... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Imarah Afghanistan-AS Berunding, Rezim Kabul Dianggap Tak Inginkan Perdamaian

Foto: Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani

KIBLAT.NET, Kabul – Rezim Afghanistan melancarkan serangan yang menargetkan warga sipil saat perundingan damai antara Imarah Islam Afghanistan dan Amerika Serikat berlangsung. Tindakan itu dinilai menjadi bukti bahwa pemerintah Kabul tak menginginkan perdamaian.

Dalam sebuah konferensi pers di Kabul, mantan pemimpin Jaish-e-Muslimeen Syed Mohammad Akbar Agha menyebut perdamaian di Afghanistan tak mungkin terwujud jika rezim kabul terus melakukan serangan udara. Sejauh ini banyak korban sipil berjatuhan akibat serangan yang diklaim menargetkan basis Taliban.

Menurutnya, dengan serangan-serangan itu pemerintahan Presiden Ashraf Ghani sedang menyabotase pembicaraan damai antara perwakilan Imarah Afghanistan dan AS yang berlangsung di Qatar. Dia menambahkan serangan tersebut dilakukan hampir setiap hari.

“Pemerintah tidak menginginkan perdamaian. Mereka masih menargetkan daerah-daerah sipil sambil mengklaim telah menargetkan tempat persembunyian Taliban,” kata Syed Mohammad Akbar Agha dalam konferensi pers di kabul, Rabu (27/02/2019).

“Kami semua positif tentang perdamaian dan sangat serius, terutama sekarang karena Mullah Abdul Ghani Baradar terlibat langsung dalam pembicaraan di Qatar,” imbuhnya.

Mullah Abdul Ghani Baradar merupakan salah seroang pendiri Taliban. Dia untuk kali pertama menghadiri perundingan di Dubai, sebagai salah satu perwakilan tertinggi.

Pertemuan pejabat Taliban dan Amerika Serikat di Doha, Qatar pada Rabu memasuki hari ketiga. Perundingan kali ini membahas dua masalah utama, yaitu penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan, dan kepastian bahwa Afghanistan tidak akan digunakan oleh mujahidin asing.

BACA JUGA  Trump: Negosiasi dengan Taliban Berjalan Sangat Baik

Pertemuan kali ini merupakan lanjutan dari negosiasi-negosiasi yang telah berlangsung sebalumnya. Perundingan kedua belah pihak dilakukan tanpa melibatkan pemerintah Afghanistan, karena Imarah Islam Afghanistan menyatakan tak berurusan dengan rezim Ashraf Ghani.

Namun, sikap rezim Kabul yang melakukan serangan terhadap warga sipil sangat disayangkan. “Tetapi jika warga sipil yang tidak bersalah terbunuh dengan cara ini melalui serangan udara, mereka tidak akan pernah mempercayai pemerintah, dan pada kenyataannya, akan menentangnya,” imbuh Agha.

Sumber: Aljazeera
Redaktur: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Solok Selatan, 101 Rumah Rusak

Gempa 5,6 SR Guncang Solok Selatan, 101 Rumah Rusak

Kamis, 28/02/2019 15:52 0

Indonesia

Mantan Hakim MA Dukung Soft Approach dalam Penindakan Terorisme

Mantan Hakim Mahkamah Agung, Prof. Gayus Lumbuun berpendapat bahwa soft approach (pendekatan halus) lebih baik untuk menyikapi tindakan kejahatan.

Kamis, 28/02/2019 15:48 0

Indonesia

Tim Pembela Kemanusiaan Ajukan Praperadilan Kasus Pembunuhan Siyono

"Hampir tiga tahun, dari pelaporan yang sudah dilakukan oleh pihak keluarga, tidak ada perkembangan yang jelas. Kami sudah mengirimkan empat surat ke polres Klaten untuk menanyakan perkembangan perkara, namun tidak ada tanggapan," ujarnya.

Kamis, 28/02/2019 15:20 0

Indonesia

Beda dengan BNPT, Densus 88 Bilang Program Deradikalisasi Tidak Berhasil

Shodiq, yang mendapat tiga kali kenaikan pangkat luar biasa ini mengatakan, puncak dari deradikalisasi adalah untuk mengubah mindset teroris.

Kamis, 28/02/2019 13:33 0

Video News

Tak Hanya Pameran Buku, Ada Apa Saja di Islamic Book Fair 2019?

KIBLAT.NET, Jakarta – Islamic Book Fair (IBF) kembali digelar di Jakarta. Bertempat di Jakarta Convention...

Kamis, 28/02/2019 12:39 0

Indonesia

Longsor Tambang Emas di Sulut, 37 Orang Masih Tertimbun

Evakuasi masih dilakukan oleh tim SAR gabungan dari BPBD Bolaang Mongondow, TNI, Polri, Basarnas, SKPD terkait, relawan dan masyarakat.

Kamis, 28/02/2019 12:08 0

Indonesia

Disebut Indisipliner, Dosen Hayati: Saya Dipecat Karena Bercadar

Hayati resmi diberhentikan pada hari Rabu, 20 Februari 2019. Alasan yang disebutkan adalah pelanggaran disiplin karena sudah 67 hari tidak mengajar.

Kamis, 28/02/2019 11:05 1

Indonesia

Orang Asing Harus Punya KTP Elektronik, Begini Penjelasan Kemendagri

Warga negara asing (WNA) memang diwajibkan memiliki KTP elektronik apabila mereka memiliki izin tinggal tetap di Indonesia dan berumur lebih dari 17 tahun.

Rabu, 27/02/2019 18:59 0

Indonesia

FUI Sulteng Minta KPU dan Bawaslu Cegah Kecurangan Pemilu

FUI Sulteng Minta KPU dan Bawaslu Cegah Kecurangan Pemilu

Rabu, 27/02/2019 18:44 0

Indonesia

Daftar Pemenang Islamic Book Awards 2019

Pemenang Islamic Book Awards 2019

Rabu, 27/02/2019 17:55 0

Close