Iran Disebut Penjarakan 1,7 Juta Orang Pasca Revolusi 1979

KIBLAT.NET, Teheran – Pemerintah Iran dilaporkan memenjarakan 1,7 juta orang dalam 30 tahun pertama pasca revolusi Islam 1979.

Kelompok advokasi media Reporters Without Borders, mengatakan bahwa mereka yang dipenjara adalah para penentang rezim, Baha’i dan minoritas agama lainnya dan setidaknya 860 wartawan. “Paling tidak empat jurnalis dieksekusi,” kata kelompok itu, Kamis (07/01/2019).

“Informasi itu didasarkan pada sebuah file rahasia mengenai proses pengadilan yang diperoleh oleh pelapor,” tambah kelompok itu.

File tersebut berisi rincian, bahwa sekitar 1,7 juta orang, termasuk anak di bawah umur dikurung di penjara Evin dalam tiga dekade pertama rezim Iran yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi.

“Keberadaan file ini dan jutaan entri tidak hanya menunjukkan skala kebangkrutan rezim Iran selama bertahun-tahun ketika mengklaim bahwa penjara tidak memiliki tahanan politik atau jurnalis, tetapi juga intrik tanpa henti yang digunakan selama 40 tahun untuk menganiaya pria dan perempuan atas pendapat atau pelaporan mereka,” kata sekretaris jenderal kelompok hak asasi manusia Christophe Deloire dalam sebuah pernyataan.

Deloire menambahkan bahwa temuan itu akan dikirim ke Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet.

Salah satu jurnalis terkemuka masuk dalam daftar tahanan adalah Farj Sarkhohi, editor majalah politik. Menurut klaim Teheran, dia menghilang dalam perjalanan ke Jerman pada tahun 1996.

“Rezim menggelar konferensi pers di bandara tempat Sarkhohi memproduksi dan menyatakan dia baru saja kembali dari Turkmenistan. Pada kenyataannya, dia baru saja menghabiskan dua bulan di penjara,” kata laporan itu.

Orang lainnya adalah fotografer Iran-Kanada Zahra Kazemi, yang menurut seorang pemeriksa medis meninggal karena luka-lukanya setelah dipukuli di penjara Evin pada tahun 2003. Dia dituduh mengambil foto keluarga yang menunggu di luar fasilitas.

Laporan itu juga mencakup perincian lebih dari 6.000 orang yang ditangkap karena memprotes pemilihan kembali mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad pada 2009, semuanya dituduh “melakukan tindakan yang mengganggu keamanan nasional.”

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat