... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Memori Kekalahan Soviet di Afghanistan

Foto: Pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan.

KIBLAT.NET – Muhammad Wazir Razi Kabuli (52 tahun) saat itu masih terlalu muda ketika pasukan “beruang merah” imperium Uni Soviet yang belum genap berusia 100 tahun melakukan invasi dan agresi militer besar-besaran ke Afghanistan. Namun memori dan semua peristiwa yang ia alami bertahun-tahun setelah itu masih sedemikian kuat membekas.

“Saat itu saya masih kelas 6 SD dan semuanya berubah dalam satu malam, (termasuk) sekolah dan lingkungan kami. Soviet bukan hanya menginvasi negeri kami, tetapi mereka juga menyerang budaya dan agama kami,” kata Razi mengingat peristiwa itu.

“Mereka memaksa kami menyanyikan lagu kebangsaan, mereka memaksa anak-anak muda menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan untuk mendukung Uni Soviet, dan mengikuti pawai nasional. Bahkan, mereka (penjajah Soviet) mencoba melarang orang-orang untuk melakukan ibadah, dan melarang kami menghadiri acara-acara keagamaan,” kata Razi.

Tentara merah Soviet mulai menginvasi dan menjajah Afghanistan pada tahun 1979 untuk memberi dukungan kepada pemerintah Kabul yang berhaluan komunis yang saat itu merasa terancam dengan kekuatan oposisi di internal Afghanistan. Sebagian besar rakyat Afghanistan tidak mendukung intervensi Rusia yang datang menjajah Afghanistan dalam rangka membantu rezim Kabul yang sudah tidak disukai rakyatnya.

Iintimidasi dan Persekusi Terhadap Ulama

Pejuang yang melakukan perlawanan bersenjata di Afghanistan yang saat itu populer dengan sebutan mujahidin melancarkan perang terhadap negara superpower Uni Soviet selama satu dekade yang menyebabkan jatuhnya banyak korban dan kerusakan.

Bagi Razi yang berasal dari Kabul ini, pemandangan mengerikan selama invasi Soviet saat itu sangat terasa hingga ke sekitar rumahnya. Sebagai keluarga dengan banyak anggota keluarga berlatar belakang ulama, mereka tak luput dari intimidasi dan persekusi oleh rezim komunis dukungan Soviet.

 “Mereka (rezim komunis Kabul) bukan hanya menargetkan para pemuda, namun juga para wanita, anak-anak, dan orang tua. Mereka menyiksa para ulama, di antaranya dengan cara mencabut kuku, dan mereka juga memenjarakan ratusan orang,” kata Razi.

Berbagai penderitaan yang dialami rakyat Afghan dan orang-orang terdekat mereka terlihat di depan mata, membuat Razi merasa terpanggil untuk angkat senjata melawan Rusia. Di usianya yang begitu muda, ia meninggalkan sekolah dan bergabung dengan pejuang mujahidin.

“Karena masih terlalu muda, saya sering diberikan tanggung jawab mengurusi logistik.  Dan, di sejumlah pertempuran yang saya ikuti, saya ditugaskan di bagian kesehatan untuk memberikan pertolongan pertama bagi mujahidin yang terluka,” kata Razi mengisahkan.

“Pada akhirnya, setelah sembilan tahun bertempur, kami menang. Kami berhasil mengalahkan negara superpower Uni Soviet, meskipun dengan persenjataan dan sumber daya seadanya. Dan hari ini (16 Februari yang lalu, red) kami merayakan kemenangan Islam atas komunisme dan orang-orang komunis,” kata Razi dengan bangga.

BACA JUGA  Dua Masjid di Selandia Baru Diserang, Banyak Mayat Bergelimpangan

Dari Kombantan Menjadi Politisi

Beberapa tokoh dan pemimpin mujahidin saat itu kini sudah menjadi politisi, di antaranya adalah ketua Partai Jamiat-i-Islami, Atta Mohammad Noor, yang juga pernah menjadi gubernur provinsi Balkh.

Ia memperingati kekalahan dan penarikan mundur tentara Soviet sebagai kemenangan yang bukan hanya diperingati oleh rakyat Afghan, tetapi juga dirayakan semua orang di bekas negara blok Soviet.

“Kami sangat bangga dengan perjuangan dan pertempuran kami melawan Uni Soviet. Kami bangga bisa mengalahkan salah satu negara superpower saat itu meskipun kami hidup di tengah kemiskinan dan kekurangan sumber daya,” kata Razi kepada Al Jazeera.

Dampak Global Kekalahan Soviet di Afghanistan

“Kemenangan mujahidin membawa kebebasan dan kemerdekaan bagi sekian banyak negara di blok timur yang sebelumnya di bawah bayang-bayang kekuasaan Uni Soviet. Mereka memperoleh kemerdekaan dengan sebab (perjuangan) mujahidin. Karena kami angkat senjata di negeri kami, mereka merdeka,” katanya.

Sembilan tahun perang di Afghanistan betul-betul membuat Uni Soviet bangkrut. Sekitar 15.000 tentara Soviet tewas, dan lebih dari dua kali lipatnya menjadi korban luka-luka atau cacat seumur hidup. Beban finansial terus membengkak hingga milyaran dolar. Sejumlah ahli sejarah mengatakan mundurnya tentara Soviet dari Afghanistan ini memicu runtuhnya moral secara nasional yang berkontribusi terhadap bubarnya negara raksasa Uni Soviet.“(Sebetulnya) secara militer  an sich , pasukan Soviet tidak kalah. Mereka masih mengontrol sejumlah wilayah di Afghanistan, paling tidak di kota-kota besar dan sebagian area sekitarnya,” kata Thomas Ruttig yang bekerja di Jaringan Analis Afghanistan (AAN). Ruttig membandingkan penarikan tentara Uni Soviet saat itu dengan rencana penarikan mundur pasukan AS dari Afghanistan saat ini. Menurutnya, “Namun tidak seperti AS saat ini, mereka (Rusia) menarik pasukan karena krisis ekonomi.”

Kemunculan Taliban

Kemenangan pejuang mujahidin di Afghanistan era 80an ini sangat besar dan terasa pengaruhnya di Jerman yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin. Selain itu, 10 negara yang sebelumnya tergabung dalam “imperium” Soviet akhirnya memisahkan diri dan mengumumkan kemerdekaan. Razi menjelaskan, bangsa Afghan yang menjadi pelaku langsung perang melawan Soviet belum sempat memetik buah perjuangan mereka karena negeri mereka terus dilanda konflik internal dan eksternal silih berganti.

BACA JUGA  Faisal Basri: Janji 3 Kartu Jokowi Bukti Pembangunan Tak Efektif

Setelah Soviet mundur, mujahidin terpecah ke dalam kelompok-kelompok dan saling berperang sehingga menyebabkan ibukota Kabul sebagian hancur. Fenomena itu menjadi momentum kemunculan Taliban hingga mereka tampil menjadi penguasa yang kuat di Afghanistan. Bagi sebagian pihak, tampilnya Taliban seolah “mengecilkan” capaian kemenangan mujahidin. Padahal, sebagian besar pejuang-pejuang Taliban juga merupakan bagian dari mujahidin yang bersama-sama bertempur melawan Soviet.

Tiga puluh tahun berlalu pasca mundurnya beruang merah Rusia dari Afghanistan, nampaknya Kremlin masih ingin sekali lagi mencoba menancapkan pengaruhnya di Afghanistan.

Upaya Perdamaian dan Balas Dendam Rusia

Musim panas lalu, pejabat-pejabat Washington telah memulai sejumlah pertemuan resmi dan negosiasi langsung dengan perwakilan Taliban. Di saat yang sama, Rusia mengambil kesempatan menjadi mediator negosiasi antar oposisi Afghanistan yang dilaksanakan di Moskow bulan November dan awal Februari lalu. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah politisi Afghan yang sebagian besar adalah veteran mujahidin, termasuk Noor, bertemu untuk pertama kalinya dengan Taliban.

“Negara manapun yang ingin membantu dalam upaya menjamin keamanan dan perdamaian di Afghanistan, maka kami menyambut baik dan mendukungnya,” kata Noor kepada Al Jazeera. Bahkan utusan khusus Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, mengatakan pada hari Rabu (13/02) medio Februari lalu bahwa AS telah gagal total di Afghanistan, dan Moskow siap menjadi mediator yang baik.

Kabulov mendesak AS supaya meninggalkan Afghanistan secepatnya. “Bisa saja mereka (AS) akan tetap bertahan beberapa tahun lagi, tetapi pada akhirnya Amerika tetap harus angkat kaki, dan itu akan sangat memalukan,” kata Kabulov. Walau demikian, sejumlah mantan pimpinan mujahidin masih memandang peran Rusia dalam negosiasi damai ini dengan kecurigaan.

“Saya meyakini bahwa Rusia hanya ingin balas dendam kepada AS atas kekalahan mereka di Afghanistan di masa lalu. Mereka ingin sekali lagi terlibat secara aktif dalam geo-politik regional,” kata Faizullah Jalili, mantan pejuang mujahidin. “(Dan) ini kesempatan baik bagi Taliban punya partner yang kuat dalam menghadapi AS,” kata Jalili menambahkan.

“Setelah semuanya memahami bahwa Rusia telah mengambil pelajaran dari pengalaman mereka di Afghanistan di masa lalu, saya kira mereka tidak lagi punya niat apa yang telah mereka lakukan itu akan terulang kembali,” kata Kabuli meyakinkan. “Tetapi kepada siapapun yang ingin berdamai dengan kami, tangan kami akan selalu terbuka,” pungkasnya.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Perwira TNI Aktif Bisa Masuk ke Kementrian Jika Pensiun Dini

Komisioner Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), I Made Suwandi menanggapi rencana Perwira TNI aktif masuk ke kementrian.

Sabtu, 02/03/2019 13:17 0

Afghanistan

Sang Istri Berkisah Jalan Jihad Syaikh Abdullah Azzam di Afghanistan

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Samira Mohyeddin (71), istri Syaikh Abdullah Azzam (allahu yarham) berbicara mengenai sepenggal kehidupan suaminya ketika berjuang di Afghanistan.

Sabtu, 02/03/2019 12:31 0

Indonesia

Tokoh Muhammadiyah: Umat Islam Tak Berhak Ganti Istilah Kafir

Tokoh Ormas Islam Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa yang tidak mempercayai Allah swt dalam Islam disebut dengan kafir.

Sabtu, 02/03/2019 11:51 0

Amerika

Diburu AS, Ini Spekulasi Keberadaan Hamzah bin Ladin

Di sisi lain, salah satu saudara Hamzah mengatakan kepada The Guardian tahun lalu bahwa keberadaan saudara tidak diketahui tetapi bisa di Afghanistan.

Sabtu, 02/03/2019 11:19 0

Suriah

Eks Tahanan Wanita Ungkap Kerasnya Penyiksaan di Penjara Rezim Assad

Haliliga ditangkap oleh tentara rezim Assad pada 2013 di rumahnya saat sedang menyusui bayinya. Ibu tiga anak itu dipaksa untuk berpisah dari anak-anaknya.

Sabtu, 02/03/2019 11:09 0

Afghanistan

Imarah Afghanistan Serbu Pangkalan AS di Helmand

Ia juga membicarakan, hancurnya sejumlah helikopter dan pesawat serta sistem radar di pangkalan tersebut. Puluhan tentara lokal dan asing tewas.

Sabtu, 02/03/2019 10:03 1

India

India Larang Partai Islam di Kashmir, 300 Ditangkap

Kampanye penangkapan ini menyusul serangan bom yang menewaskan 40 tentara India pada 14 Februari lalu.

Sabtu, 02/03/2019 09:24 0

Editorial

Editorial: Taliban, Bukan Lagi Potret Distopia

Para pemangku kebijakan di Barat senantiasa memandang Taliban sebagai sebuah distopia. Segala tindak tanduk Taliban dinilai akan berujung ketakutan dan kengerian di masa mendatang. Melalui media, mereka mendoktrin masyarakat Barat dengan potret-potret yang secara kasat mata tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diklaim sebagai kearifan barat. Penutupan bioskop, pembatasan ruang gerak perempuan, larangan anak perempuan bersekolah, dan puncaknya yang paling bully-able: penghancuran patung Budha Bamiyan.

Sabtu, 02/03/2019 06:08 1

Video Kajian

Khutbah Jumat: Kemuliaan dan Keutamaan Istighfar- Ust. Abdul Kholid, MA.

KIBLAT.NET- Allah adalah dzat yang maha pengampun. Allah berfirman, “wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu sampai...

Jum'at, 01/03/2019 18:16 0

Indonesia

KH Luthfi Basori: Tidak Sebut Non Muslim Sebagai Kafir Bertentangan dengan Syariat Islam

Ulama NU Jawa Timur, KH. Luthfi Basori menegaskan bahwa sikap teologis PBNU yang menyarankan untuk tidak menyebut non-muslim sebagai kafir adalah sikap yang bertentangan dengan syariat Islam.

Jum'at, 01/03/2019 17:42 0

Close