... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Tahun Baru: Mestinya Muhasabah, Bukan Hura-hura

Foto: Hukum Merayakan Tahun Baru

Penulis: Ainul Mizan (Pengajar di SDIT Insantama)

 

Apa yang didapatkan oleh mereka yang merayakan Tahun Baru 1 Januari? Inilah pertanyaan mendasar. Cobalah bertanya kepada diri sendiri dan jawablah dengan jujur. Pesta kembang api spektakuler, meniup terompet, konvoi jalanan, konser musik dan pemberian hadiah satu sama lain, menjadi hiasan setiap ceremonial malam 1 Januari. –

Tidak tanggung-tanggung bro, itu semua dilakukan semalam suntuk. Laki-laki perempuan, tua muda tumplek blek jadi satu. Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh di luar negeri. Fenomena malam 1 Januari bisa ditemui di kota-kota besar Indonesia.

Mereka begadang, berhura-hura menghamburkan harta benda, berjoget bersama mengiringi dentuman musik di malam itu, campur baur laki-laki perempuan, setelah itu menjelang waktu Shubuh mereka baru tidur. Akhirnya mereka baru mulai tidur saat fajar hingga hampir seharian digunakan untuk tidur. Tentunya kewajiban Sholat Shubuh sudah melayang.]

Hari itu, 1 Januari menjadi hari pemakluman secara nasional. Suasana hari itu sepi. Semua sudah sama-sama mengetahui, hari itu adalah hari libur, hari untuk istirahat alias tidur, selepas berhura-hura semalaman. Besok harinya, tanggal 2 Januari, sudah mulai dengan setumpuk tugas dan pekerjaan.

Sekali lagi, sebenarnya apa yang mereka dapatkan? Apakah dengan perayaan tahun baru, mereka menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya? Lebih baik dalam pengertian lebih berprestasi, lebih makmur ekonominya, lebih dekat dengan Allah Yang Maha Pencipta dan lebih baik perilakunya. Apakah makna lebih baik dalam konotasi demikian didapatkan?

Bagi yang menjadi pelanggan setia dari momen tahunan ini bakal menjawab, kesenangan dan kepuasan ikut gebyar malam tahun baru. Sedangkan bagi yang belum pernah ikut sebelumnya, karena banyaknya bisikan, akhirnya ingin pula merasakan hingar bingarnya malam Tahun Baru.

Sungguh, malam itu, suka tidak suka, mereka telah mengisinya dengan sesuatu yang justru bertentangan dengan harapannya untuk bisa menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya. Adapun bagi seorang muslim, ironisnya mereka sudah terjatuh dalam kemaksiatan di malam tersebut.

Dari segi aqidah, tahun baru 1 Januari dalam mitologi Yunani-Romawi kuno adalah bentuk penghormatan kepada Dewa Janus. Sedangkan dalam mitologi Majusi, 1 Januari dijadikan sebagai Hari Raya Nairuz, hari raya untuk mengagungkan api sesembahannya.

Belum lagi, dalam konvoi kendaraan di malam itu, mereka berboncengan dengan pacarnya, bahkan mereka bercampur baur berjingkrak jingkrak dan berpegangan tangan laki laki perempuan saat berpesta di malam itu. Belum lagi terbangnya kewajiban sholat shubuh.

Hari ini, kaum muslimin digiring agar mengikuti kebiasaan dan jalan hidup orang-orang kafir. Tasyabbuh sebagai bentuk aktivitas untuk menyerupai orang kafir ini dilakukan secara bertahap. Betul, statusnya masih beragama Islam. Akan tetapi petgaulannya sudah ala Barat. Cara berpakaiannya, berpikir dan berperilakunya, justru belum bahkan tidak mencerminkan akan statusnya sebagai muslim.

Mestinya tahun baru itu digunakan sebagai ajang untuk muhasabah (mengoreksi) diri dan bangsa ini. Sadarilah, semakin bertambah hitungan tahun sejatinya semakin berkurang usia, yang sesungguhnya semakin berkurang jatah hidup di dunia ini.

Apakah semakin waktu, kita ini banyak kebaikannya atau keburukannya. Semakin waktu apakah diri kita semakin dekat dengan agama ataukah justru jauh dari agama. Semakin bertambahnya waktu, apakah bangsa dan negeri ini dari proklamasi kemerdekaannya, mengalami keterbelakangan ataukah kemajuan. Apakah negeri ini semakin sadar dan mendekat kepada Allah dan melaksanakan aturanNya ataukah justru memunggunginya sehingga semakin menjerumuskan bangsa ini kepada cengkeraman penjajahan.

Bukankah lafadz takbir yang digelorakan oleh Bung Tomo dalam mengusir penjajah, bisa menjadi bara yang membakar jiwa – jiwa anak – anak bangsa untuk membebaskan bangsanya dari setiap bentuk penjajahan gaya baru. Sebuah penjajahan di bidang politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Ya, mestinya momen tahun baru dipakai untuk muhasabah bukan untuk berhura – hura. Dengan demikian, harapan agar menjadi lebih baik di tahun yang baru, bukanlah bagaikan “Pungguk merindukan bulan”.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

BNPB: Korban Tsunami Selat Sunda Terus Meningkat

BNPB: Korban Tsunami Selat Sunda Terus Meningkat

Sabtu, 29/12/2018 20:12 0

Indonesia

Aksi Bela Muslim Uighur Magelang Deklarasikan Piagam Borobudur II

Aksi Bela Muslim Uighur Magelang Deklarasikan Piagam Borobudur II

Sabtu, 29/12/2018 20:11 0

Indonesia

Akibat Erupsi, Volume Tubuh Gunung Anak Krakatau Berkurang

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa volume Gunung Anak Krakatau telah menurun.

Sabtu, 29/12/2018 19:56 0

Indonesia

Ketua PP Muhammadiyah: Radikalisme Kebangsaan Kita Sangat Memprihatinkan

"Tapi yang sangat memprihatinkan adalah radikalisme yang tumbuh dari konteks kebangsaan kita, biasa saya sebut sebagai ultra nasionalis atau nasionalisme ekstrem"

Sabtu, 29/12/2018 19:50 0

Indonesia

Fahira Idris: Presiden Indonesia Harus Punya Visi Penanggulangan Bencana

Empat tahun terakhir ini penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia tidak mengalami kemajuan signifikan dari masa sebelumnya

Sabtu, 29/12/2018 19:40 0

Indonesia

Utusan Khusus Presiden: Pemerintah Harus Memperjuangkan Hak Muslim Uighur

Memperjuangkan hak muslim Uighur adalah hal penting yang tertuang di dalam pembukaan konstitusi Indonesia, yakni menjaga ketertiban dunia

Sabtu, 29/12/2018 18:57 0

Indonesia

Anak Krakatau Berpotensi Picu Tsunami, Masyarakat Diminta Jauhi Pantai Selat Sunda

Masyarakat diminta berada dalam radius 500 m - 1 km dari tepi pantai

Sabtu, 29/12/2018 16:12 0

Indonesia

Dubes Cina Akui Ada Lembaga Deradikalisasi Targetkan Muslim Uighur di Xinjiang

"Pemerintah meminta daerah otonomi Uighur Xinjiang mengambil serangkaian langkah deradikalisasi,"

Sabtu, 29/12/2018 15:32 1

Indonesia

Krisis Uighur Mencuat, Dubes Cina Beruntun Temui Pimpinan NU dan Muhammadiyah

Krisis Uighur Mencuat, Dubes Cina Beruntun Temui Pimpinan NU dan Muhammadiyah

Sabtu, 29/12/2018 13:41 0

Indonesia

Resmi Dilantik, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Baru Bertekad Kembali ke Khitah

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengurus Pimpian Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022 resmi dilantik. Ketua Pemuda Muhammadiyah...

Sabtu, 29/12/2018 12:42 1

Close