... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Mari Mengenal Anggota Panelis Debat Capres Cawapres 2019 Putaran I

Foto: Anggota Panelis Debat Capres 2019 putaran pertama.

KIBLAT.NET – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memutuskan bahwa debat capres cawapres putaran pertama akan digelar pada 17 Januari 2019 mengusung tema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. KPU juga telah menunjuk dan menetapkan personal-personal yang akan bertindak sebagai anggota panelis dalam debat putaran pertama tersebut. Mereka yang mendapat amanah sebagai panelis adalah Bagir Manan, Margarito Kamis, Hikmahanto Juwana, Agus Rahardjo, Bivitri Susanti, dan Ahmad Taufan Damanik.

Para panelis tersebut bertugas membahas, menggodok dan menyiapkan pertanyaan yang sejalan dengan tema debat. Misalnya, Agus Rahardjo sebagai ketua KPK tentu akan menyiapkan pertanyaan seputar korupsi. Sebagaimana diketahui, sebelumnya KPU telah memutuskan bahwa kisi-kisi pertanyaan yang telah disusun panelis akan diserahkan kepada pasangan calon (paslon) agar mereka bisa mempersiapkan jawaban sebaik mungkin.

Ada satu hal yang menarik dari keenam panelis kali ini, yaitu kiprah mereka di dunia yang sama: hukum. Kecuali Agus Rahardjo, semuanya berlatar belakang pendidikan di bidang hukum. Berikut sedikit gambaran mengenai profil penelis debat capres cawapres putaran pertama:

1. Bagir Manan

Bagir Manan merupakan mantan Ketua Mahkamah Agung (MA) di era Megawati dan SBY. Pria kelahiran 6 Oktober 1941 ini memperoleh gelar Doktor Hukum Tata Negara dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung pada tahun 1990. Bagir Manan juga pernah menjabat sebagai ketua Dewan Pers Indonesia mulai tahun 2010 hingga 2016.

Bagir juga tercatat menulis beberapa buku, di antaranya Beberapa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia (1997), Lembaga Kepresidenan (1999), Teori dan Politik Konstitusi (2000) dan Menyongsong Fajar Otonomi Daerah(2001).

BACA JUGA  PKS Perjuangkan Aspirasi Ulama dan Ormas Islam Dalam Undang-Undang Pesantren

2. Margarito Kamis

Margarito Kamis adalah pakar hukum tata negara yang baru-baru ini menentang pernyataan ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie yang menilai Perda Syariat diskriminatif. Ia pernah menjadi Staf Khusus Mensesneg antara tahun 2006 hingga 2007.

Pria kelahiran Gambesi, Kota Ternate mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Indonesia  di bawah bimbingan Prof. Ismail Suny, Prof. Jimly Asshiddiqie, dan Alm. Prof. Adnan Buyung Nasution, dan merupakan putra Ternate pertama yang menyandang gelar tersebut.

Saat ini Margarito tercatat sebagai dosen tetap ilmu hukum Universitas Khairun, Ternate dengan jabatan fungsional sebagai Lektor Kepala.

3. Hikmahanto Juwana

Hikmahanto Juwana adalah Guru Besar Hukum Internasional Univesitas Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 23 November 1965 ini mendapatkan Doctor of Philosophy (PhD) dari University of Nottingham, Inggris pada tahun 1997.

Bisa dibilang Hikmahanto merupakan profesor termuda sepanjang sejarah Fakultas Hukum Universitas Indonesia bahkan Indonesia, ia didaulat menjadi guru besar saat usianya baru memasuki 40 tahun.

Hikmahanto juga banyak memberikan masukan tentang berbagai hal mengenai penyelesaian sengketa hukum di Indonesia. Beragam penghargaan pun ia raih karena dedikasinya di bidang hukum, salah satunya adalah penghargaan British Achieving Award dari Pemerintah Inggris.

4. Agus Rahardjo

Mungkin Agus Rahrdjo bisa didaulat sebagai contoh pembelokan potensi yang sukses. Pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 1956 ini merupakan insinyur pertama di Indonesia menjadi pimpinan KPK tanpa memiliki latar belakang pendidikan tinggi formal hukum dan pengalaman karir di lembaga penegakan hukum. Agus Rahardjo adalah sarjana Teknik sipil dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

BACA JUGA  PKS: Kebakaran Hutan Setiap Tahun Terjadi, Seharusnya Pemerintah Bisa Antisipasi

Namun dalam debat capres kali ini, Agus mengkonfirmasi ketidakhadirannya dan hanya akan menyumbang pertanyaan bagi para paslon. Alasannya adalah untuk menghindari kesan politik pada lembaga anti korupsi.

5. Bivitri Susanti

Bivitri Susanti merupakan ahli hukum tata negara perempuan dan salah satu pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK). Di PSHK ia aktif melakukan penelitian-penelitian terutama bidang legislasi, bahkan kemudian dipercaya menjadi Direktur Eksekutif PSHK.

Bivitri dan rekan-rekannya di PSHK kemudian mendirikan sekolah hukum yang bernama Jentera terletak di Jalan Kuningan Madya, Kuningan, Jakarta Selatan. Ia berharap Jentera bisa jadi roda penggerak perubahan hukum di Indonesia.

6. Ahmad Taufan Damanik

Sebagai ketua Komnas HAM periode 2017-2020, tentu Ahmad Taufan Damanik akan mengajukan pertanyaan seputar perkembangan penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

Ahmad Taufan Damanik terpilih sebagai Ketua Komnas HAM dalam sidang paripurna Komisi III DPR RI pada 13 November 2017. Ahmad juga tercatat sebagai Komisioner pada Komisi Badan Promosi dan Perlindungan Hak Asasi Perempuan dan Anak ASEAN.

Penulis: Rusydan Abdul Hadi

 

 

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Tak Ada Lagi Uighur di Xinjiang

Xinjiang juga menjadi penting dengan posisi mereka dalam proyek ambisius Jalur Sutra Baru. Oleh sebab itu penting bagi Cina untuk menjaga Xinjiang tetap stabil, meski itu artinya melakukan genosida kultural bagi muslim Uighur.

Ahad, 13/01/2019 22:35 0

Artikel

Merunut Jejak Intervensi AS

Trump memandang “kehebatan” AS telah lama hilang, dan menjadi tugasnya untuk merestorasi kembali

Ahad, 13/01/2019 19:29 0

Palestina

Hamas: Israel Terjunkan Pasukan Intelijen Khusus di Gaza

Hamas menjanjikan hadiah jutaan dolar bagi siapa saja yang dapat mengungkapkan identitas tim pasukan khusus Israel

Ahad, 13/01/2019 15:07 0

Yaman

Kebakaran Dahsyat di Kilang Minyak Aden, Pelakunya Hutsi?

Sebuah tangki penyimpanan yang menampung 7.000 ton diesel terbakar di kilang minyak utama Aden di kota Al Buraika.

Ahad, 13/01/2019 14:35 0

Afghanistan

8 Miliar Dolar AS untuk AU Afghanistan Belum Cukup Hentikan Taliban

Beberapa pakar penerbangan mengatakan Afghanistan akan bergantung pada Amerika dan dukungan lainnya selama bertahun-tahun.

Ahad, 13/01/2019 11:30 0

Video News

Kesaksian Seorang Mantan Tahanan Kamp Konsentrasi Uighur

KIBLAT.NET, Jakarta – Muslimah asal Kazakhstan, Gul Bahar Jaliloa menceritakan kezaliman yang dialaminya selama 16...

Sabtu, 12/01/2019 20:17 0

Malaysia

Tegas, Malaysia Larang Atlit Renang Israel Ikuti Kejuaraan Dunia di Negaranya

ini karena Malaysia memiliki kebijakan luar negeri yang jelas terhadap Israel.

Sabtu, 12/01/2019 10:59 0

Asia

India Akan Akui Kewarganeraan Imigran Tertindas Kecuali Muslim

"Mereka tidak memiliki tempat lain selain India. Mereka bisa tinggal di negara bagian manapun,"kata Menteri Dalam Negeri, Raj Nath Singh, kepada parlemen.

Sabtu, 12/01/2019 10:18 0

Amerika

AS Mulai Tarik Peralatan Militer dari Suriah

"Kami belum menarik pasukan sejauh ini," kata pejabat yang menolak disebutkan namanya itu.

Sabtu, 12/01/2019 08:07 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Malu dan Keutamaannya – Ust. Eko Febrianto

KIBLAT.NET- Biasanya, tatkala kita melihat orang yang mempunyai sifat malu mungkin kita akan merendahkan orang...

Jum'at, 11/01/2019 17:41 0

Close