The Most Expensive Man

Beberapa hari setelah debat capres-cawapres pertama, kalau misalnya ada polling ‘the most popular man’ antara Jokowi vs Prabowo, mungkin swing voters yang jumlahnya hampir 40 persen akan pilih nama Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Lah? Jangan interupsi dulu, panik jangan diobral. Hal ini mengingat antara pemilih Jokowi dan Prabowo adalah orang simpatisan atau bahkan ‘robot’ simpatisan masing-masing. Namun begitu ada broadcast ‘pembebasan Abu Bakar Baasyir’, maka dunia pun berguncang.

Guncangannya tidak bisa diukur dengan skala richter, namun riaknya bisa menutupi polemik debat, bisa menutupi pembebasan napi koruptor kelas kakap, atau untuk menarik perhatian ‘pembeli’.

Sedemikian populernya nama Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini. Ditengah kontroversi, antara orang yang mengerti dan tidak mengerti, antara orang yang paham dan tidak paham, antara orang yang mengidolakan dan yang memusuhinya, atau antara orang yang menjualnya dan yang membelinya.

Di tahun politik, tidak ada yang tidak terkait dengan politik, meski ditulis di baliho raksasa ‘ditanggung tidak politis’. Tapi, jangan salah Bahasa Arab sudah menjadi bagian kosa kata kita, rakyat Indonesia sudah terbiasa membaca dari kanan ke kiri ‘politis tidak ditanggung’!

Apalagi ini tahanan politik. Politik internasional lagi. Iya, Islam itu internasional, rahmatan lilalamin. Jangan diperdebatkan dengan Islam Nusantara, tidak nyambung.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir hanyalah pengasuh Pondok Pesantren Ngruki. Dikenal sebagai sosok orang yang istiqomah dalam ber-Islam. Ngruki adalah nama kampung yang dulunya semacam ‘bronx’, pinggiran, dan dulu dikenal sebagai basis PKI. Tapi sekarang sudah menjadi mahal dan beradab karena berada di tengah perkembangan kota Solo dan Solo Baru. Nama pesantrennya sebenarnya adalah Pondok Pesantren Islam Almukmin. Tapi lebih dikenal dengan sebutan Ngruki. Sebagai salah satu pendiri dan pengasuh Pesantren Almukmin, dan justru dengan keistiqomahannya ini, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menjadi komoditi politis dari waktu ke waktu.

Berbagai isu bom, dari bom Bali sampai JW Marriot yang terjadi di Indonesia beberapa tahun silam, yang entah siapa yang membuat skenarionya, selalu dikaitkan dengan Abu Bakar Baasyir dan Ngruki. Meski semua itu tidak terbukti secara hukum. Sekali lagi, tidak terbukti secara hukum, tapi kenapa akhirnya dia divonis 15 tahun penjara karena dituduh mendanai persiapan laskar untuk diterjunkan ke Palestina? Mikir!

Mungkin jaman itu, isu bom untuk meraih elektabilitas atau ‘pembeli project’ atau sekedar untuk mendapat ‘uang jajan’ dari donatur internasional, masih sangat ampuh. Teknologi informasi juga masih feodal. Namun seiring kecerdasan masyarakat meningkat sehingga bisa membedakan ‘soup opera’ dengan realitas warung kopi, isu bom pun sulit dijual lagi. Apalagi perkembangan dunia informasi yang binal yaitu medsos, tidak bisa dibendung lagi.

Disatu sisi, konon kemenangan Pilpres sudah bisa diketahui seiring kemana arah dukungan Amerika. Dan naga-naganya saat ini arahnya pada oposisi. Ditengah ‘kekagetan’ yang tidak difahaminya, apakah rezim mengambil langkah ‘the last supper’ dengan wacana pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir? Apakah juga untuk mencoba peruntungan mengais dukungan dengan barter pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir?

Faktanya dalam hitungan hari isu pembebasan Abu Bakar Ba’asyir, membuat Amerika, Australia dan lainnya langsung bereaksi. Yang notabene mereka adalah pendonor ‘pemberantasan’ aksi terorisme. Dan perlu dicatat, terorisme di kamus mereka adalah Islam.

Terlalu jauh mungkin imajinasi ini. Tapi boleh dong, menunjukkan bahwa Jokowi berhasil membuat rakyatnya cerdas, kritis dan kreatif.

Mungkin ‘the most popular man’ (orang paling populer) bisa ditingkatkan menjadi ‘the most expensive man’ (orang paling mahal), untuk ulama sepuh 81 tahun, Abu Bakar Ba’asyir.

Ingat, daging ulama itu beracun. Kalau kalian makan, kalian permainkan apalagi hanya sekedar untuk komoditas elektabiltas politik dan kekuasaan duniawi, maka tunggulah reaksi racun itu. Bisa membunuh secepat bisa ular ‘black mamba’ atau sekedar migrain akut ditambah stroke yang menyiksamu, dan hanya bisa berbaring sambil membaca kisah Julius Caesar, ‘et tu brute’.

Penulis: Gunawan Umar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat