... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Penjelasan Abu Jabir Al-Syaikh Soal Konstelasi HTS dengan Faksi-faksi di Idlib

KIBLAT.NET, – Al-Dorar Al-Syamiyah menggelar wawancara ekslusif dengan insinyur Hasyim Al-Syaikh Abu Jabir, salah satu komandan revolusi Suriah. Banyak hal yang dibicarakan dalam wawancara yang dipublikasikan pada Senin, 7 Januari 2019, itu.

Hal paling penting mengenai persoalan terpecah-pecahnya faksi oposisi yang jauh dari persatuan, nasib revolusi Suriah dan strategi militer paling baik saat ini yang harus dipilih untuk menghadapi rezim. Tak kalah penting, mengenai Turki dan kekuatan internasional yang ikut campur di Suriah.

Abu Jabir merupakan komandan yang memiliki banyak pengalaman dalam medan jihad. Sebelum revolusi Suriah meletus, ia pernah berjihad di Iraq dan mendekam di jeruji penjara rezim Suriah.

Pertama kali komandan kelahiran Aleppo ini bergabung dengan Ahrar Al-Syam. Ia sangat getol menyambut seruan persatuan. Maka, ketika Hai’ah Tahrir Al-Syam (HTS) dideklarasikan sebagai penyatu antara mujahidin ia bergabung. Bahkan, bapak 10 anak ini dipercaya menjadi pemimpin. Namun akhirnya mengundurkan diri karena beberapa hal. Saat ini ia independen.

Wawancara ini merupakan ringkasan dari wawancara panjang. Berikut petikannya:

El-Dorar: Menurut Anda, apa yang menyebabkan kegagalan persatuan faksi-faksi militer?

Abu Jabir: Jabhah Wathaniyah lit Tahrir (JWT) dan Hai’ah Tahrir Al-Syam (HTS) adalah dua qutub utama dan memikul tanggung jawab di pundak mereka untuk mewujudkan persatuan. Kedua pihak harus bekerja sama di lapangan untuk mencapai jalan aman dan bisa mengobati hati penduduk Syam. Perselisihan antara keduanya adalah mengenai Pemerintah Penyelamat (pemerintahan indepen di Idlib yang dituding di bawah pengaruh HTS –edt), antara mendukung untuk bergabung dan lainnya menginginkan pemerintahan itu bubar dan membentuk persatuan baru yang dikawal sebuah badan pendiri baru.

Saya mengusulkan, kedua pihak mengajukan orang-orang terpercaya untuk duduk membahas persatuan. Lebih baik duduk setelah semua perjuangan untuk rekonsiliasi. Faksi-faksi harus rela berkorban sampai sepadan dengan pengorbanan rakyat Suriah. Saya melihat, Pemerintahan Penyelemat dan Pemerintahan Koalisi Oposisi hanyalah pemerintahan untuk mereka sendiri, tidak menjalankan peran nyata seperti pemerintah-pemerintah negara di dunia. Pemerintahan sebenarnya haruslah berasal dari rakyat.

Jika para komandan revolusi tidak bergerak melakukan perubahan di lapangan, akan terjadi perubahan secara paksaan. Rakyat yang menghadapi serangan bom barel dan mortar tidak mungkin diam terhadap orang-orang yang hanya ingin meraih keuntungan untuk dirinya sendiri.

El-Dorar: Apa penyebab gagalnya proyek persatuan melalui HTS?

Abu Jabir: Perkumpulan HTS kurang ikhlas dan saling percaya antarfaksi-faksinya sehingga berakhir pada kegagalan. Kegagalan tersebut juga disebabkan karena pengaruh para komandan terhadap faksinya sendiri tidak bisa lepas dan prajurit tidak bisa terpisah dari komandannya. Masing-masing pihak berpegang pada sudut pandang dan visi sendiri-sendiri untuk solusi di lapangan sehingga menyebabkan pembatalan kontrak yang sudah ditandatangani bergabung perkumpulan ini, kemudian memisahkan diri.

El-Dorar: Apakah ada kemungkinan mengulang kembali proyek operasi bersama dengan sandi Jaisyul Fath?

Abu Jabir: Mengulang pembentukan Jaisyul Fath baru atau perkumpulan lainnya membutuhkan pengorbanan faksi-faksi untuk mengalahkan kemaslahatan umum dari kemaslahatan pribadi. Faksi-faksi harus rela berkorban seperti pengorbanan rakyat Suriah, karena penyebab utama gagalnya persatuan antarfaksi karena tidak adanya kepercayaan antara komandan, bukan prajurit. Sebab lainnya, perselisihan suku yang dibawa kepada perselisihan faksi sehingga menyebabkan pertempuran atas dasar hal tersebut. Untuk itu, kita harus bersatu. Faksi-faksi harus membentuk komisi yang bertujuan menyatukan persoalan-persoalan keamanan dan ekonomi, kemudian menuju marger seutuhnya.

BACA JUGA  BPJS Klaim Penyesuaian Iuran Tidak Memberatkan Warga Miskin

Saya sudah bekerja untuk membentuk Dewan Syariat namun belum berhasil. Tujuannya mewujudkan badan independen yang bukan bagian dari pihak-pihak yang bertikai supaya tidak terjadi pertumbahan darah.

El-Dara: Apa strategi terbai saat ini untuk menghadapi rezim secara militer?

Abu Jabir: Pertempuran yang digulirkan HTS baru-baru ini menegaskan perubahan taktik militer kita dalam menghadapi rezim. Operasi di belakang garis musuh adalah pilihan terbaik untuk menghadapi rezim, karena itu masih dalam kemampuan dan mayoritas kemampuan faksi-faksi berada di dalam, bukan di front-front karena ketakutan sebagian. Front dengan rezim panjangnya 200 kilometer. Tidak mungkin front sepanjang itu ditangani satu faksi. Di saat ada faksi yang menandatangani perjanjian seperti Astana dan lainnya, yang lain harus berkomitmen, karena front yang panjang. Solusi terbaik di lapangan saat ini adalah keberadaan satu kepemimpinan.

Faksi Jaisyul Izzah merupakan contoh faksi yang mengangkat kepala. Begitu juga faksi-faksi dan kelompok kecil lainnya, termasuk yang tergabung dalam ruang operasi “Wa Harridzil Mukminin”. Mereka mengabdikan diri untuk melawan rezim dan tidak sibuk dengan perselisihan dan masalah-masalan internal.

Pada awal revolusi kita memiliki sebanyak 1000 faksi, tetapi sekarang hanya adah dua faksi, dan segalanya lebih baik. Kebutuhan saat ini adalah memperbaiki arah revolusi dengan menyatukan upaya untuk menggulingkan rezim.

El-Dorar: Bagaimana Anda melihat oposisi politik yang bekerja di luar Suriah dan apakah mungkin mereka dapat memenuhi aspirasi revolusi?

Abu Jabir: Kenapa kita membiarkan orang lain menegoisasikan tentang kita, dan kita tidak bisa bernegosiasi mewakili diri kita sendiri seperti Taliban? Oleh karena itu, saat ini kita membutuhkan badan politik yang benar-benar wakili seluruh permasalahan kita, mewujudkan tuntutan dan memperjuangkan persoalan kita, di mina kita tidak perlu menunggu Turki atau lainnya. Semua elemen sudah ada dan kita adalah pemegang hak dan permasalahan kita adalah hak, musuh kita zalim meskipun dunia berada di posisi mereka. Rakyat Suriah telah mempersembahkan jutaan nyawa demi meraih kebebasan dan martabatnya.

Sudah kami katakan sejak awal revolusi “Kami tidak memiliki yang lain kecuali Engkau wahai Allah”. Sebagian sahabat kami saat ini menyandarkan harapan mereka pada Turki, Rusia dan Amerika yang merupakan musuh umat Islam dalam sejarah. Hari ini, harus memperbaiki perjalanan revolusi dengan menyatukan upaya melawan rezim. Kami keluar (berperang) bukan untuk Idlib, Azaz, Mabij atau Efrat Timur. Kami keluar untuk Suriah seluruhnya dan membersihkannya dari rezim. Komite Negosiasi Oposisi Suriah akan hilang seiring waktu berjalan, karena mereka menandatangani kontrak dan kesepakatan yang meruntuhkan revolusi dan mereka harus mundur.

BACA JUGA  Ubah Indonesia Jadi Lebih Baik, K.H. Ma’ruf Amin Ingin Teladani Perjuangan Rasulullah

El-Dorar: Bagaimana dunia internasional menyikapi revolusi Suriah hari ini?

Abu Jabir: Dunia internasional berada dalam kebingunan untuk memadamkan revolusi seperti yang dilakukan UEA, Arab Saudi, Amerika, Rusia Qatar dan Turki.

Akan tetapi, kami berterima kasih kepada rakyat dan pemerintah Turki yang bersedia menampung tiga juta pengungsi dan memberikan layanan yang memadai. Namun sebenarnya ada perbedaan pandangan politik Turki, seperti menangani persoalan Idlib dan daerah-daerah Perisai Efrat serta Cabang Zaitun.

El-Dorar: Bagaimana Anda melihat operasi militer Turki di Timur Sungai Efrat, di saat bersamaan rezim dan Rusia mengancam Idlib?

Abu Jbir: Wilayah-wilayah Perisai Eufrat menimbulkan banyak ketakutan dan perdebatan mengenai dukungan Turki terhadap faksi-faksi perusak. Sebagaimana kesepakatan-kesepakatan terdahulu antara Turki dan Rusia di Astana yang menghasilkan lepasnya banyak wilayah oposisi sehingga membuat kami khawatir hal itu terjadi juga pada Idlib.

Jika pertempuran di Timur Sungai Efrat mengulang skenario Aleppo, itu merupakan pengkhianatan revolusi. Politik Turki yang menyerahkan faksi-faksi perusak mengendalikan wilayah Perisai Efrat dan ketergantungan mereka pada Gaziantep atau Kalis menimbulkan banyak ketakutan dan kekhawatiran rakyat atas kampung halaman mereka.

 El-Dorar: Bagaiman Anda melihat peran organisasi-organisasi kemanusiaan di Suriah utara yang sudah dibebaskan?

Abu Jabir: Sebagian lembaga dan organisasi kemanusiaan yang bekerja di wilayah yang sudah dibebaskan memiliki peran negatif dengan hanya memburu donasi dan ketergodaan mereka pada uang daripada menggulingkan rezim.

El-Dorar: Siapa yang memikul tanggung jawab atas penderitaan para pengungsi dan orang yang terusir di wilayah utara yang dibebaskan?

Abu Jabir: Pengungsi dan orang-orang yang hidup di tenda-tenda saat ini hidup dalam cuaca dingin adalah tanggung jawab pihak-pihak yang memiliki keputusan di lapangan. Kemampuan wilayah-wilayah yang sudah dibebaskan sangat besar dan mampu memberikan bantuan kepada seluruh rakyat namun masih berserakan karena perpecahan. Saya sendiri meminta maaf karena tidak bisa memulangkan para pengungsi ke rumah dan kampung halaman mereka. Kita harus bekerja dengan kekuatan penuh dan sungguh-sungguh untuk memulangkan pengungsi ke Negara mereka. Apa yang diambil dengan kekuatan harus dikembalikan dengan kekuatan.

Kami juga tidak melupakan keluarga dan saudara-saudara yang berada di dalam tahanan rezim, baik dari laki-laki dan wanita, dengan berbagai jenis penyiksaan yang mereka hadapi. Rezim seperti Firaun dalam memberlakukan para tahanan, dengan melecehkan wanita dan membunuhi anak-anak. Kita bertanggung jawab atas saudara-saudara kita yang berada di dalam tahanan dengan membebaskan dan menyelamatkan mereka. Kita harus membebaskan mereka dengan kekuatan karena mereka tidak akan bisa keluar kecuali dengan kekuatan.

Sumber: El-Dorar
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ditemui Diaspora Uighur, Wakil Ketua DPR RI: Indonesia Akan Bela Uighur!

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengungkapkan Indonesia akan membela HAM bangsa Uighur, karena HAM adalah universal dan merupakan amanat pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.

Selasa, 15/01/2019 00:06 0

Indonesia

Fahri Hamzah Mendadak Dikunjungi Dubes Cina, Sebelum Kedatangan Tamu Uighur

Sebelum menerima diaspora Uighur, Fahri terlebih dahulu menerima kunjungan delegasi Republik Rakyat Cina (RRC) yang dipimpin oleh Duta Besar RRC untuk Indonesia, Xiao Qian di Ruang Kerjanya Lantai 4 Gedung Nusantara III DPR RI, Senin (14/1/2018).

Selasa, 15/01/2019 00:00 0

Suara Pembaca

Herika Muhamad Taki, Penerima Gelar Doktor Pertama Dalam Bidang Urban and Regional Planning di Arab Saudi

Herika Muhamad Taki menjadi penerima gelar Doktor (PhD) pertama dalam bidang Urban and Regional Planning atau Perencanaan Wilayah dan Kota dari King Abdulaziz University, Saudi Arabia

Senin, 14/01/2019 22:45 0

Feature

Perzinaan Berisiko Mengganggu Kesehatan Mental

Perzinaan bisa berefek pada kesehatan psikis.

Senin, 14/01/2019 22:33 0

Indonesia

MUI: Kebijakan Sertifikat Layak Kawin Sebelum Menikah di Jakarta Bagus

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan warganya yang hendak menikah untuk mempunyai sertifikat layak kawin terlebih dahulu

Senin, 14/01/2019 21:18 0

Indonesia

Tanggapi Pernyataan Ma’ruf Amin Soal Ahok, Sekjen MUI: Sikap Keagamaan Lahir Bukan karena Dipaksa

Sekertaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, KH. Anwar Abbbas angkat suara mengenai penyataan Ketua Umum MUI nonaktif, KH. Ma'ruf Amin yang mengatakan dirinya terpaksa ketika menjadi saksi yang menjelaskan sikap keagamaan MUI dalam persidangan penodaan agama oleh Ahok.

Senin, 14/01/2019 21:07 0

Indonesia

Beda Pilihan Politik Antar-Keluarga, Dua Makam di Gorontalo Dibongkar

Hanya karena perbedaan sikap politik di kalangan keluarga besar, dua kuburan dibongkar dan dipindahkan lokasinya.

Senin, 14/01/2019 20:44 0

Suara Pembaca

Mengintip Celah (De)legitimasi Pemilu 2019

Pemilu Serentak 2019 tinggal hitungan bulan, namun legitimasinya masih menjadi soal.

Senin, 14/01/2019 19:49 0

Indonesia

Bupati Neneng: Tjahjo Kumolo Bilang ke Saya, Tolong Perizinan Meikarta Dibantu

Bupati nonaktif Bekasi, Neneng Hasanah Yasin mengungkapkan bahwa Mendagri Tjahjo Kumolo meminta dirinya untuk memuluskan perizinan Meikarta.

Senin, 14/01/2019 19:43 0

Video News

Kiblat Review: Menguji Integritas KPU

KIBLAT.NET- Isu yang hangat di media pemberitaan dan media social adalah sorotan kepada KPU, komisi...

Senin, 14/01/2019 18:20 0

Close