... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Tahun Baru di Mata Seorang Muslim

Foto: Kembang api di tahun baru

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA*

KIBLAT.NET – Tanpa terasa kita telah memasuki tahun baru 2019. Sudah menjadi tradisi di setiap pergantian tahun banyak orang di Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia sibuk mengucapkan selamat tahun baru, menyambut, dan merayakannya. Mereka itu terdiri dari orang-orang yang menganut berbagai macam agama dan kepercayaan, tak terkecuali orang Islam. Hal ini terlihat dari perilaku sebahagian umat Islam yang mengenakan atribut tahun baru dan bersiap-siap menyambut dan merayakan tahun baru dengan berbagai cara, baik dengan berkumpul di suatu tempat, meniup terompet, membakar mercon, kembang api, lilin, dan sebagainya.  Menyambut dan merayakan tahun baru masehi sudah menjadi rutinitas dan tradisi lintas agama dan kepercayaan.

Parahnya, sebahagian umat Islam ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi setiap tahunnya sebagaimana yang dilakukan oleh orang kafir. Padahal, tradisi atau budaya merayakan tahun baru bukan berasal dari Islam dan bukan pula budaya umat Islam. Perayaan tahun baru sejatinya merupakan bagian ritual atau ibadah agama Romawi kuno yang menyembah dewa-dewa (paganis) dan budaya orang-orang kafir. Bahkan ada juga yang berpendapat perayaan tahun baru itu untuk merayakan hari kelahiran Yesus yang diyakini oleh sebagian orang pada tanggal 1 Januari.

Selain pengagungan terhadap dewa Janus (dewa agama Romawi kuno) dan Yesus, dalam perayaan tahun baru umat Islam mengamalkan ritual tiga agama kafir sekaligus. Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Majusi menggunakan api untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Oleh karena itu, perayaan tahun baru itu dilakukan dengan meniup terompet, membunyikan lonceng, dan membakar mercon dan kembang api, membakar lilin dan sebagainya. Ini semua merupakan ritual tiga agama kafir. Inilah bahaya merayakan tahun baru bagi keimanan dan aqidah seorang muslim.

Budaya yang diimpor impor dari agama-agama di luar Islam ini bagaikan penyakit yang telah mewabah dalam diri umat Islam yang ikut-ikutan mengikuti sesuatu tanpa memahami inti persoalan. Maka tulisan ini bertujuan untuk mengkritisi dan menjelaskan hukum mengucapkan selamat, menyambut dan merayakan tahun baru masehi dalam tinjauan syariat Islam.

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Sejarah perayaan tahun baru masehi bermula dari ritual masyarakat Romawi kuno yang mengkultuskan dewa Janus. Dalam  tradisi Romawi kuno, dewa Janus diyakini memiliki dua wajah, satu wajah menghadap ke depan dan yang satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya moment pergantian tahun. Penamaan bulan Januari sendiri diambil dari nama dewa Janus.

Berikut kutipan lengkap dari The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 237: “The roman ruler Julius Caisar established January 1 as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus, the god of gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who had two faces – one looking forward and the other looking backward.” (Penguasa Romawi Julius Caisar menetapkan 1 Januari sebagai permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 sebelum masehi (SM). Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah, sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu).

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaaan tahun baru bukan berasal dari ajaran Islam dan bukan pula budaya kaum muslimin. Perayaan tahun baru pertama kali dirayakan oleh orang-orang kafir Romawi atau kaum paganis Romawi. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa perayaan tahun baru merupakan ritual peribadatan agama Romawi kuno untuk mengangungkan dewa Janus. Penamaan Januari sendiri diambil dari nama Janus.

Ada juga yang berpendapat bahwa hari kelahiran Yesus itu tanggal 1 Januari, bukan tanggal 25 Desember seperti yang diperingati oleh sebahagian besar orang Kristen saat ini. Oleh karena itu, tahun penanggalan tersebut disebut masehi, atau masehiah atau al-Masih. Bisa dismpulkan bahwa merayakan tahun baru masehi berarti merayakan hari kelahiran Yesus yang diyakini sebagai anak tuhan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa perayaan tahun baru Masehi bukan ajaran Islam. Perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual para pemeluk agama bangsa-bangsa eropa, baik nasrani ataupun agama lainnya. Sejak masuknya nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) eropa bercampur masuk dalam ajaran tersebut. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan natal 25 Desember yang telah secara salah dipercaya oleh bangsa eropa sebagai hari kelahiran Isa AS.

Oleh karena itu, penulis sangat menyayangkan fenomena perayaan tahun baru masehi yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam baik di Indonesia maupun di berbagai negara Islam lainnya. Merayakan tahun baru masehi sama saja meniru dan mengikuti perilaku orang-orang kafir dalam merayakan hari raya atau ritual agama mereka. Perbuatan ini bertentangan dengan ajaran Islam. Terlebih lagi persoalan ini menyangkut persoalan aqidah yang tidak boleh dicampur adukkan antara kebenaran agama Islam dengan kesyirikan dan kebatilan agama lain.

Baca halaman selanjutnya: Hukum Merayakan Tahun Baru ...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Malaysia

Awal 2019, Malaysia Berlakukan Larangan Merokok di Seluruh Rumah Makan

Siapa pun yang dinyatakan bersalah karena merokok di daerah terlarang dapat didenda hingga RM10.000 (Rp 34,8 juta) atau dipenjara hingga dua tahun.

Selasa, 01/01/2019 14:00 0

Analisis

Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan, Kemenangan Jihadis?

Tanggal 21 Desember kembali muncul laporan bahwa militer AS akan segera ditarik hampir setengah dari jumlah kekuatan mereka dari Afghanistan.

Selasa, 01/01/2019 13:23 0

Iran

Pelajar Iran Gelar Aksi Protes, Tuntut Ali Akbar Velayati Mundur

Para pelajar di sebuah kampus di Teheran meneriakkan slogan-slogan dan menuntut pengunduran diri Ali Akbar Velayati, pembantu pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Selasa, 01/01/2019 11:48 1

Wilayah Lain

Israel Jadi Negara Paling Dikecam Pada Tahun 2018

Israel menjadi negara yang paling dikecam di PBB pada 2018.

Selasa, 01/01/2019 11:19 0

Indonesia

Peminat Nikah Massal Bertambah, Anies Janji Tambah Kuota Tahun 2019

"Nanti kita akan coba siapkan, bukan hanya jumlahnya saja yang banyak tetapi juga program pasca pernikahan ini," kata Anies

Selasa, 01/01/2019 10:24 0

Indonesia

Pemprov DKI Jakarta Gelar Nikah Massal di Malam Pergantian Tahun

Sebanyak 557 pasang mempelai mengikuti acara yang diselenggarakan di lapangan Thamrin, Jakarta.

Selasa, 01/01/2019 10:07 0

Video News

Kiblat Review: Kaledoskop Umat Islam 2018 (Bag 2)

KIBLAT.NET- Tahun 2018 akan segera berlalu. Berbagai fenomena dan aksi umat islam mewarnai pemberitaan media,...

Selasa, 01/01/2019 08:30 0

Indonesia

Kaleidoskop 2018: Korupsi Menjadi-jadi

Kaleidoskop 2018: Korupsi Menjadi-jadi

Senin, 31/12/2018 23:08 0

Indonesia

Polisi Parigi Moutong Baku Tembak dengan OTK Usai Evakuasi Korban Mutilasi

Dua orang personel Polres Parigi Moutong ditembak seusai mengevakuasi potongan badan korban mutilasi di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong

Senin, 31/12/2018 19:57 0

Artikel

Bencana (dan) Literasi

Dampak rendahnya literasi dapat terlihat dari cara kita menyikapi bencana. Di satu sisi ada sebagian masyarakat yang dengan mudahnya menghakimi satu bencana sebagai sebuah azab untuk masyarakat yang menjadi korban.

Senin, 31/12/2018 19:25 0

Close