobia

Kamis, 21/03/2019 13:54 0

Indonesia

Ditangkap Densus 88, Yuli Wanita Klaten Meninggal di Tahanan dengan Lambung Robek

Menurut dokter forensik Yuli mengalami pendarahan hebat akibat pengkikisan zat korosif di lambung

Kamis, 21/03/2019 13:38 0

Video News

Inilah Nama-nama Mereka yang Gugur di Teror Selandia Baru

KIBLAT.NET- 15 Maret 2019 menjadi hari berdarah bagi umat Islam di dunia. Muslim yang tengah...

Kamis, 21/03/2019 13:01 0

Indonesia

Lagi, Warga Klaten Meninggal Dunia Setelah Ditangkap Densus 88

Warga desa Joton, Klaten dikagetkan dengan kabar meninggalnya Yuli Rahayuningrum setelah ditangkap Densus 88 pada Kamis (14/03/2019). Bahkan, sebelumnya mereka mengaku tidak percaya atas kabar tersebut.

Kamis, 21/03/2019 11:36 0

Close