... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

MILF Akan Lanjutkan Perlawanan Jika RUU Otonomi Bangsamoro Ditolak

Foto: Pemimpin MILF Filipina Al Haj Murad Ebrahim

KIBLAT.NET, Manila – Murad Ebrahim, pemimpin Front Pembebasan Islam Moro (MILF), memberikan suara untuk pertama kalinya pada peblisit hari Senin (21/01/2019). Dia berharap bahwa Muslim Mindanao ikut memilih untuk membangun daerah yang benar-benar otonom bagi Bangsamoro.

Ebrahim memberikan suaranya di Sekolah Dasar Simuay Junction di Darapanan di kota Sultan Kudarat, Maguindanao yang menjadi basis kelompok. Pendukung bergantian menjabat tangannya yang tiba dengan sekelompok pengawal.

“Sebagai seorang revolusioner, kami siap untuk skenario apa pun, selama proses demokrasi dilakukan dengan cara yang baik, tanpa intimidasi, tanpa curang, kami bertekad untuk menerima apa pun yang merupakan hasil (dari plebisit),” kata pria 71 tahun itu.

“Jika BOL (Undang-Undang Organik Bangsamoro) tidak disahkan, kami akan terus berjuang sampai perjanjian diimplementasikan. Menjadi tugas pemerintah untuk mengimplementasikan perjanjian tersebut. Kami hanya mitra, tetapi tanggung jawab utama adalah dengan pemerintah, mereka harus mengimplementasikan perjanjian,” tegas Ebrahim.

Untuk diketahui, para pemimpin Kota Cotabato, Kota Isabela di provinsi Basilan, dan provinsi Sulu dan Cotabato Utara sangat menentang untuk menjadi bagian dari wilayah Bangsamoro yang baru. Mereka mengkampanyekan untuk memilih suara “tidak”.

Plebisit adalah hasil dari perjanjian perdamaian sementara Maret 2014 antara MILF dan Manila. MILF berjanji untuk menyerahkan sepertiga dari persediaan senjata yang besar jika UU organik disahkan.

Pasukan MILF disebut-sebut memiliki persenjataan seperti senapan mesin anti-pesawat, roket anti-tank B40, mortir dan berbagai macam senapan bertenaga tinggi. Selain itu, kelompok juga mendapat dukungan warga yang menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi Bangsamoro.

Kelompok Ebrahim awalnya adalah bagian dari MNLF di bawah Nur Misuari, tetapi memisahkan diri pada akhir 1970-an. Kelompok memilih jalur pejuangan demokratis untuk mendapatkan kembali tanah air Muslim yang terpisah.

Misuari akhirnya menandatangani perjanjian damai dengan Manila pada September 1996. Setelah perjanjian itu ditandatangani ia menjadi gubernur ARMM. Meskipun ada kesepakatan damai, ada kekecewaan yang meluas terhadap lemahnya otonomi yang diberikan kepada mereka.

Di bawah perjanjian damai dengan MILF, Manila diharuskan menyediakan Rencana Marshal mini untuk memacu pembangunan ekonomi di wilayah Muslim di selatan dan bantuan mata pencaharian dan perumahan bagi puluhan ribu mantan pemberontak untuk mengangkat standar kehidupan mereka yang buruk.

Sumber: Manila Times
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kata Bachtiar Nasir Soal Batalnya Pembebasan Ust. ABB

Dia meminta agar Ust. ABB diberikan perlakuan yang adil.

Jum'at, 25/01/2019 11:48 0

Indonesia

Muhammadiyah: Pemerintah Harus Jelaskan Dugaan TKA Demo di Morowali

Ketua Muhammadiyah bidang ekonomi, Anwar Abbas menanggapi video yang diduga TKA demo di Morowali, Sulawesi Tengah.

Jum'at, 25/01/2019 11:32 0

Indonesia

UBN Ingatkan Bahaya di Balik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

"Sebab rancangan yang mereka ajukan ini berpotensi melegalkan perzinaan, berpotensi melegalkan aborsi, dan penyimpangan-penyimpangan seksual lainnya," ujar UBN.

Jum'at, 25/01/2019 11:17 0

Indonesia

AILA: RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Jebakan bagi Kaum Hawa

Suci pun menjelaskan, RUU juga berpotensi memberikan ruang bagi prostitusi di Indonesia.

Jum'at, 25/01/2019 10:56 0

Indonesia

Tak Jadi Cawapres, Cak Imin Incar Kursi PSSI

Cak Imin bahkan menjanjikan Indonesia masuk ke gelanggang dunia.

Kamis, 24/01/2019 21:51 0

Indonesia

Longsor di Gowa Mengubur Satu Dusun

Tak hanya banjir, tanah longsor juga terjadi di beberapa titik di Gowa

Kamis, 24/01/2019 19:19 1

Opini

Pertarungan Dua Harga Mati

Lakon dari drama pembebasan ini bukan ABB, bukan Jokowi, bukan Yusril, bukan Wiranto, bukan Tito, bukan pula tentang upaya pencitraan Pilpres 2019. Ini tentang pertarungan abadi antara dua harga mati, NKRI harga mati melawan Islam harga mati

Kamis, 24/01/2019 18:35 0

Indonesia

Fahri Hamzah: Enam Bulan Pasca Gempa, Korban Belum Dapat Rumah yang Dijanjikan Presiden

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyebutkan bahwa para korban gempa belum mendapat rumah yang dijanjikan.

Kamis, 24/01/2019 15:58 0

Indonesia

Update Banjir Sulsel: Puluhan Orang Meninggal, Ribuan Warga Mengungsi

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa hingga saat ini puluhan orang meninggal akibat banjir di Sulawesi Selatan.

Kamis, 24/01/2019 15:45 0

Indonesia

Muncul Isu Aksi Terorisme Pasca Ustadz ABB Batal Bebas, Ini Kata Pengamat

Menurutnya, isu tersebut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok oportunis untuk mendesain adanya aksi teror.

Kamis, 24/01/2019 10:14 0

Close