... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Perdebatan Politik di Media Sosial, Kita Dapat Apa Sih?

Oleh : Musthafa Akhyar, pegiat media sosial

KIBLAT.NET – Tahun politik benar-benar panas. Panasnya mampu menghangatkan obrolan di warung makan, kedai kopi bahkan di tempat penitipan anak yang kerap jadi tempat bergosip ibu-ibu rumah tangga. Gosip-gosip yang beredar pun kini sudah mulai bergeser. Tak lagi terasosiasi dengan bisik-bisik tetangga ibu fulanah yang anaknya hobi pulang malam. Sekarang apapun menjadi murahan ketika bersinggungan dengan politik.

Rakyat sorak sorai bertepuk tangan dan tertawa gelak gembira menonton tayangan televisi tadi malam karena politisi andalannya diasumsikan berhasil menelanjangi lawan debatnya. Saking euforianya bahkan kejadian itu ditampilkan di status sosial media secara serempak untuk melegitimasi keberpihakan politiknya, semacam berkata secara halus “ah, gue banget ini . . . ”

Status isinya panjang menjulang quotasi argumentasi khas filsafat, itu pun dikutip hanya karena audiens bertepuk tangan waktu on-air di TV nasional . Nampaknya suatu hal yang keren.

Yang paling parah dari semua itu adalah apa yang sebenarnya dekat dan sedang berada di genggaman kita. Tepat di layar smartphone kita yang terkadang menemani menghantarkan tidur.

Algoritma sosial media itu benar-benar kejam dan bekerja seperti cara kerja racun. Ya, kita benar-benar telah teracuni oleh apa yang kecerdasan buatan ingin kita lihat. Ia mendesain jadwal menonton Youtube kita dan apa yang benar-benar akan kita klik ketika selesai loading selama 0.8 detik.

BACA JUGA  Laporan Syamina: Perang Kesabaran di Afghanistan

Secepat itu pula keputusan kita untuk mengakses konten yang disarankan. Benar-benar konten yang diafirmasi oleh pikiran alam bawah sadar tanpa harus pikir panjang. Jari-jari tidak sabar menyeret layar ke  bawah, bagian kolom komentar.

Di sana kita temukan netizen berdebat di ruang maya, status menjadi sama rata, tidak peduli latar belakang pendidikannya apa, tetap saja jadi kontestan ajang komentar yang tidak pernah ada ujungnya. Beda pilihan politik kadang lucunya mendefinisikan pilihan kosakata pula.

Sensitifitas netizen untuk mengetik “Dungu” atau “Kubu Hoax” naik 150%, asal komentar di atasnya terlihat tidak masuk akal baginya.

Proksi itu bergerak senyap, menciptakan tembok-tembok pembatas yang menjulang tapi tak terlihat. Konon mengasyikkan seperti candu. Gerak jempol atas reaksi impulsif spontan otak direspon lebih cepat daripada kapasitas kritis. Si pengguna pikir update statusnya, konten yang dishare atau komentar tendensiusnya akan mampu secara efektif mempengaruhi kelompok beda prefensi politik. Padahal itu semua hanya bergerak di ruang kedap. Iya, nyaris sangat kedap karena hanya akan dinikmati oleh kelompok yang sama.

Pola pikir dan tindak anda di sosial media benar-benar disetir oleh kemampuan kecerdasan buatan ala facebook, twitter, dan Instagram yang benar-benar membuat anda nyaman berselancar di platform mereka.

Mereka hanya ingin menampilkan apa yang benar-benar ingin anda lihat saja dan membatasi sebisa mungkin hal-hal yang mungkin ada jauhi dan membuat anda tidak nyaman. Tapi netizen akan selamanya merasa lebih benar dan cerdas dari mesin, tema perdebatan di media sosial lagi-lagi jadi bahan basa-basi di dunia nyata.

BACA JUGA  Pahitnya Kopi dan Kolonialisme di Indonesia

Proses memasyarakatkan politik seharusnya bergerak secara simultan dengan upaya mencerdaskan kehidupan rakyat. Dalam artian, rakyat dibangun rasionalitasnya menentukan untuk apa hak politiknya digunakan. Apa yang terjadi di negara ini sudah terlalu parah, karena pahit dibilang masyarakat menjadi kelompok sosial yang tidak lagi diandalkan kemampuannya memilih atau memutuskan kehendak politiknya untuk mensejahterakan diri dan keluarga lagi.

Keretakan ini ada yang memelihara, entah siapa, namun intinya jika bangsa ini tidak berhasil dijajah secara militer dan atau ekonomi. Cukup ciptakan chaos yang tidak bisa diatasi oleh bangsa itu sendiri, suatu saat ia akan kembali ke rangkulan kolonial meski tidak berkoloni di dalam wilayah.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Immanuel Ebenezer Dipolisikan, Romo Syafii: Saya Tidak Yakin Hukum Bekerja

Anggota Komisi III DPR RI, Romo Syafii mengaku pesimis Immanuel Ebenezer diperiksa polisi

Kamis, 07/02/2019 14:57 0

Indonesia

Sepanjang Januari 2019, Kementrian Kominfo Identifikasi 175 Konten Hoaks

KIBLAT.NET – Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengidentiifikasi sebanyak 175 konten hoaks yang menyebar di internet...

Kamis, 07/02/2019 14:31 0

Indonesia

Putri Gus Dur Klaim RUU P-KS Rekomendasi Ulama

Putri bungsu Gus Dur mengkritik keras petisi tolak RUU P-KS yang dibuat oleh Maimon Herawati.

Kamis, 07/02/2019 14:08 0

Philipina

Putaran Kedua Referendum Bangsamoro Selesai Meski Terjadi Pemboman

Menurut Direktur Jenderal Polisi Nasional Oscar Albayalde, tiga ledakan terjadi di Lanao del Norte pada malam plebisit. Tidak ada yang dilaporkan terluka dalam insiden itu.

Kamis, 07/02/2019 13:59 0

Indonesia

Definisi Pelecehan Seksual di RUU P-KS Dapat Mengkriminalisasi Pengkritik LGBT

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jazuli Juwaini menilai ada potensi multitafsir soal definisi pelecehan seksual dalam RUU Penghapusan kekerasan seksual.

Kamis, 07/02/2019 12:20 0

Afghanistan

Perundingan Moskow Sepakati 9 Poin Penting tentang Afghanistan

Setelah pertemuan di Moskow, perundingan berikutnya akan digelar di ibukota Qatar, Doha sesegera mungkin. Adapun sembilan poin deklarasi adalah sebagai berikut:

Kamis, 07/02/2019 12:11 0

Indonesia

Jazuli Juwaini Jelaskan Kesalahan Definisi Kekerasan Seksual dalam RUU P-KS

Ketua Fraksi Partai Keadlian Sejahtera (PKS), Jazuli Juwaini mengkritisi definisi kekerasan sekual dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Kamis, 07/02/2019 11:44 0

Suriah

Hak Layanan Medis Diabaikan, Warga Palestina Kembali Tewas di Penjara Israel

meninggalnya Baroud menyebabkan ketegangan di seluruh penjara Israel yang menjadi fokus penahanan warga Palestina. Para tahanan marah dan memintah penjajah bertanggung jawab.

Kamis, 07/02/2019 09:39 0

Afghanistan

Taliban Sampaikan Pandangan Politik kepada Para Politikus Afghanistan

Penting untuk menyetujui pembentukan pemerintahan Islam independen yang komprehensif di Afghanistan sebagai ganti sistem agen asing saat ini.

Kamis, 07/02/2019 07:19 0

Suara Pembaca

Hari Pers Nasional; Meneguhkan Integritas Insan Pers Indonesia

Pers yang didaulat sebagai pilar keempat demokrasi harus mampu menyuguhkan setiap kebenaran kepada khalayak ramai.

Kamis, 07/02/2019 07:17 0

Close