Kesepakatan Idlib di Ujung Tanduk

KIBLAT.NET, Idlib – Mustafa Sarmani bersama lima anggota keluarganya bergegas ke ruang bawah tanah di rumahnya. Pejuang oposisi yang berjaga memberi peringatan kepada seluruh warga bahwa jet tempur MIG 23 milik rezim Assad bertolak dari bandara militer Hama. Jet sarat rudal dan bom itu berputar-putar di langit kota Khan Syeikhun di pedesaan Idlib.

Jet buatan Rusia itu menjatuhkan rudal dan bomnya ke kota oposisi yang berada di garis depan dengan wilayah kontrol rezim itu. Ini merupakan gempuran massif pertama oleh militer rezim sejak kesepakatan antara Ankara dan Moskow berlaku di Idlib pada September 2018 lalu. Khan Syeikhun termasuk wilayah zona yang tidak boleh ada kekerasan, menurut kesepakatan tersebut.

“Kami terkejut jet-jet tempur kembali mengebom kota-kota dan desa-desa Idlib dan Hama. Gempuran ini terjadi hanya beberapa jam setelah pos pengamatan Turki berpatroli di jalan internasional Damaskus-Aleppo. Gempuran kemudian dilanjutkan dengan roket dan mortir,” ujar Mustafa, warga Khan Syeikhun, kepada Al-Jazeera pada Senin (11/03/2019).

Dia bertutur, kondisi ekonomi membuatnya tetap bertahan di Khan Syeikhun kendati gempuran terus terjadi. Biaya mengungsi dan tinggal di pengungsian sangat mahal. Ia pun berharap Turki menetapi janjin, menciptakan stabilitas di kampung halamannya.

Sementara itu, jalan internasional Damaskus-Aleppo, dipenuhi ratusan mobil dan motor yang membawa keluarga pengungsi dari wilayah Idlib dan Hama. Para pengungsi itu menuju ke utara atau desa-desa yang dekat dengan konsentrasi pos-pos pengamatan Turki. Gerakan pengungsi ini terjadi setelah rezim menargetkan fasilitas publik, seperti rumah sakit dan kantor White Helmets, dalam beberapa hari terakhir.

BACA JUGA  Banjir Terjang Ratusan Tenda Pengungsi Suriah di Idlib

Di tengah pergerakan kendaraan ini, Saad Al-Ahmad menghentikan mobilnya yang penuh dengan penumpang. Ia membenahi penutup mobilnya yang sebagian rusak terkena selongsong roket yang jatuh di atap rumahnya di desa Al-Tah di selatan Idlib. Bapak 50 tahun ini memberi tahu bahwa ia selamat bersama keluarganya setelah puluhan roket dan rudal menghantam desanya.

“Pada awalnya, saya menolak imbauan untuk mengungsi dengan harapan pemboman akan berhenti. Kami tidak ingin keluar mengungsi hingga akhirnya roket menyasar atap rumah kami,” katanya dengan raut wajah lelah.

“Saya tidak suka kehidupan di kamp, tetapi lebih baik daripada melihat anak-anak saya menjadi potongan-potongan,” lanjutnya.

Alaa Qatini, perawat di klinik Al-Salam di Khan Shikhoun yang terbiasa dengan kondisi seperti ini, mengatakan bahwa rezim berupaya lebih serius untuk mengosongkan kota-kota besar seperti Ma’arat Al-Nu’man, Siraq, Kafr Nabal dan Khan Syeikhun. Intensitas gempuran dan kian luasnya wilayah yang disasar menyebabkan sebagian besar titik pelayanan medis di selatan Idlib berhenti operasi. Pasien dievakuasi ke wilayah yang lebih aman.

Pada bagiannya, devinsi media White Helmets, Khaled Khatib, menuturkan bahwa dua relawannya terbunuh dan lainnya dalam dua serangan udara serentak. Saat itu, para relawan sedang bertugas evakuasi korban di kota Al-Minthar dan Murik. Insiden ini terjadi dua hari lalu.

“Sebagian markas White Helmets berhenti operasi setelah menjadi target serangan udara dari jet rezim Suriah,” imbuh Khatib.

BACA JUGA  Banjir Terjang Ratusan Tenda Pengungsi Suriah di Idlib

Operasi Balasan

Sementara itu, Abu Yusuf, komandan lapangan Hai’ah Tahrir Al-Syam (HTS) melaporkan bahwa pejuang menggelar operasi militer yang digambarkan dengan berbagai macam strategi menargetkan pasukan rezim di pedesaan Hama. Operasi ini diluncurkan mendadak. Langkah ini sebagai respon atas pelanggaran gencatan senjata. Abu Yusuf menunjukkan bahwa Rusia berupaya merebut wilayah Idlib selatan dan menyiapkan ribuan tentara.

Dia meyakinkan bahwa pejuang mampu menghadapi segala serangan darat. Namun keyakinan itu dengan syarat seluruh pejuang bersatu di bawah satu komando.

Menurut jurnalis yang memantau Idlib, Manhal Barish, eskalasi di Idlib ini mencerminkan tingkat perselisihan antara Moskow dan Ankara karena kegagalan untuk mengimplementasikan semua keputusan kesepakatan antara keduanya soal Idlib. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan pembukaan jalan internasional, Aleppo – Damaskus dan Aleppo – Hama, yang dijadwalkan dibuka sebelum 2019.

Barish memprediksi gempuran di pedesaan Idlib dan Hama ini akan terus terjadi hingga Turki menyelesaikan implementasi kesepakatannya dengan Rusia. Sebelumnya, Rusia menuduh Turki tidak menerapkan seluruh hasil-hasil kesepakatan.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat