... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Alasan Utama Taliban Enggan Berunding dengan Pemerintah Afghan

Foto: Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

KIBLAT.NET, Kabul – Negosiasi antara delegasi Imarah Islam (Taliban) dengan utusan khusus pemerintah Amerika Serikat, Zalmay Khalilzad, telah berlangsung selama 2 hari di Abu Dhabi ibukota Uni Emirat Arab akhir Desember lalu. Satu agenda utama dalam negosiasi tersebut adalah penarikan pasukan asing dari Afghanistan serta upaya mengakhiri agresi AS di negara itu.

Sementara terkait isu keprihatinan atas situasi keamanan di Afghanistan yang diajukan oleh AS dan negara-negara Barat lainnya bersifar sekunder dalam agenda pertemuan. Selain hal-hal seperti yang sudah disebutkan di atas, agenda utama lainnya adalah termasuk pembebasan tawanan, penghapusan nama-nama pemimpin Taliban dari daftar hitam, pembukaan kantor perwakilan, dan beberapa lainnya yang sangat vital bagi pentingnya sebuah negosiasi, serta dalam rangka membangun kepercayaan.

Alhasil, sudah selayaknya Amerika berinisiatif mendorong bagi terwujudnya agenda-agenda tersebut di atas sebagai bukti ketulusan mereka melakukan negosiasi.

Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai negara-negara yang pernah mengakui pemerintah Imarah Islam (Taliban) di masa sebelum perang, juga ikut andil dalam pertemuan tersebut dengan status sebagai pengamat.

Di hari kedua, di luar rencana pemerintah Kabul secara sepihak mengirim delegasi ke UEA dan sangat ingin ikut hadir dalam pertemuan meskipun tidak diundang. Meski demikian, Imarah Islam (Taliban) konsisten menentang “manuver” tersebut, dan kembali menyatakan sikap tegasnya atas pelanggaran/pengkhianatan yang ditunjukkan oleh pemerintah Kabul di hari kedua itu.

Pemerintah Kabul jelas tidak memiliki kapasitas untuk mampu menyelesaikan berbagai isu. Oleh karena itu, mereka seharusnya tidak diijinkan ikut hadir dalam proses negosiasi, dan kita juga sama sekali tidak menginginkan bertemu dan bernegosiasi dengan “boneka” yang hanya bisa bertindak atas perintah majikannya.

BACA JUGA  Taliban Serbu Kompleks Lembaga Asing di Pusat Ibukota Kabul

Pemerintah Kabul tidak mampu dan tidak berniat mengakhiri agresi Amerika karena keberadaan mereka sendiri merupakan kebohongan untuk menutupi keberlangsungan agresi dan penjajahan Amerika tersebut. Demikian juga, satu-satunya tujuan eksistensi dari pemerintah Kabul adalah untuk mempertahankan dominasi Amerika di Afghanistan.

Pemerintah Kabul sejak awal sudah menyepakati sebuah perjanjian keamanan yang bertujuan memperpanjang penjajahan asing di Afghanistan. Mereka (pemerintah Kabul) mengijinkan para penjajah itu melakukan berbagai tindak kejahatan di Afghanistan, dan tanpa rasa malu berkolaborasi dengan pasukan Amerika membantai bangsanya sendiri.

Hingga hari ini, rakyat Afghanistan terus merasakan penderitaan akibat kesepakatan dan perjanjian tersebut. Penjajah asing dan proksi lokal mereka menganggap darah rakyat Afghan sedemikian murah sehingga tiada henti-hentinya mereka terus membunuhi dan menyebabkan puluhan warga sipil tak berdosa tewas menjemput syahid setiap hari akibat operasi-operasi militer di darat dan serangan udara.

Utusan khusus Washington, Khalilzad sendiri mengatakan dalam pertemuan bahwa setiap bombardemen oleh Amerika di mana saja dilakukan atas permintaan pemerintah Kabul. Bisa dibayangkan, pesawat-pesawat Amerika dari udara dan pasukan keamanan Afghan yang ada di darat secara bersama-sama terlibat dalam serangan brutal terhadap penduduk sipil yang tak berdaya.

Mereka terus melancarkan operasi raids (baca: penggerebekan) siang dan malam di mana pasukan pemerintah boneka berkolaborasi dengan kekuatan asing melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap warga tak berdosa, membakar rumah-rumah penduduk tanpa alasan, sementara wanita dan anak-anak pun tak luput dari aksi kejahatan mereka.

BACA JUGA  Pertempuran di Afghanistan Kembali Berkobar

Secara realistis dapat dikatakan, bahwa pemerintah Kabul bisa dengan akurat digambarkan telah kehilangan kemampuan di semua level untuk menyelesaikan masalah maupun isu-isu serius seperti soal blacklist, rencana pembukaan kantor perwakilan politik, dan lain-lain. Isu-isu semacam ini berkorelasi langsung dengan kepentingan pihak penjajah asing, dan memang hanya mereka lah yang punya otoritas membuat keputusan terkait agenda negosiasi. Sementara, efek keikutsertaan boneka tidak signifikan dan tidak diperlukan.

Di sisi lain, apabila pemerintah Kabul berniat dan ingin hadir dalam proses negosiasi dan membuat kesepakatan dengan Imarah Islam, pertama yang harus mereka lakukan adalah menghapus atau membatalkan perjanjian keamanan dengan penjajah sebagai sebuah sikap tegas terhadap Amerika.

Selanjutnya, mereka harus meminta maaf kepada bangsa Afghan atas tindakan mereka di masa lalu yang mendukung agresi Amerika, mendukung perjanjian keamanan yang menguntungkan musuh, dan terlibat berbagai kejahatan yang tidak manusiawi. Demikian juga, konskuensi selanjutnya adalah mereka harus berjanji untuk membawa para pengkhianat negeri dan para pelaku pelanggaran terhadap hak asasi manusia ke Mahkamah Syariah.

Jika hal-hal itu bisa dipenuhi dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah Kabul, maka Imarah Islam (Taliban) akan bisa mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk berbicara dengan pemerintah Kabul.

Sumber: Alemarah
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Tes Baca Al-Qur’an, Level Pemimpin Negara?

Apalah artinya lancar dalam membaca Al-Qur'an bagi seorang kepala Negara, tapi mereka menolak apa yang diajarkan Al-Qur'an.

Ahad, 06/01/2019 10:20 0

Indonesia

Sudah Tahu? Harga BBM Non Subsidi Berubah Mulai 5 Januari 2019

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan, penyesuaian harga yang dilakukan Pertamina telah sesuai dengan mekanisme dan peraturan yang berlaku.

Ahad, 06/01/2019 09:50 0

Fikih

Apakah Air Musta’mal Suci dan Mensucikan?

Beberapa waktu yang lalu pembicaraan tentang air musta’mal mengemuka ke publik. Lantaran Sandiaga Uno dikomentari karena wudhunya yang hanya menggunakan satu gayung. Terlepas dari latar belakang politik yang menyertainya, kita juga mesti tahu sebenarnya apakah itu air musta’mal, bagaiana hukumnya dan sahkah digunakan untuk bersuci?

Sabtu, 05/01/2019 19:42 0

Indonesia

Kepala Tertembus Peluru, Bripka Matheus BKO Satgas Antiteror Dipastikan Bunuh Diri

Matheus ditemukan warga tergeletak dengan luka di bagian kepalanya di sekitar TPU Mutiara, Mampang, Pancoran Mas, Depok

Jum'at, 04/01/2019 19:36 0

Video News

Ahli Vulkanologi: Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Menjadi PR

KIBLAT.NET- Pada, Kamis, 3 Januari 2019, digelar diskusi media “Mitigasi Bencana Masih Menjadi PR”. Pak...

Jum'at, 04/01/2019 19:23 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Jagalah Lisanmu – Ust. Muiz Abu Turab

KIBLAT.NET- Dan katakanlah kepada seluruh manusia yang baik-baik saja, maka apa yang didengar dari lisan...

Jum'at, 04/01/2019 16:44 1

Indonesia

Said Aqil: Tak Ada Kampanye di Munas NU, Tapi…

PBNU akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konfrensi Besar (Konbes) NU 27 Februari hingga 1 Maret

Jum'at, 04/01/2019 16:21 1

Indonesia

Felix Siauw: Toleransi Itu Simpel

Ustadz Felix Siauw tidak habis mengerti dengan pihak-pihak yang menuduhnya sebagai pribadi intoleran.

Jum'at, 04/01/2019 13:54 0

Indonesia

Pemerintah Akui Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Lemah

"Sekitar 4,5 sampai 5 juta penduduk masyarakat kita, itu terancam oleh letusan gunung api dan ancaman tsunami terhadap beberapa juta orang,” kata Rudy.

Jum'at, 04/01/2019 11:30 0

Video News

Ini Sambutan dan Pesan Dubes Arab Saudi dalam Kunjungan ke PBNU

KIBLAT.NET- Pada Kamis, 3 Januari 2019, Duta besar Arab Saudi melakukan kunjungan ke PBNU. Dan...

Jum'at, 04/01/2019 10:56 0

Close