... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

 Uighur Merana, Tanggung Jawab Siapa?

Foto: Masyarakat Bali gelar aksi protes penindasan Uighur

Penulis: Wardah Abeedah (Founder Madrasah Shalihat, Islamic Freelance Writer)

 

Diskriminasi dan dugaan kuat penganiayaan terhadap warga Uighur oleh pemerintah Cina saat ini santer diberitakan. Menurut Human Rights Watch, suku Uighur khususnya, dipantau secara sangat ketat. Mereka harus memberikan sampel biometrik dan DNA. Dilaporkan terjadi penangkapan terhadap mereka yang memiliki kerabat di 26 negara yang dianggap ‘sensitif’. Dan hingga satu juta orang telah ditahan.(bbc.com.18/12/2018)

Dalam kisah yang dikutip The Independent, muslimin Uighur dilarang belajar Alquran, pergi ke Masjid, berpuasa di bulan Ramadan, memelihara jenggot, dan memberi nama bayi mereka dengan nama Islam. Wanita Uighur diharuskan menikahi lelaki dari suku Han, mereka juga dipaksa untuk mengaborsi bayi mereka.

Hal ini sontak membuat masyarakat dunia bersuara. Utamanya kaum muslimin di Indonesia. Sebagai negeri dengan jumlah pemeluk Islam terbanyak di dunia, seharusnya pemerintah dan rakyat Indonesia berada di garda terdepan dalam penyelesaian konflik Uighur.

Diantara konsekuensi memeluk aqidah Islam adalah melaksanakan kewajiban menolong saudara sesama muslim. Hal ini ditegaskan dalam banyak ayat Alquran dan hadits shahih, diantaranya:

 إِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam rasa cinta mereka, kasih-sayang mereka, dan kelemah-lembutan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam” (HR. Muslim dan lain-lain, dari hadits an-Nu’man bin Basyir ra.).

Bagi kita kaum muslimin, wajib membantu mereka dengan doa, ataupun finansial, juga dengan bersuara menolak kedzaliman ini sekeras-kerasnya agar dunia membuka mata dan pemimpin-pemimpin muslim bangkit jiwa ksatrianya. Bagi mereka yang diamanahi memimpin negeri-negeri kaum muslimin. Kewajiban menolong saudara seaqidah bukan sekedar dilandasi perintah menolong kaum muslimin. Lebih dari itu, sebagai pemimpin mereka memiliki kewajiban sebagai junnah atau perisai. Melindungi seluruh kaum muslimin adalah tanggungjawab mereka.

BACA JUGA  Beratnya Amanah yang Dipikul Pemimpin

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai (junnah), dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan, “(Imam itu perisai atau junnah) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Saat ini masing-masing negeri muslim memiliki ratusan ribu tentara. Militer yang ada juga dilengkapi persenjataan yang lengkap. Ditambah mereka memiliki Allah, Zat Yang Maha Kuasa. Keengganan penguasa muslim untuk berbuat lebih dari sekadar mengecam menunjukkan kelemahan mereka. Alih-alih melakukan tekanan politik terhadap pemerintah Cina, pemerintah Indonesia sendiri belum mengeluarkan statement apapun terkait Uighur. Rezim Jokowi yang selama ini dikenal berhubungan baik dengan Pemerintah Cina dan mendapatkan kemudahan utang luar negeri dari Cina disinyalir menjadi sebabnya (eramuslim: 14/12/208).

Fungsi junnah atau perisai selama ini nyaris tak pernah diperankan oleh penguasa kaum muslimin. Tak hanya untuk persoalan Uighur. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina, Suriah, Yaman dan yang menimpa Rahingya di Myanmar juga masih terus dialami kaum muslimin tanpa ada satupun negeri kaum muslimin yang mau menolongnya. Alasan klasik yang selalu saja dikemukakan adalah sekat negara. Faham nasionalisme telah merusak konsep ukhuwah Islamiyah yang diwajibkan dalam Islam.

BACA JUGA  Turki Desak Cina Tutup Kamp-kamp Konsentrasi Cuci Otak Muslim Uighur

Berbanding terbalik dengan pemimpin di masa Khilafah Islamiyah tegak dahulu. Mereka diangkat menjadi imam atau khalifah dengan sebuah bai’at untuk menerapkan kitabullah dan Sunnah rasulNya. Amanah sebagai junnah yang disebutkan dalam hadits Rasulullah disadari betul oleh mereka. Para khulafa’ menjadi pelindung kuat bagi rakyatnya, serta benteng kokoh yang siap menjaga tegaknya agama yang mulia.

Pada masa kekhilafahan Abu Bakar, sebagian kecil rakyat murtad dan menolak membayar zakat pasca wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal ini mengundang amarah Ash-Shiddiq.

Kemarahannya membuatnya mengirim pasukan untuk menumpas Musailamah Al Kadzdzab, memerangi Kabilah Quda’ah, Penduduk Duba serta siapapun yang menolak syariat zakat.

Saat Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan marah, beliau membentuk armada mairitim pertama dalam sejarah khilafah Islam. Lalu dengannya memerangi Romawi dengan gagah berani

Jeritan seorang muslimah yang ditawan Romawi juga membangkitkan amarah Khalifah Al-Mutashim billah. Berperan sebagai perisai umat, beliau mengirim pasukan yang begitu banyak sehingga ketika kepala barisan pasukan sudah sampai di Ammuriyah, ekor barisannya masih di Baghdad. Pasukan kaum muslimin berhasil menaklukkan kota Ammuriyah beserta benteng byzantium terbesar yang ada di kota itu.

Saat Shalahuddin Al-Ayyubi marah melihat fakta penjajahan Al Quds oleh Tentara Salib, dia bersumpah tidak akan tersenyum hingga tanah Palestina kembali ke pangkuan khilafah.

Kisah heroik dalam sejarah kekhilafahan di atas tercatat karena para khalifah telah bersumpah pada Allah untuk menerapkan hukum Allah termasuk bertanggungjawab penuh atas darah dan jiwa kaum muslimin.

Disinilah urgensi mewujudkan persatuan umat Islam tanpa sekat yang ditetapkan perjanjian Sykes picot yang mengerat tubuh kaum muslimin menjadi bagian-bagian kecil. Di sini pula urgensi kaum muslimin memiliki pemimpin untuk menerapkan kitabullah dan Sunnah rasulNya. Bukan untuk melayani tuannya dan mengkhianati agama dan rakyatnya. Sehingga fungsi sebagai junnah akan menghentikan berbagai bentuk kedzaliman terhadap kaum muslimin di seluruh dunia. Allahu a’lam bis shawab

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

BNPB: Status Anak Gunung Krakatau Siaga, Zona Berbahaya Meluas

Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Naiknya status Siaga (Level III) ini berlaku terhitung mulai 27 Desember 2018 pukul 06.00 WIB.

Jum'at, 28/12/2018 18:19 0

Irak

Pasukan Amerika Didesak Keluar dari Irak

Partai-partai politik Irak menuntut penarikan pasukan AS dari negara mereka beberapa jam setelah Donald Trump secara mendadak mengunjungi pasukan Amerika yang bermarkas di sana.

Jum'at, 28/12/2018 18:06 0

Editorial

Editorial: Bencana Terulang

Selalu ada banyak pertanyaan, perenungan, dan penafsiran dalam setiap bencana.

Jum'at, 28/12/2018 17:24 0

Indonesia

Aksi Bela Muslim Uighur Berlanjut di Sejumlah Kota

Aksi Bela Muslim Uighur di Surabaya digelar setelah pekan lalu desakan penghentian penindasan terhadap Muslim Uighur ditolak Konsulat Jenderal (Konjen) Cina

Jum'at, 28/12/2018 17:00 0

Analisis

Genosida Sistemik Muslim Uighur, Kemunculan Tata Dunia Baru

Sikap diam yang ditunjukkan oleh para pemimpin negara-negara meskipun fakta itu telah terungkap, menegaskan bahwa sebuah tata dunia baru sedang mulai muncul.

Jum'at, 28/12/2018 15:14 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Pesan-Pesan di Balik Bencana- Ust. Abdul Khalid, MA

KIBLAT.NET- Gempa bumi adalah musibah yang saat ini menggelayuti perasaan takut banyak manusia bisa jadi...

Jum'at, 28/12/2018 13:37 1

Afghanistan

Jika Tak Tarik Pasukan, AS Diancam Bernasib Seperti Uni Soviet

“Ambilah peringatan dari kekalahan Uni Soviet di Afghanistan dan tinggalkan ide untuk menguji rakyat Afghanistan," kata juru bicara juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid.

Jum'at, 28/12/2018 13:16 0

Suriah

Normalisasi Hubungan, UEA Buka Kembali Kedutaan di Suriah

“Langkah ini menekankan keinginan kuat pemerintah UEA normalisasi hubungan antara dua Negara sahabat seperti sedia kala dan mengadang bahaya intervensi kawasan dalam urursan Negara Suriah,” kata pernyataan itu.

Jum'at, 28/12/2018 09:11 0

Indonesia

Kaleidoskop 2018: Kebijakan Test The Water Pemerintahan Jokowi

Di tahun 2018, bukan hanya susunan kabinet kerja yang berganti, beberapa regulasi yang diterbitkan bahkan terkesan bersifat test the water

Kamis, 27/12/2018 16:47 0

Indonesia

Pemerintah Tegaskan Tsunami Selat Sunda Bukan Bencana Nasional

Status bencana tsunami Selat Sunda adalah bencana kabupaten

Kamis, 27/12/2018 16:31 0

Close