... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Kelompok Hindu Bergerak, Tebar Ancaman ke Pelajar Kashmir di India

Foto: Kelompok ekstrem Hindu India, Bajrang Dal.

KIBLAT.NET, Kashmir – Puluhan warga Kashmir yang tinggal di luar wilayah Himalaya yang disengketakan mengalami ancaman, serangan dan dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.

Nisar Ahmad (bukan nama asli), yang sedang belajar fisika di sebuah institut di Dehradun, ibukota negara bagian Uttarakhand utara, mengatakan bahwa para siswa Kashmir dipukuli oleh sekelompok orang pada Jumat (15/02/2019)

“Setelah serangan bunuh diri, dua siswa Kashmir dipukuli dengan kejam oleh massa di daerah Sudhowala. Kami bahkan belum berani keluar dari kamar kami sejak serangan itu,” kata pria berusia 24 tahun itu.

Sehari sebelumnya, serangan bom oleh anggota yang diklaim kelompok Jaesh-e-Muhammed (JeM) terhadap konvoi mobil pasukan India menewaskan 42 tentara. Serangan ini termasuk yang mematikan sejak konflil di Jammu-Kashmir yang berlangsung 30 tahun.

Ahmad kemudian mengatakan, sekitar 70 orang melakukan unjuk rasa di daerah itu. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti ‘tembak para pengkhianat Kashmir’ dan ‘usir mereka’.

“Situasi di sini sangat tegang. Kami merasa sangat tidak aman di sini,” katanya. “Kami ingin kembali ke rumah kami tetapi tidak mengerti caranya. Kami takut bahkan pindah dari kamar kami. Persediaan kami sudah habis.”

Asma Ashraf (24) seorang mahasiswa sains di Dehradun, mengaku terancam setelah asramanya dikepung oleh kelompok itu. “Mereka meminta otoritas perguruan tinggi untuk mengusir Kashmir,” katanya.

BACA JUGA  Komunitas Yaman Indonesia Mengecam Aksi Penyerangan UEA Terhadap Yaman

Muhammad Dawood (23), mahasiswa ilmu geologi yang berasal dari distrik Baramulla di Kashmir utara, mengatakan bahwa dirinya tidak dapat bebas keluar setelah serangan oleh gerombolan sayap kanan Hindu.

“Wanita pemilik rumah kami menyelamatkan kami ketika gerombolan itu memasuki kamar kami. Saya bersembunyi di kamar mandi,” kata Dawood. “Lebih dari 20 siswa terjebak dan tidak dapat bergerak keluar, takut terjadi serangan yang lebih banyak.”

Di ibukota India, New Delhi, Sara Khursheed (25) mengatakan bahwa orang-orang Kashmir mendapatkan pengawasan luar biasa dari orang-orang sekitar.

“Kemarin, aku pulang kerja. Seorang pejalan kaki berteriak kepadaku dan mengatakan orang-orang Kashmir senang atas pembunuhan itu. Kami khawatir kami akan diusir oleh tuan tanah kami,” katanya.

Bashir (24) yang sedang belajar teknik di kota Ambala, negara bagian Haryana, mengatakan bahwa kelompok massa mengancam pelajar-pelajar Kashmir untuk meninggalkan tempat sewaan mereka melalui pengeras suara.

“Kami dalam pelarian sejak kemarin tanpa makanan. Kami meninggalkan tempat sewaan dan sekarang pemerintah telah mengamankan kami di sebuah asrama. Kami ingin pulang … Kami sekitar 200 siswa dari Kashmir di dalam asrama dan kami tidak bisa keluar,” katanya.

Sementara itu, Vikas Verma, anggota Bajrang Dal -kelompok Hindu sayap kanan yang terhubung dengan BJP yang berkuasa, menuduh pelajar Kashmir menghina pasukan paramiliter India melalu WhatsApp. Bajrang Dal juga dikenal kerap melakukan serangan terhadap kaum minoritas di India.

BACA JUGA  Editorial: Asap Semakin Pekat, Kebijakan Malah Jalan di Tempat

“Mereka telah menulis menentang pasukan di media sosial. Kami telah memberi siswa ini 24 jam untuk pergi, atau mereka akan menghadapi konsekuensi,” kata Verma dari Dehradun.

Sekilas tentang Konflik Kashmir

Kashmir, wilayah Himalaya mayoritas Muslim, dipegang oleh India dan Pakistan dalam beberapa bagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil Kashmir juga dipegang oleh China.

Kedua negara telah bertempur dalam tiga perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – sejak mereka dipartisi pada tahun 1947, dua di antaranya diperebutkan atas Kashmir.

Di gletser Siachen di Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan telah bertempur sejak tahun 1984. Gencatan senjata mulai berlaku pada tahun 2003.

Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan kekuasaan India untuk meraih kemerdekaan, atau untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah itu sejak tahun 1989.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Profil

Ibnul Mubarok, Menghabiskan Umur di Medan Ilmu dan Jihad

Tokoh kita kali ini adalah salah seorang ulama tabiut tabi'in yang menghabiskan hidupnya dari satu bumi ribath ke bumi ribath lainnya, dari satu kancah jihad ke kancah jihad lainnya.

Sabtu, 16/02/2019 20:47 0

Indonesia

Bela Slamet Maarif, FUIS Turut Gelar Aksi di Polda Jateng

Forum Umat Islam Semarang (FUIS) mengadakan aksi di depan Polda Jawa Tengah Semarang

Sabtu, 16/02/2019 17:09 0

Indonesia

Imparsial: Pengkritik Dipidana, Bentuk Pembatasan Negara Terhadap Kekebebasan Berekspresi

meski dalam penyampaian ekspresi terdapat unsur kebencian tak membuatnya harus diselesaikan melalui pidana.

Sabtu, 16/02/2019 16:58 0

Indonesia

Tolak Penersangkaan Slamet Maarif, DSKS Gelar Aksi di Mapolresta Surakarta

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menggelar aksi di Mapolresta Surakarta.

Sabtu, 16/02/2019 16:49 0

Indonesia

Setelah Adakan Pameran, SPI Buat Seminar 111 Tahun Buya Hamka

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) mengadakan Seminar 111 Tahun Buya Hamka

Sabtu, 16/02/2019 16:37 0

Indonesia

Komisi VIII DPR: RUU P-KS Bisa Dirombak

perombakan RUU PKS sangatlah mungkin terjadi karena sampai saat ini pembahasan belum dilakukan.

Sabtu, 16/02/2019 12:04 0

Indonesia

Disebut Berat Sebelah dalam Penegakan Hukum, Begini Pembelaan Polri

Kepala Biro Penyusunan dan Penyuluhan Hukum Mabes Polri, Brigen Pol. Agung Makbul angkat suara soal hukum Indonesia yang dinilai tajam ke bawah tumpul ke atas

Sabtu, 16/02/2019 11:39 1

Indonesia

Polri: Penghinaan Bersifat Pribadi Bukan Ujaran Kebencian

Agung menerangkan, bila yang terjadi adalah penghinaan yang bersifat pribadi atau perbuatan tidak menyenangkan lainnya, maka akan dikenakan pasal 110, atau 310

Sabtu, 16/02/2019 10:56 0

Video News

Komisi VIII: RUU P-KS Belum Dibahas, Masih Bisa Diubah

KIBLAT.NET- Inilah jawaban, Anggota Komisi VIII DPR-RI, Rahayu Saraswati tentang RUU P-KS saat tim Kiblat...

Sabtu, 16/02/2019 09:28 0

Indonesia

Abu Janda Urung Ditangkap, Pengacara Asma Dewi: Lolos Terus

"Seharusnya sudah ditangkap, karena sudah banyak laporan tentang dia. Tapi ternyata lolos-lolos terus"

Jum'at, 15/02/2019 19:38 0

Close