Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan, Kemenangan Jihadis?

Melemahkan Posisi Negosiasi yang Sudah Lemah

Pemerintah AS telah memerintahkan Zalmay Khalidzad, seorang diplomat anggota Partai Republik berdarah Afghanistan, untuk mempromotori perundingan damai antara Taliban dengan pemerintah Afghan. Jurnal LWJ meyakini bahwa upaya ini sangat kecil peluang keberhasilannya. Sejumlah upaya negosiasi beberapa kali terakhir mengalami kegagalan.

Taliban secara tegas dan konsisten menolak negosiasi dengan pemerintah Kabul yang mereka anggap “impoten, antek asing, dan boneka AS.” Taliban pernah mengajukan tuntutan: pasukan AS harus meninggalkan Afghanistan, anggota-anggota Taliban yang ditahan harus dibebaskan, nama para pemimpin Taliban harus dihapuskan dari “daftar hitam” PBB, sebagai syarat bahkan sebelum Taliban mempertimbangkan untuk berdialog dengan pemerintah Kabul.

Taliban juga diketahui menolak sistem demokrasi, menolak pembagian kekuasaan dengan pemerintah Afghan, dan yang paling penting menganggap pemilu tidak sesuai dengan Islam. Di satu sisi, sejumlah pengamat tentang Afghanistan menganggap syarat dan kondisi ini masih bisa dinegosiasikan; di sisi lain, Taliban terbukti di masa lalu sangat kuat memegang prinsip-prinsip yang dianggap radikal. Barat kerap melakukan kesalahan dengan menganggap lemah komitmen Taliban terhadap ideologi Islam.

Terlepas anda percaya atau tidak dengan proses negosiasi ini apakah akan bisa mendorong ke arah penyelesaian, bahwa penarikan segera 7.000 pasukan AS dari Afghanistan tidak memperkuat posisi Zalmay Khalidzad, bahkan akan sangat melemahkan posisinya. Sebelum berita mengejutkan tentang rencana penarikan mundur pasukan AS menyebar luas, Khalilzad dan beberapa pejabat AS lainnya sudah memberi isyarat akan kelemahan Amerika karena terus menekan supaya penyelesaian lewat jalan negosiasi segera terwujud. Mereka menginginkan tercapainya sebuah kesepakatan paling lama pada bulan April 2009. Dalam hal ini, AS sudah terlibat dalam perundingan tanpa keikutsertaan pemerintah Afghan. Langkah inilah yang dianggap memberi legitimasi bagi Taliban, sekaligus mendeligitimasi pemerintahan Ashraf Ghani.

Tidak diragukan lagi bahwa Taliban memandang kebijakan penarikan mundur pasukan Amerika oleh Trump ini sebagai bukti lebih jauh tentang kegagalan & keputusasaan AS. Barangkali ada sedikit alasan yang masih bisa diterima atau bahkan tidak ada sama sekali untuk berfikir bahwa selama ini Taliban bersedia melakukan negosiasi dengan itikad yang baik. Dan bagi banyak kalangan di Barat, saat ini “itikad baik” itu sudah tidak ada.

Taliban berada dalam posisi bisa langsung bernegosiasi dengan AS dan menuntut berbagai macam konsesi tanpa harus memberi konsesi yang sama sebagai timbal balik. Sejak awal, Taliban bersikeras bahwa mereka memerangi dan bernegosiasi dengan penjajah Amerika dalam rangka dan demi keberhasilan Jihad. Hal itu berarti mengusir Amerika keluar dari Afghanistan. Dan Taliban sudah berhasil meraih tujuan tersebut.

Potensi Ambruknya Institusi Militer ANDSF

Pasukan Keamanan dan Pertahanan Nasional Afghan (ANDSF) harus berjuang keras menghadapi perlawanan Taliban, termasuk sebagian kecil elemen ISIS, meskipun sudah dibantu dengan kekuatan 15.000 tentara AS yang berada di negeri itu. Pos-pos terluar militer Afghan kerap menjadi target empuk serangan sekelompok kecil pasukan Taliban yang efektif.

Kelompok insurjensi jihadis ini bahkan sempat menguasai wilayah luasdi kota-kota besar seperti Farah dan Ghazni tahun 2018 ini. Di berbagai pertempuran, tentara dan polisi Afghan lebih banyak mengambil posisi bertahan, sebaliknya Taliban terus melakukan inisiatif serangan. Dalam beberapa tahun terakhir, rata-rata korban tewas pasukan keamanan Afghan mencapai angka antara 500 hingga 600 orang per bulan.

Meskipun menghadapi kekuatan gabungan pasukan keamanan Afghan (ANDSF) yang mendapat dukungan penuh militer NATO dan Amerika Serikat, Taliban berhasil mengontrol 13 persen distrik dari 407 distrik seluruhnya yang ada di Afghanistan, sementara 49 persen lainnya dalam status hampir dikuasai. Demikian menurut kompilasi data jurnal LWJ.

Pengurangan secara cepat pasukan AS akan berimplikasi terbukanya peluang Taliban meraih banyak kemajuan dan merebut lebih banyak wilayah lainnya. Dan langkah penarikan mundur pasukan AS secara total akan membuka jalan bagi Taliban untuk menguasai wilayah yang lebih luas lagi di Afghanistan. Setidaknya ada beberapa ibukota provinsi dan sejumlah wilayah padat penduduk yang akan jatuh ke tangan Taliban dalam waktu cepat. Hal ini diprediksi akan mendorong jatuhnya institusi pasukan keamanan Afghan (ANDSF) dan terjadinya hukuman eksekusi secara masif. Selanjutnya muncul para komandan perang dan kelompok semacam Aliansi Utara.

Pakistan Memanfaatkan Elemen Jihadis?

Pakistan diduga juga akan memperoleh banyak keuntungan apabila AS mundur dari negara tetangganya, Afghanistan. Sudah terlalu sering Pakistan mengejek Amerika dengan sebutan “dungu dan linglung,” namun tidak ada seorang pun pejabat Islamabad yang pernah dijatuhi sanksi atau dimasukkan ke dalam “blacklist” sebagai pendukung teror selama 17 tahun perang di Afghanistan. Selain “sanksi” berupa keputusan pemerintah Trump menunda sejumlah bantuan militer, pejabat-pejabat Pakistan tidak pernah membayar harga yang layak atas peran mereka melindungi elemen-elemen yang menyerang AS & sekutu-sekutunya.

Model strategi ala Pakistan yang memanfaatkan elemen jihadis untuk mendukung tujuan kebijakan luar negerinya itu sudah lama menjadi rahasia umum. Pakistan diduga pernah mensponsori Taliban dan kelompok-kelompok “teroris” lainnya, dan itu merupakan bagian dari strategi kemananan regional. Tetapi ada yang lebih fenomenal dari sekedar itu. Sejumlah pejabat Pakistan yang tidak diketahui namanya berada di bawah pengaruh jihadis. Institusi militer dan lembaga intelijen Pakistan akan terus mengekspor jihad ke negara-negara tetangga, terutama di negara bagian Kasmir, India, yang terus bergejolak.

ISIS Cabang Khurasan Belum Mati

Akhirnya, kelompok ISIS cabang Khurasan belum juga berhasil dikalahkan. Meskipun kampanye kontraterorisme yang dipimpin AS telah berhasil membunuh sejumlah pimpinan kelompok pro al-Baghdadi, termasuk mengusir anggota-anggota mereka dari timur Afghanistan, namun pejuang-pejuang mereka masih terus melakukan operasi teror di ibukota Kabul, dan beberapa area padat penduduk lainnya. Sesekali, secara berkala mereka menyerang di dalam wilayah Pakistan. Wilayah Khurasan ini dianggap wilayah paling aktif kedua setelah Iraq & Suriah. Kelompok loyalis al-Baghdadi ini belum mampu ditundukkan di area tersebut, namun Presiden Trump sudah buru-buru memutuskan akan menarik diri dari pertempuran.

Banyak pihak di Barat ikut merasakan frustrasi yang sedemikian luas akibat perang yang dipimpin oleh AS di Afghanistan ini, namun mereka lebih frustrasi apabila kebijakan penarikan mundur pasukan dilakukan tanpa memikirkan konskuensi-konskuensinya. Dan konskuensi jangka pendek yang sudah mulai terlihat adalah kemenangan Taliban dan al-Qaidah.

Sumber: TLWJ
Redaktur: Yasin Muslim

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat