... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Negara-negara Mayoritas Muslim Didesak Tekan Cina Akhiri Penindasan Uighur

Foto: Mohamad Mahmoud, kiri, dan Abdel Khaleq Uighur, kanan [Ali Younes / Al Jazeera]

KIBLAT.NET, Doha – Cendekiawan Muslim Uighur yang tergabung dalam Society of the Muslim Scholars of East Turkistan (SMSET) mendesak negara-negara mayoritas Muslim untuk menekan Cina agar mengakhiri tindakan keras terhadap etnis mereka.

Menurut panel PBB, lebih dari satu juta warga Uighur dan Muslim lainnya ditahan di kamp-kamp konsentrasi di wilayah barat yang terpencil. Para cendekiawan menyebut Cina telah melakukan pelanggaran HAM secara sistematis, terkait agama dan budaya Uighur.

“Pemerintah Cina melancarkan perang budaya terhadap rakyat kami dengan mencoba memaksa kami untuk meninggalkan kepercayaan Muslim kami dan warisan kami. Memaksa kami untuk menjadi ateis dan komunis seperti masyarakat mayoritas Cina,” kata Abdel Khaleq Uighur dari SMSET di Doha, Qatar pada Selasa (19/03/2019).

Pada bulan Januari, Cina mengeluarkan undang-undang baru untuk mengatur Islam dalam lima tahun ke depan. Beijing akan menulis ulang bagaimana agama itu dipraktikkan dalam bentuk Sinifikasi, yaitu proses peleburan komunitas non-Cina ke dalam mayoritas budaya Cina Han.

Jalan Sutra Kuno

Orang-orang Uighur, yang tanah kelahirannya berada di jantung Jalan Sutra kuno, mengatakan Beijing melihat kehadiran mereka sebagai penghambat perkembangan ekonomi dan ekspansi ke arah barat melalui Belt and Road Initiatif (BRI).

Diluncurkan pada 2013, dorongan investasi besar-besaran ini bertujuan untuk membiayai dan membangun infrastruktur di sekitar 80 negara di seluruh dunia, termasuk di Timur Tengah dan sebagian Eurasia.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Tiga Sikap Umat Islam Terhadap Kezaliman Penguasa

“Dengan kereta api berkecepatan tinggi dan perkembangan transportasi darat yang ditingkatkan lainnya, Cina berusaha untuk mempromosikan perdagangan darat dan laut secara simultan antara Cina dan Timur Tengah,” kata Wang Jian, seorang profesor sejarah dan ekonomi politik internasional di Akademi Ilmu Sosial Shanghai dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada 2017.

Mohamad Mahmoud, dari SMET, berpendapat bahwa janji-janji Cina akan kekayaan besar dan pembangunan ekonomi dari proyek-proyek BRI-nya telah mencegah negara-negara mayoritas Muslim untuk mengatasi tindakan keras terhadap warga Uighur.

“Saya berharap bahwa negara-negara Muslim dapat mengatasi ketakutan mereka terhadap Cina dan mengatasi pelanggaran HAM beratnya terhadap komunitas kami,” katanya.

Menurut laporan Amnesty 2018, seorang Uighur dapat dianggap sebagai seorang ekstremis ketika menampakkan syiar-syiar Islamnya, seperti menumbuhkan janggut, mengenakan jilbab atau jilbab, sholat rutin, puasa atau menghindari alkohol, dan memiliki buku atau artikel tentang Islam atau budaya Uighur.

Pekan lalu, pemerintah Cina menerbitkan makalah yang menguraikan dan mempertahankan kebijakannya terhadap Uighur sebagai langkah “deradikalisasi”. Koran itu mengakui penangkapan 13.000 Muslim Uighur sejak 2014.

Menanggapi klaim pemerintah tentang “terorisme dan radikalisme” di wilayah itu, Mahmoud mengatakan klaim pemerintah Cina itu tidak benar.

“Rakyat kami tidak mencari pemisahan dan tidak ada terorisme atau pemberontakan bersenjata di Turkistan Timur,” katanya. “Satu-satunya terorisme di wilayah ini berasal dari pemerintah Cina sendiri.”

BACA JUGA  22 Negara Desak Cina Hentikan Kejahatan di Xinjiang, Serukan Pengawasan Internasional

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Ust. Muhajirin: Mengapa Mereka Takut Mati?

KIBLAT.NET – Ust. Muhajirin: Mengapa Mereka Takut Mati? Setiap yang hidup akan mati. Seperti itulah...

Kamis, 21/03/2019 09:45 0

Indonesia

Pascateror Christchurch, Azan Shalat Jumat Akan Berkumandang di Seantero Selandia Baru

Perdana Menteri Selandia Baru secara resmi menyatakan akan ada mengheningkan cipta selama dua menit dan azan Jumat akan dikumandangkan di seluruh Selandia Baru

Rabu, 20/03/2019 20:40 0

Indonesia

Pelaku Penganiayaan Siyono Semestinya Dihukum Berat

Pelaku Penganiayaan Siyono Semestinya Dihukum Berat

Rabu, 20/03/2019 19:43 0

Video Kajian

Zoom In : Inilah 5 Fase Kehidupan Manusia

KIBLAT.NET- Sesuai yang diberitakan dalam Al-Quran, ada 5 fase kehidupan manusia yang diawali dari alam...

Rabu, 20/03/2019 18:51 0

Indonesia

Ingin Tangani Hoaks dengan UU Terorisme, Logika Wiranto Dinilai Salah

Nasrullah Nasution menegaskan bahwa wacana Wiranto untuk menangani hoaks dengan undang-undang terorisme adalah logika yang salah.

Rabu, 20/03/2019 16:45 0

Indonesia

Wiranto Ingin Tangani Hoaks dengan UU Terorisme

ia berasumsi bahwa penanganan hoaks bisa menggunakan Undang-undang terorisme

Rabu, 20/03/2019 16:36 0

Indonesia

Busyro Muqoddas: Polres Klaten Lakukan Pendiaman Kasus Kematian Siyono

Busyro Muqoddas hari ini mendadak mendatangi rumah keluarga Siyono saat proses praperadilan masih berjalan

Rabu, 20/03/2019 14:42 0

Indonesia

Korban Meninggal Banjir Bandang Sentani Capai 104 Orang

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa saat ini korban meninggal sudah mencapai 104 orang.

Rabu, 20/03/2019 14:32 0

Indonesia

Pengamat Pendidikan: Ujian Nasional Bukan Tolok Ukur Keberhasilan Siswa

Pengamat pendidikan Ena Nurjanah menilai tidak ada alasan yang signifikan bahwa UN merupakan satu-satunya parameter terbaik untuk mengukur keberhasilan belajar siswa.

Rabu, 20/03/2019 13:39 0

Foto

Begini Suasana Pemakaman Puluhan Korban Teror di Masjid Selandia Baru

Warga muslim tidak bisa memakamkan para korban segera sejak insiden teror pada Jumat itu karena menunggu proses identifikasi. Sehingga pemakaman diundur hingga Rabu.

Rabu, 20/03/2019 10:55 0

Close