... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pemerintah Kabul Was-was dengan Negosiasi Tertutup AS-Taliban

Foto: Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

KIBLAT.NET, Kabul – Pemerintah boneka Amerika Serikat di Afghanistan, Rabu (06/03/2019), was-was atas negosiasi tertutup antara Imarah Islam Afghanistan (Taliban) dan pejabat AS di ibukota Qatar, Doha, yang saat ini masih berlangsung. Kabul memperingatkan akan mengesampingkan kesepakatan yang dihasilkan dari negosiasi itu.

Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi untuk Rekonsiliasi Afghanistan sekaligus Penasihat Presiden Afganistan untuk Rekonsiliasi, Mohamed Omar Daoudzai, mengatakan bahwa dialog antara Taliban dan para pejabat AS di balik pintu tertutup itu “mengkhawatirkan.”

“Proses negosiasi antara perwakilan Taliban dan para pejabat AS berlanjut di Doha. Saya yakin semua orang khawatir tentang negosiasi itu karena tidak ada informasi tentang yang dibicarakan di dalamnya,” kata Daoudzai dalam pidato pada pertemuan publik di Kabul pada Rabu.

Dia mengatakan bahwa AS tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Taliban mengenai penarikan pasukan asing dari Afghanistan. Karena, kata Daoudzai, kehadiran pasukan AS dan asing di Afghanistan sebagai hasil dari perjanjian keamanan antara pemerintah Afghanistan dan Amerika. Oleh hal itu, setiap keputusan dalam hal ini harus dengan pemerintah Afghanistan dan bukan dengan Taliban.

“Kesepakatan AS dengan Taliban mengenai penarikan pasukannya bertentangan dengan norma-norma politik. Bagaimana kesepakatan Anda dengan satu pihak sementara Anda memutuskan yang lain?” imbuh Daoudzai.

Ia melanjutkan, kehadiran pasukan asing di Afghanistan datang sesuai dengan perjanjian keamanan antara AS dan Afghanistan, dan yang terakhir dengan NATO. Sehingga, kesepakatan dengan Taliban tidak berguna, tanpa peran untuk pemerintah Afghanistan.

BACA JUGA  Pemerintah Kabul Bebaskan Ratusan Anggota Taliban

Pemerintah Afghanistan dikucilkan dari perundingan antara Washington dan Taliban. Hal itu karena gerakan tersebut menganggap pemerintah Kabul hanya boneka AS dan tidak memiliki kekuatan. Negosiasi dengan pemerintah Kabul hanya membuang-buang waktu.

Sementara itu, Dewan Tertinggi untuk Rekonsiliasi Afghanistan juga mengkonfirmasi penundaan keputusan pemerintah untuk mengadakan pertemuan suku yang dikenal secara lokal sebagai “Loya Jirga” untuk membahas rekonsiliasi Afghanistan untuk waktu yang tidak diketahui. Sementara pertemuan itu seharusnya diadakan pertengahan bulan ini.

“Keputusan itu telah ditunda karena masalah teknis akibat curah hujan dan salju,” kata wakil juru bicara Assadullah Zairi kepada Al-Araby Al-Jadid pada hari Rabu. Ia menambahkan bahwa tim teknis akan memutuskan tanggalnya nanti.

Perkembangan ini berlangsung di saat putaran kelima negosiasi antara delegasi Taliban dan pejabat AS di ibukota Qatar, Doha, sejak Sabtu lalu, berlanjut

Proses negosiasi dilanjutkan setelah dua hari jeda, di tengah ambiguitas atas isi pembicaraan, kecuali apa yang ditegaskan Taliban tentang tidak adanya kesepakatan sejauh ini. Pembicaraan saat ini sedang berlangsung tentang mekanisme pelaksanaan apa yang sebelumnya disepakati kedua pihak.

Setidaknya empat hal yang menjadi fokus dalam negosiasi itu; penarikan pasukan asing, jaminan Afghanistan tidak dijadikan lokasi untuk menyerang negara lain, pelibatan pemerintah Kabul dalam negosiasi dan gencatan senjata.

Sumber: Al-Araby Al-Jadid
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

KH. Yusnar Yusuf: Hasil Munas NU Bermasalah Karena Dipublikasikan

"Tapi kalau dalam konteks keagamaan, itu (sebutan yang dipakai) tetap kafir. 'Yaa Ayyuhal Kaafiruun' (wahai orang-orang kafir)," tambahnya.

Rabu, 06/03/2019 19:00 0

Indonesia

UBN: Sebutan Kafir Dipermasalahkan dalam Hal Memilih Pemimpin

Dia menambahkan, ketika ada pihak yang merasa terganggu dengan istilah kafir dalam hal itu, maka dia justru melakukan kekerasan ideologi.

Rabu, 06/03/2019 16:46 3

Indonesia

TGPF Kasus Novel Dibentuk Tapi Belum Ada Perkembangan

"Ketiadaan info, itu adalah perkembangannya," kata Haris, Selasa (05/03/2019) di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Rabu, 06/03/2019 13:43 0

Video News

Klarifikasi Hayati Syafri, Dosen IAIN Bukittinggi yang Dipecat Karena Cadar

KIBLAT.NET- Sebelumnya, Hayati telah mengajukan banding ke Badan Kepegawaian Negara pada Senin (04/03/2019). Dalam kesempatan...

Rabu, 06/03/2019 12:42 0

Indonesia

Haris Azhar: Jokowi Mestinya Perbaiki Sistem Hukum, Bukan Nambah Penjara

Haris menuturkan apabila reformasi hukum hanya membangun dan menambah tahanan. Maka, hal itu hanya menguntungkan pengusaha semen dan bangunan semata. Sebagaimana pembangunan infrastruktur.

Rabu, 06/03/2019 12:13 0

Artikel

Jejak Taliban: Sekutu Al-Qaidah yang Bernegosiasi dengan Amerika

Penulis: Yasin Muslim   KIBLAT.NET – Akhir Desember 2016, Taliban merilis sebuah video berjudul “Ikatan...

Rabu, 06/03/2019 11:46 0

Video News

Ust. Bachtiar Nasir: Istilah Kafir Bukan Kekerasan Ideologi

KIBLAT.NET- Ust. Bachtiar Nasir turut memberikan tanggapan tentang wacana penghapusan istilah kafir oleh Nahdlatul Ulama....

Rabu, 06/03/2019 10:31 0

Indonesia

Kronologi Baku Tembak Kelompok MIT Ali Kalora dengan Satgas Tinombala

Kronologi Baku Tembak Kelompok MIT Ali Kalora dengan Satgas Tinombala

Selasa, 05/03/2019 16:44 0

Indonesia

Non-Muslim Tak Disebut Kafir, MADINA: Toleransi yang Kebablasan!

Ketua Majelis Dakwah Islam Indonesia (MADINA) Yazid Abdul Alim, Lc mengatakan penggunaan istilah kafir dalam Islam merupakan istilah baku.

Selasa, 05/03/2019 14:00 0

Indonesia

Hayati Ajukan Banding, Kemenag Mengaku Siap Kooperatif

Kasubbag TU dan Humas Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI, Nurul Badruttamam mengatakan, pihaknya sangat menghargai langkah Hayati tersebut.

Selasa, 05/03/2019 13:50 1

Close