... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

LGBT-P, Teroris Peradaban yang Mengerikan!

Foto: Demo tolak LGBT di Alun-alun Purwokerto

Penulis: Fira Admojo (Pegiat Majelis Taklim)

 

Kebebasan dalam dunia sekular radikal, memunculkan perilaku inhuman yang kebal ancaman Tuhan. Perilaku yang hanya mengedepankan pemuasan nafsu pribadi, dan buta akan dampak sosial maupun penderitaan korban. Perilaku layaknya monster, mengerikan dan menebar ketakutan, mengancam eksistensi peradaban. Monster itu bernama LGBTP, lesbian, gay, biseksual, transgender, dan kini satu lagi, pedosexual, atau pedofilia.

LGBT adalah penyakit penyimpangan seksual yang sangat menular. Menular akibat pembiaran oleh sistem liberal dan sekuler yang radikal. Sistem yang menganggap penyimpangan seksual adalan sekedar disorientasi, sebuah pilihan, dan layak diberi hak. Tanpa melihat dampak kerusakan masyarakat yang lebih luas.

40% kaum LGBT menurut data Western Journal Of Medicine berpikir serius untuk bunuh diri. Penggunaan obat terlarang, kaum LGBT 9 kali lebih banyak. Peluang terkena kanker anus dan HIV/AIDS juga lebih besar. Anal seks merupakan salah satu cara pria homoseksual untuk melampiaskan seksualnya. Padahal, salah satu faktor terjadinya kanker anus adalah dengan hubungan seks anal yang berulang kali. Resiko tertinggi terjadi bagi pria homoseksual yang positif terkena HIV.

Indonesia menyumbang angka 620.000 dari total 5,2 juta jiwa di Asia Pasifik yang terjangkit HIV/AIDS menurut UNAIDS tahun 2017. Jika dikelompokkan berdasarkan latar belakangnya, penderita HIV/AIDS datang dari kalangan pekerja seks komersial (5,3%), homoseksual (25,8%), pengguna narkoba suntik (28,76%), transgender (24,8%), dan mereka yang ada di tahanan (2,6%).

Setelah HIV/AIDS, muncullah Sarkoma Kaposi. Sarkoma kaposi adalah kanker yang berkembang dari jaringan di sekitar pembuluh darah dan pembuluh limfa. Monster mematikan ini terbentuk dari hasil pertemuan antara HIV, sistem imun yang melemah, dan virus herpes manusia (HHV-8). Penyakit ini biasanya muncul sebagai jaringan abnormal yang tumbuh di bawah kulit, di sepanjang mulut, hidung, dan tenggorokan atau dalam organ tubuh lainnya.

Di Indonesia, penyakit mematikan ini pertama kali ditemukan di Serang, pada seorang remaja laki-laki dengan orientasi homoseksual. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, anehnya tidak ditemukan adanya virus HIV dalam tubuh pasien hingga ia meninggal dunia.

“Saya sangat terkejut penyakit ini sudah merambah masuk ke Indonesia. Dulu penyakit ini hanya menyerang orang-orang yang terinfeksi virus HIV dan telah dinyatakan positif HIV/AIDS, namun ternyata virus Sarkoma Kaposi telah bermutasi dan dapat menyerang siapa saja bahkan orang yang tidak terkena HIV/AIDS sekalipun,” kata dokter spesialis kulit dan kelamin, Dewi Inong Irana.

Catat! Bahkan berpotensi menulari manusia normal, seperti halnya HIV/AIDS!! Jadi siapa yang bilang perilaku LGBT tidak mengganggu yang lain?! Jangan tutup mata akan dampak mengerikan dibaliknya.

Ada yang lebih membahayakan selain penyakit menular seksual dibalik pembiaran LGBT. Keberhasilan kaum LGBT meraih pengakuan bahkan legalisasi di beberapa negara, akhirnya mengilhami kaum pedofilia untuk menjejak langkah serupa. Perjuangan untuk meraih pengakuan. Pedofilia, dalam definisi American Psychological Association (2000), adalah ketertarikan seksual dan kemampuan mendapatkan gratifikasi seksual dari individu di bawah 12 tahun.

Mengerikan, karena menyasar anak-anak dibawah umur. Anak siapa saja, tak peduli apakah anak jalanan, anak hasil perdagangan gelap, anakmu, dan mungkin anakku, anak kita semua. Banyak kalangan mengkhawatirkan sepak terjang orang-orang pedofil yang mengikuti kalangan LGBT, terbukti sudah mulai muncul kampanye LGBTP, untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan hingga pelegalan.

“Saya kira hal selanjutnya yang akan mereka dorong adalah melegalisasi pedofil,” ujal Rafael Cruz, ayah Senator Ted Cruz kepada BuzzFeedNews dan dilansir Washington Post. Ihwal wacana penuntutan hak sama kalangan pedofil, seperti homoseksual, bukan hal baru. Pada 2011, Jack Minor, editor senior dari greeleygazette.com, membuat tulisan yang memicu kontroversi dengan judul, “Pedophiles want Same Rights as Homosexuals”.

Ia mengatakan, dengan menggunakan taktik sama yang digunakan aktivis gay, pedofil mencoba mencari pembenaran atas hasrat seksual mereka kepada anak. Hasrat itu tidak jauh berbeda dengan heteroseksual dan homoseksual.

Van Gijseghem, psikolog dan pensiunan profesor dari University of Montreal, mengatakan kepada anggota parlemen, ”Pedofil sesungguhnya bukanlah pelaku kriminal, mereka sedang berjuang untuk sebuah kesetaraan dengan masyarakat lainnya yang orientasi seksualnya heteroseksual atau bahkan homoseksual. Saya mengatakan bahwa, ya memang, pedofil tidak akan pernah mengubah orientasi seksual mereka, sama seperti heteroseksual dan homoseksual, dan kalau homoseksual bisa diterima dan diakui secara hukum di Negara ini (legal), tidak ada alasan bagi kita untuk menolak legalisasi pedofilia”

BACA JUGA  Entah Apa yang Merasuki Sukmawati

Dr. Quinsey, profesor psikologi emeritus di Universitas Queen di Kingston, Ontario, setuju dengan Van Gijseghem. Quinsey mengatakan ketertarikan seksual pedofilia adalah kepada anak-anak, dan “tidak ada bukti bahwa hal semacam ini dapat diubah melalui pengobatan atau melalui apa pun.”

Salah satu organisasi yang memperjuangkan hak hak pedofil adalah organisasi IASHS, yang di situsnya menyebutkan daftar “hak-hak seksual dasar” yang mencakup “hak untuk terlibat dalam tindakan seksual atau kegiatan dalam bentuk apapun, asalkan mereka tidak melibatkan tindakan yang melanggar konsensus, kekerasan, kendala, pemaksaan atau penipuan.” hak lain adalah untuk, “bebas dari penganiayaan, hukuman, diskriminasi, atau intervensi sosial dalam perilaku seksual pribadi” dan “kebebasan dalam setiap pikiran seksual, fantasi atau keinginan seksual.” organisasi ini juga mengatakan bahwa tidak ada yang harus “dirugikan karena usia. ”

Mari kita melihat lebih jauh ‘prestasi’ peradaban sekular radikal yang memunculkan banyak monster perilaku seksual menyimpang yang semakin ganas menyasar korban dari waktu ke waktu. Tahun 2012/13, kepolisian Inggris mencatat lebih dari 18.000 kasus pelecehan seksual terjadi terhadap bocah di bawah 16 tahun. Pada tahun yang sama 4.171 pelecehan dan pemerkosaan dilakukan terhadap bocah perempuan di bawah usia 13 tahun.i

Inggris yang telah melegalkan hukuman kebiri kimia mulai tahun 1950-an, dalam prakteknya masih sangat marak terjadi sejumlah penyimpangan. Pada Mei 2015, penelitian oleh National Crime Agency menyatakan ada 250,000 laki-laki di Inggris yang masuk kategori “true paedophiles“.

Sepanjang 2016, Puluhan Balita Inggris kerap menjadi korban pedofil. Data yang diperoleh oleh Komunitas Nasional untuk Mencegah Pelecehan (NSPCC) menemukan bahwa secara nasional petugas mencatat kejahatan seks 55.507 anak tahun lalu, rata-rata satu pelanggaran setiap 10 menit. Lebih dari 200.000 orang pria Inggris “tertarik” melakukan pelanggaran seksual terhadap anak-anak, kata kepala kepolisian bagian perlindungan anak di National Police Chiefs’ Council, Simon Bailey. Menurutnya, kurang lebih sama dengan jumlah tersangka teroris saat ini dan bekas tersangka teroris.

Pasukan Polisi Eropa (EUROPOL) mengatakan mereka telah menahan 184 orang, hasil dari penyelidikan jaringan pedofil global yang berbasis di Belanda, yang lagi-lagi dijalankan melalui jaringan dunia maya. EUROPOL mempublikasikan sebuah pernyataan, yang menyatakan bahwa operasi tersebut telah menyelamatkan 230 korban anak dari 30 negara.

Direktur EUROPOL Rob Wainwright mengatakan, barangkali ini merupakan jaringan pedofil online terbesar di dunia. Organisasi pemerhati anak-anak di Belanda pada 2013 pernah mengungkapkan bahwa ada lebih dari 1.000 pelaku pedofilia di seluruh dunia. Eksploitasi seks anak, terutama lewat jaringan online, bukan barang baru. Investigator Perserikatan Bangsa-bangsa pada 2009 menyatakan sekitar 750 ribu orang mengakses situs pornografi anak pada saat bersamaan.

Pada 2001, di Amerika, kepolisian Federal Negara dilaporkan berhasil membongkar kasus situs porno anak-anak korban pedofilia terbesar didunia yang ternyata dikelola orang Indonesia. Di pengadilan AS, Agustus 2001 terungkap bahwa situs berisi gambar dan film anak-anak yang sedang berhubungan badan dengan pria dewasa, atau anak dengan sebayanya, dan di akses 250.000 orang pedofilia yang menjadi pelanggannya saat itu.

FBI menemukan bahwa kebanyakan pedofil online merupakan pria kulit putih berusia antara 25-45 tahun yang berprofesi sebagai pejabat militer, pediatrik, pengacara, kepala sekolah, dan eksekutif teknologi.

Asian Centre for Human Rights melaporkan pelecehan seksual kepada anak-anak sedang mewabah di India, dimana ada lebih dari 48.000 bocah yang diperkosa selama sepuluh tahun sejak 2001. Setiap tiga menit seorang bocah diperkosa di Afrika Selatan, ini menurut penelitian Trade Union Solidarity Helping Hand. Sebuah rumah sakit di Harare mengabarkan, pihaknya menangani lebih dari 30.000 bocah korban pemerkosaan dalam periode empat tahun.

Polisi Australia Barat mengatakan, Kota Roebourne tercekam oleh pedofil dimana sebanyak 90% anak usia sekolah pernah menjadi korban. Menurut The Independent, bahkan pelecehan terhadap anak-anak dianggap normal. 36 pria telah ditangkap karena melakukan lebih dari 300 serangan seksual terhadap 184 anak.

Kementerian Perlindungan Anak Australia Barat mengatakan, skala epidemi kejahatan pedofil ini sangat luas sehingga pelecehan seksual terhadap anak-anak dianggap “lumrah”. Komisaris Polisi Australia Barat Karl O’Callaghan mengatakan, skala kejahatan itu adalah keadaan terburuk yang pernah terjadi di Australia Barat dan merupakan “krisis yang hampir tak berkesudahan. Ini adalah zona perang dan korbannya adalah anak kecil,” katanya.

BACA JUGA  Merenda Nalar di Balik Cadar

Di Thailand, anak-anak korban pedofilia jika tidak terbunuh, ketika tumbuh dewasa umumnya mereka kemudian terperosok menjadi gigolo profesional. Di Indonesia, tahun 2012 jumlah kasus atau korban pedofilia yang ditangani oleh KPAI sebanyak 256 orang, sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan dengan jumlah kasus/korban 378 orang. Dengan rincian korbannya 60% anak laki- laki dan 40% anak perempuan.

Dari hasil data tabel kasus tersebut dapat diketahui bahwa persentasi peningkatan kasus pedofilia ini mencapai 48%. Indonesia juga sempat dihebohkan oleh komunitas pedofil yang tergabung dalam grup Facebook “Official Candy’s Groups” dengan korban mencapai 500-an anak-anak.

Temuan Kementerian Sosial menyebutkan bahwa Indonesia menduduki posisi pertama dalam mendownload situs pedofil di Asia. ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes) menyebutkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara tujuan pariwisata seks anak terbesar di dunia.

Bahkan dalam wawancara khusus dengan Validnews, Minggu (9/7/2017), Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dan Aktivis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar Siti Sapurah menyatakan bahwa Indonesia adalah surganya para pedofil. Di Jakarta saja, lebih dari 2.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak, terjadi setiap tahun. Salah satu pelaku menyatakan bahwa anak-anak miskin (di Asia) jelas sangat-sangat mudah dirayu daripada anak-anak kelas menengah Barat.

Indonesia belakangan masuk jajaran 10 besar negara dengan tingkat kekerasan seksual terhadap anak-anak dengan kategori sangat mencemaskan. Terbongkarnya kasus komunitas pedofil yang melibatkan orang-orang Indonesia dan para predator anak lintas negara bukan tidak mungkin akan menyebabkan peringkat Indonesia naik dan masuk jajaran 5 negara dengan kasus sexual abuse terbesar. Jaringan pedofil tersebut disinyalir telah menjadi bagian dari sindikat perdagangan anak (child trafficking) global yang mencengkeram seperti gurita.

Inilah ancaman perilaku penyimpangan seksual yang mengerikan. Sangat mematikan, tidak hanya berkaitan dengan caranya, namun juga dengan daya rusaknya. Jika Barat begitu gencar menelorkan narasi muslim sebagai teroris dunia, fakta membuktikan peradaban sekular radikal lah teroris peradaban sesungguhnya. Melahirkan manusia-manusia berperilaku layaknya monster.

Mengancam, menebar ketakutan, menimbulkan banyak korban, menyebarkan wabah trauma dan penyakit mematikan, merusak sendi-sendi kehidupan anak-anak, keluarga dan generasi, dari ujung Barat dan menular hingga ke ujung timur. Monster teroris yang tidak membunuh korban dengan senjata, namun dengan nafsu seksual yang tak ada habisnya. Korban yang tak akan pernah berhenti, melebihi narasi korban-korban aksi terorisme muslim yang selalu Barat hembuskan.

LGBT-P adalah penyimpangan seksual, tak boleh ada celah menganggapnya hak asasi manusia sehingga diperlukan ‘payung hukum’ untuk seolah ‘membela’ hak-hak mereka. Seolah mereka adalah kaum terdzholimi, dan layak diakui. Inilah sebagian nafas RUU P-KS yang salah satunya mengkriminalisasi kekerasan berbasis SOGIEB (Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Body). Sebuah pemikiran yang lahir dari gerakan feminis radikal, kebebasan mutlak akan pilihan orientasi seksual dan perlakuan tubuhnya. Tak boleh ada narasi apapun yang menghalangi, termasuk narasi agama dan ayat suci.

Yang diperlukan oleh para pelaku LGBT-P bukanlah ‘pengakuan’, namun mengembalikan mereka pada orientasi seksual sesuai fitrah, jika mereka menolak bahkan berusaha menularkan perilakunya, hukuman keras wajib diberikan. Tidak sekalipun, dalam detik manapun, Islam menoleransi istilah ‘penyimpangan seksual’. Keharamannya jelas dalam pandangan Islam, sejelas noda hitam dalam lembaran kertas putih kosong. Tidak pernah ada peluang pembiaran, pengakuan, bahkan pelegalan.

Benih-benih kemunculannya akan dimatikan oleh sistem pergaulan Islam. Sistem yang begitu tegas mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, dari persoalan ranjang hingga peran keberadaannya dalam keagungan peradaban dunia. Maka yakinlah, tak ada peluang penghentian secara tuntas para pelaku LGBT-P, kecuali setelah tegaknya peradaban Islam dalam bingkai Khilafah ala minhajin nubuwwah. Tak akan ada pula peluang terhenti penularannya, selama peradaban sekular radikal yang sangat liberal masih ada!

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Tentara Jerman Baku Tembak dengan Tentara Mali, Satu Kritis

Sampai saat ini, kondisinya masih kritis.

Selasa, 19/02/2019 08:06 0

Suriah

Serangan Teror Kembali Landa Pusat Kota Idlib, Belasan Tewas

Para korban terdiri dari pejalan kaki, termasuk wanita, dan petugas White Helmets yang terkena ledakan kedua saat mengevakuasi korban.

Selasa, 19/02/2019 07:22 0

Suriah

SDF Khawatir Anggota ISIS yang Tertawan Jadi Bom Waktu

Setiap hari jumlah mereka yang tertawan terus bertambah. Penjara-penjara yang ada saat ini tidak mencukupi.

Selasa, 19/02/2019 05:54 0

Indonesia

Kalimat dari Buya Hamka yang Melegenda

"Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan"

Senin, 18/02/2019 21:14 0

Indonesia

Sekjen MIUMI: Memilih Pemimpin Erat Hubungannya dengan Surga dan Neraka

"memilih pemimpin erat hubungannya dengan masuk surga dan neraka"

Senin, 18/02/2019 20:39 0

Asia

Empat Tentara India Tewas dalam Baku Tembak dengan Pejuang Kashmir

Sementara belum diketahui korban dari pihak gerilyawan.

Senin, 18/02/2019 18:00 0

Indonesia

Pasca Debat Capres, Tagar #JokowiBohongLagi Jadi Trending Topic Twitter

Hal ini menyusul penyataan Capres 01 Joko Widodo pada acara Debat Capres.

Senin, 18/02/2019 17:28 0

Indonesia

Ketua DPR Minta Densus 88 Pulihkan Keamanan Pasca Insiden Penembakan di Papua

Bamsoet juga mendorong TNI dan Polri berkoordinasi dalam tugas bersama untuk melakukan pengamanan dan pembersihan KKB.

Senin, 18/02/2019 16:56 0

Indonesia

Disinggung Soal Ganti Rugi Pembebasan Lahan, Jokowi: Yang Ada Ganti Untung

Jokowi menepis pernyataan Prabowo yang menyinggung soal pembebasan tanah dalam pembangunan infrastruktur.

Senin, 18/02/2019 16:21 0

Indonesia

Hamka dan Penguasa

Hamka mendapat perlakuan yang berbeda dari pemerintahan orde lama dan orde baru.

Senin, 18/02/2019 15:17 1

Close