... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Teror Christchurch & Warisan Kolonialisme

Foto: Seorang korban penembakan di Masjid Al-Nour Christchurch, Selandia Baru dibawa ke ambulan.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Geram, amarah, murka, kesedihan bercampur aduk menjadi satu. Teror terhadap umat Islam di Christchurch, Selandia Baru menghentak dunia. Bukan saja karena massif dan brutalnya tragedi itu, tetapi juga sikap pelaku yang mengungkapkan kebenciannya terhadap kaum Muslimin secara terbuka.

Aksi live di media sosial Facebook tentu bukan iseng belaka. Aksi itu setidaknya dapat kita duga ingin menggalang kebencian yang sama, atau bahkan menginspirasi para pembenci sakit jiwa seperti dirinya. Satu hal yang patut dicermati adalah manifesto, pernyataan dari pelaku yang diunggah secara terbuka.

Seperti dikutip news.com.au, alasan aksi teror itu menurut pelaku : “Untuk menunjukkan pada semua penyerbu (pendatang) bahwa tanah kita tidak akan menjadi tanah mereka, negeri kita milik kita, selama pria kulit putih masih hidup, mereka tidak AKAN pernah menjajah tanah kita dan mereka tidak akan pernah menggantikan orang-orang kita.”

Pikiran Brenton Tarrant, begitu dia menyebut dirinya, adalah satu pikiran pemuja supremasi kulit putih, rasialis yang kini marak di Amerika dan Eropa. Dalam kadar yang berbeda-beda gerakan ini menjadi bangkit (kembali) di negeri-negeri yang mendapuk sebagai pelopor demokrasi.

Di Eropa, berdasarkan data BBC, pada tahun 2018, politik supremasi kulit putih bergandengan tangan dengan partai-partai ultra-nasionalis / kanan jauh (Far-Right). Di Swedia, partai Sweden Democrats meraih 17, 6% suara dalam pemilu nasional. Di Denmark, Danish People’s Party meraih 21% suara, di Jerman, partai Alternative for Germany (AfD) ,meraih 12,6%, Front National di Perancis 13%, di Swiss yang relatif jauh dari hiruk pikuk politik global, Swiss People’s Party 29%, di Italia, Five Star Movement meraup 17,4% suara. Menariknya, pemilih mereka rata-rata berusia muda.

Isu anti-imigran, rasialisme, supremasi kulit putih dan Islamophobia menjadi dagangan mereka. Kesulitan persaingan mencari pekerjaan, kehidupan ekonomi yang tak memuaskan ditimpakan kepada para imigran (termasuk muslim) dan bergerak menjadi Islamophobia.

Menarik ketika mendengar argumen mereka, menyebutkan imigran sebagai penjajah. Mereka merasa imigran menyerbu tanah air mereka. Terlebih jika kita menelusuri sikap rasialisme mereka. Akar sikap seperti ini dapat kita telusuri balik lagi ke masa kolonialisme Eropa di berbagai belahan dunia, seperti Afrika atau pun Asia.

Orang-orang Afrika atau Asia tidak pernah meminta para penjajah kulit putih rasialis ini datang. Namun dorongan ekonomi kapitalisme, mendorong kolonialis ini berekspansi, mencari lahan bagi pasar mereka akibat kelebihan produksi dari perusahaan di negara-negara maju di Eropa. (Edy Burmansyah: 2014)

Isu imigran dalam kasus teror di Selandia Baru jadi bahan tertawaan netizen.

Selanjutnya kolonialisme bangsa-bangsa Eropa menjadikan mereka tamu-tamu tak diundang yang membanjiri negeri-negeri di Afrika dan Asia, termasuk negeri kaum muslimin. Lihatlah bagaimana para kolonialis Eropa membagi-bagi negeri Afrika layaknya santapan siang mereka.

BACA JUGA  Kyai Cholil Nafis: Semoga Mursi Diterima Sebagai Syuhada

Sejak 1860-an Perancis dan Inggris membelah-belah Afrika Barat lewat eksplorasi sistematis mereka. Selama 40 tahun kemudian, ratusan perjanjian disepakati membelah-belah Afrika. Tonggaknya, pada November 1884 Konferensi Berlin menyekat-nyekat Afrika tanpa tahu situasi di Afrika. Sekat-sekat kolonial itu tentu saja (tragisnya) tanpa seizin orang-orang Afrika. Belgia mendapatkan Kongo (Afrika Tengah).  Belgia, Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Italia berebut membelah-belah Afrika. Tak peduli wilayah yang mereka sekat-sekat adalah satu etnis yang menyatu. Menjajah Afrika, dan mengangkut kekayaannya. Bahkan Eropa melihat orang Afrika sebagai satu komoditas, yaitu sebagai budak. (Steven P. Johnson: 2014)

Di Kongo, Raja Leopold II dari Belgia melakukan praktik brutal dengan meneror rakyat Kongo. Kebijakan perkebunan karet membuat mereka memaksa rakyat Kongo menyerahkan hasil karet dalam jumlah tertentu. Tentara Belgia mulai menjarah desa-desa. Para wanita disandera, sebagai jaminan agar kuota hasil karet mereka dipenuhi. Pemerkosaan massal terjadi menimpa para wanita tersebut di berbagai desa. Pria di beberapa desa juga dipaksa memerkosa ibu dan saudari mereka, apabila kuota karet tidak dipenuhi. . (Steven P. Johnson: 2014)

Tentara Belgia dibawah Raja Leopold II memberlakukan hukuman kejam potong tangan apabila kuota karet tidak terpenuhi. Apabila berat dari kuota karet tidak terpenuhi, maka tangan-tangan rakyat Kongo dipotong sampai berat kuota itu terpenuhi oleh berat potongan tangan-tangan manusia. (Steven P. Johnson: 2014)

Di Australia, pencaplokan terhadap tanah orang-orang Aborigin terjadi secara vulgar. Australia menjadi negeri yang menampung para narapidana Inggris. Koloni narapidaan ini dimulai sejak tahun 1803. Pada tahun 1850, lebih dari 160 ribu narapidana berangkat dari Inggris menuju Australia. (Peter Genger: 2018)

Tentu saja Australia bukan tanah kosong. Negeri orang Aborigin ini didatangi para “imigran narapidana” tak diundang. Sikap ramah orang Aborigin disalahgunakan. Bahkan terjadi genosida terhadap mereka. Terutama genosida kultural. Orang-orang Aborigin dianggap tidak ada. Supremasi kulit putih sedang menampakkan arogansinya. (Peter Genger: 2018)

Pembantaian suku asli Aborigin oleh kaum kulit putih.

Para pendatang dari Inggris ini menularkan berbagai penyakit seperti cacar, tifus, bahkan sifilis pada orang-orang Aborigin. Koloni narapidana ini juga melakukan genosida kultural. Bahasa, rumah, kepercayaan, semua dihancurkan. Orang-orang pribumi dianggap tidak beradab, oleh karena itu harus menjadi (hidup) seperti para narapidana kulit putih tersebut. Orang-oran g aborigin menjadi orang yang tersingkirkan dan termarjinalkan hingga saat ini. (Peter Genger: 2018)

BACA JUGA  Hukum Menambahkan Lafadz "Sayyidina" Saat Tasyahhud, Shalawat dan Adzan

Di Afrika, kolonialisme yang membelah-belah benua itu secara serampangan atas dasar keserakahan telah meninggalkan persoalan serius. Pembelahan wilayah telah memecah-mecah etnis yang ada dalam negara yang berbeda-beda. Studi yang dilakukan oleh Michalopoulos dan Papaionnou (2016) memberi kesimpulan menarik. Warisan kolonialisme yang membelah-belah ini membuat Afrika menjadi negara yang rentan didera konflik dan perang sipil etnis yang mengerikan.

Akibat pembelahan wilayah, etnis yang menjadi minoritas cenderung terdiskriminasikan, dan menjadi kelompok pemberontak. Kelompok yang memberontak ini seringkali dimanfaatkan oleh pemerintahan lain untuk mendestabilisasi negara tetangganya. Pasca era kolonialisme, Afrika akhirnya seringkali diperintah oleh diktator dan berujung pada perang sipil.

Demikianlah, tidak ada dari orang-orang Afrika, Asia atau Aborigin yang meminta kehadiran kaum kulit putih rasialis tersebut datang ke negeri mereka. Kehadiran para kaum penjajah ini mewariskan dampak yang berkepanjangan. Negeri Afrika sebagian menjadi negara-negara yang didera konflik sipil berkepanjangan. Membuat sebagian dari mereka sampai sekarang bermigrasi ke negara-negara eropa.

Menurut data Global Agenda Council on Europe, pada tahun 2015, ada 1 juta pencari suaka di 28 negara Uni Eropa. Swedia menjadi negara yang paling banyak menerima pengungsi. Selain dari Suriah, dan Afrika, pengungsi dari Irak dan Afghanistan menjadi penyumbang yang besar. Amerika Serikat yang datang tak diundang ke Afghanistan dan Irak telah membuat kedua negeri tersebut hancur lebur, mengakibatkan eksodus rakyat Afghanistan dan Irak berlarian ke Eropa.

Tamu tak diundang orang-orang kulit putih bersama rasialismenya telah menciptakan tragedi di Afrika, Asia dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya. Kehancuran yang membuat mereka berlarian meninggalkan negerinya.

Jika kini kaum kulit putih rasialis itu mengeluhkan soal imigran, maka seharusnya mereka sadar, leluhur merekalah yang dahulu menjadi tamu tak diundang dan merampas kekayaan dan kemerdekaan orang-orang yang mereka jajah. Meninggalkan warisan kolonialismenya hingga saat ini.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Komentari OTT Rommy, UBN Imbau Politisi Muslim Bertakwa Kepada Allah

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menyoroti penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy

Sabtu, 16/03/2019 20:22 0

Indonesia

Syaikh Al-Muhaisini Jelaskan Perbedaan Perlakuan Jika Pelaku Teror di Selandia Baru Muslim

Syaikh Abdullah Al-Muhaisini, Ulama Saudi yang berjihad di Suriah turut melayangkan rasa belasungkawa terhadap korban teror masjid di Selandia Baru.

Sabtu, 16/03/2019 20:07 0

Indonesia

Masjid di Selandia Baru Diserang, FPI: Umat Islam Korban Terorisme Sebenarnya

Terorisme dan aksi terorisme yang selama ini dinisbatkan kepada umat Islam, pada faktanya justru Islam dan Umat Islam menjadi korban.

Sabtu, 16/03/2019 19:22 0

Indonesia

Kecam Teror Masjid di Selandia Baru, DSKS Gelar Aksi

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) turut berduka cita atas tragedi penembakan di Masjid al-Noor dan Linwood Selandia Baru.

Sabtu, 16/03/2019 19:02 0

Video News

Terjadi Teror di Selandia Baru, Ini Himbauan Ust. Bachtiar Nasir Pada Umat Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Sabtu, 16/03/2019 14:54 0

Video News

Sikap MIUMI Atas Rencana Pelepasan Saham Bir oleh Anies Baswedan

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Sabtu, 16/03/2019 14:36 0

Video News

9 Pernyataan Sikap MIUMI Atas Teror di Selandia Baru

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memberikan pernyataan sikap insiden aksi...

Sabtu, 16/03/2019 14:33 0

Indonesia

Serangan di Masjid Selandia Baru Seharusnya Membuka Mata Pegiat Anti-terorisme

serangan biadab yang dilakukan teroris kulit putih dan beragama Kristen ini seharusnya membuka mata seluruh pegiat anti-terorisme

Sabtu, 16/03/2019 14:30 0

Indonesia

MIUMI: Penjualan Saham Bir Baik Bagi Warga Jakarta

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mendukung kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk melepas saham bir DKI Jakarta

Sabtu, 16/03/2019 14:02 0

Indonesia

Unik, Warga Depok Buat Jalan Palestina

Ada cara unik yang dilakukan warga Pangkalan Jati, Depok untuk mendukung umat Islam di Palestina.

Sabtu, 16/03/2019 13:50 0

Close