... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Beratnya Amanah yang Dipikul Pemimpin

Foto: Ilustrasi

Penulis: Mariyatul Qibtiyah, S.Pd (Penulis buku “Untukmu Negeriku” dan anggota Akademi Menulis Kreatif)

 

Komisi Pemberantasan Korupsi menyebut Bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi telah merugikan negara hingga Rp 5,8 triliun dan 711 ribu dollar AS. KPK telah menetapkan Supian sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian izin usaha penambangan terhadap 3 perusahaan di lingkungan Kabupaten Kotawaringin Timur pada 2010-2012.

Menurut Laode M. Syarief, Wakil Ketua KPK, Supian diduga menyalahgunakan kewenangannya karena memberikan izin IUP (Izin Usaha Pertambangan) kepada tiga perusahaan di Kotawaringin Timur, yakni PT. Fajar Mentaya Abadi (PT FMA), PT Bl (PT. Billy Indonesia (PT BI), dan PT. Aries Iron Mining (AIM). Prediksi kerugian penambangan ini melebihi kasus Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai Rp4,58 triliun dan korupsi proyek KTP Elektronik sekitar Rp2,3 triliun (tirto.id, 01/02/2019).

Penyalahgunaan kewenangan seperti yang dilakukan oleh bupati Kotim tersebut, bukanlah kasus yang pertama. Hingga Juli 2018, terdapat 98 kepala daerah yang sudah diproses oleh KPK dalam 109 perkara korupsi dan pencucian uang (kompas.com, 19/07/2018).

Fakta ini, tentu sangat memprihatinkan. Sebagai kepala daerah, mereka telah dipilih oleh rakyat untuk memikul amanah memelihara urusan rakyat. Sayangnya, banyak di antara mereka yang tergelincir, hingga melupakan amanah itu.

Memang, memikul amanah amatlah berat. Allah SWT telah mengingatkan manusia akan hal ini melalui firman-Nya. Di antaranya  dalam Surat al Ahzab (33) ayat 72 :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh”.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, setelah membawakan beberapa perkataan dari shahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini, beliau berkata: “Seluruh perkataan ini, tidak ada pertentangan sesamanya. Bahkan seluruhnya bermakna sama dan kembali kepada satu makna, (yaitu) pembebanan, penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan syarat-syaratnya. Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya, maka ia akan diberi pahala. Namun, jika ia menyia-nyiakannya, maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima amanah ini, padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zhalim. Kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan”.

Dari uraian Ibnu Katsir itu, kita memahami bahwa amanah adalah seluruh perintah dan larangan dari Allah SWT. Karena itu, setiap mukallaf, siapa pun dia, tidak terbebas dari amanah, baik sedikit atau banyak, besar atau kecil. Baik amanah itu terkait dengan perintah dan larangan yang harus dijalankan sendiri, yakni terkait hubungan dengan Allah. Atau pun amanah yang terkait dengan  orang lain.

BACA JUGA  Slogan NKRI Harga Mati (Masih) Menjadi Alat Gebuk

Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar amanah, semakin berat pertanggungjawabannya. Amanah sebagai seorang suami atau seorang istri tentu lebih berat jika dibandingkan dengan amanah terhadap diri sendiri. Amanah bagi seorang penguasa tentu lebih berat dibandingkan amanah bagi rakyat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dari Ibn Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. Berkata :”Kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dirumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelolaharta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.“

Jika seseorang mendapat amanah yang besar, kemudian ia berhasil melaksanakan amanah itu dengan baik,  pahala yang diterimanya pun besar.  Allah bahkan   menjanjikan balasan berupa surga Firdaus bagi mereka yang melaksanakan amanah sebagaimana firman-Nya di dalam Surat al Mu’minun (23) ayat 8-11:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ

الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُون

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Karena itu, hendaknya setiap orang menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Dalam Surat an Nisaa (4) ayat 58, Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”

Allah juga mengingatkan manusia untuk tidak mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya. Allah SWT berfirman dalam Surat al Anfal (8) ayat 27 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Sebaliknya, jika orang tersebut mengabaikan dan mengkhianati amanah yang dibebankan di pundaknya, akan besar pula dosa yang diterimanya. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan tersebut, kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Karena beratnya amanah bagi seorang pemimpin serta beratnya dosa karena mengabaikan amanah tersebut, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Abu Dzarr.

 عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Abu Dzarr berkata : Ya Rasulallah tidakkah kau memberi jabatan apa-apa kepadaku? Maka Rasulullah menepuk-nepuk bahuku sambil berkata : Hai Abu Dzarr kau seorang yang lemah, dan jabatan itu sebagai amanah yang pada hari qiyamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang yang dapat menunaikan hak dan kewajibannya, dan memenuhi tanggung jawabnya.

Jika di negeri ini semakin banyak pemimpin yang tidak menjalankan amanah dengan baik, itu karena sistem yang diterapkan saat ini memberi banyak peluang untuk itu. Sistem pengangkatan pemimpin yang membutuhkan biaya besar menyebabkan para pemimpin yang terpilih berusaha untuk menghalalkan berbagai macam cara dalam mengumpulkan kekayaan. Akibatnya, mereka yang seharusnya mengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat, justru berlaku sebaliknya.

Karena itulah, sudah seharusnya jika kita kembali menerapkan sistem sebagaimana yang dulu pernah diterapkan oleh Rasulullah SAW dan khulafaur rasyidin yang menggantikan Beliau. Sistem yang diterapkan pada saat itu telah menciptakan para pemimpin yang amanah. Para pemimpin yang benar-benar memperhatikan urusan rakyat dan melayani rakyat dengan baik. Para pemimpin yang jauh dari mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi atau pun keluarganya. Salah seorang di antara mereka adalah Said bin Amir.

Khalifah Umar bin Khaththab mengangkat Said bin Amir menjadi gubernur di Hims. Suatu hari, ada beberapa orang dari penduduk Hims menghadap Khalifah Umar bin Khaththab. Umar bin Khaththab memerintahkan kepada mereka untuk menuliskan nama-nama fakir miskin di Hims. Setelah mereka selesai menuliskannya, Umar bin Khaththab terkejut saat mengetahui bahwa bahwa nama pemimpin Hims,Said bin Amir termasuk di dalamnya. Khalifah Umar bin Khaththab kemudian mengirimkan 1000 dinar untuk Said bin Amir. Namun, Said bin Amir bukannya gembira dengan pemberian dari Umar tersebut. Ia justru menganggap pemberian tersebut sebagai musibah yang lebih besar daripada serangan terhadap kaum muslimin. Maka, Said bin Amir kemudian membagi-bagikan uang tersebut.

Pemimpin seperti inilah yang kita harapkan menjadi pelindung rakyat. Pemimpin yang tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan mengabaikan kepentingan rakyat. Pemimpin yang menyejshterakan, dan bukan menyengsarakan rakyat. Semoga pemimpin yang kita impikan ini akan segera datang dan membawa kebahagiaan bagi kita di dunia dan di akhirat.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Sepeninggal ISIS, Milisi Syiah Iraq Keruk Jutaan Dolar dari Besi Sisa Perang

"Saat ini, kami membeli antara $ 150 dan $ 160," katanya

Kamis, 14/02/2019 10:55 0

Afghanistan

Taliban Minta Putra Haqqani Dibebaskan Sebelum Perundingan Berlanjut

Para pemimpin Taliban Afghanistan menyerukan pembebasan segera Anas Haqqani agar bisa ikut ambil bagian dalam pembicaraan damai.

Kamis, 14/02/2019 10:49 0

Indonesia

Soal PSI, Kyai Sahal Gontor: Ngurusin Partai Waras Aja Capek, Apalagi yang Enggak

Tidak berkomentar banyak, Kiai Sahal mengatakan tak perlu ambil pusing soal PSI.

Kamis, 14/02/2019 10:18 0

Afrika

Lagi, AS Luncurkan Serangan Udara di Libya

Kekuatan politik di Libya diperselisihkan oleh dua pemerintah: Pemerintah Rekonsiliasi Nasional yang didukung oleh internasional dan berpusat di Tripoli, dan Pemerintah Paralel di timur yang didukung oleh parlemen terpilih.

Kamis, 14/02/2019 10:04 0

Prancis

Prancis Terapkan UU Anti-Terorisme, 7 Masjid Ditutup

Serangkaian pencapaian ini, kata Kemendagri Prancis, diraih setelah UU Anti-Terorisme berlaku.

Kamis, 14/02/2019 09:40 0

Iran

Bom Hantam Rombongan Tentara Garda Revolusi Iran, 27 Tewas

Kelompok perlawanan Sunni Iran, Jaisyul Adl, bertanggung jawab atas serangan ini.

Kamis, 14/02/2019 08:56 0

Afghanistan

Delegasi Taliban Akan Temui PM Pakistan Imran Khan

Mujahid menambahkan bahwa negosiasi ini tidak membatalkan putaran pembicaraan yang sudah disepakati pada 25 Februari di Qatar. Pembicaraan di Qatar akan berjalan sebagaimana yang direncanakan.

Kamis, 14/02/2019 08:08 0

Indonesia

Ini Alasan PP Persis Tolak RUU P-KS

Persis juga mengusulkan RUU baru dengan judul baru.

Kamis, 14/02/2019 06:48 1

Indonesia

Berikut Kronologi RUU P-KS yang Kini Menjadi Kontroversi

RUU tersebut belum memasuki tahapan pembahasan apalagi ketuk palu.

Kamis, 14/02/2019 06:27 0

Indonesia

Ditanya Kasus Ketum PA 212, Utusan Bawaslu Pamit Undur Diri

Namun saat giliran menjawab, Afif justru pamit. Ia beralasan ada agenda lain yang harus dihadiri. Setelahnya, Afif terlihat masih mengobrol beberapa saat sebelum meninggalkan lokasi.

Rabu, 13/02/2019 19:46 0

Close