Ratusan Karyawan Microsoft Tolak HoloLens Digunakan untuk Perang Militer AS

KIBLAT.NET, Washington – Kontrak Microsoft senilai 480 juta dolar dengan Angkatan Darat AS dalam pengembangan HoloLens diprotes ratusan karyawannya. Mereka menolak teknologi berbasis Augmented Reality (AR) itu digunakan untuk perang dan penindasan.

Ratusan karyawan Microsoft mendesak penghentian kontrak pengembangan HoloLens, perangkat seperti kacamata yang menampilkan gambar hologram plus suara dan bisa berinteraksi dengan visual realitas. Kontrak pengembangan teknologi berbasis Augmented Reality (AR) itu dimenangkan Microsoft dengan nilai kontrak sebesar US$480 juta atau sekitar Rp14 miliar pada November 2018 lalu.

Menurut ketentuan kontrak itu, HoloLens akan diadaptasi untuk kepentingan militer guna mendeteksi musuh. Hal itu lantas memicu penolakan dari karyawan Microsoft.

“Kami adalah koalisi global pekerja Microsoft, dan kami menolak untuk menciptakan teknologi untuk perang dan penindasan,” salah satu isi surat protes karyawan Microsoft.

Para karyawan mempublikasikan surat protes mereka papan pesan internal perusahaan dan diedarkan melalui email ke seluruh karyawan perusahaan pada Jumat lalu (22/2). Lebih dari 100 karyawan Microsoft membubuhkan nama dan tanda tangan di surat tersebut. Secara keseluruhan Microsoft mempekerjakan hampir 135.000 orang di seluruh dunia.

“Kami khawatir bahwa Microsoft berupaya menyediakan teknologi senjata kepada militer AS, membantu pemerintah satu negara ‘meningkatkan kematian’ menggunakan alat yang kami buat,” kata surat itu.

Surat tersebut ditujukan kepada CEO Microsoft Satya Nadella, dan presiden dan chief legal officer Brad Smith. Para karyawan menuntut Microsoft membatalkan kontrak serta menghentikan pengembangan teknologi persenjataan untuk pasokan alat perang Angkatan Darat AS.

Sumber: CNN, NBC
Redaktur: Imam S.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat