... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pengaruh Jihadis Sahel Meluas ke Pantai Barat Afrika

Foto: Wilayah Sahel Afrika

KIBLAT.NET, Jakarta – Kelompok-kelompok jihadis dilaporkan semakin memperluas pengaruh mereka di Afrika Barat di tengah upaya sejumlah negara membangun pasukan regional untuk memerangi mujahidin di kawasan Sahel Afrika. Saat ini aktifitas mereka dianggap mengancam negara-negara di pesisir barat benua Afrika.

Pernyataan itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Burkina Faso, Alpha Barry, Sabtu (16/02/2019) lalu. Berbicara di sebuah Konferensi Keamanan di Munich, Alpha Barry memberikan gambaran situasi yang suram yang sudah berlangsung selama lebih dari 6 tahun sejak pasukan Prancis melakukan intervensi ke negara tetangganya, Mali, dengan misi menghentikan para militan Islamis Jihadis yang bergerak ke arah ibukota Bamako.

Sahel merupakan wilayah luas gabungan beberapa negara di Afrika barat dan utara yang luasnya setara dengan daratan Amerika Serikat. Di kawasan ini pula para jihadis Al Qaidah dan sejumlah kecil afiliasi kelompok ISIS beroperasi. Akibat lemahnya kontrol negara-negara, aktifitas penyelundupan dan potensi munculnya kelompok-kelompok bersenjata semakin subur di salah satu wilayah paling miskin di dunia yang sebagian besar terdiri dari gurun.

Terutama di bagian utara Burkina Faso yang berbatasan dengan Mali saat ini tengah mengalami situasi tersulit sejak 12 bulan terakhir. Pemerintah setempat harus berjuang keras untuk menegaskan kembali legitimasi kekuasaannya sejak mantan Presiden Blaise Compaore dilengserkan pada tahun 2014 oleh kekuatan massa yang menentang kekuasaannya.

BACA JUGA  Balas Kekalahan, Militer Mali Gelar Kampanye Targetkan Jihadis

“Ancaman ini semakin nyata dan mendapatkan tempat. Kemarin empat perwira bea cukai terbunuh di bagian selatan Burkina Faso yang berbatasan dengan Togo,” kata Barry. Seorang pastur asal Spanyol juga dilaporkan tewas dalam insiden yang sama. Tudingan pihak berwenang mengarah kepada kelompok militan Islam.

“Kami juga melihat serangan-serangan terjadi di perbatasan dengan negara-negara seperti Benin, Pantai Gading, dan Ghana. Tidak lagi terbatas hanya di Sahel, itu terjadi di daerah pesisir Afrika Barat dan berisiko akan terus meluas ke kawasan regional,” imbuhnya.

Prancis sebagai negara bekas penjajah kolonial di kawasan itu menempatkan sekitar 4.500 tentara, dan mendorong dibentuknya unit pasukan gabungan yang terdiri dari kekuatan militer 5 negara, yaitu Mali, Niger, Burkina Faso, Chad, dan Mauritania dengan satu misi memerangi jihadis.

Namun unit pasukan yang disebut sebagai kekuatan G5 itu masih terlalu lemah dan belum bisa mengimbangi kekuatan jihadis karena lambatnya pencairan dana dan koordinasi yang lemah di antara negara-negara itu. Di waktu yang sama, situasi tidak aman dan instabilitas semakin mengalami eskalasi.

Barry mengungkapkan, baru sejumlah kecil dana bantuan yang sudah cair dari total 415 juta euro yang dijanjikan sejak setahun yang lalu untuk memperkuat pasukan. Akibatnya, pasukan G5 hanya mampu melakukan operasi-operasi yang sifatnya sporadis.

Sejumlah operasi militer dianggap telah berhasil terutama setelah ada dukungan pasukan Perancis di bagian tengah Mali. Tetapi instabilitas malah meluas ke Niger dan Chad yang dianggap Perancis sebagai wilayah krusial dalam memerangi kelompok-kelompok jihadis Islam.

BACA JUGA  AS Sanksi Pemimpin Kelompok Jihadis Mali Front Pembebasan Macina

Bulan ini Prancis mengirim sejumlah jet tempur untuk membantu Presiden Chad, Idriss Deby, dalam menghadapi kelompok pemberontak. Diklaim bantuan Perancis tersebut untuk mencegah terjadinya kudeta kekuasaan.

“Misi sudah berjalan. Masalahnya memang rumit dan masih banyak yang harus kita kerjakan, tetapi saya yakin kita berada di jalur yang benar,” kata Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly mencoba bersikap optimis.

Sumber: Reuters
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pakai Kamera Pengintai, Cina Awasi Pergerakan Jutaan Muslim Uighur di Xinjiang

pakar internet Belanda mengungkap data berisi informasi tentang nama, nomor kartu identitas, tanggal lahir, dan data lokasi

Selasa, 19/02/2019 17:42 0

Indonesia

BNPB: Selama 2019, 843 Hektar Lahan Terbakar di Provinsi Riau

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut bahwa saat ini kebakaran hutan dan lahan terjadi di beberapa tempat di Riau,

Selasa, 19/02/2019 17:13 0

Indonesia

Fadli Zon Sebut Jokowi Lontarkan Data Bodong di Debat Capres Kedua

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon turut menanggapi agenda debat Capres kedua.

Selasa, 19/02/2019 17:00 0

Video News

Pesan Buya Hamka untuk Putra-Putrinya

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) mengadakan pameran sekaligus seminar “111 Tahun Buya Hamka”...

Selasa, 19/02/2019 13:16 0

Video News

Imparsial: Kebebasan Berekpresi Harus Dilindungi Negara

KIBLAT.NET- Koordinator peneliti Imparsial, Ardi Manto menegaskan perlunya peningkatan jaminan kebebasan berekspresi di Indonesia. Ia...

Selasa, 19/02/2019 13:06 0

Artikel

Syamina: Yahudi dan Nasrani di Bawah Naungan Khilafah Turki Utsmani

Turki pernah menjadi pusat kekuasaan Dunia Islam selama kurang lebih delapan abad dan sangat disegani oleh bangsa Eropa.

Selasa, 19/02/2019 10:00 0

Indonesia

Relawan Jogja Gelar Aksi Indonesia Selamatkan Palestina

Sejarah penindasan terhadap bangsa Palestina memang tidak ada habis-habisnya. Bangsa yang mengalami blokade oleh Israel sejak 2007 silam hingga kini masih terus mengalami penyiksaan dan penindasan.

Selasa, 19/02/2019 09:25 0

Opini

LGBT-P, Teroris Peradaban yang Mengerikan!

LGBT adalah penyakit penyimpangan seksual yang sangat menular. Menular akibat pembiaran oleh sistem liberal dan sekuler yang radikal.

Selasa, 19/02/2019 08:10 0

Indonesia

Kalimat dari Buya Hamka yang Melegenda

"Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan"

Senin, 18/02/2019 21:14 0

Indonesia

Sekjen MIUMI: Memilih Pemimpin Erat Hubungannya dengan Surga dan Neraka

"memilih pemimpin erat hubungannya dengan masuk surga dan neraka"

Senin, 18/02/2019 20:39 0

Close