... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

UBN: Sebutan Kafir Dipermasalahkan dalam Hal Memilih Pemimpin

Foto: Ustadz Bachtiar Nasir

KIBLAT.NET, Jakarta – Sebutan kafir menjadi polemik setelah muncul keputusan Munas PBNU untuk mengganti istilah itu dengan non-muslim. Tujuannya untuk menjalin kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Pimpinan Arrohman Qur’anic Learning (AQL) Center, Ustadz Bachtiar Nasir mengatakan, sebutan kafir tidak pernah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurutnya, sebutan kafir menjadi ramai hanya dalam masalah memilih pemimpin.

“Kemaren ramai dalam hal kepemimpinan. Sementara soal kehidupan antar umat beragama dan pendirian rumah ibadah, hal ini sesuatu tidak bermasalah di Indonesia,” ujar Mantan Ketua Umum GNPF MUI di AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (05/03/2019) malam.

Dia menambahkan, ketika ada pihak yang merasa terganggu dengan istilah kafir dalam hal itu, maka dia justru melakukan kekerasan ideologi. Karena umat Islam, memiliki konsepsi yang jelas soal kepemimpinan di dalam Islam. Salah satu prinsipnya berada di surat Al-Maidah ayat 51.

“Orang Islam tidak boleh menjadikan pemimpin mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Karena masing-masing kita sudah memiliki pola dan konsep kepemimpinannya,” jelasnya.

Dalam konteks kepemimpinan, UBN menegaskan bahwa dalam sebuah negara demokrasi yang bernuansa mayoritas, Indonesia memiliki mayoritas umat Muslim.

“Tentunya kalau ingin memihak dan bersikap adil adalah yang sesuai dengan umat Islam sebagai mayoritas,” tandasnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

4 comments on “UBN: Sebutan Kafir Dipermasalahkan dalam Hal Memilih Pemimpin”

  1. Tini Srihartati

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Maaf, menurut saya, bermain mayoritas harus berkuasa,dan memaksa minoritas mengikuti adalah sebuah ketidakadilan. Maksud saya, setiap Agama seharusnya memberi tuntutan bagaimana berpikir dan berperilaku. Jadi, misalnya Kementerian Agama, harusnya karena di Indonesia mengakui beberapa agama, ya harus ada sejumlah agama itu. Masing-masing hanya mengatur perilaku umatnya. Nah kalau anggaran, baru disesuaikan dengan presentase penganut masing-masing. Pengadilan Agama juga harus di agama masing-masing ada. Nanti kalau ada acara keagamaan, ya yang hadir pimpinan masing-masing. Kalau Ada Koruptor/Pencuri orang Islam ya dihukum potong tangan di Pengadilan Agama Islam, dst buka urusan kawin cerai saja. Kalau orang itu lalu keluar Islam pindah ke agama yang bisa menebus dosa ya silahkan. Itu juga terserah pimpinan agama itu, mau menerima para pendosa yang menghindari hukuman tapi memilih hukuman yang lebih berat dlm versi Islam (dari Pencuri menjadi Murtad) lalu jadi umat agama lain yang dianggap lebih ‘lembut’ ya terserah. Kalau nanti lama-lama pemimpin Agama itu menolak karena bisa disebut sebagai agamanya para pendosa, ya silahkan. Saya harap otomatis semua warga negara Indonesia menjaga perilakunya, karena tidak ada satupun agama di Indonesia yang me’restui’ perilaku buruk.

    Jadi IMAM/PEMIMPIN PERILAKU KEHIDUPAN dari SETIAP INSAN di NEGERI ini SUDAH JELAS untuk masing-masing. Maksudnya saya pikir demikian. Jadi di masjid juga, kalau memilih IMAM/Pemimpin ya yang sudah bersyahadat, bacaan Qur’annya baik. Bukan yang belum bersyahadat. Petuah-petuah jalan hidup ya dari orang yang begitulah. Wanita-wanita muslim kalau cari Suami/Imam kehidupan ya yang bersyahadat, begitu juga agama lain, kan begitu.
    Sekarang JADI MASALAH karena adanya PEMAKSAAN KETUNDUKAN kaum MINORITAS pada MAYORITAS.
    Semoga bermanfaat.

  2. Ahmadyasin

    Islam itu akan Jaya bila opsi pd orang kafir adalah ;islam,jizyah atau diperangi

  3. Waalaykumsalam maaf jadi terpancing berkomentar ..

    Secara umum saya setuju dengan pendapat saudari Tini Srihartati di atas, bahwa tiap umat harus mentaati kitab dan hukum agama masing2. Namun paragraf terakhir amat sangat mengganggu, yaitu :
    Sekarang JADI MASALAH karena adanya PEMAKSAAN KETUNDUKAN kaum MINORITAS pada MAYORITAS.

    Hal tersebut tentu saja sama sekali tidak benar karena :
    1. Kenyataannya justru mayoritas yang dipaksa tunduk kepada minoritas. Yaitu dengan membuang kata Kafir yang notabene menunjuk minoritas. Dan hal ini semata-mata demi menyenangkan minoritas. Padahal kata tersebut jelas termaktub dalam Al-Quran.
    2. Ayat-ayat Al-Quran hanya wajib ditaati pemeluknya termasuk ayat tentang memilih pemimpin. Umat Islam dilarang dengan tegas memilh pemimpin yang tidak satu aqidah alias kafir. Perintah tersebut tentu saja tidak berlaku bagi non Muslim/kafir. Silahkan mereka memilih pemimpin sesuai agama dan kepercayaan mereka. Persis dengan pendapat saudari Tini di atas..

    Masalahnya, ketika kata Kafir harus diubah demi menyenangkan minoritas, maka berubahlah makna ayat Al-Quran. Termasuk ayat tentang memilih pemimpin. Siapa yang diuntungkan??? Lagi2 minoritas … Sialnya lagi, mayoritas bukan hanya rugi tapi juga DOSA …

  4. Tini Srihartati

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Terima kasih Pak Vien atas responnya. Maaf, maksud saya, dengan pemaksaan KETUNDUKAN kaum MINORITAS pada MAYORITAS adalah…karena menurut saya (tolong koreksi jika keliru), kafir adalah tertutup/covered-masih tertutupi mata hatinya untuk menerima kebenaran tentang: ADANYA TUHAN, dan HANYA ALLAH satu-satunya TUHAN yang harus DIPATUHI (PATUH 100 bahkan 1000 persen, seluruh pola pikir dan perilaku kita hanya karena-Nya). Nah dalam konteks itu Berapa jumlahnya orang yang patuh 100%? Berapa yang hanya sekedar status di KTP? Berapa yang berani mengabaikan panggilan sholat? Bukankah itu termasuk golongan orang yang masih tertutup (kafir)? Bahkan yang sudah diagung-agungkan masyarakat di sebut Ustad/Kyai/Ulama pun (forum MUI), msalnya, tak berani menggerakan dan mengusahakan agar hukum agamanya ditegakan bagi para pemeluknya. Spt yang saya bilang, kalau Agama adalah way of life, ya sudah, pakai masing-masing. Dalam berperilaku kehidupan: yang Memilih Islam, patuhi pimpinan Islam, yang Kristen, patuhi pimpinan Kristen, dlsb, Kalau tentang pejabat negara/pelayan masyarakat. Silahkan pilih PELAYAN yang bisa melayani semua keyakinan, dengan menghormati keyakinan masing-masing, menghormati hukum masing-masing. KITA SALAH PERSEPSI menempatkan mereka sebagai PEMIMPIN, mereka adalah PELAYAN MASYARAKAT/ yang mereka lakukan adalah PELAYANAN PUBLIK.
    Setahu saya, kalau istilah kafir itu dipakai untuk orang yang tidak seaqidah, jadi dari versi Kristen, mereka menganggap, orang Islam itu kafir (masih tertutup/tersesat), dst. .orang Yahudi juga menyebut pemeluk lain, kafir. Jangan tersulut emosi dengan istilah, Saya lebih suka kita terpancing/tersulut untuk menyadari apakah kita sendiri masih kafir (tertutup), karena tidak berani menegakan hukum Islam? Jadi Polisi yang beragama Islam, Hakim beragama Islam, tapi yang ditegakan bukan hukum Islam? Bisnis kita tidak islami, pola interaksi kita tidak islami? Kita biarkan saja wanita tidak berhijab, kita biarkan saja laki-laki tidak menafkahi keluarganya. Kita biarkan saja orang yang mengaku Islam bekerja di mall, supermarket, restoran yang menjual minuman memabukan.Pemilik TV yang mungkin mengaku Islam pun, hanya menyediakan waktu 1 jam untuk ceramah Islam, tapi sisa waktu siaran, mengijinkan Iklan/sinetron, tontonan yang mengumbar aurat wanita? Mencontohkan kedzaliman? kelicikan? di sinetron?nya? Mempertontonkan aurat wanita2 pada dunia? Tidak merasa dosakah? Bagaimana para kameramennya? Kita biarkan para pria yang berktp Islam untuk tidak sholat (di masjid)? Pada waktunya? Mayoritas kita apa? Siapa sebenarnya minoritas? Masuk kelompok mana kita? Saya takut menjadi kelompok mayoritas yang….

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Tolak Perintah Israel, “Bab Al-Rahmah” di Al-Aqsa Akan Tetap Dibuka

Ketegangan meningkat di Yerusalem sejak warga Palestina membuka Bab al-Rahmah, yang terletak di halaman dekat tembok timur Kota Tua bulan lalu untuk melakukan ibadah shalat.

Rabu, 06/03/2019 15:04 0

Video News

Klarifikasi Hayati Syafri, Dosen IAIN Bukittinggi yang Dipecat Karena Cadar

KIBLAT.NET- Sebelumnya, Hayati telah mengajukan banding ke Badan Kepegawaian Negara pada Senin (04/03/2019). Dalam kesempatan...

Rabu, 06/03/2019 12:42 0

Artikel

Jejak Taliban: Sekutu Al-Qaidah yang Bernegosiasi dengan Amerika

Penulis: Yasin Muslim   KIBLAT.NET – Akhir Desember 2016, Taliban merilis sebuah video berjudul “Ikatan...

Rabu, 06/03/2019 11:46 0

Suriah

Memprihatinkan, Kondisi Ribuan Pengungsi dari Wilayah ISIS di Suriah

"Beberapa keluarga, termasuk mereka yang memiliki bayi, tidur di tempat terbuka dan di bawah selimut tergantung dari pagar, terkena cuaca dingin dan hujan," katanya dalam sebuah pernyataan email.

Rabu, 06/03/2019 10:52 0

Video News

Ust. Bachtiar Nasir: Istilah Kafir Bukan Kekerasan Ideologi

KIBLAT.NET- Ust. Bachtiar Nasir turut memberikan tanggapan tentang wacana penghapusan istilah kafir oleh Nahdlatul Ulama....

Rabu, 06/03/2019 10:31 0

Qatar

Negosiasi AS-Imarah Afghanistan di Doha Berlanjut, AS Klaim Raih Kemajuan Positif

Pembicaraan fokus pada empat masalah yang saling terkait yang akan membentuk dasar dari setiap perjanjian di masa depan untuk mengakhiri perang sejak 2001

Rabu, 06/03/2019 10:14 0

Iran

Menlu Iran Mundur Karena Tak Diajak Koordinasi Saat Kunjungan Bashar Assad

Kemenlu tidak menerima informasi pada tingkat apa pun terkait kunjungan presiden Suriah itu.

Rabu, 06/03/2019 08:43 0

Amerika

Pompeo Sebut Imarah Islam Afghanistan Kelompok “Teroris”

“Saat ini saya punya tim di lapangan yang sedang berupaya negosiasi dengan teroris Taliban di Afghanistan,” kata Pompeo saat berbicara di hadapan sekelompok mahasiswa di Lowa, Senin lalu (04/03/2019).

Rabu, 06/03/2019 07:58 0

Pakistan

Pakistan Tangkap Dua Kerabat Pemimpin Jaish-e-Muhammad

“Dua dari mereka kerabat Mas’ud Adzhar, yaitu Abdurrauf dan Hamad Adzhar,” kata pernyataan Depdagri Pakistan.

Rabu, 06/03/2019 07:02 0

Pakistan

Hentikan Ketegangan, Perdana Menteri Pakistan Ajak India Dialog

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menawarkan dialog kepada India untuk meredam ketegangan yang terjadi antar kedua negara akhir-akhir ini.

Selasa, 05/03/2019 19:49 0

Close