... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Ada “Brenton” di Negeri Kita

Foto: Brenton Tarrant.

Dunia masih tercekat. Tak habis pikir mengapa ada manusia seperti Brenton Tarrant. Menenteng senjata semi otomatis yang penuh mantra, ia tuju sebuah masjid yang sedang bersiap menggelar Jumatan. Senjata yang ia tenteng menyalak, puluhan jamaah roboh bersimbah darah. Semua ia siarkan penuh kebanggaan melalui Facebook. Hingga kini, 50 orang dilaporkan tewas.

Sebenarnya, motif Brenton dapat diketahui sejak ia menyanyikan sebuah lagu saat masih mengendarai mobil. Lagu berisi pujian untuk Radovan Karadzic, aktor utama pembunuhan etnis muslim Bosnia, 1995 silam. Motif lebih jelas terlihat dari manifesto yang ia unggah, dan coretan-coretan pada senjata yang ia gunakan untuk membantai.

Sebagian coretan laksana mantra itu berupa nama-nama tokoh perlawanan terhadap kaum Muslim. Mulai Alexandre Bissonnette yang menyerbu masjid di kota Quebec tahun 2017 hingga nama-nama pasukan dan panglima Kristen yang berhasil menaklukkan tentara Khilafah Utsmaniyah.

Dendam bermotif agama itulah yang membuat Brenton sebenarnya tidak sendirian. Apalagi ia penganut ekstrimis sayap kanan yang anti-Islam dan anti-imigran. Kelompok inilah yang menjadi motor kampanye Islamophobia dalam sebuah gerakan Counter Jihad Movement (CJM). Mereka juga aktif bertukar pikiran dan gagasan di internet, di antaranya Counter Jihad Forum.

Dengan kebanggaan kepada nilai-nilai Judeo-Christian dan liberalism, CJM aktif meyakinkan publik bahwa Islam sedang berperang melawan Barat, dan kaum Muslimin secara diam-diam ingin melakukan Islamisasi di negeri mereka. Selain itu, CJM suka terus menyerang negara-negara yang dinilai terlalu lembek terhadap imigran Muslim. Narasi semacam itulah yang kemudian melahirkan Brenton Tarrant.

BACA JUGA  Deklarasi Kemenangan di Tengah Kontestasi Elektoral Indonesia

Tapi keberadaan Brenton dan kawan-kawan bukan muncul dari sekadar gerakan sosial semata. Islamophobia terus mereka produksi bekerjasama dengan negara, politisi, media, dan akademisi. Negara, dengan kebijakan Counter Violent Extremism (CVE), menjadikan “ekstrimis” dan “radikal” sebagai target.

Pada praktiknya, semua program itu hanya diarahkan kepada kelompok Islam. Pengawasan masjid, intervensi khutbah dan ceramah, revisi kurikulum madrasah, pendefinisian ulang ajaran Islam dan revisi agama Islam menjadi ajaran baru yang oleh mereka dianggap lebih moderat. Narasi teror dan ketakutan selalu dikaitkan dengan jenggot, halaqah, cadar dan atribut sejenis lainnya.

Narasi ketakutan seperti itu juga nyaring di negeri kita. Sebelumnya, negara aktif memerangi terorisme dengan mendirikan lembaga khusus, lengkap dengan kekuatan pemukul. Kini, seorang Muslim tak perlu mengebom terlebih dulu untuk menjadi musuh negara. Cukup dengan menganut ajaran Islam secara menyeluruh, akan mendapat stempel sebagai kelompok radikal.

Al-Quran menjadi barang bukti dalam pengungkapan kasus terorisme. Organisasi pengusung ide khilafah langsung dibabat dengan hukum. Penganut, simpatisan atau siapapun yang memiliki ide yang sama, dikucilkan secara sosial dengan tuduhan sebagai kelompok ekstrimis. Khutbah di masjid pun diawasi dengan menerbitkan sertifikasi para khatib.

Kurikulum sekolah diperbarui, kegiatan mahasiswa kampus dipantau, untuk memastikan tidak ada lagi gagasan tentang khilafah. Terbaru, terminologi Al-Wala’ wal Bara’ yang diajarkan Islam mencoba diusik dengan wacana penyebutan non-muslim sebagai ganti kata kafir.

BACA JUGA  Tipu Daya Israel di Balik Perluasan Area Tangkap Ikan untuk Nelayan Gaza

Masih banyak contoh lain yang membuktikan kampanye Islamofobia sedang mewabah di negeri ini. Sebuah kampanye yang memiliki mata rantai berkelindan dengan sosok Brenton.

Di satu sisi berupa munculnya propagandis Islamofobia berwujud politisi, cendekiawan dan tokoh serta organisasi agama.  Di sisi lain, gerakan Islamofobia di atas, lama kelamaan akan berpotensi melahirkan “Brenton-Brenton” baru di negeri kita. Naudzubillah.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Farid Ridwanuddin: Investor Asing Ancam Rakyat Pesisir

KIBLAT.NET, Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi mendesak DPR-RI untuk menunda atau menghentikan...

Ahad, 17/03/2019 09:30 0

Video News

Ketua PPP Diperiksa KPK, Ini Pesan Ust. Bachtiar Nasir untuk Politikus Muslim

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Ahad, 17/03/2019 09:00 0

Video News

Dr. Henri Shalahuddin: Ini Alasan Kenapa MIUMI Tolak RUU P-KS

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Ahad, 17/03/2019 08:45 0

Indonesia

Kementerian Agama Akan Pecat Pegawai yang Terlibat OTT KPK

"Kami akan berhentikan ASN yang terlibat dalam peristiwa OTT, dan tidak akan memberikan bantuan hukum dalam bentuk apapun," ujar Lukman.

Ahad, 17/03/2019 06:17 0

Feature

Teror Christchurch & Warisan Kolonialisme

Jika kini kaum kulit putih rasialis itu mengeluhkan soal imigran, maka seharusnya mereka sadar, leluhur merekalah yang dahulu menjadi tamu tak diundang dan merampas kekayaan dan kemerdekaan orang-orang yang mereka jajah. Meninggalkan warisan kolonialismenya hingga saat ini.

Sabtu, 16/03/2019 21:22 0

Indonesia

Komentari OTT Rommy, UBN Imbau Politisi Muslim Bertakwa Kepada Allah

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menyoroti penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy

Sabtu, 16/03/2019 20:22 0

Indonesia

Syaikh Al-Muhaisini Jelaskan Perbedaan Perlakuan Jika Pelaku Teror di Selandia Baru Muslim

Syaikh Abdullah Al-Muhaisini, Ulama Saudi yang berjihad di Suriah turut melayangkan rasa belasungkawa terhadap korban teror masjid di Selandia Baru.

Sabtu, 16/03/2019 20:07 0

Indonesia

Masjid di Selandia Baru Diserang, FPI: Umat Islam Korban Terorisme Sebenarnya

Terorisme dan aksi terorisme yang selama ini dinisbatkan kepada umat Islam, pada faktanya justru Islam dan Umat Islam menjadi korban.

Sabtu, 16/03/2019 19:22 0

Indonesia

Kecam Teror Masjid di Selandia Baru, DSKS Gelar Aksi

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) turut berduka cita atas tragedi penembakan di Masjid al-Noor dan Linwood Selandia Baru.

Sabtu, 16/03/2019 19:02 0

Video News

Terjadi Teror di Selandia Baru, Ini Himbauan Ust. Bachtiar Nasir Pada Umat Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Sabtu, 16/03/2019 14:54 0

Close