... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Lika-liku Politik Nahdlatul Ulama

NU Pernah Perjuangkan Islam Jadi Dasar Negara

Hasil yang dicapai Partai NU tentu saja mengejutkan Partai Masyumi, yang tak dapat dipungkiri sebagai saingan dalam memperebutkan suara umat Islam. Meski bersaing keras, namun keduanya sejalan dalam dua hal, pertama, memperjuangkan Islam sebagai dasar negara dalam sidang konstituante. Kedua, penolakan mereka terhadap komunisme di Indonesia yang diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Komitmen NU untuk menyokong Islam sebagai dasar negara bersama partai-partai Islam lainnya dalam sidang konstituante tak dapat diragukan lagi. Para tokoh NU dengan gamblang menjelaskan alasan mereka memperjuangkan Islam sebagai dasar negara seraya mengkritik konsepsi Pancasila yang juga diajukan oleh partai-partai seperti PNI, PKI dan PSI sebagai dasar negara. K.H. Masjkur dari NU misalnya mengatakan bahwa;

“Akan tetapi pada pokoknja Pantja Sila sendiri tidak punja sistim, adjaran demokrasi jang tertentu. Djadi terserah kepada siapa jang akan mengisinja, sedang akibatnja dari matjam-matjam sistim demokrasi itu terhadap kedaulatan rakjat djauh berbeda, mana jang dikatakan adjaran Pantja Sila? Begitulah pula nasibnja daripada sila-sila lainnja.”

Rais Am Partai NU bahkan menekankan bahwa Islam sebagai dasar negara yang diajukan bukan meniru-niru dari negara lain.

“…kita menudju negara kita jang berdasarkan Islam tidak ala negara Saudi Arabia, tetapi adalah orisinil Qur’an dan Hadits, tidak ala Pakistan, kita tidak bisa melihat Mesir dimana agama Islam sebagai agama resmi, bukan dasar negara. Itu tidak bisa. Kita menudju jang eerste klas.”

Sidang Konstituante akhirnya dibubarkan oleh Soekarno dan ia memberlakukan kembali UUD 1945. NU sendiri memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan Soekarno. Pengaruh PKI yang begitu besar pada Soekarno membuat NU memilih untuk berupaya merangkul Soekarno seraya menjauhkannya dari pengaruh PKI.

BACA JUGA  Dipolisikan, Inilah Kutipan Dr. Ani Hasibuan yang Dipelintir Pewarta

Di sinilah politik NU diuji keluwesannya. Ada banyak hal yang harus dikompromikan oleh NU demi merangkul Soekarno dan mengurangi pengaruh PKI. Konsepsi Nasionalis, Agama, dan Komunis ala Soekarno menjadi ujian yang sulit bagi NU. Kala itu, K.H. Wahab Hasbullah menilai,

“Bung Karno kelewat gandrung persatuan hingga termakan oleh ambisinya mempersatukan partai-partai yang sejak semula mempunyai unsur-unsur yang berbeda, yang mustahil bisa dipersatukan.” (K.H.Saifuddin Zuhri: 2013)

KH Wahab Hasbullah.

Senada dengan Kiyai Wahab, K.H. M. Dahlan yang juga tokoh NU mempertanyakan, “Bagaimana politik ‘Nasakom’ hendak diwujudkan padahal secara prinsipil nasionalisme bertentangan dengan komunisme, apalagi antaragama (terutama Islam) dengan komunisme yang tidak mungkin bisa dipersatukan.”

Meski demikian NU akhirnya memilih tetap berada dalam naungan konsepsi Soekarno. Keikutsertaan NU dalam pemerintahan tak lain untuk mengimbangi pengaruh PKI terhadap Soekarno yang semakin besar. Sekalipun siasat seperti ini di mata sebagian awam malah menampilkan kesan sebaliknya.

Sebagian orang menuduh NU bersahabat dengan PKI. Bahkan menjuluki Rais ‘Am NU, K.H. Wahab Hasbullah sebagai ‘Ulama Nasakom.’ Nyatanya hal ini tidak benar. NU di bawah K.H. Wahab Hasbullah memimpin perlawanan terhadap kampanye-kampanye PKI. NU memilih siasat perlawanan lewat organisasi (partai) ketimbang frontal yang mengakibatkan harus berhadap-hadapan dengan Presiden Soekarno.

“Semua orang Nadhlatul Ulama terutama pemimpin-pemimpinnya sejak dari Kiyai Wahab hingga pengurus Ranting mempunyai penilaian sama tentang PKI. Mereka ini tidak pernah percaya akan itikad baik PKI. Mereka menyadari bahwa merekalah yang paling dibenci PKI, di samping ABRI tentu. Mereka adalah orang-orang Nadhlatul Ulama “luar dalamnya” dan oleh sebab itu, tidak akan pernah mencintai PKI, apalagi menjadi komunis. Komunis yang mana pun, dengan segala macam alirannya.” (K.H.Saifuddin Zuhri: 2013)

BACA JUGA  Wacana Wiranto Bentuk Tim Awasi Omongan Tokoh Dianggap Kebablasan

NU sendiri akhirnya tak mampu mengimbangi pengaruh PKI kepada Soekarno. Sejak tahun 1960-an sudah sulit membedakan antara retorika Soekarno ataupun PKI. Njoto, tokoh PKI menjadi semakin dekat dengan Soekarno dan menjadi salah satu penulis pidato Presiden. Namun bukan berarti NU gagal dengan tujuannya.

Dalam beberapa hal NU masih mampu membentengi umat dari agresi PKI. Salah satunya adalah tekanan untuk membubarkan HMI. Meski HMI bukan organisasi onderbouw NU, namun K.H. Saifuddin Zuhri, yang menjadi Menteri Agama kala itu melindungi HMI dengan mengancam akan mengundurkan diri jika Soekarno membubarkan HMI. (K.H. Saifuddin Zuhri : 2013)

Baca halaman selanjutnya: Bentrok NU dengan PKI ...

Halaman Selanjutnya 1 2 3 4 5
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Info Event

Pengen Lulus Kuliah Tapi Juga Hafal Al-Quran? Kuy Gabung di MTM Zaid bin Tsabit

PENGEN LULUS SARJANA? TAPI JUGA PENGEN HAFAL AL-QURAN? Gabung aja bareng kita di Markaz Tahfidz...

Ahad, 03/02/2019 22:29 0

Indonesia

Dua Pegawainya Dianiaya Saat Bertugas, KPK Lapor ke Polda Metro Jaya

Pegawai KPK dianiaya saat bertugas hingga mengalami retak pada hidung dan luka sobekan pada wajah

Ahad, 03/02/2019 18:33 0

Indonesia

Faktor Cina, Pemerintah Indonesia Dinilai Berbeda Sikapi Rohingya dan Uighur

Diakui, banyak negara yang cenderung tidak mau mengkritisi Cina, berbeda dengan Myanmar. Hal itu menurut Heru karena Cina mempunyai posisi yang berbeda di dunia internasional.

Ahad, 03/02/2019 12:46 0

Eropa

Masyarakat Dunia Gelar Aksi Mengutuk Tindakan Cina terhadap Uighur

Demonstran membawa spanduk bertuliskan: "Kebebasan untuk Uighur", "Hentikan kekejaman terhadap Uighur", "Akhiri pembantaian di Uighur!".

Ahad, 03/02/2019 11:53 0

Palestina

Perusahaan Spanyol Tolak Bangun Jalur Kereta Israel di Tanah Palestina

Pekerja perusahaan juga menolak keikutsertaannya dalam proyek dengan alasan yang sama.

Ahad, 03/02/2019 10:16 0

Arab Saudi

Arab Saudi Akan Lebih Banyak Bangun Bioskop

Perjanjian tersebut adalah bagian dari strategi SEVEN untuk mengembangkan dan mengoperasikan 50 bioskop di seluruh Kerajaan selama beberapa tahun mendatang.

Ahad, 03/02/2019 10:00 0

Indonesia

Dipertanyakan, Kenapa Aksi Kekerasan di Papua Tak Disebut Terorisme

Penyebutan KKB di Papua, sebut Heru, juga karena pengambil kebijakan khawatir jika disebut teroris, maka akan benar-benar lepas dari Indonesia. Sehingga di Papua masih disebut sebagai KKB.

Ahad, 03/02/2019 09:38 0

Indonesia

ONECARE Beri Bantuan ke Muhammad, Bocah Tiga Tahun Penderita Gizi Buruk di Pesisir Pandeglang

Bocah berumur 3 tahun tersebut telah menderita gizi buruk semenjak tahun lalu.

Ahad, 03/02/2019 00:15 0

Indonesia

PAHAM: Muslim Uighur Tak Dibela Barat karena Islam

bahkan pemberitaan pun di dunia internasional, pembelaan media barat terhadap Uighur tidak ada.

Sabtu, 02/02/2019 21:35 0

Profil

Muhammad bin Wasi’, Teladan dalam Kezuhudan dan Jihad

Pukulan tentara Allah itu mengenai kepala musuh hingga terbelah menjadi dua bagian. Sedangkan pukulan pedang musuh hanya mengenai topi baja yang dia kenakan di kepalanya, hingga dia tidak bisa melepaskannya.

Sabtu, 02/02/2019 20:58 0

Close