... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Pertarungan Dua Harga Mati

Foto: Ustadz Abu Bakar Ba'asyir

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) akhirnya batal bebas. Resmi. Sah. Pada Senin petang, 21 Januari 2019. Diumumkan oleh Wiranto, menkopolhukam, dari kantornya. Meralat atasannya, presiden Jokowi, yang menjanjikan kebebasan untuk ABB sejak dua hari sebelumnya. Jokowi dengan gagah menjanjikan kebebasan ABB dengan alasan kemanusiaan. Manis banget.

Ustadz ABB sebetulnya sudah punya hak untuk mengajukan bebas bersyarat sejak tanggal 13 Desember 2018 karena sudah menjalani 2/3 masa hukuman. Tapi Ustadz ABB tidak mengambilnya karena tahu ada syarat menandatangani ikrar kesetiaan kepada Pancasila dan NKRI. Ustadz ABB lebih memilih mendekam di penjara sampai habis masa hukumannya daripada harus mengkhianati hal prinsip dalam aqidahnya.

Tapi entah mendapat bisikan gaib dari mana tiba-tiba pada Jumat 18 Januari 2019 publik dikejutkan berita janji Jokowi untuk membebaskan Ustadz ABB tanpa syarat apapun. Tentu saja maksudnya syarat tanda tangan ikrar kesetiaan itu. Jokowi mengutus kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra, untuk menuntaskan proses pembebasan ini. Yusril mengatakan bahwa keputusan itu telah dikoordinasikan dengan semua instansi terkait.

Tentu Ustadz ABB merasa bahagia karena ada harapan bebas lebih cepat tanpa harus menggadaikan prinsip aqidahnya. Keluarga berbunga-bunga menanti pembebasan yang dijanjikan dalam beberapa hari ke depan itu. Umat ikut senang, meski dalam hati menduga pembebasan ini lebih sebagai pencitraan menjelang pemilu. Dan Jokowi juga wajahnya gembira karena harapan menang pemilu kian pasti.

Pada akhirnya itu semua drama PHP. Jokowi meralatnya hanya dalam dua hari kemudian. TPM sudah menduganya dari awal. Ustadz ABB biasa saja, karena dari awal tidak mengemis memintanya. Alasan kemanusiaan yang sejak awal dijadikan pertimbangan Jokowi, harus kalah oleh konstitusi tentang harga mati NKRI. Jantung ideologi NKRI terlalu mahal untuk digadaikan pertimbangan kemanusiaan. Sebuah potret radikalisme negara.

Lakon dari drama ini bukan ABB, bukan Jokowi, bukan Yusril, bukan Wiranto bukan pula Tito. Bukan pula tentang upaya pencitraan menjelang Pilpres 2019. Ini tentang pertarungan abadi antara dua harga mati. NKRI harga mati melawan Islam harga mati. Dua harga mati tak akan pernah ketemu. Tidak bisa “dilempengin” harganya sebagaimana umumnya transaksi jual beli. Atau sekedar “goyang dikit”.

NKRI harga mati diperankan oleh rezim dan semua orang yang mendukungnya. Termasuk rakyat, bangsa dan umat Islam yang tiap hari dicekoki doktrin ini. Hingga mereka menerima tanpa sadar bahwa memang sudah semestinya NKRI itu harga mati. Jumlah mereka wallahu a’lam. Pokoknya banyak.

Sementara pengusung Islam harga mati ya cuma Ustadz ABB. Setidaknya dalam drama ini. Tegar bagai karang. Sesuai dengan diksinya, harga mati. Tak bisa ditawar. Tak ada kompromi. Tak bisa goyang. Tak bisa dilempengin. Wis pokoke.

Pertarungan dua frasa ini memang brutal. Garis keras. Radikal. Fundamentalis. Menang kalah. Hidup atau mati. Lu jual gua beli. Kalau nggak mau ya sudah.

Orang bilang Ustadz ABB garis keras, radikal dan fundamentalis. Itu tidak fair. Drama yang terjadi membuktikan Jokowi, Wiranto, Ryamizard, Yusril, Yasonna, Tito, Luhut dan semua pendukung rezim juga garis keras, radikal dan fundamentalis. Bedanya hanya Ustadz ABB memerankan frasa Islam harga mati. Sementara mereka semua memerankan frasa NKRI harga mati. Sampai di sini paham?

Islam Harga Mati Bagi Pemeluknya

Islam adalah ideologi yang dibingkai pengecualian. Substansi tauhid itu pengecualian. Hanya. Cuma. Semua pengecualian mengandung harga mati. La ilaha illallah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Bermakna Allah harga mati, yang lain batil dan sama sekali tidak boleh disembah. Jika ada orang yang mengaku muslim tapi semenit saja sujud kepada berhala, maka seluruh ibadahnya selama hidup akan terhapus. Ia telah musyrik. Batal Islamnya.

Nabi Muhammad saw harga mati. Al-Qur’an harga mati. Satu-satunya kitab suci yang terpelihara dari pemalsuan tangan manusia. As-Sunnah harga mati. Dan akhirnya Islam harga mati. Sederhana saja, karena yang benar hanya Islam.

Kalau tidak punya keyakinan seperti ini, ngapain juga capek-capek beragama Islam. Ngapain juga capek-capek shalat, puasa, haji dan seterusnya. Mending gantian saja, hari ini beragama Islam, besok Nasrani sehingga libur shalat, lusa Hindu dan seterusnya. Itung-itung wisata religi. Toh semuanya benar. Ketika tidak mau beragama gantian, logika kebaliknya berarti meyakini yang benar hanya Islam, agama lain batil alias salah. Kata kuncinya, hanya. Atau kecuali. Atau satu-satunya. Atau harga mati.

Ketika Ustadz ABB yang mengusung Islam harga mati, berbagai stigma negatif lahir. Ustadz ABB radikal. Garis keras. Hingga teroris. Padahal tanpa sadar semua umat Islam meyakini keharga-matian itu. Hanya saja tidak berani menyuarakannya. Atau ya sudahlah daripada repot, ngikut angin aja.

Ideologi pengecualian itu yang menjadi pasal inti penolakan bangsa Arab zaman Jahiliyah terhadap dakwah Islam yang dibawa Nabi saw. Bukan tentang pengakuan Tuhan itu Esa bernama Allah. Sebab Al-Qur’an menceritakan bahwa jika masyarakat Arab zaman Jahiliyah ditanya siapakah pencipta langit dan bumi, mereka pasti menjawab Allah. Maknanya keyakinan tentang Allah sebagai satu-satunya Pencipta bukan merupakan pasal yang diperdebatkan.

BACA JUGA  Hukum Membagikan Daging Kurban dalam Kondisi Sudah Dimasak

Sosok Tuhan pada zaman Jahiliyah lebih definitif dibanding zaman sekarang di Indonesia. Dahulu orang mengenali Tuhan itu Maha Esa. Dan namanya Allah. Dua poin terpenuhi. Sedangkan zaman sekarang, frasa sila pertama Pancasila hanya memuat sisi ke-Maha Esa-an Tuhan. Ketuhanan Yang Maha Esa. Adapun namanya tidak definitif. Bisa Allah bisa pula yang lain. Hanya satu poin terpenuhi. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa secara ketuhanan, Indonesia lebih liberal dibanding zaman Jahiliyah.

Ideologi pengecualian yang dibawa Islam adalah pengecualian dalam hal Tuhan sebagai obyek sesembahan dan ketundukan. Tuhan satu-satunya yang sah disembah dan ditaati hanyalah Allah. Bukan Tuhan dalam konteks penciptaan. Tuhan dalam konteks penciptaan diistilahkan Rabb. Tuhan dalam konteks obyek ketundukan diistilahkan Ilah.

Masyarakat Arab Jahiliyah menerima Tuhan Allah dalam konteks penciptaan sebagai satu-satunya Pencipta tak ada duanya. Tapi mereka menentang Tuhan Allah dalam konteks obyek ketundukan sebagai satu-satunya obyek ketundukan yang sah, yang lain ilegal. Mereka maunya boleh menyembah dan tunduk kepada Tuhan manapun suka-suka manusia, sesuai keyakinan masing-masing.

Al-Qur’an menggambarkannya sebagai berikut:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ (7)- سورة ص

Apakah (Muhammad) ingin membatasi Tuhan obyek sembahan (ilah) yang banyak itu menjadi satu saja ? Sungguh ini sesuatu yang aneh. Para tokoh (merespons) dengan menghimbau masyarakat, jalan terus dan konsistenlah kalian semua dengan Tuhan-tuhan kalian (yang banyak itu), sungguh hal inilah yang diinginkan (oleh ideologi kita). Kita tak mendengar (seruan pengecualian) ini pada agama terakhir (Nasrani), pastilah (seruan Muhammad ini) hanya karangan dia. (QS. Shad: 5-7)

Para tokoh Jahiliyah membandingkan Tauhid yang didakwahkan Nabi saw dengan konsep ketuhanan Nasrani sebagai agama terakhir. Nasrani meski membatasi tapi tidak mengecualikan hanya satu. Mereka masih lumayan dengan menerima ada tiga Tuhan sebagaimana dalam konsep Trinitas. Atas dasar ini, mereka menuduh Nabi Muhammad saw mengada-ada dengan ideologi pengecualian itu.

Ketundukan dan penghambaan itu dibingkai ideologi pengecualian. Tidak boleh tunduk kecuali kepada Allah dan aturan yang berasal dari Allah. Maka lanjutannya, tidak boleh tunduk kecuali kepada konstitusi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Secara umum bisa diringkas menjadi frasa Islam harga mati.

Sejatinya ideologi ini biasa saja, lumrah dalam kehidupan, bukan sesuatu yang radikal. Ketika seseorang meyakini Allah satu-satunya pencipta jagat raya, maka wajar dong Allah menjadi satu-satunya yang boleh ditaati dan disembah. Sebagaimana seorang istri ketika meyakini si Fulan adalah satu-satunya suami, maka suaminya saja yang diberi cinta dan ketaatan. Ketika ia membagi cinta kepada lelaki lain, ia menjadi istri yang salah. Maknanya, dalam kehidupan suami istri saja berlaku ideologi pengecualian. Apalagi dalam masalah ketuhanan.

Ideologi pengecualian yang dibawa Islam ini menjadi terasa radikal karena berada di tengah ideologi NKRI harga mati yang lebih kuat. Berbeda dengan zaman keemasan Islam, ideologi pengecualian yang berkuasa maka ia menyatu dalam kehidupan umat Islam tanpa terasa sebagai masalah.

NKRI Harga Mati Bagi Anak Bangsa

Pancasila, UUD 45 dan NKRI itu simbol ideologi. Berisi kalimat, diktum dan frasa yang menarasikan keberagaman. Bhinneka tunggal ika. Gado-gado. Tak ada yang sakral. Dan tak ada yang boleh disakralkan. Satu-satunya yang boleh disakralkan ya keyakinan akan kebhinekaan itu. Keberagaman itu. Gado-gado itu.

Inti dari ideologi Pancasila adalah wajib beragam, haram tunggal. Haram kecuali. Kecuali Pancasila itu sendiri. Bersama UUD 45 dan NKRI. Lalu disebut harga mati. Jika ada yang membawa pengecualian, akan ditendang hingga keluar gelanggang.

Indonesia ingin mempersatukan keberagaman itu. Agama ada banyak di negeri ini. Suku banyak. Bahasa banyak. Jika keberagaman itu tidak dibingkai nasionalisme, akan membuat keutuhan negeri dalam bahaya. Maka dibuatlah konstitusi yang memayungi keberagaman itu, tanpa ada yang diistemawakan. Semuanya diberi hak hidup, sepanjang masing-masing tunduk kepada NKRI. Dari sini kemudian berkembang menjadi jargon NKRI harga mati.

Itu artinya agama apapun yang hidup di Indonesia wajib menyesuaikan diri dengan aturan kebhinekaan yang diusung NKRI. Boleh dilaksanakan dalam tataran privat, tapi tidak boleh dijadikan hukum positif yang mengikat di tengah kehidupan sosial. Atau dengan kata lain, agama-agama – dalam hal ini Islam – harus menempatkan diri sebagai subordinat di bawah konstitusi NKRI.

Hanya karena berkuasa, NKRI harga mati tampak manis. Pengusungnya jadi humanis. Padahal secara substansi tak ada bedanya sama sekali dengan Islam harga mati yang diusung oleh Ustadz ABB. Sama-sama fundamentalis. Sama-sama tak mau ditawar.

NKRI harga mati menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk memastikan tak ada yang bisa dan berani menawar. Didukung media mainstream. Ditopang berbagai aturan hukum yang dengan mudah bisa dibuat untuk menjaga keharga-matian itu. Dikuatkan oleh sistem politik global yang berbasis Demokrasi dan Liberalisme. Lengkap sudah hegemoni NKRI harga mati atas Islam harga mati.

BACA JUGA  Kemerdekaan Menurut H.O.S. Tjokroaminoto

Sementara Ustadz ABB hanya menggunakan fisiknya yang ringkih untuk memastikan Islam harga mati tak ditawar oleh NKRI harga mati. Usia kian senja. Kesehatan makin menurun. Jeruji penjara masih lama, hingga 2023. Sendirian di sana. Sendirian pula berdiri tegar laksana karang di hadapan kekuatan NKRI harga mati. Tapi dengan segala keterbatasannya, Ustadz ABB hingga saat ini tak goyah. Tak minta belas kasihan. Hebat bukan?

Dilema Muslim – Anak Bangsa

Menjadi muslim sekaligus anak bangsa selalu menjadi dilema. Islam itu ideologi yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan dari A sampai Z, termasuk aturan tentang pidana, perdata dan ekonomi. Seorang muslim haram untuk keluar dari aturan itu. Ia terikat secara penuh tanpa kecuali. Kesediaannya mengambil Islam sebagai agama mengandung konsekuensi logis hidupnya diatur Islam secara keseluruhan. Termasuk terikat dengan ideologi pengecualian; la ilaha illallah.

Sebagai anak bangsa lain lagi. Ia terikat keharusan tunduk dan terikat pada ideologi NKRI yang memayungi semua anak bangsa. Ideologi kebangsaan yang akan menjadi bingkai pemersatu dan pemutus perkara jika terjadi friksi sesama anak bangsa. Memang ideologi ini tidak mengikat keseluruhan aspek kehidupan, tapi setidaknya dalam masalah pidana, politik dan sistem ekonomi diatur olehnya. Dan beberapa perkara lain.

Pada bagian ini dilema itu terjadi. Seorang muslim tidak boleh mengambil Islam sebagian dan meninggalkan sebagian. Misalnya mengambil ibadah-ibadah privat tapi meninggalkan aspek hukum dan politik. Tapi harus mengambil seluruhnya. Karenanya, tersisa dua pilihan dilematis; mengambil Islam seluruhnya yang mengandung konsekuensi menolak tunduk kepada konstitusi NKRI karena memang kontradiktif pada bagian tertentu, atau mengambil NKRI yang mengandung konsekuensi mengabaikan sebagian ajaran Islam.

Seorang Ustadz ABB menyikapi persoalan ini sebagai perkara basic, sebagaimana Jokowi melihat ini perkara basic. Karenanya masing-masing bertahan dengan harga matinya. Pada akhirnya siapa yang berkuasa menjadi penentu. Hukum rimba berlaku.

Ketika NKRI harga mati yang berkuasa, maka Islam harga mati menjadi pesakitan dan buronan. Islam harus mau menjadi subordinat NKRI. Islam terpasung. Tidak bisa merdeka. Bahkan hak tinggal di tanah air sendiri bisa digugat. Dengan kalimat pedas; kalau tidak mau menerima Pancasila, cari saja tanah di luar Indonesia. Suka-suka NKRI dalam memberi stigma atau mempersekusi.

Tapi jika Islam harga mati yang berkuasa, paham kebangsaan ala NKRI akan menjadi paham jahiliyah yang dibenci. Konstitusi buatan manusia tidak mendapat ruang, sebab rujukan tunggalnya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Islam tak mengenal kebangsaan. Adanya keumatan. Tak mengenal undang-undang buatan manusia. Semuanya harus tunduk di bawah wahyu Allah.

Nah di sinilah kehebatan Ustadz ABB. Atas karunia Allah. Dia berani mengusung dan memperjuangkan Islam harga mati dengan jiwa dan raganya. Rela meringkuk di penjara meski fisik sudah makin renta demi frasa Islam harga mati. Tak mau menerima Pancasila harga mati. Tegar di hadapan NKRI harga mati. Meski hanya membubuhkan tanda tangan persetujuan.

Jadi teringat Ibrahim AS. Seorang diri merusak berhala. Seorang diri mengusung narasi “berhala itu bodoh tak layak dijadikan Tuhan” di hadapan rezim yang berada di puncak fanatisme terhadap berhala. Ketika Ibrahim AS menyarankan agar bertanya kepada berhala besar yang tersisa. Bertanya tentang siapa pelaku perusakan. Akhirnya mereka terdiam. Bangunan argumen sakralitas berhala sontak runtuh dihantam narasi yang ditembakkan Ibrahim AS.

Padahal rezim Namrud punya tentara. Punya uang. Punya semua perangkat untuk sekedar melenyapkan seorang Ibrahim AS yang tak punya apa-apa dan siapa-siapa kecuali Allah. Bisa menghukum dengan cara paling brutal sekalipun. Toh siapa yang peduli.

Juga teringat Sayyid Qutb – Allah yarham. Menolak membubuhkan tanda tangan pengakuan bersalah dan minta maaf terhadap Gamal Abdun Naser atas dakwahnya mengusung Tauhid. Padahal tanda tangan itu diperlukan untuk mengurungkan prosesi hukum gantung yang sedang berlangsung. Prinsip harga mati yang sangat terkenal darinya, ”Jemari yang digunakan mengesakan Allah saat tahiyat, pantang digunakan untuk menggerakkan pena minta maaf kepada musuh Allah”.

Jelas sikap harga mati yang diusung Ustadz ABB merupakan teladan langka di zaman yang kian liberal. Manusia unik. Apalagi untuk umat Islam Indonesia. Seperti suara lantang membangunkan umat yang lalai. Umat yang menjadikan Islam mudah ditawar-tawar oleh kepentingan kekuasaan. Membangkitkan energi perlawanan terhadap Liberalisme yang dibingkai harga mati.

Sikap tegar Ustadz ABB juga mengoreksi sahabat seperjuangan lain jika dengan tidak merasa bersalah mengajukan PB (Pembebasan Bersyarat). Padahal mereka tahu ada syarat ikrar itu. Ustadz ABB ditawari saja tidak mau, apalagi meminta. Seolah Ustadz ABB memberi nasehat secara tidak langsung, wahai ikhwan, ingatlah sikap kalian itu keliru secara aqidah meski enak secara dunia.

Baca halaman selanjutnya: Berani Menang Parsial Saat...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

China

Cina Tangkapi Siswa dan Buruh yang Memprotes Kebijakan Pemerintah

Sekitar selusin aktivis buruh Cina dan mahasiswa telah hilang atau ditahan oleh polisi minggu ini.

Kamis, 24/01/2019 17:25 0

Afghanistan

AS Masih Beri Dukungan Pemerintah Afghanistan Meski Tarik Pasukan

Abdullah mengatakan AS masih dapat mempertahankan beberapa misi termasuk melatih pasukan, sebagai penasihat di lapangan dan melancarkan serangan udara terhadap Taliban dan militan lainnya.

Kamis, 24/01/2019 16:54 0

Indonesia

Fahri Hamzah: Enam Bulan Pasca Gempa, Korban Belum Dapat Rumah yang Dijanjikan Presiden

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyebutkan bahwa para korban gempa belum mendapat rumah yang dijanjikan.

Kamis, 24/01/2019 15:58 0

Indonesia

Update Banjir Sulsel: Puluhan Orang Meninggal, Ribuan Warga Mengungsi

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa hingga saat ini puluhan orang meninggal akibat banjir di Sulawesi Selatan.

Kamis, 24/01/2019 15:45 0

Timur Tengah

Kondisi Iklim Mempengaruhi Gelombang Pengungsi Arab Spring

Kekeringan yang diprediksi semakin kuat akibat pemanasan global memperburuk situasi konflik di negara-negara yang mengalami Arab Spring.

Kamis, 24/01/2019 15:22 0

Rusia

Pasca Kontrol HTS Meluas, Erdogan dan Putin Bahas Langkah Baru di Idlib

Ankara dan Moskow harus mengambil langkah lebih lanjut untuk menghilangkan apa yang dilakukan kelompok-kelompok “teroris”.

Kamis, 24/01/2019 10:46 0

Indonesia

Muncul Isu Aksi Terorisme Pasca Ustadz ABB Batal Bebas, Ini Kata Pengamat

Menurutnya, isu tersebut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok oportunis untuk mendesain adanya aksi teror.

Kamis, 24/01/2019 10:14 0

Philipina

Di Balik Referendum di Wilayah Mayoritas Muslim Mindanao

Di bawah Rodrigo Duterte yang merupakan presiden pertama Filipina yang berasal dari Mindanao, kemungkinan sejarah tersebut akan berubah.

Kamis, 24/01/2019 09:39 0

Suriah

Ribuan Orang Dievakuasi dari Kantong Terakhir ISIS di Deir Zour

mayoritas mereka keluarga pejuang ISIS. Mereka dipindahkan menggunakan puluhan truk milik milisi Pasukan Demokratik Suriah. Sebagian menaiki mobil pribadi.

Kamis, 24/01/2019 08:50 0

Afghanistan

Taliban dan AS Kembali Bernegosiasi di Qatar

Ini adalah pertama kalinya Amerika Serikat mengkonfirmasi pertemuannya secara langsung.

Kamis, 24/01/2019 07:47 0

Close