... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Bencana (dan) Literasi

Menurut Alfi Rahman dari Tsunami and Disaster Research Mitigation Center Universitas Syiah Kuala, Aceh, Smong diceritakan sebagai berikut; “Ini adalah kisah penuh hikmah, pada zaman dahulu kala, tahun tujuh. Para kakek kalian yang mengalaminya. Mereka menceritakan kisah ini, agar menjadi pengalaman hidup. Waktu itu hari Jum’at, masih termasuk pagi hari. Tiba tiba terjadi gempa bumi. Sangking kuatnya, orang-orang tidak dapat berdiri dan setelahnya air laut surut, ikan-ikan menggelepar di pantai sehingga menarik sebagian orang dan mengambilnya.

Tidak lama kemudian tampak gelombang besar dari tengah lautan, menuju ke daratan. Orang tua berteriak ‘Smong! Smong! Smong!’ Namun, banyak orang tidak sempat menyelamatkan diri ke atas gunung. Setelah Smong reda, orang-orang mencoba kembali ke desa dan menemukan banyak penduduk yang meninggal. Banyak korban tersangkut di atas pohon dan bahkan dijumpai pula korban yang terdampar di kaki bukit atau gunung”.

Kondisi pesisir Pandeglang, Banten pascatsunami yang terjadi pada Sabtu (22-12-2018) malam

Kondisi pesisir Pandeglang, Banten pascatsunami yang terjadi pada Sabtu (22-12-2018) malam

Kisah Smong memberi kewaspadaan pada masyarakat Simeulue untuk mengenali gejala tsunami seperti surutnya air laut dan ikan yang menggelepar, lalu mengingatkan untuk bersegera menghindari dengan menaiki bukit dengan perbekalan.

Di daerah lain seperti Singkil, masyarakat mengenal tsunami dengan istilah gloro. Sedangkan Aceh besar dengan istilah Ie-Beuna. Di Palu masyarakat mengenal likuifaksi dengan Nalodo yang berarti amblas ditelan bumi. (Alfi Rahman: 2018) Sayangnya semua identifikasi dari pengetahuan lokal ini kemudian tak dikelola dan dikenalkan secara sistematis dalam kurikulum pendidikan.

BACA JUGA  Saksi dari Polisi Bantah Dakwaan JPU di Sidang Ricuh 21-22 Mei

Pada akhirnya mungkin semua ini berakar dari minimnya literasi di tengah masyarakat kita. Kita menganggap rendah pengetahuan di luar ilmu eksakta. Pendidikan dikurung dalam konsepsi sekadar bekal mencari uang. Pendidikan hanya dibentuk untuk melayani industri. Pola pikir kapitalistik ini kemudian akhirnya menafikan bermacam pengetahuan humaniora termasuk pentingnya pengenalan bencana alam sejak dini.

Denyut literasi di Indonesia memang berada di titik nadir. Dari studi yang dilakukan John Miller dari Universitas Central Conneticut State di New Britain, Indonesia berada dalam peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Berada di bawah Bostwana, Indonesia dinilai rendah pada hasil ujian literasi dan juga melihat apa yang disebut sebagai “karakteristik sikap terpelajar” misalnya jumlah perpustakaan dan koran hingga lamanya sekolah serta ketersediaan komputer di sebuah negara.

Pun pada soal literasi, atau membaca khususnya, masyarakat kita sudah tidak terbiasa lagi. Hanya ada 1 orang yang suka membaca dari 1000 orang. Atau jika kita bandingkan, hanya ada 260 ribu dari 260 juta orang Indonesia yang suka membaca. (Tempo 14 September 2018).

Kenyataan ini menjadi berbanding terbalik jika dibandingkan dengan angka pengguna media sosial di Indonesia. Per Januari 2018, ada 130 jutaan pengguna media sosial di Indonesia dari sekitar 265 jutaan penduduk Indonesia. Bangsa kita menjadi bangsa yang aktif bermedia sosial ketimbang membaca.

BACA JUGA  Dari Haji Untuk Indonesia

Dampak rendahnya literasi dapat terlihat dari cara kita menyikapi bencana. Di satu sisi ada sebagian masyarakat yang dengan mudahnya menghakimi satu bencana sebagai sebuah azab untuk masyarakat yang menjadi korban. Padahal Allah-lah yang paling tahu dibalik semua itu.

Alih-alih mengambil hikmah, sebagian masyarakat kita malah begitu angkuh menyikapi bencana dengan menjauhkan peran Allah dalam melihat satu bencana. Bencana alam dianggap satu fenomena alam belaka. Penjelasan ilmiah satu fenomena alam dianggap simpulan final dari bencana alam dan menafikan peran Allah yang menentukan segalanya. Sikap seperti ini tak terlepas dari peran sekularisasi dalam ilmu pengetahuan.

Benang kusut ini berujung pada sikap masyarakat dan pemerintah memitigasi bencana. Berkali-kali terjadi, tak tampak ada perubahan. Alat pendeteksi tsunami rusak atau dicuri. Pemerintah yang kerap menolak menaikkan status bencana sebagai bencana nasional dengan dalih menghambat pariwisata. Atau bahkan yang baru-baru ini terjadi: Peneliti yang memperingatkan potensi berbahaya tsunami di Pandeglang malah dipanggil pihak kepolisian, karena dianggap memberi pengaruh negatif pada investasi.

Sudah saatnya ulama turun tangan bukan saja mengingatkan umat akan mengambil hikmah dari bencana. Tetapi juga mengingatkan umat akan isu-isu kerusakan alam akibat ulah tangan-tangan manusia. Mengingatkan umat akan isu penggundulan hutan, limbah berbahaya industri, hingga, bencana sampah plastik dil autan. Sebab jika terjadi satu bencana akibat tangan-tangan jahat manusia, maka umat pula yang menjadi kurbannya.

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Berikut Beberapa Daerah Bebas Kembang Api dan Petasan di Malam Tahun Baru 2019

Malam pergantian tahun selalu identik dengan semburat kembang api serta suara petasan yang menggelegar.

Senin, 31/12/2018 17:52 1

Indonesia

Jalan-jalan di Jakarta Ini Ditutup Saat Malam Pergantian Tahun

Jalan-jalan di Jakarta Ini Ditutup Saat Malam Pergantian Tahun

Senin, 31/12/2018 17:21 0

China

Ulama Uighur Diyakini Tewas Setelah 30 Tahun Ditahan di Kamp Konsentrasi

Kasusnya menarik perhatian masyarakat internasional. Pihak berwenang memperpanjang masa penjaranya pada lima kesempatan berbeda setiap kali hukumannya hampir selesai.

Senin, 31/12/2018 16:31 0

Suriah

Kamp Pengungsi Suriah Kebanjiran, Warga Kedinginan dan Butuh Makanan

"Setidaknya 220 tenda dibongkar dan 550 tenda terkena banjir," kata laporan itu.

Senin, 31/12/2018 13:12 0

Indonesia

Kaleidoskop 2018: Peristiwa-peristiwa Besar dalam Krisis Palestina

Selama 70 tahun terakhir, tindakan represif Israel selama menjajah bangsa Israel tak pernah berhenti. Kampanye penangkapan, penyerbuan, pembunuhan warga sipil dan penghancuran rumah terus dilakukan.

Senin, 31/12/2018 11:53 0

Suriah

Militer AS Masih Patroli di Manbij Meski Trump Umumkan Tarik Pasukan

Jet koalisi pimpinan AS dan helikopter serang juga masih bisa terlihat di atas langit Manbij pada hari Sabtu.

Senin, 31/12/2018 10:35 0

Video News

Pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Periode 2018-2022

KIBLAT.NET- Pelantikan pengurus pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022, berikut susunan kabinetnya. Acara diselenggarakan pada Jumat,...

Senin, 31/12/2018 10:01 0

Video News

Tsunami Selat Sunda: Laut Murka Karena Manusia Durjana?

KIBLAT.NET- Hadits tentang laut yang marah dan meminta izin kepada Allah untuk menenggelamkan manusia sering...

Senin, 31/12/2018 09:58 0

Irak

Ketahuan Saudaranya Gabung ISIS, Menteri Pendidikan Iraq Mundur

"Saya sampaikan kepada semua bahwa saya sudah menyampaikan pengunduran diri kepada perdana menteri setelah adanya berita dari segala hubungan yang mengaitkanku dengan teror atau teroris,” tulisnya.

Senin, 31/12/2018 09:21 0

Video News

Kiblat Review: Kaledoskop Umat Islam 2018 (Bag 1)

KIBLAT.NET- Tahun 2018 akan segera berlalu. Berbagai fenomena dan aksi umat islam mewarnai pemberitaan media,...

Senin, 31/12/2018 08:59 0

Close