... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Laporan Syamina: Perang Kesabaran di Afghanistan

Foto: Pasukan AS di Afghanistan

“Kalian memang punya jam tangan, tapi kami punya waktu. Batere jam kalian akan habis, namun waktu kami dalam perjuangan ini tidak akan pernah berakhir. Dan kami akan menang.”

Mujahid Rahman, Pejuang Imarah Afghanistan

 

Kata-kata di atas terus menghantui Amerika. Dan kata-kata tersebut sangat mewakili bagaimana Amerika dan Taliban menyikapi perang di Afghanistan saat ini. Para pejuang Taliban sangat yakin bahwa Allah bersama mereka. Mereka menjalani perjuangan dengan penuh kesabaran. Waktu bersama mereka, detail-detail yang lain pun seolah tidak lagi relevan: sudah berapa lama perang berlangsung, kapan akan berakhir, bagaimana garis waktunya, beban ekonomi, keuangan, dan politik yang sehari-hari terus menguras tenaga dan pikiran pembuat kebijakan Amerika. Para pejuang Taliban tidak terlalu tertarik dengan angka dan statistik. Mereka hanya fokus pada kemenangan yang mereka yakini akan mereka capai.

Taliban yakin, bahwa Amerika lah yang pertama kali akan keluar dari peperangan. “Ketika pasukan Amerika datang ke sini, mereka mulai menyalakan stopwatch. Menghitung setiap detik, menit, dan jam hingga mereka pulang kembali ke rumah,” tutur mantan menteri Imarah Islam Afghanistan.

Tidak seperti tentara Amerika, Taliban muda memiliki tidak terlalu rindu dengan kenyamanan hidup. “Pejuang muda kami memiliki kehidupan yang ideal hanya dengan sepeda motor, AK-47, RPG, rambut panjang, dan tujuan suci untuk diperjuangkan,” katanya. “Mereka tidak memikirkan waktu dan konsekuensi, hanya perjuangan tanpa akhir untuk meraih kemenangan.”

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Tujuh belas tahun sejak perang dideklarasikan, Amerika semakin kesulitan untuk menjalani perang di Afghanistan. Sumpah Bush untuk menumpas Taliban dan Al-Qaidah, misi utama saat mendeklarasikan Perang Global Melawan Teror, semakin jauh dari kenyataan. Hampir semua taktik dan strategi sudah pernah dicoba, mulai dari serangan masif bergelombang dengan ratusan ribu pasukan sekutu, hingga pendekatan lunak nation building. Dana yang sudah dikeluarkan juga tidak sedikit, hingga triliunan dollar. Belum lagi biaya psikologis dan beban para veteran.

Harga dari invasi dan penjajahan tersebut adalah 50 jurnalis terbunuh, 400 pekerja kemanusiaan terbunuh, 38.000 warga sipil Afghanistan terbunuh, 59.000 pasukan Afghanistan terbunuh, 4.000 pasukan bayaran Amerika terbunuh, 2.400 pasukan Amerika tewas, dan 20.000 pasukan Amerika terluka. Untuk inikah Amerika berperang?

Triliunan dollar pajak rakyat Amerika dihabiskan untuk mengebom, merampas, dan menyiksa rakyat Afghanistan. Triliunan dollar lainnya harus dikeluarkan untuk merawat para vetaran yang terluka.

Namun, para pakar di Amerika sendiri merasa mereka sedang menuju kekalahan, atau paling tidak masih sangat kesulitan untuk menang, melawan pejuang Imarah Islam Afghanistan. Dengan biaya yang begitu besar, baik dari segi ekonomi, psikologis, hingga jiwa manusia, mereka belum juga mampu membawa hasil yang diharapkan. Dalam perang generasi keempat, tidak menangnya pasukan yang jauh lebih kuat adalah sebuah kekalahan.

Tak hanya itu, Afghanistan juga menunjukkan bagaimana Amerika kehilangan posisi moralnya di hadapan dunia. Anda tidak akan bisa menampilkan diri sebagai bangsa yang beradab disaat Anda menginvasi negara miskin, menculik rakyatnya, menyiksanya dalam sebuah kamp kematian, serta memanjakan bandit-bandit lokal.

BACA JUGA  Mengapa Jurnalisme Islam (Harus) Ada? Sebuah Tanggapan untuk Muhamad Heychael

Kini, mereka harus memelas. Memohon pada Imarah Islam Afghanistan untuk bernegosiasi. Satu hal yang tidak pernah terbersit di benak Amerika Serikat saat mengawali serangan ke Afghanistan. Afghanistan, bumi yang selama ini menjadi kuburan para imperium, perlahan mengancam nasib Amerika. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh mantan pejabat militer Amerika, Letkol Scott Mann, “Jika kita tidak membuat perubahan signifikan dari pendekatan yang dilakukan selama ini, Amerika kan menjadi batu nisan berikutnya dari kuburan imperium di Afghanistan.”

Jadi, mengapa Amerika kalah di Afghanistan? Menurut Ted Ral, terlalu gampang menjawabnya: Afghanistan adalah kuburan imperium. Kekalahan Amerika sudah terjadi bahkan sebelum perang dimulai.

Ulasan lengkapnya dapat dilihat di sini: Perang Kesabaran di Afghanistan

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Hak Layanan Medis Diabaikan, Warga Palestina Kembali Tewas di Penjara Israel

meninggalnya Baroud menyebabkan ketegangan di seluruh penjara Israel yang menjadi fokus penahanan warga Palestina. Para tahanan marah dan memintah penjajah bertanggung jawab.

Kamis, 07/02/2019 09:39 0

Afghanistan

Taliban Sampaikan Pandangan Politik kepada Para Politikus Afghanistan

Penting untuk menyetujui pembentukan pemerintahan Islam independen yang komprehensif di Afghanistan sebagai ganti sistem agen asing saat ini.

Kamis, 07/02/2019 07:19 0

Suara Pembaca

Hari Pers Nasional; Meneguhkan Integritas Insan Pers Indonesia

Pers yang didaulat sebagai pilar keempat demokrasi harus mampu menyuguhkan setiap kebenaran kepada khalayak ramai.

Kamis, 07/02/2019 07:17 0

Indonesia

Mantan Menkumham: Kasus Novel Potensi Turunkan Elektabilitas Jokowi

Amir mengkritisi sikap Jokowi yang enggan turut andil dalam penyelesaian kasus yang menimpa Novel dengan alasan tak mau mencampuri proses hukum.

Kamis, 07/02/2019 05:25 0

Indonesia

HRS Center: RUU P-KS Tak Sesuai dengan Ajaran Islam

Merujuk isi pada RUU P-KS, bisa saja nantinya ada suami yang mengajak istrinya berhubungan, lalu istrinya merasa terpaksa kemudian melaporkan suaminya karena dianggap telah melakukan kekerasan seksual.

Rabu, 06/02/2019 16:50 0

Timur Tengah

Otoritas UEA Tangkap Pria Inggris Karena Pakai Jersey Timnas Qatar

Di Uni Emirat Arab, menunjukkan simpati untuk Qatar dianggap melanggar hukum, dengan hukuman penjara hingga 15 tahun.

Rabu, 06/02/2019 16:20 0

Rusia

Ratusan Teror Ancaman Bom Landa Moskow, 50 Ribu Orang Dievakuasi

Gelombang ancaman palsu bom Rusia telah melanda beberapa hari terakhir, mendorong evakuasi pusat perbelanjaan, sekolah dan gedung pemerinta di seluruh negeri.

Rabu, 06/02/2019 15:45 0

Indonesia

Dikenal Sebagai Oposan, Rocky Gerung Malah Dukung Caleg PDIP

Warganet pun terkejut dengan hal tersebut.

Rabu, 06/02/2019 15:37 0

Indonesia

Romo Syafii Tegaskan Polisi Sudah Tidak Promoter

Romo Syafii juga menyinggung soal perilaku polisi yang terkadang malah menjadi juru kampanye.

Rabu, 06/02/2019 15:21 0

Indonesia

Pengakuan Warga Indonesia di Xinjiang: Pemeriksaan Ketat, Saya Dikuntit Polisi

"Ini bukan hanya pelaporan. Hanya untuk mengunjungi dan melihat lokasi sangat sulit," katanya di Twitter pada 29 Januari 2019.

Rabu, 06/02/2019 15:18 0

Close