... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Semasa Hidup, Mullah Umar Ternyata Sembunyi Tak Jauh dari Pangkalan AS

Foto: Mullah Muhammad Umar

KIBLAT.NET, Kabul – Pendiri Taliban, Mullah Umar, hidup selama bertahun-tahun tidak jauh dari pangkalan Amerika di Afghanistan, menurut sebuah buku baru yang mengungkapkan kegagalan intelijen AS yang memalukan. Buku berjudul “The Search for an Enemy” tersebut ditulis oleh seorang jurnalis Belanda, Betty Dam.

Seperti dilansir dari AFP pada Senin (11/03/2019), para pemimpin Washington dan Kabul telah lama meyakini komandan mujahidin yang kehilangan salah satu matanya itu bersembunyi di Pakistan dan meninggal di sana. Akan tetapi, sebuah biografi baru Mullah Umar menunjukkan bahwa ia tinggal hanya sekitar 4 kilometer dari pangkalan militer AS yang canggih di provinsi Zabul, Afghanistan, yang merupakan tempat kelahirannya, hingga kematiannya pada 2013 .

Buku tersebut menunjukkan bahwa pemimpin Taliban itu hidup dalam isolasi. Karena alasan keamanan, ia rela tidak menemui anggota keluarganya dan menulis di surat-surat dalam bahasa sandi.

Dam mengatakan bahwa ia menghabiskan lima tahun untuk inventigasi sebelum menulis buku ini. Ia bertemu dengan pengawal Mullah Umar, Jabbar Omri. Omri yang membantu Mullah Umar bersembunyi sekaligus menjaganya setelah penggulingan rezim Taliban.

Dam juga menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam jurnalisme di Afghanistan dan menulis sebuah buku tentang mantan presiden Afghanistan Hamid Karzai.

Setelah serangan 11 September 2001, yang menyebabkan jatuhnya Taliban, Amerika Serikat menawarkan hadiah $ 10 juta bagi siapa saja yang menemukan Mullah Umar, yang bersembunyi di sebuah kompleks kecil di ibukota negara bagian Qalat, menurut yang ditulis Dam.

Keluarga yang tinggal di kompleks kecil tersebut tidak mengetahui identitas tamu mereka, yang ternyata buruan nomor satu penjajah AS. Pasukan AS hampir dua kali menemukannya.

Pada suatu hari, patroli militer AS mendekat ketika Umar dan Omri sedang berjalan di halaman rumah. Keduanya pun segera bersembunyi di balik tumpukan kayu setelah melihat patrol. Tentara AS berlalu begitu saja tanpa masuk ke halaman tersebut.

BACA JUGA  Keluarga Petani Jadi Korban Serangan Udara Afghanistan, Warga Marah

Situasi menegangkan kedua terjadi saat pasukan AS menggeledah rumah tempat Mullah Umar tinggal. Namun militer AS gagal menemukan pintu masuk rahasia ke kamarnya. Tidak jelas apakah operasi itu penggeledahan rutin atau setelah militer AS menerima informasi keberadaan Mullah Umar.

Mullah Umar memutuskan pindah setelah AS mulai membangun pangkalan untuk operasi militer lanjutan pada tahun 2004, beberapa meter dari tempat persembunyiannya.

Dia kemudian pindah ke gedung lain, tetapi Pentagon segera membangun pangkalan militer Wolverine di dekatnya. Pangkalan itu mencakup 1.000 tentara AS dan di mana pasukan khusus Amerika dan Inggris ditempatkan.

Sejak saat itu, Mullah Umar tidak berpindah-pindah lagi dan jarang keluar dari tempat persembunyiannya. Ia sering berada di bunker ketika terdengar pesawat AS meraung-meraung.

Menurut buku itu, Mullah Umar mendengarkan siaran berita BBC di Pashtun pada malam hari, tetapi jarang mengomentari peristiwa di dunia luar. Bahkan, termasuk ketika ia mengetahui kematian pemimpin Al- Qaidah, Osama bin Laden.

Menurut Dam, Mullah Umar sering berbicara dengan pengawalnya dan juru memasaknya. Ia menggunakan telepon Nokia jadul untuk merekam suaranya ketika ia membaca ayat-ayat Al-Quran.

Penulis buku itu mengatakan bahwa Mullah Umar jatuh sakit pada tahun 2013. Tak ada dokter yang memeriksanya. Ia menolak berobat ke Pakistan. Kemudian ia meninggal di Zabul, tempat kelahirannya.

Reaksi AS dan Afghanistan

Bagian-bagian buku ini menimbulkan reaksi yang berbeda.

“Kami sangat menolak tuduhan palsu ini, dan kami percaya bahwa mereka bertujuan untuk menciptakan dan membangun identitas untuk Taliban dan pendukung asing mereka,” kata juru bicara kepresidenan Afghanistan, Harun Shakhansuri.

BACA JUGA  Taliban Kembali Target Markas Lembaga Keamanan Pemerintah

“Kami memiliki cukup bukti untuk menunjukkan bahwa ia hidup dan mati di Pakistan, satu poin di telepon,” imbuhnya.

Mantan direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) dan komandan militer AS di Afghanistan, David Petraeus, meragukan informasi ini. Dia mengatakan jika Mullah Umar memutuskan untuk tinggal di Afghanistan, itu akan menjadi keputusan yang berisiko.

“Kami dapat memasuki tempat mana pun di Afghanistan, dan saya sangat terkejut bahwa Mullah Umar bersedia untuk tinggal karena kami bisa memainkannya kapan saja,” kata Petraeus seperti dikutip Wall Street Journal.

Pada bagiannya, Kepala Intelijen Afghanistan era 2004-2010 Amrullah Saleh mengaku bahwa ia memiliki tumpukan bukti yang menunjukkan bahwa dia hidup dan mati di Pakistan.

Pejabat Afghanistan telah berulang kali menuduh Pakistan menyembunyikan gerilyawan Taliban.

Mullah Umar memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001 dan kemudian memimpin pemberontakan terhadap penjajah asing dan pemerintah boneka.

Buku itu menyatakan bahwa Mullah Umar mempercayakan kepemimpinan kepada orang-orang yang kompeten setelah tahun 2001. Ia hanya mengambil peran sebagai pemimpin spiritual kelompok itu. Gerakan itu merahasiakan kematiannya selama dua tahun.

Buku itu muncul ketika Taliban dan Amerika Serikat menggelar pembicaraan damai yang bertujuan untuk mengakhiri konflik berusia 18 tahun itu.

Amerika Serikat dan Taliban menutup rapat hasil dari putaran pembicaraan terakhir di Doha, yang telah berlangsung selama dua pekan. Namun masing-masing pihak mengungkapkan bahwa negosiasi ini mencapai hasil positif pada perdamaian Afghanistan.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Kiblat Review: Menguji Ketahanan Taliban

KIBLAT.NET- Taliban terus menjadi perhatian dunia, termasuk masyarakat Indonesia. Yang terbaru adalah upaya Amerika Serikat...

Selasa, 12/03/2019 09:30 0

Indonesia

Bawaslu: Ada 5.985 Kasus Pidana Pemilu

"Laporan temuan yang teregistrasi, totalnya ada 6.274 kasus terkait administrasi dan pidana sebanyak 5.985 temuan,"

Senin, 11/03/2019 19:41 0

Info Event

BSMI-Gamal Albinsaid Teken Kerjasama Konsultasi Gratis di InMed

Ketua Umum DPN BSMI Djazuli Ambari dan Founder InMed dr Gamal Albinsaid menandatangai kerjasama konsultasi kesehatan gratis di Indonesia Medika (InMed)

Senin, 11/03/2019 19:07 0

Indonesia

Bantah Tudingan Tak Netral, KPU Salahkan Hoaks

Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan kinerja KPU dalam menjamin legitimasi Pemilu diganggu oleh berita hoaks

Senin, 11/03/2019 18:27 0

Indonesia

Lewat Petisi, Puluhan Ribu Netizen Dukung Gubernur Anies Jual Saham Bir

"Kini, Anies meminta dukungan RAKYAT JAKARTA dalam bentuk apapun, entah PETISI, surat ke para wakil rakyat sesuai pilihan mereka dulu dan lain-lain," tulis Ahmad dalam petisi tersebut.

Senin, 11/03/2019 17:56 0

Indonesia

Fadli Zon dan Neno Warisman Bakal Diperiksa Bawaslu Terkait Munajat 212

Fadli Zon dan Neno Warisman Bakal Diperiksa Bawaslu Terkait Munajat 212

Senin, 11/03/2019 12:04 0

Suara Pembaca

Umat Islam, Khilafah, dan Kegagalan Negara Bangsa

Masihkah dunia Islam membutuhkan konsep negara bangsa yang memecah belah kesatuan dan melemahkan kekuatan politik mereka?

Senin, 11/03/2019 11:50 0

Video News

Ini yang Buya Hamka Lakukan pada Orang yang Membencinya

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) mengadakan pameran sekaligus seminar “111 Tahun Buya Hamka”...

Senin, 11/03/2019 07:00 0

Video News

Ust. Dr. Adian Husaini: Inilah Pribadi Hebat Menurut Buya Hamka

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) mengadakan pameran sekaligus seminar “111 Tahun Buya Hamka”...

Ahad, 10/03/2019 16:32 0

Video News

Ust. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA: Definisi Ghirah di Mata Buya Hamka

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) mengadakan pameran sekaligus seminar “111 Tahun Buya Hamka”...

Ahad, 10/03/2019 11:16 0

Close