... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Amerika Tolak Diadili Atas Kejahatan Perang di Afghanistan

Foto: Pasukan AS di Kandahar, Afghanistan selatan (foto: dok). Hasil survei terbaru mendapati 82 persen warga AS menentang perang di Afghanistan.

KIBLAT.NET, Washington – Amerika Serikat akan mencabut atau menolak visa untuk pejabat Pengadilan Pidana Internasional (ICC) yang berusaha menyelidiki dugaan kejahatan perang oleh pasukan AS atau sekutunya di Afghanistan. Sekretaris Negara Mike Pompeo menyebut, bahwa ICC melanggar aturan hukum AS.

“Saya mengumumkan kebijakan pembatasan visa AS pada orang-orang yang secara langsung bertanggung jawab atas penyelidikan ICC terhadap personel AS,” kata Pompeo kepada wartawan di Washington, Jumat (15/03/2019).

“Kami bertekad untuk melindungi personel militer dan sipil Amerika dan sekutu dari hidup dalam ketakutan akan penuntutan yang tidak adil atas tindakan yang diambil untuk membela negara besar kami.”

Para pejabat AS telah lama memusuhi ICC yang bermarkas di Belanda. Mereka menganggap bahwa pengadilan Amerika mampu menangani dugaan kejahatan internasional yang dilakukan pasukan AS.

“Pembatasan visa ini juga dapat digunakan untuk menghalangi upaya ICC untuk mengejar personel sekutu, termasuk Israel,” tambahnya.

“Pembatasan visa ini tidak akan menjadi akhir dari upaya kami,” katanya. “Kami siap mengambil langkah-langkah tambahan, termasuk sanksi ekonomi, jika ICC tidak mengubah rencananya.”

Sementara itu, ICC mengeluarkan pernyataan untuk terus melakukan upaya penyelidikan dan “tidak terpengaruh” oleh tindakan AS.

“Pengadilan adalah lembaga peradilan yang independen dan tidak memihak yang penting untuk memastikan pertanggungjawaban atas kejahatan paling berat menurut hukum internasional,” kata pernyataan itu.

BACA JUGA  Puluhan Prajurit AS di Atas Kapal Induk Terinfeksi Covid-19

“ICC, sebagai pengadilan hukum, akan terus melakukan pekerjaan independennya, tidak terpengaruh, sesuai dengan mandatnya dan prinsip aturan main hukum yang menyeluruh.”

AS tidak pernah bergabung dengan ICC. Seorang jaksa penuntut, Fatou Bensouda, meminta para hakim pada November 2017 untuk memulai investigasi terhadap dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh pasukan keamanan nasional Afghanistan, pejuang jaringan Taliban dan Haqqani, pasukan AS serta pejabat intelijen di Afghanistan sejak Mei 2003.

Jaksa mengatakan bahwa anggota militer dan badan intelijen AS melakukan tindakan penyiksaan, perlakuan kejam, kemarahan terhadap martabat pribadi, pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap tahanan dalam konflik di Afghanistan dan lokasi lainnya, terutama dalam periode 2003-2004.

Hakim sedang meninjau semua materi yang diajukan oleh jaksa penuntut, dan harus memutuskan apakah akan mengesahkan penyelidikan. Palestina juga telah meminta pengadilan atas kejahatan yang dilakukan Israel.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kemenag Akan Bantu KPK Investigasi OTT Romahurmuziy

Menag Lukman Hakim Saifuddin bahkan mengaku siap dipanggil KPK untuk bersaksi atas kasus ini.

Ahad, 17/03/2019 12:41 0

Tarbiyah Jihadiyah

Menjalani Hidup dengan Mentalitas Mujahid

Terkadang ketika membaca ayat-ayat tentang jihad, kita membayangkan untuk diri sendiri. Sungguh cita-cita yang besar karena jihad adalah amalan tertinggi di dalam Islam.

Ahad, 17/03/2019 11:57 0

Opini

Taliban Adalah Sang Pembebas

Sebuah interview dengan juru bicara Imarah Islam (Taliban), Zabihullah Mujahid, yang disiarkan oleh stasiun TV Shamshad bisa dikatakan sangat menarik, komprehensif, dan menjawab banyak hal penting.

Ahad, 17/03/2019 11:40 0

Video Kajian

Al-Muhaisini: Ini Respon Dunia Andai Pelaku Teror Selandia Baru Muslim

KIBLAT.NET – Al-Muhaisini: Ini Respon Dunia Andai Pelaku Teror Selandia Baru Muslim. Penyerangan brutal terhadap...

Ahad, 17/03/2019 11:16 0

Editorial

Editorial: Ada “Brenton” di Negeri Kita

Tak habis pikir mengapa ada manusia seperti Brenton Tarrant. Menenteng senjata semi otomatis yang penuh mantra, ia tuju sebuah masjid yang sedang bersiap menggelar Jumatan.

Ahad, 17/03/2019 10:49 0

Video News

Farid Ridwanuddin: Investor Asing Ancam Rakyat Pesisir

KIBLAT.NET, Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi mendesak DPR-RI untuk menunda atau menghentikan...

Ahad, 17/03/2019 09:30 0

Video News

Ketua PPP Diperiksa KPK, Ini Pesan Ust. Bachtiar Nasir untuk Politikus Muslim

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Ahad, 17/03/2019 09:00 0

Video News

Dr. Henri Shalahuddin: Ini Alasan Kenapa MIUMI Tolak RUU P-KS

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Ahad, 17/03/2019 08:45 0

Indonesia

Kementerian Agama Akan Pecat Pegawai yang Terlibat OTT KPK

"Kami akan berhentikan ASN yang terlibat dalam peristiwa OTT, dan tidak akan memberikan bantuan hukum dalam bentuk apapun," ujar Lukman.

Ahad, 17/03/2019 06:17 0

Feature

Teror Christchurch & Warisan Kolonialisme

Jika kini kaum kulit putih rasialis itu mengeluhkan soal imigran, maka seharusnya mereka sadar, leluhur merekalah yang dahulu menjadi tamu tak diundang dan merampas kekayaan dan kemerdekaan orang-orang yang mereka jajah. Meninggalkan warisan kolonialismenya hingga saat ini.

Sabtu, 16/03/2019 21:22 0

Close