... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Pertarungan Dua Harga Mati

Berani Menang Parsial Saat Kalah Secara Global

Nabi Muhammad saw pada akhirnya menang dengan pertolongan Allah dalam perjuangannya mengusung Islam harga mati. Umumnya kita asyik membanggakan kemenangan dan kejayaan Islam. Tapi lupa sunnatullah dalam menapaki kemenangan itu.

Sunnatullahnya begini. Nabi Muhammad saw sejak seorang diri tegar mengusung Islam harga mati. Ini titik awal perjalanan. Dalam proses memperjuangkannya, sepanjang jalan Nabi saw tak goyah membawa Islam harga mati, apapun risikonya. Maka Allah kemudian memenangkan Islam dalam rupa sejak awal diperjuangkan; Islam harga mati jaya, menumbangkan jahiliyah nan syirik. Titik awal, sepanjang perjalanan, dan ending cerita semuanya dibingkai Islam harga mati. Tak ada satupun dan sedetik pun Nabi saw mengkhianati Islam harga mati.

Banyak umat Islam yang cita-citanya luhur; Islam menang. Tapi titik berangkatnya sudah salah. Sudah mengkhianati Islam harga mati. Ia memulainya dari titik Liberal. Ia memulai dari bingkai NKRI harga mati. Lalu jalan memperjuangkannya juga Liberal. Dibingkai nasionalisme dan kebangsaan. Maka, dari mana Islam harga mati akan menang, jika titik tolak dan perjalanan memperjuangkannya sudah mengkhianati Islam harga mati. Tidak mungkin ada sunnatullah baru; titik awal Liberal, sepanjang jalan Liberal, lalu tiba-tiba menang dalam wujud Islam harga mati.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Bisa karena tidak mengerti rambu perjalanan. Bisa karena tidak berani menempuh resiko seperti keberanian Ustadz ABB. Tentu yang terbaik adalah mengerti dan berani. Tapi jika tidak, minimal seperti nasihat Nabi saw: berkata benar atau diam.

Ada sunnatullah lain yang menarik direnungkan. Bahwa keberanian menang secara parsial meski kalah secara global merupakan syarat mutlak turunnya karunia kemenangan sempurna dari Allah. Ustadz ABB berani menang secara parsial, menang secara argumen. Meski kalah secara global; jumlah pendukung, uang, tentara, politik dsb.

Ustadz ABB mengusung argumen, bahwa dirinya hanya setia kepada Islam, memanfaatkan frasa yang biasa diusung rezim penguasa bahwa Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Jika memang tidak bertentangan, mengapa ikrar setia kepada Islam dipersoalkan ? Mengapa harus ikrar setia kepada Pancasila ? Maka dengan argumen Ustadz ABB ini frasa pemerintah terpatahkan; ternyata Pancasila bertentangan dengan Islam.

BACA JUGA  Arti Simbol Bunga dalam Pembantaian Muslim Srebrenica

Dan setelah batal pembebasan, Ustadz ABB mengusung argumen; jika memang jujur karena alasan kemanusian dan membantu, mengapa tak memberi remisi yang banyak saja agar bebas. Sebab pemerintah diberitakan telah memberikan remisi selama 77 bulan terhadap seorang koruptor. Lagi-lagi kemenangan argumen yang telak.

Tapi masalahnya, kemenangan parsial ini dibarengi kekalahan secara global. Penguasa punya segalanya. Suka-suka penguasa. Dan pada akhirnya, kemenangan parsial itu hanya bisa dinikmati di balik jeruji besi.

Ibrahim AS juga berani menang secara parsial meski kalah secara global. Demikian juga Sayyid Qutb – Allah yarham. Dan kemenangan yang paling berat adalah kemenangan dalam momentum seperti itu. Banyak orang yang lebih memilih kalah, demi menghindari resiko, meski sebetulnya ia bisa menang secara argumen dengan telak. Hari ini umat Islam membutuhkan generasi yang berani menang parsial meski kalah secara global, sebagai syarat Allah akan memberikan kemenangan secara sempurna. Jika menghindari menang secara parsial, Allah tentu enggan memberi kemenangan secara total. Renungkan.

Nasihat Surat Al-Kafirun

Ada satu ayat yang dibajak oleh pengusung ideologi Liberal. Terdapat di surat Al-Kafirun. Ujung surat. Bunyinya: lakum dinukum wa liya din. Untukmu ideologimu, untukku ideologiku. Lalu digunakan untuk memukul pengusung ideologi pengecualian. Pengusung Islam harga mati.

Ini aneh. Bagaimana mungkin Al-Qur’an dibingkai ideologi pengecualian kok punya ayat bercorak Liberal. Jelas pemahaman terhadap ayat ini yang masalah.

Surat Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas loby tokoh-tokoh Quraisy Jahiliyah dalam upaya menghentikan atau minimal membelokkan garis dakwah Nabi saw. Saat dakwah Nabi saw kian meluas, mereka makin frustrasi untuk menghadang secara frontal. Akhirnya mereka mencoba bernegosiasi secara kekeluargaan.

“Kami siap ibadah dengan Anda sekian lama, asalkan Anda mau beribadah dengan kami sekian lama,” kata mereka.

BACA JUGA  Perjuangan Penegakan Islam di Aljazair, dari Era Kolonialisme Hingga Kebangkitan FIS

Sekilas negosiasi seperti ini manis dan humanis. Win-win solution. Tapi jika dicermati dengan seksama, tawaran ini akan meruntuhkan ideologi pengecualian. Maka ayat dalam surat Al-Kafirun membimbing Nabi saw agar tidak terjebak dalam loby halus tapi menjebak itu.

Mari kita berandai. Seandainya Nabi saw menuruti loby mereka, lalu semenit saja ikut nimbrung dalam ibadah mereka menyembah berhala, maka runtuh ideologi pengecualian; tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Faktanya Nabi saw menyembah berhala, maka batal keislaman Nabi saw.

Tapi kaum Liberal, seperti halnya tokoh-tokoh Quraisy tersebut, enteng saja ikut ibadah dengan cara Islam. Ideologi mereka serba boleh, mau menganut agama apa saja boleh. Maka kesediaan mereka beribadah dengan cara Nabi saw justru memperkuat citra ideologi Liberal itu. Mau gonta-ganti sesukanya.

Nah jika Nabi saw menyetujui loby tersebut, ideologi Islam harga mati yang diusung Nabi saw runtuh. Sementara ideologi Liberal makin berkibar. Maka surat AL-Kafirun harus dimaknai dalam bingkai pemahaman seperti ini. Bukan dibingkai pemahaman Liberal.

Dengan demikian makna lakum dinukum wa liya din, justru penolakan tegas intervensi ideologi lain terhadap ideologi Islam. Surat ini turun saat Nabi saw masih lemah di Makkah. Tepat sekali dijadikan panduan perjalanan bagi umat Islam saat ini yang juga lemah di tengah hegemoni ideologi Liberal.

Saat Islam lemah, jangan mau dijadikan subordinat dari ideologi lain. Tapi jadikan Islam tegar dan mandiri apapun risikonya. Mirip sekali dengan sikap Ustadz ABB: “Kami hanya setia dengan ideologi kami sendiri, Islam harga mati, saya tidak mau tunduk kepada ideologi Anda – NKRI harga mati. Bagimu ideologimu, bagiku ideologiku. Apapun risikonya aku akan bertahan dengan ideologiku, meski nyawa taruhannya”.

Inilah makna yang benar dari ayat lakum dinukum wa liya din. Bingkainya adalah ideologi pengecualian, bukan ideologi Liberal. Wallahua’lam bis-shawab.

Penulis: Elhakimi

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

China

Cina Tangkapi Siswa dan Buruh yang Memprotes Kebijakan Pemerintah

Sekitar selusin aktivis buruh Cina dan mahasiswa telah hilang atau ditahan oleh polisi minggu ini.

Kamis, 24/01/2019 17:25 0

Afghanistan

AS Masih Beri Dukungan Pemerintah Afghanistan Meski Tarik Pasukan

Abdullah mengatakan AS masih dapat mempertahankan beberapa misi termasuk melatih pasukan, sebagai penasihat di lapangan dan melancarkan serangan udara terhadap Taliban dan militan lainnya.

Kamis, 24/01/2019 16:54 0

Indonesia

Fahri Hamzah: Enam Bulan Pasca Gempa, Korban Belum Dapat Rumah yang Dijanjikan Presiden

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyebutkan bahwa para korban gempa belum mendapat rumah yang dijanjikan.

Kamis, 24/01/2019 15:58 0

Indonesia

Update Banjir Sulsel: Puluhan Orang Meninggal, Ribuan Warga Mengungsi

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa hingga saat ini puluhan orang meninggal akibat banjir di Sulawesi Selatan.

Kamis, 24/01/2019 15:45 0

Timur Tengah

Kondisi Iklim Mempengaruhi Gelombang Pengungsi Arab Spring

Kekeringan yang diprediksi semakin kuat akibat pemanasan global memperburuk situasi konflik di negara-negara yang mengalami Arab Spring.

Kamis, 24/01/2019 15:22 0

Rusia

Pasca Kontrol HTS Meluas, Erdogan dan Putin Bahas Langkah Baru di Idlib

Ankara dan Moskow harus mengambil langkah lebih lanjut untuk menghilangkan apa yang dilakukan kelompok-kelompok “teroris”.

Kamis, 24/01/2019 10:46 0

Indonesia

Muncul Isu Aksi Terorisme Pasca Ustadz ABB Batal Bebas, Ini Kata Pengamat

Menurutnya, isu tersebut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok oportunis untuk mendesain adanya aksi teror.

Kamis, 24/01/2019 10:14 0

Philipina

Di Balik Referendum di Wilayah Mayoritas Muslim Mindanao

Di bawah Rodrigo Duterte yang merupakan presiden pertama Filipina yang berasal dari Mindanao, kemungkinan sejarah tersebut akan berubah.

Kamis, 24/01/2019 09:39 0

Suriah

Ribuan Orang Dievakuasi dari Kantong Terakhir ISIS di Deir Zour

mayoritas mereka keluarga pejuang ISIS. Mereka dipindahkan menggunakan puluhan truk milik milisi Pasukan Demokratik Suriah. Sebagian menaiki mobil pribadi.

Kamis, 24/01/2019 08:50 0

Afghanistan

Taliban dan AS Kembali Bernegosiasi di Qatar

Ini adalah pertama kalinya Amerika Serikat mengkonfirmasi pertemuannya secara langsung.

Kamis, 24/01/2019 07:47 0

Close