... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Referendum Bangsamoro, Antara Peluang dan Pengulangan Kesalahan Masa Lalu

Potensi Ancaman dan Masalah ke Depan

Meskipun mayoritas suara peserta referendum mendukung dan telah diumumkan menang bagi pembentukan entitas Bangsamoro, presiden Duterte dan para pemimpin Bangsamoro di masa yang akan datang masih menghadapi potensi ancaman perang yang tidak ringan. Begitu entitas Bangsamoro secara resmi terbentuk, mereka harus menghadapi masalah-masalah yang sedemikian kompleks dan sudah mengakar, seperti: tingkat kemiskinan yang sangat tinggi beserta masalah turunannya, rekonstruksi sejumlah kota yang mengalami kerusakan parah seperti Marawi, dan ancaman kelompok-kelompok bersenjata penentang otonomi yang berafiliasi dengan ISIS.

Ada kekhawatiran dari sejumlah lembaga dan kelompok-kelompok pegiat hak asasi manusia di Barat akan nasib warga minoritas di sejumlah area mengingat selama bertahun-tahun dakwah yang menurut diskursus Barat disebut sebagai “Wahabi-Salafi” sudah cukup luas pengaruhnya; baik yang disebarkan melalui media online, juru dakwah, ideolog Islam, maupun interaksi dengan organisasi-organisasi Islam internasional dari Asia Selatan dan Timur Tengah.

Situasi tersebut dikhawatirkan oleh sejumlah pihak akan mendorong entitas Bangsamoro untuk mengadopsi model pemerintahan ultra-konservatif, termasuk kekhawatiran kemungkinan akan mengadopsi model pemerintahan di Banda Aceh, Indonesia, yang juga berstatus otonomi dan menerapkan Syariat Islam sejak awal tahun 2000.

Selain itu, ancaman intervensi juga datang dari Mahkamah Agung Filipina yang pernah menyatakan bahwa kesepakatan damai sebelumnya, yang tertuang dalam pasal-pasal BBL, dianggap melanggar integritas kedaulatan wilayah negara dan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar demokrasi. Ada keraguan bahwa pengganti Duterte nantinya akan sepakat melanjutkan kebijakan Duterte, dan memberikan dukungan yang cukup kepada para elit Bangsamoro ketika mendapat tekanan.

BACA JUGA  Hambali Dikabarkan Menjalani Penyiksaan CIA Selama Tiga Tahun

Kerisauan Mantan Tentara Filipina

Tantangan dan resistensi masih ada dari sejumlah elemen di Kongres. Salah satu anggota parlemen dari Partai Magdalo, Gary C. Alejano, bahkan mengatakan perundingan damai sebenarnya hanya strategi MILF untuk akhirnya melawan pemerintah dan merebut kemerdekaan sebagai satu negara Islam yang utuh di selatan. “Jika dilihat dari semua aspeknya, MILF mencoba berdamai dan mendapatkan kekuasaan dari pemerintah. MILF hanya menggunakan proses ini untuk berdamai dengan pemerintah untuk nantinya melawan pemerintah,” ujar Alejano.

Politisi mantan anggota militer Filipina ini, Gary Alejano, melontarkan tudingannya karena mengaku sudah menyaksikan sendiri bobroknya mekanisme pemerintahan di Mindanao. Sebagai mantan anggota korps marinir, ia pernah ditempatkan di berbagai wilayah di Mindanao. Namun tudingan Alejano ini dibantah oleh Kepala Negosiator Perdamaian MILF, Mohagher Iqbal, bahwa hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, menurut Iqbal perluasan wilayah bukan hal yang terjadi instan. “Prosesnya panjang. Ini bukan kesewenang-wenangan. Ini ada proses hukumnya,” jelas Iqbal di Cotabato.

Kemenangan atau Pengulangan Kesalahan?

Meskipun berbeda dalam konteks dan target akhir, referendum ini menandai satu babak penting bagi perjuangan Bangsamoro untuk “merdeka dan menentukan nasib sendiri” sebagaimana dinyatakan oleh the founding father mendiang Syaikh Salamat Hasyim. Waktu akan membuktikan apakah langkah referendum ini akan berjalan mulus mencapai target dan sasaran seperti yang dicita-citakan para pendiri dan pemimpin MILF sebelumnya, ataukah hanya déjà vu pengulangan sejarah dengan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan sebelumnya oleh MNLF.

BACA JUGA  Benarkah Kata Kafir Digunakan Hanya di Mekkah?

Penulis: Yasin Muslim

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Manhaj

Zaman Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Mengatur Kehidupan Manusia

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, kehidupan manusia sangat hancur. Itulah zaman Jahiliyah, di mana manusia sangat jauh dari kemajuan peradaban. Bukan materi dan intelektual yang tidak mengalami kemajuan, namun jauhnya manusia dari akhlak mulia.

Senin, 04/02/2019 11:31 0

Philipina

Referendum Bangsamoro 2019, Akankah Jadi yang Terakhir?

Dalam jangka waktu sekitar 40 tahun, Mindanao telah melakukan empat plebisit terkait Bangsamoro.

Senin, 04/02/2019 11:25 0

Turki

AS-Turki Dikabarkan Sepakati Poin-poin Zona Penyangga di Suriah

Poin-poin yang disepakati tersebut sebagai berikut:

Senin, 04/02/2019 10:23 0

Afghanistan

Taliban Akan Temui Para Pemimpin Oposisi Afghanistan di Moskow

"Pertemuan itu adalah cara untuk memperkuat upaya perdamaian yang dipimpin AS," kata Mohammad Nur seraya menggambarkan bahwa langkah itu sangat penting untuk perdamaian Afghanistan.

Senin, 04/02/2019 08:47 0

Qatar

Qatar Donasi $2 Juta Kepada White Helmets

Langkah Doha ini bersamaan dengan upaya Negara-negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Bashar Assad. Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania Negara Arab paling awal melakukan upaya tersebut.

Senin, 04/02/2019 07:26 0

Mesir

Mesir Undang Dua Faksi Besar Pejuang Palestina, Ada Apa?

Hubungan antara Hamas dan Otoritas Nasional Palestina memburuk bulan lalu ketika Abbas memerintahkan bawahannya untuk meninggalkan posisi mereka di perbatasan Rafah dengan Mesir.

Senin, 04/02/2019 06:35 0

Artikel

Lika-liku Politik Nahdlatul Ulama

Sebagian orang menuduh Nahdlatul Ulama bersahabat dengan PKI. Bahkan menjuluki Rais ‘Am NU, K.H. Wahab Hasbullah sebagai ‘Ulama Nasakom.’

Senin, 04/02/2019 00:24 0

Info Event

Pengen Lulus Kuliah Tapi Juga Hafal Al-Quran? Kuy Gabung di MTM Zaid bin Tsabit

PENGEN LULUS SARJANA? TAPI JUGA PENGEN HAFAL AL-QURAN? Gabung aja bareng kita di Markaz Tahfidz...

Ahad, 03/02/2019 22:29 0

Artikel

Antara Feminisme, Ibu, dan Wanita Indonesia

Feminisme di Indonesia hingga hari ini masih terkesan ahistoris dan akultural.

Ahad, 03/02/2019 20:16 0

Indonesia

Dua Pegawainya Dianiaya Saat Bertugas, KPK Lapor ke Polda Metro Jaya

Pegawai KPK dianiaya saat bertugas hingga mengalami retak pada hidung dan luka sobekan pada wajah

Ahad, 03/02/2019 18:33 0

Close