... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Prostitusi, Perzinaan Sistemik dan Feminisme

Foto: Ilustrasi feminisme

Penulis: Wulandari Eka Sari, ST, RFA [Ketua Kajian Strategis Yayasan Perempuan, Anak dan Keluarga (PERAK)]

 

Kemarin pagi, ketika saya sedang mencuci beras untuk dimasak, suami bertanya,” Menurutmu prostitusi artis 80 juta yang terungkap ada hubungan dengan politik atau caleg tertentu?”

“Paling juga si bandar kurang setoran,” jawab saya sembari menekan tombol on rice cooker.

Suami manggut-manggut sebentar. “Emang pemakai bukan caleg atau apa gitu?”

“Aku gak ngikutin,” jawab saya. “Males. Berita gitu cuma buat meramaikan isu aja…”

Suami tidak menjawab.

“Masalah si artis atau pemakai bakal dijerat apa atau seperti apa, gak jamin seperti yang diberitakan. Antar mereka itu udah tahu sama tahulah. Kalau kurang setoran atau mau tipu-tipuan tinggal cokok aja, blow up media…” tambah saya sembari mengocok telur.

Ini di antara obrolan meja makan kami dalam keseharian. Ibarat warung kopi ngobrol ngalor ngidul.

Prostitusi bukan barang aneh di negara ini. Bukan pula perkara tabu. Ibarat swalayan, beroperasinya terbuka, hanya saja memang yang tahu mereka para pelanggannya saja. Fenomena gang Dolly di Surabaya, kramat tunggak di pinggir Jakarta Utara hingga Alexis yang keberadaannya hingga hitungan ribuan hari, menunjukkan bahwa masyarakat kita yang dikata relijius mafhum dengan adanya prostitusi. Bahkan keberadaannya pun legal diketahui oleh pemegang kebijakan yang bekerja sebagai pengayom masyarakat. Sudah rahasia umum, kalau lokasi seperti itu selalu ada pihak kuat yang menjadi ‘backing’ sehingga tak mudah untuk ditiadakan.

Bisnis esek-esek pun merupakan bisnis anti rugi dan sangat menguntungkan, selain narkoba. Pemilik swalayan hiburan penjaja kenikmatan birahi, bisa meraup omset puluhan bahkan ratusan juta dalam sehari. Dan pada kenyataannya, sekali lagi di negara relijius ini, swalayan prostitusi tak pernah sepi pengunjung dan bahkan berjejal. Maka bisa dibayangkan berapa besar perputaran rupiah di lokalisasi swalayan esek-esek hingga ribuan hari. Bahkan jauh lebih besar dari hypermarket yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Hanya bermodalkan alat kelamin. Maafkan saya yang terlalu sarkas…. Astaghfirullah…

Berkembangnya teknologi, mengubah perilaku masyarakat. Dulu mencari tukang ojek haruslah berjalan menuju pangkalan ojek. Sekarang tinggal sentuh layar android, tukang ojek pun meluncur langsung ke depan pintu rumah. Ternyata ini pun berlaku di layanan pemuas birahi. Tak perlu lagi beroperasi di lokalisasi. Pemakai bisa mengakses layanan dengan cara modern. Aplikasi pun beragam. Mulai dari penjaja personal hingga ala all you can eat, bebas pilih asal sesuai kocek. Pilihan pun bervariasi, mulai usia sekolah hingga artis papan atas. Dan semua ini ada dan terjadi di bangsa relijius ini. Sebuah keprihatinan dan kepedihan dalam senyap.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, ketika sempat sedikit menimba ilmu di sebuah Ma’had Islamiyah sembari kuliah jadi insinyur, saya pernah bertanya mengenai ayat-ayat pertama di surat An Nur yang menyampaikan tentang perzinaan, di kelas tafsir. Waktu itu saya bertanya bagaimana membuktikan bahwa seseorang atau dua orang telah melakukan perzinaan, apakah harus membawa empat orang saksi yang artinya empat orang tersebut menyaksikan kejadian perzinaan.

BACA JUGA  Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Sempat saya berkomentar dalam pertanyaan waktu itu, kalau memergoki orang sedang berzina lalu harus mencari sampai empat orang untuk bersaksi, keburu yang berzina udah bubar baru dapat saksinya. Sang ustadz tersenyum sedikit dan menjawab,”Harus ada empat orang saksi.” Saya pun manggut-manggut. Masih belum kebayang bagaimana kenyataannya. Karena pastinya orang berzina akan melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan sulit untuk diketahui oleh orang banyak. Maka akan sulit sekali menuduh orang sudah melakukan perzinaan.

Hingga beberapa hari yang lalu, di sebuah focus group discussion (FGD) ada sebuah obrolan menarik ketika membahas fenomena seks bebas yang semakin bebas dan semakin variatif. Tidak cuma kisah seks heteroseksual namun ditambah homoseksual yang semakin tidak mengenal rasa malu lagi. Dan kenyataannya, perzinaan saat ini bukan cuma disaksikan oleh empat orang, bahkan bisa lebih dari itu. Komplek lokalisasi seperti gang Dolly, tukang parkir, penjual makanan, hingga anak-anak yang hidup di sekitarnya menjadi saksi transaksi perzinaan. Bahkan pelakunya pun mengakui melakukan praktek perzinaan secara gamblang. Untuk transaksi perzinaan menggunakan teknologi digital pun, mucikari, bandar, admin dan semua kru nya tahu. Sehingga ketika Allah memberikan tatanan untuk menjaga bahwa tidak dengan mudah menuduh seseorang atau dua orang berzina dan betapa berat sanksi serta beban akibat perilaku perzinaan dan pihak yang menuduh perzinaan, ternyata manusia sendiri tanpa rasa malu membuka perilaku kejahatan seksual.

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nuur: 4-5)

Prostitusi bukan sekedar kegiatan hubungan kelamin atas dasar kerelaan transaksi, namun merupakan praktek perzinaan sistemik yang kemudian mau atau tidak mau akhirnya dimaklumi banyak orang. Dengan dalih banyak lelaki hidung belang yang berkeliaran mencari penjaja seks sesaat, daripada ‘jajan’ di ‘pasar’ yang tidak jelas maka dilakukan lokalisasi agar bisa dipantau secara ‘seksama’ oleh pihak yang berwajib mengatur. Dengan dalih kebutuhan hidup para penjaja seks yang membutuhkan uang hasil transaksi lendir untuk menghidupi diri dan keluarga, maka lokalisasi prostitusi dianggap sebagai upaya pemberdayaan ekonomi.

BACA JUGA  Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Saat ini lokalisasi gang Dolly, kramat tunggak atau Alexis sudah ditutup. Namun pertanyaannya apakah demikian juga dengan praktek prostitusi? Pada kenyataannya prostitusi online semakin bervariasi ragamnya. Transaksi off line bisa mulai dari rumah hingga hotel berbintang. Namun hal itu bukan juga perkara rahasia. Sekali lagi, mulai mucikari hingga bell boy hotel pastinya bisa mengetahui praktek perzinaan.

Perzinaan bukan sesuatu yang memalukan dan disembunyikan, namun sudah menjadi bagian dari kehidupan. Keberadaannya dinaungi oleh sistem sehingga kebejadan dan kerusakannya pun sistemik menjamah masyarakat. Tatanan dan moral sosial masyarakat tercabik-cabik amburadul. Perempuan hamil tak diketahui siapa bapak dari janin di kandungannya, anak tak tahu siapa bapaknya, infeksi penyakit menular seksual menyebar, jumlah penderita HIV AIDS kian bertambah, kesetiaan dalam keluarga semakin absurd dan menghilang, mencari penghasilan yang halal untuk keluarga bukan menjadi hal penting dan kerusakan moral sosial lainnya.

Ada demand ada supply dan sebaliknya. Ada penjaja seks, ada yang membutuhkan penyaluran birahi dan sebaliknya. Tapi hukum ekonomi ini bukan untuk praktek perzinaan. Allah sudah berikan jalan melalui pernikahan untuk menyalurkan libido seksual. Maka hubungan seksual di luar pernikahan, adalah perkara dosa besar yang secara sistemik merusak tatanan dan moral masyarakat. Bisa dipahami mengapa begitu dahsyat sanksi untuk pelaku perzinaan.

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (An-Nuur: 2)

Lalu di mana suara para pengagung kebebasan perempuan? Para feminis yang kabarnya ingin mengangkat martabat perempuan setinggi langit? Mereka berteriak ketertindasan perempuan berawal dari institusi pernikahan. Sementara segala praktek perzinaan sistemik tak menjadi bahan bahasan serius untuk dicarikan solusinya. Sibuk meruncingkan polemik batas usia pernikahan anak, namun tak ada suara pada kenyataan betapa banyak perzinaan dan prostitusi di usia anak. Sibuk membahas kekerasan dalam rumah tangga, namun bahwa prostitusi adalah bentuk kejahatan seksual tidak ditentang secara massif. Sibuk membahas pemberdayaan ekonomi perempuan, namun bisu menggaungkan pentingnya lapangan kerja untuk para lelaki agar bisa bertanggungjawab menafkahi keluarga. Sibuk mengangkat perempuan untuk setara dengan lelaki sehingga para lelaki pun terseret arus emansipasi untuk setara dengan perempuan. Akhirnya jadilah laki-laki lemah, lunglai, butuh pertolongan perempuan.

Betapa sistemiknya kebejadan dan kebobrokan… Lalu mana suara dan solusi kita?

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

AS Godok RUU Anti Gerakan Boikot Israel

Israel melihat BDS sebagai ancaman strategis dan menuduhnya sebagai gerakan anti-Semit. Namun, para aktivis menyatakan bahwa upaya Israel bertujuan mendiskreditkan mereka.

Selasa, 29/01/2019 11:14 0

Video Kajian

Ust Abu Rusydan: Mujahid dan Keterasingan dalam Keramaian

- Demokrasi ibarat Kumbokarno; tidur setahun bangun sehari merusak segalanya - 2019 nyoblos bila... - Syarat mengasingkan diri (i'tizal) dari keramaian manusia

Selasa, 29/01/2019 10:35 0

Indonesia

Tanggapi Tabloid Indonesia Barokah, TKN: Masjid dan Pesantren Bukan Tempat Kampanye

Wakil Ketua Tim Kampanye Pemenangan (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arsul Sani menanggapi beredarnya tabloid Indonesia Barokah.

Selasa, 29/01/2019 10:30 0

Mesir

Sepakati Kerja Sama Anti-Terorisme dengan Prancis, Mesir Dapat Gelontoran Dana

"Pembicaraan kami hari ini menyaksikan kesepakatan dalam visi tentang pentingnya terus bekerja untuk memerangi fenomena terorisme yang menjijikkan, yang menargetkan keamanan dan kepentingan kedua negara," kata Al-Sisi.

Selasa, 29/01/2019 09:44 0

Suriah

Iran dan Suriah Teken Kerja Sama Ekonomi Jangka Panjang

Di antara isi perjanjian itu, dimudahkannya perusahaan Iran berinvestasi di Suriah

Selasa, 29/01/2019 07:56 0

Suriah

SDF Klaim Wilayah ISIS Tersisa Empat Kilometer Persegi

Milisi ini didanai dan dikung penuh oleh pasukan koalisi internasional pimpinan AS.

Selasa, 29/01/2019 07:10 0

Indonesia

Masjid Jogokariyan Diserang Gerombolan Orang Bersenjata Tajam, Begini Kronologinya

Keributan bermula saat kedatangan segerombolan orang mengenakan kaos serba merah dengan gambar lambang banteng dan bersepeda motor, yang bergerak dari arah barat Masjid Jogokariyan

Senin, 28/01/2019 21:48 0

Indonesia

RUU P-KS Bisa Membuka Ruang Konflik Lebih Besar dalam Keluarga

Dalam RUU ini ada peluang bagi anak untuk komplain, mengadukan, dan memperkarakan orang-orang yang dikenal misalnya orang tua

Senin, 28/01/2019 21:08 0

Indonesia

BPJS Kesehatan Canangkan Program Jaminan Kesehatan Berbasis Masjid

Basis utama program ini adalah taawun (tolong menolong) antar sesama jamaah masjid.

Senin, 28/01/2019 21:05 0

Suriah

Marak Pengemis, Latakia di Bawah Kontrol Rezim Assad

Pejabat Suriah mengungkapkan tentang maraknya penyebaran pengemis di seluruh wilayah kontrol, terutama di provinsi Latakia.

Senin, 28/01/2019 20:43 0

Close