... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Sama-sama Dukung Assad, Benarkah Hubungan Rusia-Iran di Suriah Mesra?

Foto: Perdana Menteri Iran Hassan Rouhani dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

KIBLAT.NET – Dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada 25 Januari, Sergey Ryabkov, wakil menteri luar negeri Rusia, menolak hubungan antara negaranya dan Iran sebagai sebuah aliansi.

Mengacu pada istilah aliansi, Ryabkov mengatakan, “Saya tidak akan menggunakan kata-kata semacam ini untuk menggambarkan di mana posisi kami dengan Iran.”

Pejabat Rusia menegaskan bahwa Moskow dan Teheran tidak mesti sejalan mengenai segala sesuatu di Suriah. Negaranya tidak meremehkan pentingnya langkah-langkah yang akan menjamin keamanan yang sangat kuat dari negara Israel.

Dia menekankan bahwa itu menjadi salah satu prioritas utama Rusia. Berbanding terbalik dengan tujuan yang ingin dicapai Iran. Tiga perkembangan nyata di Suriah tampaknya terkait erat dengan pernyataan Ryabakov ini.

Pertama, bentrokan antara pasukan Suriah dan milisi pro-Rusia dan pro-Iran di dataran Al-Ghab.

Kedua, eskalasi konflik antara Israel dan Iran, di mana Israel menanggapi rudal jarak menengah Iran yang ditembakkan dari tempat di dekat Damaskus ke arah Golan yang diduduki dengan membom target Iran di dalam wilayah Suriah serta pertahanan udara Suriah.

Ketiga, meningkatnya pembicaraan tentang area zona aman di Suriah Utara antara Turki, Amerika dan Rusia yang tampaknya memarginalkan Iran dari perspektif Teheran.

Milisi Iran di Suriah.

Milisi Iran di Suriah.

Perkembangan tersebut menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar antara Rusia dan Iran dan semakin meningkatnya kepentingan kedua negara di dalam wilayah Suriah.

Moskow memang tidak pernah menganggap Teheran sebagai ‘sekutu’ karena hubungan di antara mereka selalu rumit. Melihat sejarah, hubungan itu telah berkutat pada permusuhan ke kompetisi dan dari eksploitasi ke persahabatan. Kendati demikian, satu-satunya hal yang tetap konstan adalah kurangnya kepercayaan antara kedua negara.

Meskipun Iran dan Rusia melakukan intervensi di Suriah untuk menyelamatkan Assad, mereka tidak memiliki agenda yang sama untuk Suriah.

Kedua negara bersaing di Suriah atas kepemimpinan, pengaruh rezim Assad, kepentingan ekonomi, dan masalah lainnya. Rusia, khususnya, tampaknya lebih terbuka untuk melakukan kompromi yang menguntungkan kepentingan nasional mereka dengan mengorbankan Iran. Ini tampak jelas ketika Moskow tidak menghalangi serangan militer Israel terhadap Iran dan kuasanya di Suriah.

BACA JUGA  Muslim United Murni untuk Persatuan Umat Islam

Ketika menteri luar negeri Rusia menelepon rekan Iran-nya, memintanya untuk membuat pernyataan dukungan resmi pada pertemuan Rusia-Turki di Aleppo pada akhir 2016, Zarif menjawab bahwa Iran tidak akan mendukung perjanjian yang tidak melibatkan pihaknya.

Pada saat itu, Iran dengan pasukan Korps Garda Revolusi (IRGC), proksi regional, dan milisi lokalnya menjadi yanng terkuat di Suriah. Mereka mencoba menyabotase kesepakatan melalui Hizbullah dan milisi lain sebelum Moskow dan Ankara setuju untuk menambahkan Teheran ke mekanisme trilateral nantinya.

Iran masih mempertahankan kehadiran langsung di lapangan dan melakukan pengaruh luas atas berbagai peristiwa di Suriah. Namun demikian, tidak ada keraguan bahwa status Teheran saat ini di Suriah terdegradasi. Terutama karena tiga alasan:

Pertama, Rusia baru-baru ini mengalami kemajuan dalam rangka meningkatkan pengaruhnya di dalam institusi rezim Assad. Kedua, Israel secara sistematis menargetkan Iran dan kuasanya di dalam negeri. Ketiga, Turki membangun kehadiran militer langsungnya di Suriah utara dan meningkatkan peran dan pengaruhnya di sana.

Perkembangan ini membuat Iran gugup dan ragu mengenai hubungannya dengan Rusia. Beberapa mungkin berpendapat bahwa Moskow tidak tertarik atau tidak memiliki kemampuan untuk mengusir Iran dari Suriah. Di sisi lain, Moskow memiliki minat untuk memanfaatkan Teheran untuk kepentingannya.

Ini dapat dilihat melalui tiga isu utama: pengaruh di dalam cabang-cabang militer dan keamanan rezim Assad, persaingan atas peluang dan kepentingan ekonomi, dan ketidaksepakatan atas masalah Kurdi.

Pemimpin Iran Ali Khamenei dan Bashar Assad

Pemimpin Iran Ali Khamenei dan Bashar Assad

Pada Januari 2017, Rusia membagikan rancangan salinan konstitusi Suriah kepada delegasi Suriah yang menghadiri pertemuan Astana. Dokumen tersebut mencerminkan bagaimana Rusia membayangkan masa depan Suriah dan memasukkan dua poin yang tidak akan disetujui oleh Teheran: hak untuk menentukan nasib sendiri, dan kemungkinan mengubah perbatasan negara melalui referendum publik.

Selama tahun yang sama, Suriah dan Iran menandatangani beberapa perjanjian terkait dengan rekonstruksi, ladang minyak, jaringan seluler, pertanian, pertambangan, dan fosfat. Satu perjanjian khususnya adalah memberi Iran sekitar 5 ribu hektar untuk membangun pelabuhan ekspor minyak. Namun, pada akhirnya perjanjian itu ditentang Rusia.

BACA JUGA  Editorial: Wamena, Merdeka, dan Darah Saudara Kita

Tidak diketahui apakah Rusia melakukan ini karena masalah keamanan swasta atau untuk mencegah Iran memperluas pengaruhnya ke pantai Suriah, atau karena permintaan Israel. Yang jelas, keputusan seperti itu menyoroti dimensi lain dari persaingan antara Moskow dan Teheran di Suriah.

Ketika datang untuk mempengaruhi rezim Assad, Iran dan Rusia menjalankan strategi kontradiktif yang menciptakan ketegangan di lapangan antara berbagai cabang militer/ keamanan rezim Suriah.

Bulan lalu, milisi pertahanan nasional dan divisi keempat dalam pasukan rezim Suriah yang dipimpin oleh Maher al-Assad bentrok lagi dengan korps kelima dan “pasukan Nemer” yang dipimpin oleh Suhail al-Hassan di dataran Al Ghab di Hama. Milisi pertama didukung oleh Iran sedangkan yang kedua didukung oleh Rusia.

Bentrokan semacam itu dapat dilihat sebagai upaya yang meningkat untuk menghalangi posisi Iran dan membatasi pengaruhnya di Suriah.

Ketika perang berakhir di Suriah, baik Teheran dan Moskow memposisikan diri untuk mengambil bagian-bagian politik dan ekonomi. Akan tetapi, perbedaan antara kedua negara terlihat akan semakin memicu ketidakpercayaan di antara mereka.

Dalam hal ini, pernyataan Rybakov tentang Iran mungkin dipandang sebagai ekspresi dari perilaku oportunistik khas Rusia untuk mengekstraksi konsesi dari AS, Israel dan negara-negara Teluk. Ataupun, menjadi cerminan dari upaya asli Rusia untuk melindungi pengaruh dan kepentingannya di Suriah yang baru. Namun, Teheran tentu tidak nyaman dengan tindakan tersebut.

Beberapa pihak berpendapat bahwa kedua negara memahami perbedaan mereka dan tidak akan membiarkan hal itu menghalangi kebijakan yang saling menguntungkan. Mungkin saja analisis itu benar. Tapi, apakah mungkin kondisi itu akan bertahan lama tanpa jangka waktu?

Persamaan saat ini antara Moskow dan Teheran di Suriah tidak dapat dipertahankan. Iran tampaknya tidak berada dalam posisi yang baik untuk menanggapi Rusia. Sebaiknya perkembangan selanjutnya patut menjadi perhatian.

Sumber: TRT World
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Drs. H. M Iqbal Ramzi Ungkap Proses Perjalanan RUU P-KS

KIBLAT.NET, Jakarta – Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) menjadi sorotan banyak pihak karena...

Kamis, 14/02/2019 11:30 0

Opini

Beratnya Amanah yang Dipikul Pemimpin

Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar amanah, semakin berat pertanggungjawabannya.

Kamis, 14/02/2019 11:20 0

Irak

Sepeninggal ISIS, Milisi Syiah Iraq Keruk Jutaan Dolar dari Besi Sisa Perang

"Saat ini, kami membeli antara $ 150 dan $ 160," katanya

Kamis, 14/02/2019 10:55 0

Afghanistan

Taliban Minta Putra Haqqani Dibebaskan Sebelum Perundingan Berlanjut

Para pemimpin Taliban Afghanistan menyerukan pembebasan segera Anas Haqqani agar bisa ikut ambil bagian dalam pembicaraan damai.

Kamis, 14/02/2019 10:49 0

Indonesia

Soal PSI, Kyai Sahal Gontor: Ngurusin Partai Waras Aja Capek, Apalagi yang Enggak

Tidak berkomentar banyak, Kiai Sahal mengatakan tak perlu ambil pusing soal PSI.

Kamis, 14/02/2019 10:18 0

Afrika

Lagi, AS Luncurkan Serangan Udara di Libya

Kekuatan politik di Libya diperselisihkan oleh dua pemerintah: Pemerintah Rekonsiliasi Nasional yang didukung oleh internasional dan berpusat di Tripoli, dan Pemerintah Paralel di timur yang didukung oleh parlemen terpilih.

Kamis, 14/02/2019 10:04 0

Prancis

Prancis Terapkan UU Anti-Terorisme, 7 Masjid Ditutup

Serangkaian pencapaian ini, kata Kemendagri Prancis, diraih setelah UU Anti-Terorisme berlaku.

Kamis, 14/02/2019 09:40 0

Iran

Bom Hantam Rombongan Tentara Garda Revolusi Iran, 27 Tewas

Kelompok perlawanan Sunni Iran, Jaisyul Adl, bertanggung jawab atas serangan ini.

Kamis, 14/02/2019 08:56 0

Afghanistan

Delegasi Taliban Akan Temui PM Pakistan Imran Khan

Mujahid menambahkan bahwa negosiasi ini tidak membatalkan putaran pembicaraan yang sudah disepakati pada 25 Februari di Qatar. Pembicaraan di Qatar akan berjalan sebagaimana yang direncanakan.

Kamis, 14/02/2019 08:08 0

Indonesia

Ini Alasan PP Persis Tolak RUU P-KS

Persis juga mengusulkan RUU baru dengan judul baru.

Kamis, 14/02/2019 06:48 1

Close