... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Khutbah Jumat: Tiga Karakter Ulama Rabbani

Foto: Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَصْلَحَ الضَمَائِرَ، وَنَقَّى السَرَائِرَ، فَهَدَى الْقَلْبَ الحَائِرَ إِلَى طَرِيْقِ أَوْلَي البَصَائِرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيُكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَنْقَى العَالَمِيْنَ سَرِيْرَةً وَأَزكْاَهُمْ سِيْرَةً، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah (11/132), Imam Ibnu Katsir menuliskan sebuah kisah tentang keteguhan seorang ulama dalam membela agamanya. Disebutkan sekira pada tahun 969 M, Bani Ubaid atau yang dikenal dengan daulah Fathimiyah menguasai negeri Mesir. Ketika itu, mereka memaksa para ulama untuk mengikuti aqidah Syiah Bathiniyah yang mereka anut. Siapa saja yang menolak maka akan dibunuh.

Sebagian ulama Sunni menyelamatkan diri dari Mesir, sebagian ada yang bersembunyi dan ada pula yang bertahan. Salah satu yang bertahan dan tegak menentang kezaliman adalah Abu Bakar An-Nabulsi. Ketika dipaksa meninggalkan ajarannya, An-Nabulsi dengan tegas mengatakan kepada penguasa Bani Ubaid, “Jika saya punya sepuluh tombak, saya akan melempar satu ke Roma, dan sembilan lainnya ke arah Fatimiyah.”

Ulama madzab Syafi’i itu pun ditangkap dan dibawa menghadap Al-Mu’iz li-Dinillah, pemimpin Bani Ubaid ketika itu. “Saya mendapat info bahwa kau berkata jika seorang memiliki sepuluh tombak, maka ia harus melempar satu ke Roma, dan sembilan sisanya kepada kami!” Tanya Al-Mu’iz

An-Nabulsi menjawab, “Saya tidak mengatakan itu.”

Penguasa Bani Ubaid ini pun tersenyum, ia menganggap imam akan menarik kembali pernyataannya. Lalu ia bertanya:

“Lantas, apa yang kau katakan?”

An-Nabulsi menjawabnya dengan penuh keberanian, “Jika seseorang memiliki sepuluh tombak, maka dia harus melempar sembilan tombak kepadamu dan yang kesepuluh juga kepadamu!!!”

Al-Mu’iz terkejut dan bertanya, “Mengapa begitu?”

Lalu, An-Nabulsi menjawab dengan berani, “Sebab, kau telah mengubah agama umat ini. Kau membunuh orang-orang saleh. Kau mengusir ulama dan kau merebut apa yang bukan milikmu.”

Dengan geram penguasa Fatimiyah itu pun memerintahkan penjaga untuk membawa An-Nabulsi ke depan publik. Keesokan harinya, ia dicambuk dengan hebat. Setelah tiga hari disiksa, An-Nabulsi dipaku dan disalib, kemudian tukang daging Yahudi dibawa untuk menguliti dagingnya –karena tukang daging Muslim menolak untuk melakukannya. Pada saat daging itu dikupas dari atas kepala ke wajahnya, beliau masih mengingat Allah dan mengulang-ulang ayat Al-Qur’an:

كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

“… Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh),” (QS. Al-Isra’: 58)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ketika mendengar kisah ini, salah satu pertanyaan yang mesti muncul di benak kita masing-masing ialah, “Mengapa An-Nabulsi begitu tegar dan berani menghadapi kedzaliman walaupun harus kehilangan nyawanya?”

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Zuhud, Modal Utama Perjuangan Islam

Menjawab pertanyaan ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan pandangannya secara singkat terhadap An-Nabulsi, dalam lanjutan kisah beliau, Ibnu Katsir menulis, “An-Nabulsi adalah seorang yang zuhud, ahli ibadah, wara’ yang selalu berkorban di jalan Allah.”

Tiga modal yang dimiliki An-Nabulsi yaitu zuhud, ahli ibadah dan wara’ telah mendarah daging di dalam jiwanya sehingga menghasilkan keberanian yang luar biasa menerjang kematian demi tegaknya kebenaran.

Seorang zahid (orang yang zuhud) adalah seseorang yang tidak terlalu berharap dengan dunia. Kampung akhirat adalah tujuan utamanya dan kemuliaan sebenarnya. Segala macam musibah dan deraan di dunia bukanlah suatu hal yang penting baginya dan tidak ia pedulikan. Sebab, baginya, bahagia dan derita dunia adalah fana, akan sirna ditelan masa.

Dalam Madarijus Salikin (2/13), Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Seseorang yang zahid tidak akan bergembira dengan dunia yang ia dapatkan, juga tidak akan bersedih atas dunia yang hilang darinya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya dalam Quran surat Al-Hadid: 23,”

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

Seorang zahid memandang dunia sebagai suatu hal yang kecil semata. Baginya dunia adalah sarana untuk menuju akhirat. Maka, ketika dia dihadapkan suatu hal yang bertujuan akhirat dengan mengorbankan dunia, dia tidak akan berpikir dua kali untuk itu. Justru hal itu ia lakukan dengan sepenuh hati untuk mendapatkan keutamaan di akhirat.

Seperti yang diperagakan An-Nabulsi. Ketika nyawanya harus dikorbankan demi tegaknya kebenaran, maka ia tidak gentar sedikitpun. Bahkan dengan kepala tegak menentang. Subhanallah…

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Demikian juga dengan orang yang memperbanyak ibadahnya. Semakin banyak ibadah yang dilakukan maka akan semakin dekat kepribadiannya dengan Allah Ta’ala. Semuanya diserahkan kepada Allah semata. Baginya, tidak ada kebahagian hidup kecuali menaati segala aturan-Nya. Kewajiban dia tepati dengan sebaik mungkin, sementara amalan Sunnah terus diperbanyak sepanjang waktu. Hingga akhirnya dia pun tergolong bagian dari para hamba yang selalu dijaga oleh Allah. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis dimana Allah ta’ala berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ.

“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.”

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Demikian juga dengan sifat wara’, ia juga mampu menjadikan seseorang semakin remeh dalam memandang dunia. Secara sederhana wara’ berarti meninggalkan perkara haram dan syubhat. Para ulama seringkali memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan, juga meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Mewaspadai Dosa Tersembunyi

Ibrahim bin Adham berkata, “Wara’ adalah meninggalkan setiap perkara syubhat (yang masih samar), termasuk pula meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untukmu, yang dimaksud adalah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرُ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ

“Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’,” (HR. Ath Thobroni)

Tiga sifat utama yang disebutkan oleh Ibnu Katsir, yaitu zuhud, ahli ibadah dan wara’ menjadikan Imam An-Nabulsi mampu mempertahankan keimanannya dengan tegar di hadapan penguasa zalim. Walaupun pada akhirnya beliau disiksa hingga hilang nyawanya.

Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat.

 وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿2﴾ إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

 رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ !

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Hati-hati Berita Fahisyah

Berita pelacuran yang hanya menyoroti pelakunya dan nilainya akan menimbulkan disfungsi

Kamis, 10/01/2019 19:43 0

Video Kajian

Ust. Zamroni- Jerat Nafsu Media Sosial

KIBLAT.NET- Baru-baru ini heboh kabar prostitusi online, ini adalah akibat kurang bijaknya pengguna media sosial...

Kamis, 10/01/2019 19:13 0

Feature

Ada Banyak Manfaat di Setiap Seruput Kopi

Ternyata kopi juga mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

Kamis, 10/01/2019 19:09 0

Indonesia

KH Arifin Ilham Dipindah ke Malaysia untuk Medical Check Up

Pemindahan ini bukan disebabkan rujukan yang diberikan oleh RSCM, melainkan karena sebelumnya Ustadz Arifin pernah dirawat di sana untuk kemoterapi.

Kamis, 10/01/2019 18:30 0

Indonesia

Terkait Uang, Kredibilitas Lembaga Survei Politik Dipertanyakan

"Hasil survei jika hendak dikeluarkan kepada publik harus dipikirkan. Jangan sampai hasil survei hanya menimbulkan kekhawatiran," kata Peneliti LIPI, Siti Zuhro.

Kamis, 10/01/2019 18:20 0

Editorial

Editorial: Gaduh KPU

Sejak masa kampanye bergulir, publik hanya disuguhi ujaran-ujaran kontroversi tanpa isi.

Kamis, 10/01/2019 17:59 0

Wawancara

[Wawancara] Pakar Komunikasi UI: Media Harus Hindari Disfungsi Pemberitaan Prostitusi

Dua minggu pertama tahun 2019, ranah maya masyarakat Indonesia diramaikan dengan pemberitaan prostitusi artis. Berbeda dari sebelumnya, kini artis yang terkena masalah kabarnya dihargai puluhan juta.

Kamis, 10/01/2019 16:51 0

Suriah

Kurdi Suriah Tangkap 8 Militan ISIS, Salah Satunya Remaja AS

Untuk diketahui, sekitar 700 militan asing berada dalam tahanan milisi Kurdi Suriah.

Kamis, 10/01/2019 16:46 0

Indonesia

Kerja Sama Dua RS di Kudus Urung Diputus BPJS

Akreditasi menjadi acuan BPJS Kesehatan dalam menjalin kerja sama.

Kamis, 10/01/2019 15:38 0

Indonesia

Penyerang Militer Myanmar di Rakhine Punya Hubungan dengan ARSA?

Arakan Army mewakili kelompok etnis Rahkine yang beragama Buddha di kawasan itu.

Kamis, 10/01/2019 14:50 0

Close