... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

UU ITE Dinilai Lebih Tajam Dibanding Undang-undang Subversi

Foto: Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

KIBLAT.NET, Jakarta – Ahli pukum pidana, Suparji Ahmad menegaskan bahwa Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) lebih berbahaya dari undang-undang subversif di masa Orde Baru. Pasalnya, undang-undang itu dinilai mengancam kebebasan berpendapat.

“UU ITE ini lebih tajam dari UU Subversi, karena menjadi senjata berbagai pihak untuk membunuh semacam kebebasan berpendapat, kebebasan pilihan, dan agenda-agenda yang lain,” kata Suparji kepada Kiblat.net di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (12/02/2019).

Ia mencontohkan pasal yang berbunyi, barang siapa yang sengaja tanpa hak menyebarkan informasi, mendistribusikan atau menyebabkan dapat diakses yang dapat menimbulkan kebencian berdasarkan SARA. Menurutnya, SARA dalam UU ITE adalah sesuatu yang sangat multitafsir.

“Suku misalnya, orang tidak pernah menyebutkan tentang suku tapi kena UU ITE. Orang tidak pernah menyebut agama tertentu, tapi kena. Sebetulnya ini tidak boleh terjadi,” ucapnya.

Menurut Suparji harus ada upaya sungguh-sungguh, terutama dari aparat kepolisian, untuk memfilter perkara-perkara yang akan diakomodir. Sebab jika tidak, maka akan muncul berbagai praduga yang tidak baik.

“Sementara ini kan berkembang satu opini bahwa dengan UU ITE digunakan untuk membunuh lawan, untuk menolong kawan. Nah, ini nggak boleh terjadi,” paparnya.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Al Azhar Indonesia itu menegaskan UU ITE secara substansial harus diperjelas dan dilakukan perubahan. Sehingga diharapkan akan menciptakan kepastian hukum, menimbulkan keadilan, dan kemanfaatan.

BACA JUGA  Ada Sidang Pilpres, Polisi Buat Rekayasa Lalu Lintas di MK

Indonesia pernah menerapkan aturan tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi melalui Penetapan Presiden Nomor 11 Tahun 1963, yang diterbitkan Presiden Soekarno. Subversi didefinisikan sebagai pertentangan kepentingan yang tidak dapat dipertemukan, suatu kelanjutan perjuangan politik dengan merusak kekuatan lawan dengan cara-cara tertutup, sering juga dibarengi atau disusul dengan tindakan kekerasan yang terbuka (perang atau pemberontakan).

Yang termasuk tindakan subversi antara lain merupakan tindakan yang memutarbalikkan, merongrong, atau menyelewengkan ideologi Pancasila atau haluan negara; menggulingkan, merusak, atau merongrong kekuasaan negara atau kewibawaan pemerintah yang sah atau aparatur negara; dan menyebarkan rasa permusuhan atau menimbulkan permusuhan, perpecahan, pertentangan, kekacauan, kegoncangan, atau kegelisahan di masyarakat. Pelakunya, menurut aturan ini, diancam dengan hukuman pidana mati, penjara seumur hidup, atau minimal pidana penjara selama 20 tahun. Karena dianggap menciptakan ketidakpastian hukum, aturan itu dicabut melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1999.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Ust. Tri Asmoro: Laki-laki Tidak Akan Pernah Sama dengan Perempuan

KIBLAT.NET- Di dalam agama Islam, laki-laki dan perempuan tidak sama. Bahkan Allah menegaskan dalam surat...

Selasa, 12/02/2019 17:13 0

Asia

Remaja Muslim India Temukan Satelit Terkecil di Dunia

Sharook kerap menyatakan minat besarnya dalam bidang astronomi, sains, teknologi. Dia juga menjadi penulis untuk majalah sains India.

Selasa, 12/02/2019 17:04 0

Suriah

Berebut Wilayah, Milisi Rusia dan Iran Saling Serang di Hama

Sejumlah tentara tewas ketika Korps Kelima dan Divisi Kedelapan yang didukung oleh Rusia dan Divisi Keempat dukungan Pengawal Republik Suriah yang pro-Iran saling serang dengan senjata berat.

Selasa, 12/02/2019 11:25 0

Eropa

Aylan Kurdi Dijadikan Nama Sebuah Kapal Penyelamat Migran Jerman

Gambar-gambar Aylan yang mengenakan kaos merah, celana pendek biru dan sepatu hitam dalam kondisi tengkurap di bibir pantai memicu kemarahan di seluruh dunia.

Selasa, 12/02/2019 10:47 0

Inggris

The Guardian: Lobi Global Ingin Gagalkan Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Dokumen tersebut berisi upaya untuk mengungkapkan wajah sebenarnya tentang Qatar dan menggagalkan gelaran Piala Dunia 2022.

Selasa, 12/02/2019 10:19 0

Suriah

Konferensi Umum Revolusi Suriah Telurkan Rekomendasi Penting untuk Idlib

Juru bicara konferensi, Muhammad Al-Bakur, mengungkapkan bahwa pihaknya mengundang seluruh warga, tokoh, perwakilan suku dan pengungsi untuk ikut dalam muktamar.

Selasa, 12/02/2019 09:51 0

Video News

Kiblat Review: RUU P-KS Ancam Perempuan

KIBLAT.NET- RUU P-KS atau Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual semakin panas. Antara pengusung dan yang...

Selasa, 12/02/2019 09:18 0

Arab Saudi

Sebulan Lebih Menghilang di Medsos, Keadaan Syaikh Al-Arifi Masih Misteri

Mereka meyakini Syaikh Al-Arifi ditangkap atau paling minimal dilarang aktivitas kecuali dengan izin pemerintah.

Selasa, 12/02/2019 08:33 0

Lebanon

Liga Arab: Tidak Ada Konsensus Aktifkan Kembali Keanggotaan Suriah

Liga Arab dijadwalkan mengadakan pertemuan puncak para pemimpin negara-negara anggota pada akhir Maret di Tunis.

Selasa, 12/02/2019 07:36 0

Artikel

Gerakan Kaum Homoseksual: Dari Masa Kolonial ke Era Global

Pasca reformasi gerakan homoseksual semakin marak. Namun eksistensi mereka bukanlah gerakan sporadis apalagi tanpa modal. Sebaliknya, kampanye gerakan LBGT ini adalah gerakan global yang bukan saja didukung para penganutnya tetapi juga didukung Lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Senin, 11/02/2019 21:05 0

Close