... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Merunut Jejak Intervensi AS

Foto: Intervensi Amerika Serikat (ilustrasi)

KIBLAT.NET – Slogan ‘Make America Great Again’ yang dipopulerkan Presiden Trump di masa kampanye pilpres lalu tampaknya punya dua makna, yaitu sebuah kerinduan akan masa lalu ketika Amerika menjadi negara yang punya pengaruh besar, dan ajakan untuk membangun kembali kehebatan yang pernah ada dulu. Secara tidak langsung, hal itu menjelaskan bahwa sebenarnya Amerika saat ini sudah berbeda dan tidak seperti dulu lagi.

Pendahulu Trump, Obama, adalah presiden AS pertama yang sering dan berulangkali kali berbicara tentang eksepsionalisme Amerika, sebuah cara pandang yang menganggap diri lebih hebat dibanding lainnya dan tidak perlu mematuhi peraturan/prinsip umum. Sementara Trump memandang “kehebatan” tersebut telah lama hilang, dan menjadi tugasnya untuk merestorasi kembali. Tetapi diyakini bahwa sifat eksepsionalisme Amerika ini merupakan suatu kondisi permanen yang melekat dengan sejarah Amerika, siapapun presidennya, yang terus seperti itu hingga hari ini.

Doktrin Monroe dan Manifets Destiny

Titik tolak awalnya adalah ‘Dokrin Monroe’ di permulaan abad ke-19. Sebuah penegasan akan kehebatan kekuatan AS di belahan bumi barat yang menggantikan posisi kekuatan negara-negara kolonial seperti Spanyol dan Portugal. Doktrin Monroe adalah kebijakan luar negeri AS yang diterapkan pada 2 Desember 1823. Dalam kebijakan itu, upaya negara-negara Eropa untuk menjajah atau melakukan campur tangan terhadap negara-negara di benua Amerika akan dipandang sebagai agresi, sehingga AS akan turun tangan.

Untuk kebijakan domestik di dalam negeri, ada ‘manifest destiny’ yang menjustifikasi pendudukan seluruh bagian wilayah benua Amerika Utara dengan mengabaikan eksistensi penduduk asli pemilik sebagian besar tanah yang notabene sudah lama menempati wilayah itu. Tidak jauh beda dengan ‘doktrin Monroe’, ‘manifest destiny’ adalah keyakinan kuat orang Amerika pada abad ke-19 bahwa Amerika Serikat ditakdirkan untuk meluas melintasi benua. Padahal, doktrin Monroe awalnya berisi semangat penghormatan terhadap negara-negara yang baru berdiri di Amerika Latin. Namun di akhir abad, maknanya berubah menjadi semacam justifikasi bagi intervensi AS di mana saja di belahan planet bumi.

BACA JUGA  Fakta Menarik Tentang VPN yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui

Fase Baru Intervensi Amerika

Tidak lama setelah PD II berakhir, negara-negara yang pernah menjadi ‘kekuatan besar’ itu mulai meninggalkan negara-negara bekas jajahan mereka yang sebenarnya belum secara penuh dikembalikan hak-haknya kepada pemilik asli. Dan ini menimbulkan banyak masalah & konflik di kemudian hari. Perang dingin kemudian mendorong suatu kondisi ke sebuah fase baru imperialisme Amerika. Penulis Dan Kovalik dalam buku terbarunya “The Plot to Control the World” mengutip sebuah laporan bahwa antara tahun 1946 s/d 2000 Amerika Serikat melakukan intervensi terhadap pemilu di 81 negara. Jumlah tersebut tidak termasuk intervensi-intervensi yang sifatnya serius yang melibatkan kekerasan seperti mensponsori kudeta, asasinasi, dan invasi.

Kovalik juga menulis, ‘eksepsionalisme Amerika’ memerlukan satu keyakinan bahwa AS adalah sebuah kekuatan unik bagi demokrasi & kebebasan di dunia. Hal ini pulalah yang membuat The New York Times bisa menerima bahkan menjustifikasi intervensi AS ke dalam urusan negara-negara lain karena AS memang unik dalam menggunakan kekuatan untuk menjatuhkan para diktator dan mempromosikan demokrasi. Bagi Rusia adalah sebaliknya, bahwa intervensi Amerika justru merusak demokrasi dan mempromosikan sistem otoriter.

Jejak Intervensi AS

Merespon obsesi saat ini terkait dengan intervensi Rusia dalam pemilu presiden di AS, ia (Kovalik) membandingkan dengan jumlah yang jauh lebih besar aksi serupa yang dilakukan AS dalam mempengaruhi hasil pemilu, termasuk pemilu di Rusia pada tahun 1996. Di Iran, intervensi AS punya sejarah panjang dengan pasang surutnya demokrasi di negara itu. Di Guatemala, AS melakukan hal yang sama dengan di Iran bahkan terlibat dalam cipta kondisi yang mendorong terjadinya perang yang menewaskan 300.000 orang. Selain itu, jejak campur tangan AS sangat jelas terlihat di Kongo, Brazil, Vietnam, Chili, Honduras, Nikaragua, dan yang terbaru di Ukraina.

BACA JUGA  Ramadhan dan Tadarus Al-Quran

Di Amerika Latin, Kovalik mengambil 5 contoh kasus, walaupun sebenarnya bisa dinyatakan bahwa di antara (hampir) semua negara bekas koloni Spanyol maupun Portugal, hanya Kosta Rika yang tidak diintervensi AS secara langsung, kecuali di bidang ekonomi yang masih merasakan dominasi Amerika. Hingga saat ini Kosta Rika belum berani memilih pemimpin yang menentang hegemoni AS. Sementara sebagian besar negara-negara bekas koloni Inggris, Perancis, dan Belanda dikecualikan dari intervensi langsung AS. Yang terbaru dan paling kasat mata adalah sejumlah kasus di Grenada dan Haiti. Kita jadi berfikir kira-kira apa yang ada di benak Presiden James Monroe sekarang seandainya ia melihat konsekuensi destruktif dari penerapan doktrin yang dinisbatkan kepada namanya itu.

Mengutip Harold Pinter, Kovalik menulis satu fitur penting intervensi Amerika adalah, bahwa hal itu (intervensi) tidak pernah terjadi. Bahkan ketika AS sedang melakukan intervensi, itu dianggap tidak melakukan intervensi, dan semua orang harus mengalihkan pandangan. Ini merupakan sebuah rekayasa informasi untuk memutarbalikkan fakta dan peristiwa. Terlalu sering apa yang disebut sebagai media-media mainstream yang sebagian besar liberal menutup mata & berpura-pura tidak tahu terutama ketika terjadi bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh intervensi AS. Seringnya mereka lebih mengekspos “sisi baik” intervensi tersebut. Sebaliknya, mereka menutup informasi terkait orang-orang yang menderita maupun yang melakukan perlawanan akibat intervensi tersebut. Nikaragua adalah contoh peristiwa paling nyata intervensi Amerika tersebut di benua Latin. Di Timur Tengah dan dunia Islam seperti Iraq dan Afghanistan, intervensi kasat mata Amerika seolah tidak ada yang menggugat.

Sebagai penulis, Dan Kovalik dianggap jauh lebih baik daripada William Blum, dan lebih bisa diakses daripada Noam Chomsky. Buku Kovalik harus dibaca di kampus-kampus Amerika, sekaligus bisa menjadi “reminder” bagi para politisi, komentator politik, dan jurnalis karena buku tersebut mengungkap realita sebenarnya tentang eksepsionalisme AS.

Redaktur: Yasin Muslim
Sumber: Counterpunch

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

KPAI: Pendidikan Kebencanaan Mendesak Disegerakan

Sebanyak 2.892 bangunan sekolah berada dalam zona bahaya radius satu kilometer dari jalur sesar

Ahad, 13/01/2019 18:48 0

Indonesia

Peserta Tabligh Akbar Diadang, Ketua PA 212 Solo Raya: Kenapa Aparat Begitu Tega

Bundaran Gladak sering digunakan untuk acara serupa, Ketua PA 212 mempertanyakan perlakuan aparat terhadap peserta kegiatan kali ini

Ahad, 13/01/2019 17:54 0

Indonesia

Diadang, Ribuan Orang Gagal Ikut Tabligh Akbar PA 212 di Solo

Ribuan peserta dari luar Solo diadang sehingga tak bisa mengikuti kegiatan Tabligh Akbar Presidium Alumni (PA) 212 di Budaran Gladak, Solo

Ahad, 13/01/2019 17:36 0

Indonesia

KPK Berharap Tim Gabungan Bisa Temukan Pelaku Teror Novel Baswedan

Tim gabungan untuk ungkap kasus teror terhadap Novel Baswedan merupakan rekomendasi Komnas HAM

Ahad, 13/01/2019 16:49 0

Indonesia

Bentuk Tim Gabungan Ungkap Teror Novel Baswedan, Surat Tugas Kapolri Berlaku 6 Bulan

Teror terhadap Novel Baswedan telah terjadi sejak 11 April 2017, tim gabungan baru dibentuk setelah ada desakan terus menerus dari masyarakat

Ahad, 13/01/2019 16:29 0

Palestina

Hamas: Israel Terjunkan Pasukan Intelijen Khusus di Gaza

Hamas menjanjikan hadiah jutaan dolar bagi siapa saja yang dapat mengungkapkan identitas tim pasukan khusus Israel

Ahad, 13/01/2019 15:07 0

Yaman

Kebakaran Dahsyat di Kilang Minyak Aden, Pelakunya Hutsi?

Sebuah tangki penyimpanan yang menampung 7.000 ton diesel terbakar di kilang minyak utama Aden di kota Al Buraika.

Ahad, 13/01/2019 14:35 0

Indonesia

Sikap Pemkot Solo Larang Pendirian Panggung Tabligh Akbar PA 212 Dipertanyakan

Pelarangan pendirian panggung di Tabligh Akbar PA 212 dipertanyakan, karena selama ini puluhan aksi di kawasan Gladak berjalan tertib dan lancar

Ahad, 13/01/2019 13:26 0

Afghanistan

8 Miliar Dolar AS untuk AU Afghanistan Belum Cukup Hentikan Taliban

Beberapa pakar penerbangan mengatakan Afghanistan akan bergantung pada Amerika dan dukungan lainnya selama bertahun-tahun.

Ahad, 13/01/2019 11:30 0

Indonesia

Usung Tema “Bendera Tauhid”, PA 212 Gelar Tabligh Akbar di Solo

Kapolresta Solo, Ribut Hari W menuturkan sekitar tiga ribuan anggota kepolisian dibantu Satpol PP dan TNI yang dikerahkan untuk mengamankan aksi.

Ahad, 13/01/2019 10:54 0

Close