... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Presiden Afghan Minta Trump Batalkan Penarikan Pasukan, Taliban: Dia Budak AS

Foto: Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

KIBLAT.NET, Kabul – Sejumlah media melaporkan bahwa presiden Afghanistan, Ashraf Ghani meminta presiden AS Donald Trump untuk tidak menarik pasukannya dari Afghanistan.

New York Times menulis bahwa Ghani telah meminta Trump melalui surat untuk memikirkan kembali tentang penarikan semua pasukannya. Ghani mengatakan bahwa negosiasi ke AS soal penarikan pasukan telah dibicarakan dengan timnya.

Atas hal ini, Taliban menyebut bahwa Ghani telah menjadi budak AS di Afghanistan. Bahkan, Taliban memasukkan Ghani ke dalam daftar teratas.

“Ashraf Ghani memenangkan posisi pertama dalam perbudakan Amerika pada hari ia menandatangani kontrak untuk Afghanistan dengan penjajah pada hari pertama pemerintahannya di Kabul,” kata kelompok itu dalam situs resminya, Sabtu (02/02/2019).

Menurut Taliban, Ghani memiliki citra yang buruk di kalangan rakyat Afghanistan karena bersedia menjadi boneka asing.

“Rakyat Afghanistan mengolok-olok setiap orang yang diangkat, yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan bangsa dan negara Afghanistan,” kata Taliban.

Taliban kemudian menegaskan bahwa keinginan rakyat Afghanistan adalah memaksa para penjajah keluar dari negara. Hal ini sesuai dengan sikap resmi Taliban.

“Jadi apakah Ghani (sebenarnya) mau atau tidak, para penjajah meninggalkan negara itu?” kata kelompok perlawanan itu.

Imarah Islam atau Taliban meyakinkan negara bahwa menjaga kehormatan, kehidupan dan kekayaan negara menjadi prioritas utama. Tapi, Ghani dan orang-orangnya berusaha menjual aset-aset negara tersebut kepada asing.

BACA JUGA  Taliban Kembali Izinkan ICRC Beroperasi di Wilayahnya

“Mereka telah menginjak-injak nilai-nilai Islam dan mengorbankan kepentingan nasional untuk kepentingan pribadi mereka. Imarah Islam tidak akan membiarkan kelompok boneka atau individu bermain dengan nasib bangsa lagi,” tegas kelompok itu.

Sumber: Al-Emarah
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Analisis

Referendum Bangsamoro, Antara Peluang dan Pengulangan Kesalahan Masa Lalu

Apakah referendum Bangsamoro akan berjalan seperti yang dicita-citakan para pendiri dan pemimpin MILF sebelumnya, ataukah hanya pengulangan sejarah kesalahan yang sama seperti yang dilakukan sebelumnya oleh MNLF?

Senin, 04/02/2019 11:43 0

Manhaj

Zaman Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Mengatur Kehidupan Manusia

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, kehidupan manusia sangat hancur. Itulah zaman Jahiliyah, di mana manusia sangat jauh dari kemajuan peradaban. Bukan materi dan intelektual yang tidak mengalami kemajuan, namun jauhnya manusia dari akhlak mulia.

Senin, 04/02/2019 11:31 0

Artikel

Lika-liku Politik Nahdlatul Ulama

Sebagian orang menuduh Nahdlatul Ulama bersahabat dengan PKI. Bahkan menjuluki Rais ‘Am NU, K.H. Wahab Hasbullah sebagai ‘Ulama Nasakom.’

Senin, 04/02/2019 00:24 0

Info Event

Pengen Lulus Kuliah Tapi Juga Hafal Al-Quran? Kuy Gabung di MTM Zaid bin Tsabit

PENGEN LULUS SARJANA? TAPI JUGA PENGEN HAFAL AL-QURAN? Gabung aja bareng kita di Markaz Tahfidz...

Ahad, 03/02/2019 22:29 0

Artikel

Antara Feminisme, Ibu, dan Wanita Indonesia

Feminisme di Indonesia hingga hari ini masih terkesan ahistoris dan akultural.

Ahad, 03/02/2019 20:16 0

Indonesia

Dua Pegawainya Dianiaya Saat Bertugas, KPK Lapor ke Polda Metro Jaya

Pegawai KPK dianiaya saat bertugas hingga mengalami retak pada hidung dan luka sobekan pada wajah

Ahad, 03/02/2019 18:33 0

Indonesia

Faktor Cina, Pemerintah Indonesia Dinilai Berbeda Sikapi Rohingya dan Uighur

Diakui, banyak negara yang cenderung tidak mau mengkritisi Cina, berbeda dengan Myanmar. Hal itu menurut Heru karena Cina mempunyai posisi yang berbeda di dunia internasional.

Ahad, 03/02/2019 12:46 0

Indonesia

Dipertanyakan, Kenapa Aksi Kekerasan di Papua Tak Disebut Terorisme

Penyebutan KKB di Papua, sebut Heru, juga karena pengambil kebijakan khawatir jika disebut teroris, maka akan benar-benar lepas dari Indonesia. Sehingga di Papua masih disebut sebagai KKB.

Ahad, 03/02/2019 09:38 0

Indonesia

ONECARE Beri Bantuan ke Muhammad, Bocah Tiga Tahun Penderita Gizi Buruk di Pesisir Pandeglang

Bocah berumur 3 tahun tersebut telah menderita gizi buruk semenjak tahun lalu.

Ahad, 03/02/2019 00:15 0

Indonesia

PAHAM: Muslim Uighur Tak Dibela Barat karena Islam

bahkan pemberitaan pun di dunia internasional, pembelaan media barat terhadap Uighur tidak ada.

Sabtu, 02/02/2019 21:35 0

Close