... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Apakah Air Musta’mal Suci dan Mensucikan?

Foto: Air Musta'mal

KIBLAT.NET – Beberapa waktu yang lalu pembicaraan tentang air musta’mal mengemuka ke publik. Lantaran Sandiaga Uno dikomentari karena wudhunya yang hanya menggunakan satu gayung. Terlepas dari latar belakang politik yang menyertainya, kita juga mesti tahu sebenarnya apakah itu air musta’mal, bagaiana hukumnya dan sahkah digunakan untuk bersuci?

Air musta’mal adalah air yang sudah pernah dipakai membasuh anggota tubuh yang wajib dibasuh untuk menghilangkan hadats atau najis, baik itu wudhu maupun mandi. Al-Qarafi mengatakan bahwa air musta’mal adalah :

هو الماء المتساقط من الأعضاء بعد غسلها، وليس هو الماء الباقي في الإناء الذي يغترف الإنسان منه

“Air yang jatuh dari bagian anggota tubuh yang dibasuhnya. Air musta’mal bukanlah sisa air di bejana yang diciduk oleh manusia.” (Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, 1/175)

Lebih mudahnya, air musta’mal adalah air bekas wudhu, bukan sisa wudhu. Air dikatakan musta’mal karena telah dipakai untuk menghilangkan hadats, baik hadats kecil maupun besar. Namun sebagian ulama juga memasukkan air yang telah digunakan untuk menghilangkan najis sebagai air musta’mal, walau pun nanti hukumnya berbeda.

Apakah air musta’mal itu suci?

Dalam masalah ini, mayoritas ulama berpendapat bahwa air musta’mal itu suci bukan najis. Ini lah pendapat mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan pendapat yang popular di kalangan Hanafi, serta pendapat Dzahiri.

Dalil-dalilnya :

  • Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata :

مرِضتُ فجاءني رسول الله صلى الله عليه وسلم يعودني وأبو بكر وهما ماشيان، فأتاني وقد أُغمِي علي، فتوضَّأ رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم صبَّ وضوءَه عليّ، فأفقْتُ

“Aku sakit kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar datang menjengukku, keduanya jalan kaki. Mereka mendatangiku sedang aku pingsan. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, lalu mengusapkan bekas wudhunya kepadaku, maka aku sadar.” (HR. Al-Bukhori no. 5651 dan Muslim no. 1616)

Hadist ini menjadi dalil atas sucinya air yang telah digunakan untuk wudhu.

  • Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum berwudhu dan airnya menetes di baju mereka, dan mereka tidak mencucinya. Ini menunjukkan bahwa air musta’mal itu suci.
  • Bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum bersegera meraih bekas wudhu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menggunakannya untuk mengusap dalam rangka mencari berkah, tidak mungkin beliau membiarkan jika yang diusapkannya itu najis. Hal itu sebagaimana diriwayatkan dari al-Hakam yang berkata :

سمِعت أبا جُحيفة يقول: خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بالهاجرة، فأُتِي بوَضوء، فتوضَّأ، فجعل الناس يأخذون من فضل وضوئه، فيتمسحون به، فصلَّى النبي صلى الله عليه وسلم الظهر ركعتين والعصر ركعتين وبين يديه عَنَزَةٌ

“Saya mendengar Abu Juhaifah berkata : Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami disiang yang panas, sedang beliau membawa air wudhu kemudia berwudhu. Maka datang lah manusia mengambil bekas wudhunya, kemudian digunakannya untuk mengusap. Setelah itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sholat dzuhur  dan ashar masing-masing dua rakaat, sedang di depannya tertancap tombak kecil (sebagai sutrah).” (HR. Al-Bukhari no. 187)

BACA JUGA  Isu Radikalisme Ibarat Menggaruk yang Tak Gatal

Dan hadist Abi Musa berkata : Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta gayung yang ada airnya, kemudian mencuci kedua tangannya dan wajahnya, dan menjatuhkan air bekas wudhunya ke gayung tersebut. Kemudian berkata kepada keduanya :

اشربا منه وأفْرِغا على وجوهكما ونُحوركما

“Kalian berdua minumlah dan tuangkan airnya ke wajah dan leher bawah dagu kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 188)

Dan hadist yang dimiliki As-Saib bin Yazid, ia berkata :

ذهبتْ بي خالتي إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقالت: يا رسول الله، إن ابن أختي وَجِعٌ – أي: مريض – فمسَح رأسي، ودعا لي بالبركة، ثم توضَّأ، فشرِبت من وضوئه، ثم قمتُ خلف ظهره، فنظرت إلى خاتم النبوة بين كتفيه مثل زِرِّ الحَجَلَةِ

“Saya bersama bibi saya pergi kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka bibi saya berkata : ‘Wahai Rasulullah, keponakanku sakit’. Maka beliau mengusap kepalanku, dan mendoakanku mendapat berkah. Kemudian beliau berwudhu, dan saya meminum air bekas wudhunya. Kamudian saya berdiri dibelakang dirinya, saya melihat tanda kenabian diantara kedua pundaknya sebesar telur burung.” (HR. Al-Bukhari no. 190)

  • Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istrinya dan para sahabatnya berwudhu dari Qadah (semacam gelas) dan kendi, dan mandi dari bejana. Hal demikian tidak bisa lepas dari percikan air musta’mal.

Karena itulah Ibrahin an-Nakha’i berkata : “Hal itu pasti, seandainya air musta’mal najis niscaya najis lah air yang ada di dalamnya.

  • Air yang suci tetap suci, selama air tersebut tidak berubah warna, rasa dan baunya.

Apakah air musta’mal itu dapat mensucikan?

Para ulama berselisih pendapat apakah air musta’mal bisa mensucikan (muthohhir) ataukah tidak. Secara umum ada dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama yaitu air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci. Karena ketika air digunakan untuk bersuci wajib, maka otomatis air tersebut hilang thahuriyahnya (keabsahannya untuk bersuci). Pendapat ini dinisbatkan kepada Syafi’iyah, Hanabilah dan yang lainnya.

Dalil mereka adalah hadits Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda:

لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ (الراكد)، وَهُوَ جُنُبٌ فَقَالَ: كَيْفَ يَفْعَلُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟. قَالَ : يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا. رواه مسلم 283

Artinya, “Janganlah seseorang di antara kalian mandi di air yang tidak mengalir, sedangkan dia dalam kondisi junub. Kemudian ada yang berkata, “Lantas apa yang dia lakukan wahai Abu Hurairoh? Abu Hurairah menjawab, “Dia mengambil air (dengan gayung). (HR Muslim, no 283)

Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Tarh Al-Tatsrib fi Syarh Al-Taqrib, hlm. 2/34, menyatakan:

اسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَلَ مَسْلُوبُ الطَّهُورِيَّةِ ، فَلَا يَتَطَهَّرُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى ، وَلَوْلَا أَنَّ الِاغْتِسَالَ فِيهِ يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ يَغْتَسِلُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى لَمَا نَهَى عَنْهُ

Artinya, “Imam Syafi’i dan jumhur (mayoritas) ulama berargumen dengan hadis ini bahwa air musta’mal tidak bisa dibuat bersuci, tidak bisa dibuat bersuci dua kali. Seandainya mandi di dalam air mengeluarkan status air dari bisa dipakai lai niscaya tidak dilarang melakukan itu.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 1/347, menjelaskan maksud kalimat ” يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا” dalam hadits ini demikian:

BACA JUGA  Hendak Kemana (Ke)Menteri(an) Agama?

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَنْعَ مِنَ الِانْغِمَاسِ فِيهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُسْتَعْمَلًا ، فَيَمْتَنِعُ عَلَى الْغَيْرِ الِانْتِفَاعُ بِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ عَلَى أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ غَيْرُ طَهُورٍ

Artinya, “Ini menunjukkan bahwa larangan untuk memasukkan anggota tubuh ke dalam air adalah agar supaya air tidak menjadi musta’mal sehingga tercegah bagi yang lain mengambil manfaat darinya. Ini adalah dalil terkuat bahwa air mustakmal tidak menyucikan.”

Pendapat kedua, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa air musta’mal bisa digunakan untuk bersuci. Dalil-dalilnya :

  • Firman Allah ta’ala :

 وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dan Kami turunkan air yang suci dari langit.” (QS. Al-Furqon : 48)

Kata “Thahur” (suci) maknanya boleh bersuci dengannya berkali-kali, di mana hal itu berasal dari wazan fa’ul yang perbuatannya berulang-ulang, seperti syakur dan shabur. Al-Baji al-Andalusi rahimahullah berkata : “Thahur itu seperti syakur dan shabur, digunakan untuk menunjukkan perbuatan yang berulang-ulang. Hal ini maknanya dibawa kepada bersuci dengan air yang berulang-ulang.” (al-Muntaqa Syarh al-Muwaththo’, 1/55)

  • Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الماء طهور لا يُنجِّسُه شيء

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu yang membuatnya najis.” (HR. Abu Daud no. 66 dan at-Tirmidzi no. 66)

Keumuman hadist ini bahwa air itu suci, tidak ada sesuatu yang membuatnya najis. Yaitu air itu suci dan mensucikan, tidak ada pengecualian dalam hal ini selain berubah warna, rasa dan baunya.

  • Dari Ar-Rubai’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha :

أن النبي صلى الله عليه وسلم مسَح برأسه من فضلِ ماء كان في يده

“Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya dari bekas air yang ada ditangannya.” (HR. Abu Daud no. 130 dan al-Baihaqi no. 1126)

  • Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

اغتسَل بعضُ أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في جَفْنة، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم ليتوضَّأ منها أو يغتسل، فقالت له: يا رسول الله، إني كنتُ جُنبًا؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الماء لا يُجنِب((

“Se  bagian istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mandi dari baskom. Datanglah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk berwudhu dan mandi dari air tersebut. Maka mereka berkata kepada Nabi : wahai Rasulullah, aku junub tadi? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : sesungguhnya air itu tidak junub.” (HR. Abu Daud no. 68 dan at-Tirmidzi no. 65)

  • Air yang suci bertemu badan yang suci, maka tidak ada yang menghilangkan kesuciannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

وكذلك الماء المستعمل في طهارة الحدث باقٍ على طهوريته

“Begitu pula air musta’mal yang digunakan untuk mensucikan hadats tetap bisa mensucikan.” (Majmu’ al-Fatawa, 20/519)

Demikianlah pemaparan sederhana tentang air musta’mal yang menjadi perbedaan di kalangan ulama, ini merupakan ranah khilafiyah yang kita dituntut untuk saling melapangkan dada dalam persolan ini. Wallahu a’lam bissowab.

Penulis: Zamroni
Editor: Arju

Sumber: Al-Alukah.net dan Islamqa.info

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Oposisi Suriah Kutuk Pembantaian Satu Keluarga di Deir Zour oleh AS

Segala operasi menargetkan wilayah ISIS, khususnya pada masa sensitif seperti sekarang, harus dilakukan dengan detail dan terkoordinir.

Sabtu, 05/01/2019 09:35 0

Myanmar

Balas Kampanye Militer Myanmar, Arakan Army Serbu Empat Pos Polisi

Setidaknya tujuh polisi tewas dan 12 ditawan dalam serangan terbaru itu

Sabtu, 05/01/2019 08:28 0

Asia

Ratusan Tewas di Jalanan Thailand Saat Libur Tahun Baru, Mabuk Penyebab Utama

Ratusan Tewas di Jalanan Thailand Saat Libur Tahun Baru, Penyebab Utamanya Mabuk

Jum'at, 04/01/2019 20:59 0

Indonesia

Kepala Tertembus Peluru, Bripka Matheus BKO Satgas Antiteror Dipastikan Bunuh Diri

Matheus ditemukan warga tergeletak dengan luka di bagian kepalanya di sekitar TPU Mutiara, Mampang, Pancoran Mas, Depok

Jum'at, 04/01/2019 19:36 0

Video News

Ahli Vulkanologi: Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Menjadi PR

KIBLAT.NET- Pada, Kamis, 3 Januari 2019, digelar diskusi media “Mitigasi Bencana Masih Menjadi PR”. Pak...

Jum'at, 04/01/2019 19:23 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Jagalah Lisanmu – Ust. Muiz Abu Turab

KIBLAT.NET- Dan katakanlah kepada seluruh manusia yang baik-baik saja, maka apa yang didengar dari lisan...

Jum'at, 04/01/2019 16:44 1

Indonesia

Said Aqil: Tak Ada Kampanye di Munas NU, Tapi…

PBNU akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konfrensi Besar (Konbes) NU 27 Februari hingga 1 Maret

Jum'at, 04/01/2019 16:21 1

Amerika

Bunuh Remaja ISIS, Komandan Navy SEAL Diancam Hukuman Seumur Hidup

Gallagher menikam remaja itu di leher dan tubuhnya dengan pisau setelah ia diserahkan ke SEAL di kota Mosul Irak

Jum'at, 04/01/2019 14:34 0

Indonesia

Felix Siauw: Toleransi Itu Simpel

Ustadz Felix Siauw tidak habis mengerti dengan pihak-pihak yang menuduhnya sebagai pribadi intoleran.

Jum'at, 04/01/2019 13:54 0

Afrika

Simpan Cula Badak Senilai Sejuta Dolar, 7 Warga Cina Ditangkap

Tujuh warga negara Cina menghadapi pengadilan Zimbabwe pada Kamis (03/01/2018) dengan dakwaan melanggar hukum margasatwa.

Jum'at, 04/01/2019 13:10 0

Close