... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Pro Kontra Qunut Subuh dan Sikap Bijak Para Ulama

Foto: Qunut Subuh

KIBLAT.NET – Bagi sebagian orang, bicara tentang qunut dalam shalat subuh, mungkin sudah tidak menjadi persoalan lagi. Namun bagi sebagian yang lain, di beberapa daerah, perdebatan soal qunut subuh masih menyisakan banyak polemik. Masing-masing kelompok masih mengklaim dirinya paling benar dan paling “nyunnah”. Sementara di luar kelompok mereka dianggap salah dan menyimpang dari Sunnah Nabi SAW.

Bahkan di beberapa tempat, persoalan ini memicu perpecahan di antara para jamaah. Sebagian yang menggunakan qunut menganggap yang pakai qunut tidak sah salatnya. Sebaliknya, yang tidak melakukan qunut pun menganggap yang pakai qunut bid’ah. Dan sesuatu yang bid’ah akan membatalkan shalat. Walhasil, oleh sebagian orang, qunut ini menjadi standar dalam membedakan antara pemahaman suatu kelompok di masjid tertentu.

Karena itu, rasanya penting bagi kita untuk mengetahui persoalan ini secara utuh. Agar kita tidak mudah terjebak dalam polemik tersebut dan tentunya bisa lebih bijak dalam menyikapinya. Nah, pertanyaanya sekarang adalah bagaimana sebenarnya pendapat para ulama dalam memandang persoalan ini?

Persoalan membaca doa qunut pada shalat subuh ketika i’tidal kedua, merupakan ranah ijtihad yang diperselisihkan oleh ulama salaf. Antara yang melakukan qunut subuh dengan yang tidak, masing-masing memiliki dalil pijakan yang sama dari Nabi SAW. Hanya saja mereka memiliki ijtihad yang berbeda. Karena itu, sebelum mengkajinya lebih jauh, ada satu kaidah yang penting kita pahami bersama bahwa “Al Ijtihad Laa Yunqadhu bil Ijtihad” yaitu suatu ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh Ijtihad lainnya. Artinya, karena sama-sama lahir dari ijtihad maka tidak boleh ada sikap saling menyalahkan.

Qunut Dalam Pandangan Empat Mazhab

Para ulama mazhab berbeda pendapat ketika memahami persoalan qunut dalam shalat Subuh.

Menurut Malikiyah (Mazhab Maliki) dan Asy Syafi’iyah (Mazhab Asy Syafi’i) doa qunut pada shalat subuh adalah masyru’ (disyariatkan). Malikiyah mengatakan: Disunnahkan berqunut secara sirr (pelan) pada shalat subuh saja, bukan pada shalat lainnya. Dilakukan sebelum ruku setelah membaca surat tanpa takbir terdahulu. Sementara kalangan syafi’iah berpendapat disunnahkan qunut ketika i’tidal kedua shalat subuh, yakni setelah mengangkat kepala pada rakaat kedua, mereka tidak hanya mengkhususkan qunut nazilah saja.

Di antara dalil yang menjadi dasar pegangan mazhab ini adalah sebuah riwayat dari Anas bin Malik dimana beliau berkata:

  أَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى قَاتِلِي أَصْحَابِهِ بِبِئْرِ مَعُونَةَ ثُمَّ تَرَكَ فَأَمَّا الصُّبْحُ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasalam melakukan qunut selama satu bulan, berdoa (untuk keburukan) kepada para pembunuh para sahabat beliau di Bi’r Ma’unah, lalu beliau meninggalkannya, akan tetapi qunut waktu shubuh, maka beliau masih melakukan hingga wafat,” (HR. Al-Hakim, Ad-Daruqutni, Ahmad dalam Musnad, 3/162 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra, 2/201)

BACA JUGA  Soal Rekonsiliasi, PA 212 Sarankan Prabowo Istiqomah Berjuang Bersama Ulama dan Umat

Hadis ini dinilai shahih oleh sejumlah ulama hadis yang bermazhab Syafii dan Maliki. Al Hafidz Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh jama’ah huffadz dan mereka menshahihkannya.” Lalu menyebutkan para ulama yang disebutkan Ibnu Shalah dan mengatakan, “Dan diriwayatkan Daraquthni melalui beberapa jalan dengan sanad shahih,” (Al-Khulashah, 1/450-451)

Sedangkan menurut kalangan Hanafiyah (Mazhab Hanafi) dan Hanabilah (Mazhab Imam Ahmad) qunut dalam shalat subuh tidak disyariatkan kecuali bila ada qunut nazilah. Hal ini karena telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, kemudian beliau meninggalkan doa tersebut.” (HR. Muslim dan An-Nasa’i)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُو لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat subuh, kecuali karena mendoakan atas sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban).

Maknanya, menurut mazhab ini, syariat berdoa qunut pada shalat subuh telah mansukh (dihapus), dan yang ada hanya qunut nazilah.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 27/321-322)

Perlu diperhatikan, kedua pendapat di atas masing-masing memiliki cara penilaian tersendiri ketika memahami hadis-hadis tentang qunut. Bagi kalangan Hanabilah, cara menyimpulkan pendapat di sini lebih kepada penolakan terhadap status keshahihan hadis yang dijadikan pegangan oleh kalangan syafi’iah. Meskipun dipandang lemah oleh kalangan Hanabilah, hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa melaksanan qunut subuh hingga beliau wafat dinilai shahih oleh mereka sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi di atas. Berikutnya, menjawab hadis yang dijadikan hujjah oleh kalangan Hanabilah, Imam An-Nawawi berkata:

أما الجواب عن حديث أنس وأبي هريرة رضي الله عنهما، في قوله :(ثم تركه)، فالمراد ترك الدعاء على أولئك الكفار، ولعنتهم فقط، لا ترك جميع القنوت، أو ترك القنوت في غير الصبح.. وهذا التأويل متعين، لأن حديث أنس، في قوله :(لم يزل يقنت في الصبح حتى فارق الدنيا)، صحيح صريح، يجب الجمع بينهما…

“Adapun jawaban terhadap hadits Anas dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma mengenai lafadz ‘kemudian beliau meninggalkannya’ maksudnya adalah meninggalkan doa laknat atas mereka saja. Bukan meninggalkan semua qunut atau juga maksudnya adalah meninggalkan qunut tapi qunut yang ada pada selain shubuh. Karena ini sesuai dengan hadits Anas pada lafadz ‘Rasululloh sallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berqunut shubuh sampai beliau meninggal dunia’ Hadits ini shahih dan sangat jelas sekali. Maka wajib untuk menggabungkan antara dua dalil tersebut.” (Al-Majmu’, 4/671)

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Tiga Sikap Umat Islam Terhadap Kezaliman Penguasa

Maknanya, kedua pendapat di atas sama-sama memiliki ijtihad yang berpijak kepada hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, kembali kepada kaidah para ulama yang diungkapkan di atas bahwa “Suatu ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh Ijtihad lainnya,” maka sudah sepantasnya kita berlapang dada dan saling toleran terhadap saudara kita yang berbeda pendapat dalam mengkaji persoalan ini.

Sikap Bijak Para Ulama Salaf

Sikap toleransi yang cukup indah ditunjukkan sendiri oleh kedua imam mazhab yang berbeda pendapat di atas. Imam Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu meninggalkan qunut dalam subuh ketika Beliau shalat berjamaah bersama kalangan Hanafiyah di Masjid mereka, pinggiran kota Baghdad. Ulama Hanafiyah berkomentar, “Itu merupakan adab bersama imam.” Lalu ulama Syafi’iah menjawab, “Bukan, bahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 2/302)

Sikap yang sama juga ditujukan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Walaupun beliau termasuk ulama yang membid’ahkan qunut dalam subuh, namun Beliau memiliki sikap yang cukup toleran dalam masalah ini. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin, “Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dalam shalat subuh adalah bid’ah. Akan tetapi beliau berkata, “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25)

Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim menyatakan bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam terkadang meninggalkan qunut dalam subuh dan kadang-kadang beliau juga berqunut. Kemudian setelah mengungkapkan sejumlah pendapat ulama dalam masalah qunut, Ibnu Qayyim menyimpulkan, “Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya.

Para ahli hadits mengatakan, ‘Melakukannya adalah sunah, meninggalkannya juga sunah,’ Bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan Sunnah.

Sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya telah berselisih dengan Sunnah. Maka siapa saja yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa saja yang meninggalkannya dia juga telah berbuat baik.” (Zaadul Ma’ad, 1/274-275)

Demikianlah sikap para ulama dalam memandang persoalan ini. Dapat disimpulkan bahwa permasalahan ini masuk dalam ranah ijtihadiyah yang diperdebatkan para ulama. Kita dituntut agar bijak dalam menyikapinya. Tidak perlu saling mengklaim jika pendapatnya paling benar. Terus yang berbeda dengannya dianggap menyimpang dari Sunnah. Sebab, jika para imam mazhab saja begitu mudah berlapang dada dalam memandang perbedaan ini, lalu bagaimana dengan pengikutnya?

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Ust. Tri Asmoro: Laki-Laki & Perempuan Diciptakan Berbeda untuk Kerjasama

KIBLAT.NET- Konsep tolong-menolong dalam rumah tangga muncul karena adanya perbedaan jenis kelamin. Karena laki-laki memiliki...

Senin, 18/02/2019 14:06 0

Indonesia

MIUMI: Tahun Politik, Umat Islam Harus Kembali pada Ideologi Tauhid

"InsyaAllah, dengan izin Allah akan dimenangkan kepentingan politik umat Islam," ungkap UBN di Masjid Raya Iska, Mayang, Sukoharjo pada Ahad (17/02/2019) malam.

Senin, 18/02/2019 13:27 0

Indonesia

Suara Kaum Milenial tentang Buya Hamka

Winda berharap, semoga ke depannya acara serupa diadakan kembali agar milenial tidak buta akan sejarah, dan bisa mengaplikasikan nilai-nilai dari para pelaku sejarah.

Senin, 18/02/2019 12:59 0

Indonesia

Bashar Assad: Perang Belum Berakhir

"Kita melihat pencapaiannya berkat angkatan bersenjata dan semua pihak yang mendukungnya," kata Assad.

Senin, 18/02/2019 12:12 0

Arab Saudi

Putra Mahkota Saudi Dikabarkan Akan Beli Manchester United

Surat kabar Inggris The Sun akhir pekan kemarin melaporkan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman meningkatkan tawaran di bursa New York untuk Manchester United (MU) senilai sekitar $ 4 miliar.

Senin, 18/02/2019 11:09 0

Video News

Dialog Interaktif: Siapa Saracen?

KIBLAT.NET- Beberapa waktu lalu, Kepolisian RI sibuk membongkar apa yang mereka sebut sebagai jaringan “Saracen”....

Senin, 18/02/2019 10:39 0

Timur Tengah

Suriah Belum Disepakati untuk Kembali ke Liga Arab

Dia mengatakan pembicaraan tentang keanggotaan Suriah di liga yang berbasis di Kairo dilakukan di belakang layar.

Senin, 18/02/2019 10:36 0

Indonesia

Adian Husaini: Buya Hamka Menjadi Inspirator di Era Revolusi Industri 4.0

Adian menuturkan, Buya Hamka memiliki pemikiran yang sangat kritis dan komunikasi yang hebat. Selain itu Buya Hamka memiliki ceramah-ceramah menyejukkan dan tulisan yang luar biasa.

Senin, 18/02/2019 10:07 0

Video Kajian

Zikir: Kehidupan Bagai Roda

KIBLAT.NET- Kehidupan bagaikan putaran roda, kadang kita berada di bawah dan kadang berada diatas. Bagaimana...

Senin, 18/02/2019 10:04 0

Pakistan

Pakistan Dikabarkan Ajak Taliban Bertemu Muhammad bin Salman

Pemerintah Islamabad menegaskan kepada Taliban pentingnya pertemuan itu. Pakistan juga meminta Taliban mempertimbangkan peran Saudi di masa depan.

Senin, 18/02/2019 09:51 0

Close